Pendidikan Budi Pekerti dan Masalah Regenerasi Bangsa

Pendidikan Budi Pekerti dan Masalah Regenerasi Bangsa

Oleh Mochtar Buchori

Ketika saya masih di SD, saya bersekolah di suatu “Sekolah Pribumi Kelas
Dua” (Tweede Inlandsche School). Di sekolah ini pendidikan budi pekerti
(singkatan resminya PBP) disampaikan melalui cerita-cerita atau dongeng.
Setiap dongeng selalu ditutup dengan kara-kata “Liding dongeng, ……”
Artinya: “Inti ceritera: …………” Di bagian ini lah moral ceritera
dirumuskan. Dalam zaman Pendudukan Jepanag, ketika saya menjadi murid suatu
Sekolah Guru, PBP diberikan dalam bentuk indoktrinasi. Dan dalam zaman
reformasi ini, fungsi PBP diambil alih oleh pendidikan agama, dan
dilaksanakan melalui khotbah atau nasihat. Bagaimana PBP ini sebaikya
dilaksanakan dalam situasi serba-krisis yang sedang dihadapi bangsa sekarang
ini?

Inilah pertanyaan dasar yang terdapat dalam suatu pertemuan tentang PBP.
Pertemuan ini dihadiri oleh sekitar 80 guru dari berbagai jenis sekolah, dan
mereka datang dari berbagai pelosok di Indonesia. Pertemuan ini disebut Temu
Warga Sekolah. Saya diminta hadir sebagai narasumber bersama-sama Bp. Daud
Yusuf.

Pidato pengantar yang disampaikan oleh salah seorang anggota Panitya
Penyelenggara menyarankan, agar pendidikan budi pekerti dipikirkan dalam
rangka mengatasi krisis bangsa yang sedang kita alami sekarang ini.
Diharapkan, agar pembicaraan dalam temu warga sekolah ini membahas cara-cara
menyelenggarakan PBP yang pada suatu saat nanti akan melahirkan
generas-generasi baru yang mampu mengelola negara dan bangsa ini dengan
cara-cara yang lebih baik. Pendekatan ini saya sebut “Pendidikan Budi
Pekerti dalam Konteks Regenerasi Bangsa.”

Dalam pandangan saya PBP untuk keperluan regenerasi bangsa perlu
diselengga-rakan dengan cara-cara yang berbeda daripada cara-cara
konvensional yang dipergunakan selama ini. Mengapa? Karena PBP konvensional
bertujuan utama melahirkan individu-individu yang salih, bermoral, berbudi
pekerti luhur, dan sebaginya. Sedangkan PBP untuk renegerasi bangsa
bertujuan utama melahirkan generasi-generasi yang berwatak dan cakap. Dengan
kata-kata lain, PBP konvensional mengacu kepada moralitas individual,
sedangkan PBP untuk regenerasi bangsa mengacu kepada moralitas kolektif.

Perbedaan ini sangat esensial. Segenap kemelut bangsa yang kita alami
sekarang ini dalam pandangan saya lahir dari lemahnya moralitas kolektif
tadi dalam masyarakat kita. Menghadapi segenap ketidak-adilan yang terjadi
dalam masyarakat, kebanyakan dari kita bersikap mengambil jarak: Saya
terkena atau tidak? Untuk apa ribut-ribut, kalau suatu ketidak-adilan tidak
menyentuh diri saya? Sikap ini lahir dari kuatnya tradisi moralitas
individual tadi dan lemahnya moralitas kolektif dalam masyarakat kita.
Antara kedua jenis moralitas ini tidak ada keseimbangan dan juga tidak ada
ketersambungan.

Sejalan dengan perbedaan di atas perlu dikatakan, bahwa PBP konvensional
mengutamakan pembinaan kepribadian perorangan, dan tidak memperhatikan
pembinaan kepribadian kelompok. Dan kepribadian bangsa adalah bentuk
terakhir dari kepribadian kelompok dalam masyarakat kita. Berbagai dampak
negatif dari globalisasi yang mucul dalam masyarakat kita sekarang ini lahir
dari tidak adanya kepribadian bangsa dalam mengikuti kehidupan yang sudah
terseret oleh arus globalisasi sekarang ini.

Perbedeaan kedua antara PBP konvensional dengan PBP untuk regenerasi bangsa
terletak pada cari memaknai kata ‘moral’, ‘moralitas’, dan ‘pendidikan
moral’. Dalam PBP konvensional ‘pendidikan moral’ terbatas pada kegiatan
untuk membimbing para siswa mengenal norma-norma etika, dan tidak menyentuh
masalah pangamalan nilai-nilai tadi. Dalam PBP untuk regenerasi bangsa
konsep ‘moralitas’ dan ‘pendidikan moral’ diperdalam, tidak hanya menganai
pengenalan nilai-nilai, tetapi diteruskan sampai ke pemahaman, penghayatan,
dan pengamalan nilai-nilai. Ada perbedaan dalam asumsi antara kedua jenis
PBP ini. Dalam PBP konvensional asumsi yang dipergunakan ialah, bahwa
mengenal nilai-nilai secara otomatis akan mengantar anak ke pengamalan
nilai-nilai. Dalam PBP untuk regenerasi bangsa asumsi yang dipergunakan
ialah bahwa antara mengenal nilai-nilai dan mengamalkan nilai-nilai terletak
suatu jarak mental yang cukup panjang, yang penuh dengan hambatan-hambatan.
Mengatasi hambatan-hambatan mental ini hanya akan terjadi kalau ada
bimbingan dari para pendidik.

Hanya PBP yang secara sadar dan sengaja berusaha membimbimg seluruh siswa
menjalani proses mental yang panjang ini akan melahirkan generasi yang
memiliki moralitas kolektif dan kepribadian kelompok. PBP yang hanya
mengandalkan khotbah, nasihat, dan indoktrinasi tidak akan mampu melahirkan
generasi yang memiliki moralitas kelompok, watak kelompok, dan watak bangsa.

Di samping itu PBP konvensional juga melupakan kenyataan, bahwa moralitas
yang tidak disangga oleh realisme akan menghasilkan moralitas yang naif.
Reinhold Niebuhr (1892-1971) memperingatkan, bahwa “Morality without realism
is naivite or worse, and realism without morality is cynicism or worse.” Dan
regenerasi bangsa hanya akan dapat dilaksanakan oleh generasi yang memiliki
moralitas yang realistik ini. Moralitas yang tidak naief, tetapi juga tidak
berbau sinisme.

Jadi kalau begitu, bagaimana sebaiknya PBP diselenggarakan.agar melahirkan
generasi-generasi degan moralitas yang realistik tadi? Meminjam ungkapan
Lawrence Pintak, seorang kolumnis Amerika, dapat dikatakan, bahwa untuk
membuat generasi mendatang menerima nilai-nilai pembaharuan “kita harus
melibatkan mereka dalam penyelesaian persoalan, dan tidak menyalahkan mereka
karena tidak meneruskan jejak generasi lampau. Kita harus berkomunikasi
dengan mereka, dan tidak mengkhotbahi mereka. (You must engage them, and not
demonize / You must communicate, and not preach.)

Berdasarkan pinsip-prinsip ini, dapat dikatakan, bahwa PBP untuk keperluan
regenerasi bangsa mengharuskan guru-guru untuk berbagi keresahan dan harapan
(sharing concerns and hopes) dengan murid-murid, di samping berbagi ketahuan
dan ke-tidak-tahuan (sharing knowledge and ignorance).

Masih ada dua lagi pertanyaan yang dibahas secara cukup ramai dalam
peristiwa temu warga sekolah ini. Kedua pertanyaan ini ialah pertama: Siapa
yang harus melaksankan PBP? Dan kedua: Haruskah ada mata ajar khusus untuk
PBP?

Menurut pendapat saya, setiap guru mempunyai kewajiban untuk turut
melaksanakan PBP ini. PBP dapat dilaksanakan melalui pelajaran apa saja:
matematika, bahasa dan sastra, sejarah, pendidikan jasmani, dan sebagainya.
Dalam setiap mata ajar terdapat seperangkat nilai yang pada umumhya jarang
diungkapkan secara eksplisit. Dengan demikian nilai-nilai tadi tidak
diketahui oleh semua siswa, tidak difahami oleh para siswa dan tidak
damalkan oleh setiap siswa. Kebiasaan untuk tidak mengungkapkan secara
eksplisit nilai-nilai yang terdapat dalam mata ajar ini timbul dari tradisi
lama yang memisahkan pendidikan untuk memperoleh pengetahuan (education for
knowledge) dari penpdidikan untuk mengenal dan memahami nilai-nilai (values
education). Dari tradisi ini lalu timbul semboyan “knowledge is power”, dan
kebiasaan untuk mengutamakan penguasaan pengetahuan faktual (factual
knowledge) dalam ujian. Dari praksis pendidikan seperti ini muncullah
generasi-generasi dengan perkembangan yang tidak seimbang antara ketajaman
otak dan kepekaan perasaan. Ini juga merupakan sumber dari munculnya
pengelola-pengelola kehidupan bangsa dan negara yang menimbulkan situasi
serba ruwet sekarang ini.

Berdasarkan pandangan ini maka menurut saya tidak perlu ada mata ajar khusus
budi pekerti. Yang diperlukan ialah bahwa setiap guru melalui mata ajar yang
diampunya menjelaskan secara eksplisit nilai-nilai yang terdapat dalam mata
ajarnya. Kemudian petugas bimbingan dan penyuluhan membimbing para siswa
mendiskusikan segenap jenis nilai yang telah disentuh oleh para guru.
Melalui diskusi mereka dapat dituntun untuk memahami makna nilai-nilai tadi
dalam kehidupan nyata. Melalui proses ini para siswa akan menyusun sendiri
sistem nilai (value system) mereka, baik sistem nilai pribadi, maupun sistem
nilai kelompok. Perlu kita ingat, bahwa dalam setiap bangsa yang mampu
meperbaharui diri sendiri, setiap generasi menyusun sendiri sistem nilai
yang akan dianutnya selama suatu kurun waktu.

Saya kira PBP yang dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip ini akan berbeda
secara radikal dari PBP yang diselenggarakan secara konvensional, mengikuti
tradisi khotbah, nasihat, dan indoktrinasi.

Dapatkah gagasan PBP untuk regenerasi bangsa ini benar-benar dilaksanakan?
Bergantung kepada kuat-lemahnya tekad kita untuk memperbaharui diri kita,
terutama dalam kehidupan politik dan kehidupan kultural.

Jakarta, 22 Desember, 2006.

About these ads

8 Comments

  1. denish said,

    April 27, 2008 at 10:04 am

    Indonesia sekarang lg sedang miskin budi pekerti….tapi gak tau kalo nanti….

  2. ribelfinza said,

    September 19, 2008 at 6:25 am

    kasian bangsa ini, anak didik nyaris tidak tahu arti dan pentingnya budi pekerti, besok mereka akan jadi penerus yang misslead karena gak tau arti pentingya budi pekerti..

  3. November 8, 2008 at 9:34 am

    pendidikan budi pekerti merupakan modal bagi generasi muda, karena budi pekerti bukan saja merupakan warisan yang diberikan pendahulu kita. meskipun jaman global yang memberikan doktrin-doktrin kepada generasi muda. namun yang pasti budi pekerti tetap haruslah menjadi prioritas utama karena penyelenggaraan pendidikan bertujuan memanusiakan manusia, artinya dari yang tidak tahu menjadi tahu, benar dan salah, tingkah laku yang harus dilakukan sebagai seorang yang berjiwa sosial dsb.

  4. risqi said,

    February 16, 2009 at 4:37 am

    yang terhormat kepada pembuat situs ini saran saya apakah bisa situs ini dibuat bahasa jawa semuanya. karena minggu ini saya bertugas membuat laporan tentang pendidikan budi pekerti pada mata pelajaran bahasa daerah. mohon dikabulkan, terima kasih………..

  5. dede said,

    June 9, 2009 at 1:08 pm

    katanya nenek moyang bangsa indonesia ber-budi pekerti luhur, tapi kok rakyat indonesia sekarang budi pekertinya merosot?

  6. rita said,

    July 29, 2010 at 1:06 am

    Pendidikan Budi Pekerti sangat penting baik untuk generasi muda maupun tua, karena untuk meningkatkan kwalitas moral bangsa

  7. September 30, 2010 at 11:00 am

    [...] sakinahbz Uncategorized Tinggalkan komentar Pendidikan Budi Pekerti dan Masalah RegenerasiĀ Bangsa [...]

  8. hand_they said,

    October 25, 2011 at 2:09 am

    budi pekerti seperti apa sih yang di butuhkan oleh bangsa indonesia supaya lebih bermoral, karena sya rasa bangsa indonesia sangat terpuruk,,
    trim’s


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers

%d bloggers like this: