Peran PDRI Membela Negara Kesatuan

Oleh Julius Pour
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/01/nasional/3344642.htm
===================

Dalam sejarah Indonesia modern, tanggal 19 Desember 1948 selalu jadi
perdebatan. Baik dari sisi Indonesia dan Belanda maupun antara
politisi sipil dan pihak militer.

Ini disebabkan peristiwa pada tanggal tersebut menyeret beragam
pertanyaan. Apakah benar agresi militer Belanda ke Yogyakarta
berhasil? Mengapa Bung Karno bersama Bung Hatta langsung menyerah?
Apa landasan Jenderal Soedirman tetap melanjutkan perlawanan dengan
memimpin perang gerilya? Dan bagaimana Pemerintah Darurat Republik
Indonesia (PDRI) bisa langsung terbentuk?

“…dalam enam jam, Yogyakarta sudah kita taklukkan, sekaligus
meringkus Presiden, Wapres, sejumlah menteri, dan KSAU (Kepala Staf
Angkatan Udara) Republik,” begitu laporan Letnan Kolonel Van Beek,
komandan pasukan khusus Belanda, sesaat setelah menguasai Gedung
Agung, kediaman resmi Bung Karno yang juga pusat pemerintahan
republik.

Pada masa itu Belanda hanya punya satu kompi Korps Speciale Troepen
(KST) yang komandannya, Kapten Raymond Westerling, baru saja digeser
akibat ekses yang dia lakukan selama operasi militer di Sulawesi
Selatan. Pasukan khusus ini menjadi andalan untuk menyerbu, dengan
terlebih dahulu diterjunkan merebut Landasan Udara Maguwo di timur
Yogyakarta. Operasi itu dilakukan setelah Van Mook yang dinilai
bersikap lunak digantikan LJM Beel sebagai Wakil Tinggi Mahkota,
berkedudukan di Jakarta.

Yogyakarta, ibu kota pemerintahan republik, segera bisa ditaklukkan.
Tetapi Tentara Nasional Indonesia di bawah komando Panglima Besar
Jenderal Soedirman tidak bersedia menyerah. Semua pasukan republik,
sesudah membumihanguskan kota, meloloskan diri dan langsung melakukan
perang gerilya sesuai dengan rencana militer yang telah dipersiapkan.
Roda pemerintahan juga terus berjalan karena PDRI yang berpusat di
Bukittinggi, Sumatera Barat, mampu meneruskan perjuangan.

“Dengan demikian, tampak nyata peran historis PDRI. Semua tokohnya
berhasil menempatkan diri secara terhormat dalam catatan sejarah
Indonesia,” kata Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan
Widodo AS pada 23 Januari 2007 malam dalam acara Syukuran Hari Bela
Negara.

Ratusan peserta, warga setempat, bekas pejuang, dan sesepuh
masyarakat Minangkabau dari Jakarta, hadir memadati tempat upacara
syukuran di Gedung Tri Arga, Bukittinggi, Sumatera Barat.

Hari Bela Negara

Melalui Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2006, Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono baru saja menetapkan tanggal 19 Desember 1948
sebagai Hari Bela Negara. Keputusan tersebut dilandasi kenyataan
bahwa pada tanggal itu masyarakat Bukittinggi khususnya dan Sumatera
umumnya bertekad melanjutkan perjuangan untuk mempertahankan
kemerdekaan meski pemerintah pusat (dalam hal ini pimpinan politik)
telah menyerah kepada Belanda.

Memang, akibat kacaunya saluran komunikasi Yogyakarta-Bukittinggi,
masyarakat di sana hanya menduga (yang ternyata benar) bahwa ibu kota
Republik sudah dikuasai musuh dan pemerintah telah bubar. Dengan
demikian, dua opsi lantas jadi terbuka: membentuk pemerintah pelarian
atau pemerintahan darurat.

Pada hari nahas itu, Menteri Kemakmuran Mr Syafroeddin Prawiranegara
sedang berada di Bukittinggi. Ketika komunikasi dengan Yogyakarta
terputus, Syafroeddin mengajak Kolonel Hidayat, Panglima Tentara
Teritorium Sumatera, menemui penguasa setempat, Mr Sutan Moh
Rasjid. “Pak Syafroeddin mengajak mendirikan PDRI sambil meminta
kesediaan Ayah jadi ketua,” kata Irwan Rasjid, putra sulung Sutan Moh
Rasjid, ketika mengungkapkan saat sangat dramatis termaksud. “…tetapi
Ayah menolak sambil menyarankan, sebagai tokoh pusat, sebaiknya PDRI
dipimpin Pak Syafroeddin.”

Setelah pembicaraan selesai dan ketika pesawat terbang Belanda mulai
mengebom Bukittinggi, Syafroeddin segera menyingkir ke pedalaman,
Kolonel Hidayat berangkat ke Aceh untuk meneruskan perlawanan,
sedangkan Moh Rasjid memimpin aksi bumi hangus.

Meskipun Syafroeddin selalu mendesak agar PDRI segera dibentuk, semua
tokoh setempat sepakat menunggu terlebih dahulu kedatangan Moh
Rasjid. Buku PDRI dalam Perang Kemerdekaan karya Amrin Imran
melukiskan, “…Rasjid merupakan tuan rumah sekaligus tokoh yang
berkemampuan untuk bisa diikutkan dalam pemerintahan”.

Terpaut tiga hari

Tanggal 23 Desember pukul 04.30, dalam rapat maraton di bekas
Perkebunan Teh Halaban, 15 kilometer arah selatan Payakumbuh, PDRI
dibentuk. Syafroeddin disepakati menjadi perdana menteri dengan
sebutan ketua merangkap menteri pertahanan, penerangan, dan menteri
luar negeri ad interim. Sutan Moh Rasjid ditetapkan sebagai menteri
keamanan merangkap menteri sosial, pembangunan, dan perburuhan.

Selain menyusun personalia kabinet, PDRI secara resmi menunjuk
Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar dan Kolonel Hidayat sebagai
Panglima Tentara dan Teritorium Sumatera. Jabatan yang pada
hakikatnya sama dengan posisi semula mereka. Namun, tiga jabatan
strategis, KSAL, KSAU, Kepala Jawatan Kepolisian Negara, dialihkan
kepada tokoh baru, Kolonel Laut Nazir, Komodor Muda Hubertus Suyono,
dan Komisaris Besar Umar Said.

Bersamaan dengan terbentuknya PDRI di Halaban, pasukan Belanda telah
menduduki Bukittinggi. Meski demikian, PDRI tetap aktif menata roda
pemerintahan serta penyelenggaraan negara.

Mereka bahkan sempat mengganti posisi menteri luar negeri, dari
penjabat sementara yang dirangkap Syafroeddin diserahkan kepada Mr AA
Maramis. Pengangkatan Maramis waktu itu sudah di luar negeri,
dilakukan lewat radiogram yang ditujukan kepada Dr Soedarsono, Kepala
Perwakilan RI di New Delhi, India.

Menengok kembali peran PDRI dan para tokoh masyarakat di Minangkabau
ketika terpanggil untuk ikut mempertahankan kemerdekaan serta
keutuhan NKRI, seyogianya kita memujinya dengan kalimat, Historia
docet. Sejarah selalu memberi pelajaran bermakna. Tentu saja kemudian
akan terpulang kembali kepada kita sendiri, mau tidak untuk menangkap
semua maknanya?

Julius Pour Wartawan, Tinggal di Jakarta

About these ads

3 Comments

  1. Ilma Mazro'ah Rizka said,

    September 24, 2011 at 3:59 am

    para sejarahwan,, minta penelitiannya yak…

  2. October 25, 2011 at 3:54 am

    […] Peran PDRI Membela Negara Kesatuan […]

  3. haidar said,

    May 9, 2012 at 5:42 am

    Berpusatnya di sumatera ya, ane kira di surabaya….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers

%d bloggers like this: