Perilaku Politik, Budaya Politik, dan Pendidikan

Oleh Mochtar Buchori
Pendidik
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0605/17/opini/2643628.htm
————————————

Bulan Mei kita pandang sebagai Bulan Pendidikan. Dalam bulan Mei kita
berpikir dan berenung tentang pendidikan kita. Dirasakan masih banyak
hal yang harus diluruskan. Selain itu, ada juga hal-hal yang kita
rasakan sebagai keberhasilan dan kecemerlangan.

Jadi dunia pendidikan kita kini dihadapi dengan perasaan campur baur.
Ada hal-hal yang menimbulkan rasa bangga, tetapi ada pula yang
menimbulkan rasa sedih dan iba.

Di tengah kesibukan menggagas pendidikan kita dikejutkan aneka
peristiwa politik yang menampakkan wajah jelek dunia politik kita
kini: kerusuhan dalam rangka pilkada, bupati terpilih yang digugat,
kongres partai politik yang dinamakan islah, tetapi penuh
percekcokan, dan pernyataan tokoh-tokoh politik yang tidak jelas
maksud dan tujuannya. Hari ini bilang “A”, beberapa hari kemudian
bilang “non-A”. Kita menyaksikan perilaku politik Indonesia dalam
format yang jelek.

Lalu di antara kita ada yang bertanya, “Masih adakah yang dapat
dilakukan oleh dunia pendidikan guna menjamin datangnya generasi
politik yang lebih santun dan lebih bertanggung jawab di masa depan
yang tidak terlampau jauh?”

Untuk menjawab pertanyaan ini, melahirkan serangkaian diskusi dan
seminar. Di antara kita ada yang berpandangan optimistis, tetapi ada
pula yang berpandangan pesimistis, bahkan ada yang berpandangan sinis
(cynical).

Sumber perilaku politik

Menurut pendapat saya, sumber perilaku politik pada dasarnya adalah
budaya politik, yaitu kesepakatan antara pelaku politik tentang apa
yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Kesepakatan ini
tidak selalu bersifat terbuka, tetapi ada pula yang bersifat
tertutup.

Kesepakatan untuk menerima amplop setiap kali dilakukan pembahasan
RUU merupakan kesepakatan gelap (illicit agreement). Membayar “uang
pelicin” kepada para petinggi politik untuk mendapatkan dukungan
partai dalam rebutan jabatan bupati, wali kota, dan gubernur
merupakan tindakan yang dianggap sah dalam budaya politik kita kini.

Suatu budaya politik biasanya berlaku selama periode tertentu. Ketika
datang perubahan penting dalam konstelasi politik, datang pula para
pelaku baru dalam gelanggang politik, terbukalah kesempatan untuk
memperbarui budaya politik.

Di negara kita budaya politik para perintis kemerdekaan berbeda dari
budaya politik pada zaman demokrasi parlementer, dan ini berbeda
dengan budaya politik yang tumbuh dalam zaman Orde Baru. Zaman
reformasi ini juga melahirkan budaya politik baru, yang kemudian
melahirkan perilaku politik yang menyusahkan banyak orang. Di
sementara kalangan budaya politik kita disebut dengan “budaya politik
aji mumpung”.

Apa hubungan budaya politik dengan pendidikan?

Budaya politik dibentuk dan dikembangkan oleh pelaku politik dan apa
yang akan ditentukan oleh pelaku politik sebagai ciri-ciri utama
budaya politik mereka sampai batas tertentu, dipengaruhi oleh
pendidikan mereka. Jadi hubungan antara budaya politik dan pendidikan
bersifat tidak langsung. Ini berarti pendidikan tidak secara final
membentuk pelaku politik. Pendidikan memberi dasar-dasar kepada tiap
calon pelaku politik. Jika dasar-dasar ini baik dan kokoh, besar
kemungkinan (probabilitasnya) akah lahir pelaku-pelaku politik yang
baik. Namun, jika dasar-dasar yang diberikan oleh pendidikan jelek
dan rapuh, kemungkinan besarnya ialah yang akan muncul di kemudian
hari adalah pelaku-pelaku politik yang jelek dan rapuh pula.

Berdasarkan generalisasi ini dapat dipahami mengapa perilaku para
pelaku politik dari masyarakat dengan sistem pendidikan yang baik
berbeda dengan perilaku pelaku politik yang berasal dari masyarakat
dengan sistem pendidikan yang kurang memadai. Dalam masyarakat kita,
misalnya, para pelaku politik dengan latar belakang pendidikan
pesantren yang baik, berbeda perilakunya dari pelaku politik yang
datang dari pendidikan pesantren yang kurang terpelihara atau dari
latar belakang pendidikan yang berbau aristokrasi dan meritokrasi
feodal atau militer.

Dulu, di Malaysia, para pelaku politik dengan latar belakang
pendidikan British berbeda sepak terjang politiknya dari pelaku
politik dengan latar belakang pendidikan Melayu. Di Inggris para
politikus dengan latar belakang pendidikan elitis berbeda perilakunya
dan budaya politiknya mereka yang datang dari kalangan pendidikan
yang kurang beruntung.

Sosok pendidikan

Lalu bagaimana sosok pendidikan (kontur pendidikan) yang dapat
menjadi landasan ideal kehidupan politik? Ini tergantung bagaimana
kita men-definisi-kan “kehidupan politik” yang ideal. Namun, secara
umum landasan yang baik adalah pendidikan yang dalam jargon politik
disebut “pendidikan manusia seutuhnya”.

Dalam idiom modern, ini ialah pendidikan yang membimbing anak
menjelajah enam wilayah makna (realms of meaning), yaitu simbolika,
empirika, estetika, sinnoetika, etika, dan sinoptis. Pendidikan ini,
jika diselenggarakan dengan baik, akan menghasilkan anak-anak muda
yang mampu berpikir secara sistematik, mengenal dan memahami aneka
persoalan empiris yang ada di masyarakatnya, memiliki rasa keindahan,
memiliki kepekaan sosial, secara sukarela taat kepada norma-norma,
dan mampu berpikir secara reflektif dan integratif. Menurut para
ahli, pendidikan seperti ini memerlukan waktu empat belas tahum.
Dalam sistem kita itu berarti pendidikan dari tingkat SD hingga
sarjana muda atau D-2/D-3.

Dengan landasan pendidikan seperti ini, kiranya akan lahir insan-
insan politik yang mampu merintis lahirnya budaya politik baru dan
perilaku politik yang lebih santun dalam negara kita.

Untuk ini mungkin di masa depan kewajiban belajar bagi anak-cucu
perlu ditingkatkan dari 9 tahun jadi 15 tahun. Mungkin di masa depan
perlu diadakan ketentuan, untuk menjadi anggota DPRD dan DPR
diperlukan paling tidak ijazah D-2 atau D-3. Jadi perjalanan yang
harus ditempuh sistem pendidikan kita masih panjang sebelum lahir
generasi politik yang lebih cakap, lebih santun, dan lebih
bertanggung jawab daripada yang ada kini.

Dapatkah ini kita capai? Semoga.

About these ads

19 Comments

  1. ali velayati said,

    April 12, 2008 at 4:08 am

    Menarik sekali tulisan Pak Mochtar ini, pada dasarnya dalam rangka membentuk generasi yang santun dan bertanggungjawab, pendidikan harus mewarnai perilaku politik, dimana prilaku meawarnai partisipasi dan akhirnya membentuk budaya politik. hal yang tidak disangkal memang, budaya politik sangat dipengaruhi oleh struktur politik, sedangkan daya operasional struktur ditentukan oleh konteks kultural tempat sturktur itu berada.
    dan pendidikan yang ditempuh minimal 14 tahun, pertanyaannya apakah bisa konstan seorang anak mempelajari enam wilayah makna? Indonesia banyak orang pintar dengan pendidikan lebih dari S1, akan tetapi sedikit orang baik. apakah bisa enam wilayah makna ini mampu menciptakan orang pintar sekaligus orang baik ?!

    Terimakasih. Mohon ijin saya kutif tulisan ini, dalam blog saya yah?!

  2. sueb bonenk said,

    August 5, 2008 at 7:22 am

    kok………… ga da tokohnya ci !!!!!! susah nyarinya

  3. Risa said,

    August 11, 2008 at 9:47 am

    tq,ciz dah ngebantu aq ngerjain tugas mengenai budaya politik

  4. fika nd said,

    August 30, 2008 at 7:49 am

    apa contoh budaya politik yang ada di Indonesia sekarang ini??

  5. cheila said,

    September 2, 2008 at 1:25 pm

    hem…
    jika mempelajari kondisi masyarakat indonesia,menurut anda budaya politik apakah yang berkembang di indonesia saat ini?
    apatis,mobilisasi atau partisipasif?

    mengapa pendidikan masyarakat perkotaan lebih tnggi daripada masyarakat pedesaan.namun, tingkat partisipasi politik masyarakat perkotaan lebih rendah?

  6. cute_bgo said,

    September 22, 2008 at 8:55 am

    “hhmm…….,ditambahin lg dunk”…….!!!!!

  7. noer arief ramadan said,

    December 4, 2008 at 10:07 pm

    tolong tuliskan ciri-ciri budaya politik

  8. a'cah said,

    December 12, 2008 at 9:34 am

    terus definisi dari polical will itu apa….. dalam konteks yang mendasar political will itu merupakan kemauan dalam berpolitik/ kehendak dalam berpolitik. kendalanya dari semua political will adalah dari masyarakat sendiri.
    peran pemda dalam political will di bidang kesehatan gmn????

  9. abdul muis said,

    December 14, 2008 at 4:05 am

    bagaimana melksanakan budaya disuatu tempat agar tidak terjadi suatu masalah yang sanat besar .menurut aku budaya harus di laksanaskan dengan kesadaran pada seseorang

  10. tatiek said,

    February 6, 2009 at 10:41 pm

    Menanggapi pemerihalan bsumber perilaku politik. Bukankan sebaliknya?Perilaku politik itulah yang membentuk budaya politik. Semakin banyak perilaku semacam itu yang dilakukan oleh individu-individu maka itulah yang menyumbang dan mengokohkan terbentuknya budaya politik.

  11. ibnu iskhak said,

    February 23, 2009 at 2:21 pm

    suwun……………

  12. april said,

    July 27, 2009 at 1:01 pm

    aduuuuuuuuuh….kok gak ada ciri-ciri politiknya sichhhhhhh?????????
    kan jadi gak bisa kerjain tugas buat skul………………………..

  13. August 30, 2009 at 6:18 pm

    saya tertarik dengan psikologi politik.. kira2 variabel yg cocok buat penelitian apa yach?

  14. meyga said,

    September 1, 2009 at 3:01 am

    hmm…minta tolong kasih tau kebijakan politik apa saja yang telah berkembang di masyarakat..buat tugas skul nee…nuwun..

  15. maryanto said,

    September 11, 2011 at 10:33 am

    tulisane bagus gan..
    untuk memahami tentang teori berbudaya politik amatlah mudah, ttpi realitanya sulit karena berkaitan dengan kekuasaan, uang dan perempuan

    trim’s

  16. maulana farids amrullah said,

    January 4, 2012 at 8:57 am

    ngomongin masalah idealis gak habis2 yaaa

    tpi mntap,, byak yang di tnya bnyak yang dpat di tangkap

  17. henny said,

    January 4, 2012 at 2:08 pm

    bagaimana sih sistem pemilu presiden?

  18. May said,

    March 7, 2012 at 12:16 pm

    mau tanya, perebutan kursi kekuasaan itu masuk ke mana.. budaya ato prilaku politiknya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers

%d bloggers like this: