Taman Siswa dan Pendidikan Kita

Oleh Mochtar Buchori
Pendidik
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0607/03/opini/2776701.htm
============================

Pada HUT ke-84 Perguruan Taman Siswa, selaku aktivis pendidikan dari
luar keluarga Perguruan Taman Siswa, saya bertanya, apakah yang dapat
disumbangkan oleh Taman Siswa untuk ikut mengarahkan proses
transformasi pendidikan Indonesia yang kini sedang berlangsung?

Ada dua hal yang mendorong saya mengajukan pertanyaan ini. Pertama,
karena Taman Siswa mewarisi kekuatan kultural yang amat besar, yang
telah berhasil melahirkan sistem pendidikan yang benar-benar berwatak
nasional. Sistem ini ternyata mampu bertahan dalam masyarakat
Indonesia yang telah mengalami berbagai perubahan yang bersifat
fundamental dan transformatif.

Kedua, karena dewasa ini sistem pendidikan kita, dalam pengamatan
saya, sedang mengalami kebingungan. Hiruk-pikuk sekitar ujian
nasional (UN) hanya merupakan riak kecil dari kebingungan pendidikan.
Gejala kebingungan lebih besar tercermin pada masalah “pendidikan
alternatif”. Di satu pihak ada beberapa kelompok di masyarakat yang
dengan keterbatasannya berusaha memberikan pendidikan kepada anak-
anak yang tidak mampu. Di pihak lain, ada pemerintah yang tampaknya
mempersulit kehadiran lembaga-lembaga “pendidikan alternatif” itu.
Lalu, bagaimana sikap bangsa kita terhadap masalah anak-anak yang
benar-benar tidak mampu? Kita bingung menghadapi masalah ini.

Visi Ki Hadjar

Jika visi dan keberanian besar yang telah melahirkan Perguruan Taman
Siswa masih ada sisanya, tentu ada sesuatu yang besar yang dapat
disumbangkan Taman Siswa untuk mengatasi kebingungan besar yang
sedang kita alami dalam mengarahkan pendidikan Indonesia di masa
depan. Itu harapan saya.

Dalam berharap ini, beberapa sketsa tentang kebesaran visi serta
keberanian politik Ki Hadjar Dewantara mengemuka. Ketika Ki Hadjar
menyatakan anak-anak Indonesia harus dididik dalam suatu sistem
pendidikan yang berakar pada kebudayaan sendiri, bukan pendidikan
yang berakar pada kebudayaan Belanda, maka pandangan ini sungguh
merupakan suatu ledakan politik yang dahsyat saat itu.

Ketika Pemerintah Hindia Belanda menyatakan di kalangan penduduk
Indonesia terlihat adanya kehausan yang amat besar akan kemampuan
berbahasa Belanda, dan saat sebagian politisi Indonesia menekankan
betapa pentingnya pengetahuan modern yang harus diperoleh melalui
pendidikan Belanda, saat itu Ki Hadjar menekankan pandangan
sebaliknya.

Modernitas tidak hanya dapat diambil dari Barat dan melalui
pendidikan Belanda, tetapi juga dapat diambil dari kebudayaan besar
lain, melalui sistem pendidikan yang bisa tumbuh di bumi kultural
sendiri. Pandangan ini didukung Dr Soetomo dari Parindra, yang juga
menganjurkan dilakukannya reorientasi dalam pengembangan sistem
pendidikan Indonesia, antara lain dengan melihat ke Jepang dan Turki.

Visi besar itu dilanjutkan dengan pendirian Perguruan Taman Siswa
yang tidak mau menerima subsidi dari Pemerintah Hindia Belanda untuk
menopang kehidupannya. Juga sikap Taman Siswa terhadap ijazah,
mencerminkan keberanian politik yang besar. Taman Siswa tidak
membutuhkan ijazah negeri yang dikeluarkan Pemerintah Hindia Belanda.
Taman Siswa mengeluarkan ijazah sendiri yang berlaku di semua
lingkungan Taman Siswa dan masyarakat yang memiliki sikap politik
yang sama dengan Taman Siswa. Jika ada murid Taman Siswa yang ingin
memiliki ijazah negeri, itu merupakan urusan pribadi murid itu.

Di Taman Siswa, murid dibesarkan dengan pandangan, orang Indonesia
tidak harus memiliki ijazah negeri untuk dapat hidup di negerinya
sendiri. Kita tidak harus menjadi pegawai Pemerintah Kolonial Hindia
Belanda untuk dapat hidup secara layak.

Saat itu saya murid sebuah sekolah Muhammadiyah yang tidak disubsidi.
Suasana yang amat dominan di sekolah ialah bagaimana caranya
meningkatkan mutu pendidikan berdasar program pemerintah agar sekolah
dipandang layak mendapat subsidi Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian
di sekolah saya selalu ditekankan, betapa pentingnya memiliki ijazah
negeri dengan jalan ikut mengikuti ujian negara (staatsexamen)
sebagai extranea (peserta ujian dari luar). Hanya dengan ijazah
negeri kami akan diterima di sekolah-sekolah yang menjanjikan masa
depan yang baik.

Pikiran Mohammad Said

Sungguh besar perbedaan suasana antara di Taman Siswa dan sekolah
saya. Anehnya, saat itu, saya merasa lebih mentereng sebagai siswa
Muhammadiyah tak bersubsidi daripada teman-teman murid Taman Siswa.
Dalam kesadaran politik, rasa nasionalisme saya rasanya tidak lebih
rendah daripada yang diperlihatkan teman-teman dari Taman Siswa.
Dalam penguasaan bahasa Belanda saya merasa lebih baik. Kemampuan
bahasa Belanda kebanyakan teman-teman saya dari Taman Siswa plegak-
pleguk, tertatih-tatih.

Pandangan dan sikap pribadi saya terhadap Taman Siswa pada dasarnya
tidak berubah, sampai mas Koko (Soedjatmoko) memperkenalkan saya
kepada Mohammad Said. Di situ saya lihat kebesaran semangat Taman
Siswa memancar dari pikiran-pikiran Mohammad Said.

Pertemuan kami bertiga berlangsung berulang-ulang dan selalu di rumah
Mas Koko. Melalui diskusi-diskusi, saya mulai mengenali pola-pola
pikir Mohammad Said tentang pendidikan Indonesia. Baru kemudian saya
sadar, aneka pertemuan itu rupanya sengaja dirancang Mas Koko untuk
mempertemukan saya sebagai seorang novice dalam pendidikan dengan
veteran yang telah bertahun-tahun menggeluti masalah pendidikan
Indonesia.

Saya banyak belajar dari Mohammad Said. Misalnya, bagaimana
menghadapi tekanan politik untuk mempertahankan otonomi dalam
menyelenggarakan pendidikan; bagaimana menarik garis pemisah antara
sikap politik dan sikap kultural; dan bagaimana menerjemahkan sikap
ini dalam praktik pendidikan. Dan yang amat penting bagi saya,
bagaimana menegakkan keanggunan pendidikan (educational dignity)
dalam keterbatasan sarana. Berbagai pertemuan saya dengan Mohammad
Said terjadi antara tahun 1963-1965, tahun-tahun terakhir
pemerintahan Bung Karno.

Ketika Mohammad Said diangkat sebagai Menteri Pendidikan dalam
pemerintahan Presiden Soeharto—hanya selama tiga bulan—suatu hari di
depan kantor Kementerian PPK terjadi demonstrasi pelajar yang
mau “mengganyang” Soekarnoisme. Mohammad Said keluar dari kantor,
menghadapi para pelajar seorang diri, dan berteriak, “Ya, saya
soekarnoist. Kalian mau apa?” Demonstrasi pun bubar. Bagi saya,
episode ini menunjukkan betapa besarnya keberanian politik Mohammad
Said sebagai seorang pribadi Taman Siswa.

Kebingungan pendidikan kita

Dalam pandangan saya, kebingungan pendidikan kita kini merupakan
akibat kebingungan politik. Kedua kebingungan itu lahir dari
kebingungan kultural. Tiga jenis kebingungan ini letaknya berbeda-
beda dalam ruang kehidupan kita. Kebingungan politik merupakan
masalah hilir, masalah yang kini terjadi dan harus segera
diselesaikan. Sumbernya adalah kebingungan kultural merupakan masalah
hulu, yang cara penanganannya harus berbeda dari penanganan masalah
hilir.

Intinya, kita harus berani memutuskan, kita akan menjadi bangsa yang
bagaimana? Kita akan membentuk negara dan masyarakat yang bagaimana?
Jika sudah memutuskan, kita mulai melakukan langkah-langkah yang
secara programatik menuju sasaran tadi.

Kita, para penyangga pendidikan, adalah pemain-pemain kehidupan yang
bekerja di bagian hulu. Kita masing-masing harus menentukan, ingin
menjadi bangsa yang bagaimana dan ingin menegakkan kehidupan
bernegara dan bermasyarakat yang bagaimana. Ini harus merupakan
keputusan pendidikan yang harus diambil, bukan sesuatu yang
didiktekan oleh para pemain di hilir, yaitu politisi.

Alangkah indahnya jika Taman Siswa sebagai pewaris kekuatan kultural
yang besar dalam pendidikan dapat menunjukkan peta perjalanan
(educational road map) yang dapat ditempuh bersama untuk mengantar
generasi muda ke suatu kehidupan yang lebih santun, lebih cerdas, dan
lebih manusiawi daripada apa yang kita jalani bersama kini.

Semoga kita dapat merasakan sentuhan tangan yang membimbing kita.

About these ads

4 Comments

  1. komite taman muda ibu pawiyatan said,

    August 20, 2007 at 4:26 pm

    Saya sebagai orang tua murid dari putri saya yang bersekolah di taman muda kelas 2 taman siswa ibu pawiyatan, Yogyakarta, sangat setuju dengan tulisan bapak mengenai perlunya Taman Siswa kembali pada visi dan keberanian Ki Hajar Dewantara, agar taman siswa dapat menjadi pemandu dan contoh teladan dalam membangun kembali nilai-nilai pendidikan di Indonesia yang sudah tidak menentu arahnya. Hanya dengan atas nama untuk menghadapi era globalisasi akhirnya nilai-nilai pendidikan lebih banyak ditentukan oleh nilai-nilai materialistik, dan yang mempihatinkan bagi saya, adalah di Indonesia ini banyak orang-orang pintar dan ahli pendidikan tapi mereka tidak tahu atau tidak mau tahu dan tidak punya visi dan keberanian untuk menentukan nilai-nilai pendidikan yang dibutuhkan Bangsa Indonesia yang sesuai dengan kultur dan nilai-nilai kita bukannya harus berkiblat pada luar negeri yang sudah jelas nilai-nilai yang dianutnya pasti berbeda. Oleh karena itu saya sebagai Sekretaris Komite Taman muda Taman Siswa Ibu Pawiyatan, Yogyakarta peride 2007-2010 sangat ingin mengumpulkan para alumni Taman Siswa untuk dapat bersama-sama mengembalikan visi dan keberanian Ki Hajar Dewantara, yang telah sengaja dilenyapkan oleh para “pakar” pendidikan Indonesia. Semua itu agar kita jangan menjadi orang seperti kata pepatah “kacang lupa pada kulitnya”, Terimakasih bapak, dengan membaca tulisan bapak mengenai Taman Siswa dan Prndidikan Nasional ini maka saya sebagai generasi muda sangat termotivasi untuk berbuat sesuatu demi Pendidikan di Indonesia. Bila bapak membaca komentar saya ini mohon kiranya saya diberikan saran dan nasehat sevagai bekal saya dan komite taman muda dalam berjuang. Terimakasih.

    Arief Noor rachman, SE.MM.
    Sekretaris Komite Taman Muda
    39 tahun

  2. randy said,

    January 28, 2008 at 10:43 am

    good

  3. sinukarta said,

    June 13, 2008 at 5:05 am

    Dimohon kehadiran seluruh ALUMNI Tamansiswa untuk dapat berpartisipasi pada :

    REUNI ALUMNI TAMANSISWA se Indonesia

    Tanggal : 4 s/d 5 Juli 2008

    Tempat : Pendopo Agung Tamansiswa

    Jl. Tamansiswa no. 25

    Yogyakarta, DIY, Indonesia

    Acara : – Sarasehan

    – Bazar Seni

    – Malam Kesenian

    Kontak Person Panitia : +62 811 25 63 76 ( Mas Nanang )

    info lebih lanjut di http://www.tamansiswa.org

    Salam dan Bahagia.

  4. Elfizon Anwar said,

    September 27, 2008 at 7:38 am

    Tamansiswa sebagai pewaris kultur yang besar dalam dunia pendidikan kita, juga perlu mengevaluasi tentang tanggal ‘Hari Pendidikan Nasional’ yang ditetapkan pada setiap 2 Mei, apakah sudah tepat?. Karena, tanggal 2 Mei adalah hari lahirnya Bapak Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan nasional. Pada hal, hari yang ‘bersejarah’ bagi dunia pendidikan kita adalah tanggal 3 Juli, hari lahirnya TAMANSISWA. Mari kita luruskan peristiwa bersejarah ini ke arah yang sebenarnya, agar kita tidak dituduh oleh generasi bangsa yang akan datang, telah melakukan pembohongan sejarah khususnya sejarah dunia pendidikan Nasional.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers

%d bloggers like this: