Nasionalisme di Era Globalisasi

Oleh Yonky Karman
Pengajar Sekolah Tinggi Teologi Cipanas
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0605/20/opini/2660411.htm
—————————————

Kebangkitan nasional merupakan tonggak pertama pergerakan rakyat yang
mengantar ke pintu gerbang kemerdekaan. Kohesi sosial yang semula
berdasarkan unsur-unsur primordial (suku, bahasa, tradisi, agama)
menjadi perasaan senasib sebagai bangsa terjajah.

Rakyat Hindia Belanda memimpikan sebuah masa depan bersama untuk
mengatur diri sendiri sebagai warga merdeka. Seabad kemudian
dibutuhkan nasionalisme yang sama kuatnya ketika melawan pemerintah
kolonial.

Dulu Hindia Belanda, dengan kekayaan alam, menjadi potensi ekonomi
dunia yang memasok sumber bahan mentah, tetapi tanpa kepemimpinan
dalam perdagangan internasional. Kini situasinya tak berbeda.
Indonesia tetap menarik karena kekayaan alamnya, tetapi posisi
tawarnya lemah di pasar global. Semestinya globalisasi dimaknai
kepentingan kita sebagai bangsa.

Semua itu karena nasionalisme baru dipahami sebatas semangat
kebangsaan dan geopolitik. Kita belum menjadikan nasionalisme sebagai
prinsip politik praktis sesuai dengan realitas bangsa dalam
kemajemukannya dan kini dalam keterpurukannya. Sebagai bangsa, kita
belum termotivasi membangun negeri dan merebut peluang ekonomi di era
globalisasi.

Involusi nasionalisme

Ada yang salah dengan perjalanan nasionalisme kita. Rasa senasib
seperti semasa pergerakan dan kemerdekaan kian menipis. Persatuan
nasional yang dibangun dengan susah payah dalam perkembangannya
menunjukkan tanda-tanda kemunduran. Tanpa revitalisasi nasionalisme
sulit dibayangkan seperti apa masa depan Indonesia. Ibarat tubuh
tanpa roh.

Gramatika berbangsa kita bukan bagaimana menjadi “bangsa besar”,
tetapi memelihara kultur feodal “orang besar”. Sesekali kita
bernostalgia dengan romantisme kejayaan bangsa semasa Sriwijaya dan
Majapahit. Namun, realitas 60 tahun merdeka kita lebih dipermainkan
kapitalisme global ketimbang menjadi salah satu pemain. Terpuruk
lama, Indonesia dalam bayang-bayang negara gagal.

Di tengah proses involusi itu muncul nasionalisme dadakan yang
janggal (freak nationalism), yang justru menggerogoti kesatuan
bangsa. Nasionalisme kedaerahan. Nasionalisme kesukuan.
Nasionalisasi. Nasionalisme religius. Warisan nasionalisme para
pendiri republik tiba-tiba menjadi asing di negeri sendiri. Dan,
elite politik menikmati keterkotakkan rakyat demi melanggengkan
administrasi pemerintahan yang korup.

Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi yang disusun Transparency
International, Indonesia ada dalam kelompok 10 negara terkorup di
dunia. Kita tidak dikenal sebagai bangsa porno. Namun, ada 25
peraturan daerah dan kebijakan lain di tingkat lokal serta tujuh
rancangan perda terkait kesusilaan. Elite politik dan birokrasi
memiliki kepentingan membiarkan friksi sosial untuk mengalihkan
sorotan masyarakat terhadap buruknya kinerja mereka.

Politik kebudayaan

Budi Oetomo terbentuk karena kesadaran akan warisan kebudayaan dan
dorongan modernisasi. Para pemimpin pergerakan percaya, hanya dengan
penyebarluasan pendidikan, rakyat tercerahkan dan terbebaskan dari
keterbelakangan. Pemerintah kolonial diminta mendirikan sekolah
dengan sistem beasiswa bagi pemuda pribumi berbakat. Kebangkitan kita
sebagai bangsa bukan lewat politik bambu runcing, kekuatan massa,
atau agama, tetapi lewat politik kebudayaan.

Persis di situ kita gagal. Pendidikan bangsa diabaikan. Rakyat tetap
lemah dan tak terdidik. Elite politik setengah hati mencerdaskan
rakyat. Ironi di republik merdeka, pemuda miskin tak mampu meneruskan
pendidikan tinggi karena swastanisasi universitas negeri. Ukuran
kebangkitan nasional di era globalisasi adalah menjadi bangsa modern.

Sewindu reformasi wajah demokrasi kita liar di luar koridor negara
hukum. Kekuatan-kekuatan massa mengorganisasi diri dan main hakim
sendiri. Namun, sebagai bangsa, kita tetap lemah, belum mampu berdiri
di atas kaki sendiri dan menentukan nasib sendiri, tidak bebas
menentukan kebijakan politik yang strategis. Ketergantungan ekonomi
pada negara-negara maju amat besar.

Syarat menjadi bangsa modern adalah kebangkitan iptek. Untuk itu,
politik kebudayaan harus jelas agar kita agresif merebut dan
menguasai teknologi modern. Aneka kecenderungan primordial harus
menyesuaikan diri dengan tuntutan modern.

Nasionalisme kita harus melahirkan anak bangsa yang pandai dan mampu
mengelola potensi alam, kekayaan, dan sumber daya manusia, untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kini kemajuan bangsa ditentukan
oleh kemampuan dan kepintaran menjalin kerja sama dengan negara maju.
Ramah terhadap investasi asing tidak berarti menggadaikan kekayaan
dan kedaulatan negeri.

Politik pembangunan

Kita harus mengejar ketertinggalan dalam menghasilkan produk-produk
bernilai tambah dan berdaya saing global. Nasionalisme harus mengawal
dinamika sosial dan pembangunan sistem sosial. Problem serius kita
adalah kemiskinan sumber daya manusia (SDM) secara kualitas maupun
kuantitas. Manusia Indonesia yang cerdas tidak kurang, tetapi banyak
dari mereka bekerja di dan untuk negara lain.

Pemerintah Indonesia amat rendah menghargai kerja peneliti. Gaji
anggota parlemen puluhan kali lipat gaji peneliti di LIPI. Prioritas
pengembangan teknologi padat karya amat mendesak untuk menyerap
kelebihan tenaga kerja dan meredam ledakan pengangguran. Jangan ada
mimpi Indonesia tinggal landas dengan rakyat miskin sebagai
landasannya.

Ketika pembangunan manusia dikorbankan, kekayaan negeri hanya
dinikmati segelintir orang. Sebagian besar rakyat tetap miskin. Alih-
alih keadilan sosial, tercipta kesenjangan sosial.

Pembangunan harus bertumpu pada penghargaan atas manusia dan
kemanusiaan karena negara memang harus menghormati, melindungi, dan
memenuhi hak-hak dasar manusia.

About these ads

1 Comment

  1. October 1, 2011 at 7:31 am

    good


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers

%d bloggers like this: