Prof. Dr. Komaruddin Hidayat

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat

Source: Centre For Spirituality and Leadership

http://www.csl.or.id/

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat , nama yang tidak asing lagi di dunia dakwah Islam, khususnya dakwah dengan pendekatan sufistik. Sejak menyelesaikan S3nya dalam bidang filsafat di Universitas Ankara, Turki pada 1990, pria yang biasa dipanggil Mas Komar ini bergabung dengan Yayasan Wakaf Paramadina di Jakarta. Dari Paramadina inilah ia mulai mengguratkan namanya sebagai cendekiawan Muslim yang cukup diperhitungkan. Memulai karirnya sebagai dosen dan kemudian Direktur Eksekutif Paramadina, ia lalu dipercaya menjadi Ketua Yayasan yang didirikan cendekiawan Nurcholish Madjid tersebut. Penguasaan ilmu-ilmu agamanya yang sangat mumpuni, ditambah reputasi publik yang disandangnya sebagai intelektual kelas wahid di negeri ini, membuatnya begitu sibuk memenuhi undangan diskusi, ceramah dan acara unjuk wicara (talkshow) baik di televisi maupun radio. Sejak Januari 2005, Mas Komar resmi diangkat sebagai Direktur Program Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pandangan-pandangan kesufian Mas Komar sudah banyak dikenal, lantaran ia termasuk rajin berceramah tasawuf di berbagai forum. Kekuatan ceramah tasawuf pria penggemar olah raga tenis ini terletak pada metafor-metafor yang dinukil dari kisah-kisah sufi klasik kemudian direfleksikan ke dalam kehidupan aktual saat ini. Inilah yang menyebabkan ceramahnya begitu hidup dan memikat siapa saja yang mendengarkannya. Bukan hanya ceramahnya, tulisan-tulisannya pun mengalir dan enak dibaca. Mungkin karena tulisan-tulisannya itu lebih merupakan refleksi ketimbang analisis ilmiah yang kaku.

Tentang kepiawaannya dalam menulis, Mas Komar mengaku karena memang sejak remaja (di pesantren) sudah membiasakan diri berlatih menulis. Bekal keterampilan menulis itu ia asah terus hingga kuliah. Ketika menjadi mahasiswa sampai lulus S1, ia pernah menjadi wartawan majalah Panji Masyarakat selama 4 tahun (1978-1982). Mas Komar adalah orang yang percaya bahwa masa kecil seseorang menentukan akan menjadi apa orang tersebut kelak. Dan ia merasa beruntung karena sejak kecil orangtuanya telah mengarahkannya ke jalan yang kini ia yakini sebagai “benar”.

Kualifikasi Seorang Kiai

Komar lahir di Magelang Jawa Tengah pada 18 Oktober 1953 di lingkungan keluarga yang taat beragama. Dari namanya saja tampak bahwa keluarganya adalah keluarga santri. Begitu juga riwayat pendidikannya. Ia lulus pesantren Pabelan, Magelang pada 1969; kemudian melanjutkan ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan lulus sarjana S1 pada 1981. Cendekiawan Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo pernah menilai Komaruddin Hidayat sebagai cendekiawan yang unik, lantaran penguasaannya pada bidang kajian Bahasa Agama—suatu bidang yang jarang digeluti orang lain. Keahliannya di bidang bahasa agama ini dituangkannya dalam sebuah buku berjudul Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik, yang diterbitkan Paramadina pada 1996.

Bagi Dawam Rahardjo, Komaruddin Hidayat merupakan fenomena dari sebuah proses mobilisasi keluarga santri pedesaan yang kemudian mampu menembus batas-batas lokal dan kemudian mengikatkan diri ke dalam jaringan intelektual secara global. Namun sebagai intelektual berlatar belakang pendidikan agama, Komar tetaplah seorang guru ngaji yang setia pada tradisi Islamnya. “Komaruddin Hidayat itu sebenarnya memiliki kualifikasi seorang kiai, sebagaimana Cak Nur, seorang cendekiawan yang memiliki kualifikasi seorang ulama,” demikian tulis M. Dawam Rahardjo dalam kata pengantar untuk buku Komaruddin Hidayat berjudul Tragedi Raja Midas: Moralitas Agama dan Krisis Modernisme (Paramadina, 1998).

Minat Mas Komar terhadap tasawuf bukanlah sebuah kebetulan. Sebab, sebagai pengkaji filsafat dan guru besar filsafat Islam ia pasti sangat dekat dengan kajian-kajian mistisisme Islam. Sudah menjadi tradisi di lingkungan akademik IAIN untuk mengkaji bidang-bidang ilmu tradisional Islam secara komprehensif. Filsafat dan mistisisme adalah dua di antara disiplin tersebut. Bekal disiplin ilmu itulah kelak yang mengantarkan Mas Komar menjadi analis yang tajam dalam bidang sosial keagamaan, juga penutur tasawuf yang cukup memukau. Corak tasawuf Mas Komar, sebagaimana dituturkan oleh Dawam, adalah tasawuf yang digandengkan dengan gagasan transformasi sosial sebagaimana juga menjadi concern dari cendekiawan seperti Moeslim Abdurrahman dan Kuntowijoyo.

Menjadi Guru Besar Filsafat Agama

Suami dari Ait Choeriyah dan bapak dari dua anak ini dikukuhkan sebagai guru besar filsafat agama oleh almamaternya Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta pada Desember 2001. Obsesinya untuk membumikan ajaran-ajaran Islam ia tuangkan dalam pidato pengukuhannya yang ia beri judul “Ketika Agama Menyejarah”. Di situ ia mengemukakan bahwa Islam pada awal pertumbuhannya menunjukkan visi, potensi, dan prestasi yang sangat menakjubkan dalam membangun peradaban unggul dengan cara damai, intelektual, dan beradab. Namun, masa-masa produktif Islam menjadi terganggu ketika umat Islam terjebak dalam sengketa politik, baik sesama Muslim maupun dengan pihak Yahudi dan Nasrani.

Umat Islam, kata Komar, juga tidak mampu membangun institusi riset yang independen, yang mengabdi pada pengembangan ilmu terapan. Kuatnya peradaban teks dan kekuasaan ulama-umara, yang lebih mementingkan ritual dan kekuasaan politik ketimbang membangun peradaban, telah menyia-nyiakan aset intelektual yang dimiliki dunia Islam. “Toby E Huff secara karikatural menunjukkan ketidakmampuan dunia Islam memanfaatkan aset intelektualnya, di mana kompas hanya dipergunakan untuk menunjukkan kiblat, sementara oleh orang Eropa dipakai untuk bisa berkeliling dunia. Ilmu astronomi hanya dipakai untuk menentukan kapan datangnya bulan Ramadhan, sementara di Eropa dijadikan modal petualangan angkasa. Lalu dinamit oleh dunia Islam digunakan untuk berperang menghancurkan musuh, di Eropa dijadikan tenaga untuk menggerakkan industri berat dan kapal besar,” tandas mantan dosen Filsafat Islam di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta itu.

Kitab suci al-Quran, menurut Mas Komar, seharusnya menjadi sumber pencerahan yang tak pernah kering bagi umat Islam. Namun, itu harus disertai iklim kebebasan berekspresi dan bereksperimentasi dengan dukungan institusi yang profesional dan dana yang cukup. Di tengah krisis multidimensi, bangsa Indonesia mempunyai kesempatan untuk melakukan rekonstruksi ulang guna menemukan format Indonesia baru. Bagi umat Islam, kesempatan ini merupakan panggilan sejarah untuk memberikan kontribusi bagi bangsa dan peradaban dunia untuk membangun sebuah model negara demokrasi yang dimotivasi oleh komitmen keislaman. Umat Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini, tambah Mas Komar, harus paling merasa terpanggil memperjuangkan kesejahteraan, keadilan, dan demokrasi. Bukannya malah kembali ke alam pikiran mitologis dan komunalistik.

Pandangan Kesufian

Mas Komar membedakan dengan tegas antara mitologi dengan mistik. Mitologi merupakan kepercayaan yang tanpa dasar, sementara ajaran mistik bersandar pada petunjuk Tuhan mengenai iman kepada yang gaib sebagaimana diisyaratkan dalam ayat-ayat pertama surat al-Baqarah. Dimensi mistik dari Islam inilah menurut Mas Komar yang harus ditampilkan pada masa sekarang yang penuh dengan krisis. Sebagaimana terbaca dalam tulisannya, “Agama dan Kegalauan Masyarakat Modern” (2000), agama baginya adalah sumber spiritualitas. Oleh karena itu, kekayaan spiritualitas agama ini harus ditampilkan sebagai sumbangan untuk menyelesaikan krisis spiritualitas manusia dan masyarakat modern.

Malapetaka akibat kekosongan spiritualitas, kata Mas Komar yang juga pernah mengajar di Pasca Sarjana Filsafat UI ini, akan mudah menimpa manakala manusia menjauh dari Tuhannya. Sebab, manusia terikat perjanjian dengan Tuhan sebelum manusia lahir ke dunia ini. Allah berfirman: “(Ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabb-mu?”) Mereka menjawab: Benar (Engkau Rabb kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian ini) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Nya). (Q al-A`raf, 7:172).

Dalam pandangan Mas Komar, bila ridha Tuhan tidak lagi menjadi pusat orientasi manusia, kualitas kehidupan menjadi rendah. Dengan menjadikan Tuhan sebagai tujuan akhirnya, manusia akan terbebaskan dari derita kehampaan spiritual, karena Tuhan adalah Pesona yang Maha Hadir (Omnipresent) dan Maha Mutlak. Eksistensi yang relatif akan lenyap ke dalam eksistensi yang absolut. Keyakinan dan perasaan akan kemahahadiran Tuhan inilah yang akan memberikan kekuatan, pengendalian dan sekaligus kedamaian hati seseorang, sehingga yang bersangkutan senantiasa berada di dalam orbit Tuhan, bukannya putaran dunia yang tak jelas lagi ujung pangkalnya.

Dimensi spiritualitas dari faham dan penghayatan keberagamaan, menurut Mas Komar, pada dasarnya merupakan sebuah perjalanan ke dalam diri manusia sendiri. Bisa jadi masyarakat modern yang memiliki fasilitas transportasi canggih merasa telah melanglang buana, bahkan telah melakukan perjalanan ke planet lain, namun amat mungkin masih miskin dalam pengembaraannya dalam upaya mengenal dimensi batinnya, bahwa ia adalah makhluk spiritual. Pencapaian sains dan teknologi memang membuat manusia lupa bahwa dirinya adalah makhluk spiritual, sehingga ia menjadi terasing dari dirinya sendiri dan dari Tuhannya. Inilah yang disebut situasi kehampaan spiritual. Dan itu terjadi akibat gaya hidup serba kebendaan di zaman modern yang menyebabkan manusia sulit menemukan dirinya dan makna hidupnya yang terdalam.

Dalam tulisannya yang berjudul “Hegemoni Budaya Benda” (2000), Mas Komar secara jelas menunjukkan pandangan kesufiannya. Menurut mantan ketua Panwaslu Pusat yang sangat dekat dengan anak-anaknya ini, ada banyak cara untuk meningkatkan kesucian jiwa manusia sehingga dengan begitu manusia kembali ke natur bawaan atau kecenderungan primordialnya yaitu selalu rindu untuk dekat kepada Tuhan. Salah satunya ialah dengan berupaya membangun pola hidup yang mengorientasikan diri pasa aspek ruhani atau spiritual, dan melepaskan pandangan keduniaan yang serba benda ini. Dalam tradisi sufisme atau mistisisme pola hidup yang demikian dinamakan pola hidup zuhud. “Dan Islam secara teoritis amat kaya dengan dimensi sufisme atau mistik ini, dan barangkali merupakan paket yang bisa disumbangkan kepada masyarakat modern yang terkepung oleh hegemoni benda-benda,” tegas Komar.

Pola hidup zuhud itulah yang sering disampaikan Mas Komar dalam forum-forum pengajian dimana ia berkesempatan menjadi narasumbernya. Dalam pengamatan Mas Komar, antusiasme masyarakat perkotaan terhadap tasawuf begitu tinggi. “Tidak sedikit dari kalangan elit kota yang kemudian, setelah memahami dan mendalami tasawuf, mengalami perubahan sikap hidup menjadi lebih bersahaja, kalau tidak bisa dikatakan zuhud. Sikap hidup zuhud ternyata lebih memberikan ketenangan, jauh dari stres, dibandingkan dengan sikap hidup ngoyo dan ngotot mengejar kekayaan materi yang tak pernah terpuaskan.”

Pandangan kesufian Mas Komar memiliki spektrum dan cakupan yang amat luas. Ia bahkan juga bicara soal-soal yang berkaitan dengan gejala alam raya dari perspektif sufistik. Ketika bencana alam berupa gempa dan gelombang tsunami menerjang bumi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara, Mas Komar menulis artikel di harian Kompas edisi 11 Januari 2005 untuk melihat pesan mistis dari bencana yang amat dahsyat tersebut. Dalam artikelnya yang berjudul “Kosmosentrisme Religius”, Mas Komar menekankan perlunya kearifan dalam memperlakukan alam raya sebagai himpunan Asma Tuhan. Manusia adalah bagian integral dari alam, bukan penguasa alam. Kearifan kuno mengajarkan keserasian antara habit, habitus, dan habitat. Ketika manusia sebagai habitus mengambil sikap eksploitasi dan konfrontasi terhadap habitat alamnya, maka manusia pasti kalah. Bukti kekalahan manusia ketika konfrontasi terhadap alam semakin banyak. “Kini saatnya kita merenung dan menyadari betapa rapuhnya sesungguhnya posisi kita di hadapan semesta,” tegasnya.

Menurut mantan Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam (Diperta) Depag ini, alam disebut kosmos karena indah dan teratur. Begitulah Tuhan menciptakan. Hanyalah manusia yang memiliki potensi untuk merusak keteraturan alam, bukan makhluk lain. Namun, sehebat apa pun kekuatan manusia untuk melawan alam, tidak mungkin manusia akan bisa memenangkannya. Apa yang bisa diraih dan ditaklukkan manusia, terlalu kecil di hadapan semesta yang tak terbatas. Lalu, di mana kebesaran manusia? Kata kitab suci di samping karena akalnya, dalam diri manusia terdapat ruh ilahi. Jika ruh ilahi ini yang mengendalikan kehidupan, seseorang akan bisa merasakan nikmatnya bernyanyi dan bertawaf bersama tarian dan gerakan tawaf jagat raya. Bahkan bumi, laut, dan planet di sekitar kita, semuanya senantiasa melayani manusia. Matahari diperintah Tuhan untuk menciptakan penguapan air laut. Giliran angin membawa ke daratan agar menjadi mendung dan hujan. Lalu Bumi dengan gembira menampungnya dan menyuruh benih tanaman tumbuh untuk melayani kebutuhan manusia. Demikianlah, ketika seharian manusia telah lelah bekerja, malam dipanggil untuk menyelimuti agar tidurnya lelap. Begitu pemurahnya Bumi sehingga ia disebut Ibu Pertiwi, sosok yang senantiasa mencintai, memberi, danmelayani, tetapi tak pernah mengharap balas budi.

Bencana tsunami di Aceh dan Nias, bagi Mas Komar, merupakan peringatan dan panggilan terhadap kesadaran kosmosentrisme religius, sebuah kritik terhadap
paradigma antroposentrisme sekuler yang menjadikan intelektualitas manusia sebagai puncak ukuran kebenaran sehingga secara sistemik masyarakat modern telah menghancurkan habitatnya sendiri. Kita, katanya, dituntut untuk berkawan, santun, dan mencintai alam tanpa terjatuh untuk menyembahnya sebagai Tuhan karena alam adalah jejak-jejak kebesaran dan kasihNya. Jika kita berkawan dengan alam, katanya, maka kita bernyanyi dan menari bersama tarian alam semesta. Ia pun mengutip kata-kata indah dari Gary Zukav, penulis The Dancing Wu Li Masters: “Mata hatinya tidak lagi mampu melihat dan menikmati tarian alam yang begitu indah yang merupakan rumah kita.”

Pengamat Urban Sufism

Dalam diskursus kesufian, khususnya yang berkembang di perkotaan, tak jarang Mas Komar menempatkan dirinya sebagai pengamat, kalau bukan kritikus. Ia, misalnya, pernah menyindir gejala pengajian di kota-kota besar yang diklaim sebagai gejala tasawuf padahal sebenarnya menurut dia hanya pengajian biasa saja. Di pengajian semacam itu yang diajarkan adalah tauhid Islam, praktek ibadah seperti shalat, puasa, haji, zakat, dan persoalan-persoalan elementer yang memang dibutuhkan oleh orang-orang kaya di kota besar yang sangat buta terhadap agama Islam. Lalu para pengamat menyebut fenomena semacam itu sebagai urban sufism. Padahal, “Tasawuf terlalu tinggi untuk mereka yang masih belum tahu bagaimana berwudhu dengan benar,” sindir Mas Komar dalam Kata Pengantar untuk buku karya Sudirman Tebba yang berjudul Hidup Bahagia Cara Sufi terbitan kerjasama Paramadina dan Gugus Lintas Wacana (Januari, 2005).

Dalam Kata Pengantar itu pria yang pernah menjadi Fellow Researcher di McGill University, Montreal, Canada pada 1995 ini memang menempatkan dirinya sebagai pengamat urban sufism. Lahirnya kelompok-kelompok tarekat di kota besar seperti Jakarta saat ini, lalu munculnya fenomena zikir akbar ala Muhammad Arifin Ilham atau Ustadz Haryono, serta laris manisnya buku-buku bertema tasawuf dalam beberapa tahun terakhir, bagi Mas Komar belumlah cukup dikategorikan sebagai urban sufism. Itu menurutnya adalah semangat jatuh cinta pada agama. Bahkan tidak jarang masih berada pada tahap “cinta monyet”. Mereka—kalangan elit kota, pengusaha, selebritis, profesional, para CEO, dan lain-lain—antusias mendatangi pengajian, bukan bertasawuf dalam pengertian klasik. “Adakah ini gejala kebangkitan tasawuf yang sejati, fenomena sesaat, atau bahkan komersialisasi spiritualitas? Lagi-lagi, semuanya masih harus diteliti lebih jauh,” ungkap Mas Komar.

Ini bukan berarti Mas Komar pesimis dengan perkembangan tasawuf kota atau urban sufism. Ia hanya ingin mengajak kita melihat fenomena kebangkitan spiritualitas di kota-kota besar itu dalam kaitannya dengan dimensi ruang dan waktu yang saling terkait. Jadi, bukan fenomena tunggal yang berdiri sendiri. Bagi Mas Komar, yang juga pernah menjadi Fellow Researcher di Harfort Seminary, Connecticut, USA pada 1997, semaraknya forum-forum pengajian di kota besar seperti Jakarta akhir-akhir ini berkorelasi kuat dengan krisis ekonomi di tanah air. Ini, katanya, pertanda bahwa orang-orang kaya mulai melihat “dunia lain” di luar kelimpahan materi yang selama ini mengelilingi mereka. Dunia lain itu adalah dunia batin, dunia rohani, yang selama ini mereka abaikan. Dan kelimpahan materi ternyata tidak bisa membawa mereka memasuki dunia rohani yang sesungguhnya bersemayam di dalam diri mereka sendiri. Mereka membutuhkan penuntun untuk mengenal diri sendiri. Dan yang mereka datangi bukan konsultan atau psikolog. Mereka mendatangi forum-forum pengajian, bertanya kepada para ustadz, mubaligh, atau mursyid (guru tasawuf).

Dengan kata lain, Mas Komar melihat gejala urban sufism sebagai bagian dari proses masyarakat yang sedang berada di dalam situasi krisis. Apakah dengan begitu berarti gejala urban sufism itu buruk belaka, karena lebih merupakan sebuah eskapisme? Tidak juga. Bagi Mas Komar, gerakan yang mengajak orang untuk kembali ke agama bukan hanya oleh tasawuf, tapi juga oleh gerakan semacam fundamentalisme, gerakan kultus, gerakan tabligh, gerakan salafi, dan lain-lain. Justru dia memuji gerakan tasawuf yang menurutnya lebih bersahabat ketimbang gerakan fundamentalisme Islam.

Gerakan tasawuf, kata Mas Komar, memiliki daya pikat karena ia mewakili satu dimensi keagamaan, yakni dimensi esoteris (dimensi dalam) agama. Tasawuf menjanjikan pengalaman keruhanian manusia yang rindu untuk selalu dekat pada dan bersama dengan Tuhan. Pengalaman mukasyafah, yakni tersingkapnya jarak antara manusia dengan Tuhan, tidak akan terjadi selama manusia masih dibungkus oleh pakaian materi. Tuhan bersifat rohani maka untuk bertemu dengan-Nya manusia haruslah berpakaian rohani.

Di masa lalu, tambahnya, salah satu bentuk pakaian rohani ini adalah kehidupan zuhud, yakni melepaskan cinta pada kehidupan duniawi dan lebih mendekatkan diri pada Allah. Abu Dzar al-Ghifari (w. 652 M), salah seorang Sahabat Nabi Muhammad, adalah contoh yang sering disebut sebagai seorang zahid (pelaku kehidupan zuhud). Pola hidup seperti ini pula yang kelak dijalani oleh Rabiah al-Adawiyah (713-801 M). Bagi Rabiah, kehidupan duniawi merupakan rintangan menuju Allah. Itulah sebabnya, sufi wanita berparas cantik ini meninggalkan istana majikannya yang mewah untuk menjalani kehidupan zuhud. “Apakah semangat seperti yang dimiliki Abu Dzar al-Ghifari dan Rabiah al-Adawiyah ini pula yang saat ini menginspirasikan orang-orang, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, untuk mendalami tasawuf?”, tanya Mas Komar.
Tentu saja spektrum pemikiran dan pandangan tasawuf Mas Komar jauh lebih luas dan kaya dibanding yang bisa dijelaskan di sini. Namun satu hal yang pasti, bagi ayah dua anak yang keduanya perempuan ini, tasawuf adalah kehidupan yang riil itu sendiri. Dalam bukunya yang bertajuk Tuhan Begitu Dekat: Menangkap Makna-Makna Tersembunyi di Balik Perintah Beribadah, yang diterbitkan Paramadina pada 2000, Mas Komar menegaskan bahwa jalan sufi bukanlah jalan berbalik untuk membangun mahligai di langit, melainkan jalan turun dari kesadaran langit untuk memenangkan perjuangan di bumi. Oleh sebab itu, katanya, tokoh sufi yang paling ideal tidak lain dan tidak bukan adalah Nabi Muhammad saw. Muhammad adalah seorang spiritualis tapi sekaligus juga seorang pekerja keras di muka bumi.

Bagi Mas Komar, tasawuf mengajarkan kita untuk tidak perlu ngoyo dalam mengejar hidup yang serba sementara ini. Bersyukur dan merasa qana’ah dengan apa yang diberikan oleh Allah, katanya, menjadikan hidup ini lebih rileks dan nyaman. Jauh dari stress, cemas, dan penyakit-penyakit hati lainnya. Dan bersyukur, katanya lagi, bukan hanya kepada Tuhan tetapi juga kepada sesama manusia, lebih-lebih kepada mereka yang pernah berjasa kepada kita. Itulah sebabnya, penulis buku Wahyu Di Langit Wahyu di Bumi (Paramadina, 2003) ini punya kebiasaan setiap kali menerima gaji atau upah dari hasil kerjanya, ia selalu memejamkan mata sambil berdoa dan mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua dan para guru yang telah berjasa menjadikannya seperti sekarang ini.[]

“Out beyond ideas of wrongdoing and rightdoing there is a field. I’ll meet you there.'”

~ Rumi

About these ads

14 Comments

  1. August 29, 2007 at 9:37 am

    Yang Mulia Prof Dr.Komaruddin Hidayat, adalah mempunyai pemikiran yang maju tentang Islam dari semua pemuka agama di Indonesia, oleh karenanya saya sarankan agar beliau mengikuti hari-hari yang dijanjikan oleh Nabi Muhhamad saw. didalam kitab sucinya yaitu:

    1. Wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan datangnya Allah menurunkan Hari Takwil Kebenaran Kitab sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53

    2. Wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan datangnya Allah menjadikan Al Quran dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab sesuai Fushshilat (41) ayat 44.

    3. Wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan datangnya Allah menyempurnakan pewahyuan Al Quran berkat do’a ilmu pengetahuan agama oleh manusia sesuai Thaha (20) ayat 114,115.

    4. Wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan datangnya Allah membangkitkan ilmu pengetahuan agama sesuai Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22.

    5. Wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan datangnya Allah menyempurnakan agama disisi Allah adalah Islam, menjadi Agama Allah sesuai Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3.

    6. Wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan datangnya Allah menciptakana Agama Allah sebagai wadah semua manusia beragama apapun masuk kedalamnya berbondong-bondong dengan damai dengan membawa syariat kiamat sesuai Al Jaatsiyah (45) ayat 16,17,18.

    7.Semuannya itu datang dari Allah di Negara Kesataun Republik Indonesia
    berdasarkan falsafah Panca Sila pada awal millennium ke-3 masehi dan PASTI ditolak oleh orang-orang yang kearab-araban sesuai At Taubah (9) ayat 97.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
    .

  2. August 29, 2007 at 12:28 pm

    Lanjutan no.1:

    AGAMA ALLAH:
    An Nashr (110) ayat 1,2,3: Apabila telah datang pertolongan Allah (berwujud ilmu pengetahuan agama persepsi tunggal untuk semua manusia pada awal millennium ke-3 masehi) dan kemenangan (semua umat bergama apapun) dan engkau melihat manusia masuk kedalam Agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah (Zikir Allah sesuai Ali Imran (3) ayat 190,191, sebanyak-banyaknya dengan shahadat tauhid dan bukan shahadatain sesuai Az Zumar (39) ayat 45) dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampunlah kepada-Nya (atas perlakuan umat manunusia sejak Adam memecah belah persepsi tunggal dalam agama dan antara agama selama ini). Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  3. November 12, 2007 at 10:24 am

    Untuk penjelasan hal-hal tersebut diatas telah terbit sebuah buku panduan berjudul:
    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berikut 4 buah lampiran acuan:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis otodidak penelitian terhadap kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGAMA GANDAKOESOEMA”
    penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Pesepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  4. December 22, 2007 at 1:04 pm

    Sifat arbaban / berhala / menuhankan nabi/rasul secara tidak sadar sesuai Ali Imran (3) ayat 80, dan arbaban / berhala / menuhankan pemuka agama selain Allah secara tidak sadar sesuai At Taubah (9) ayat 31, adalah sifat musrik yang menyimpang jauh disambar burung dan diterbangkan angin dan tidak sampai kepada Allah sesuai Al Hajj (22) ayat 31.
    Sedang sifat musrik wajib dibunuh dengan hujjah ilmu agama sesuai At Taubah (9) ayat 5; najis menurut At Taubah (9) ayat 28; wajib diperangi dengan hujjah ilmu agama sesuai At Taubah (9) ayat 36; sifat musrik tiada ampunnya sesuai An Nisaa (4) ayat 48,116.
    Sadarlah hai umat manusia bahwa shahadat tauhid lebih utama dari pada shahadatain menurut Az Zumar (39) ayat 45.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  5. July 7, 2008 at 6:11 am

    Buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema

    Tersedia ditoko buku K A L A M
    Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
    Telp. 8573388

  6. August 1, 2008 at 2:52 am

    Buku Panduan Terhadap Kitab Suci Agama-Agama berjudul:
    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema
    Penerbit: GOD-A CENTRE

    I. Telah diserahkan pada hari Senin tanggal 24 September 2007 kepada Prof. DR. ibu Siti Musdah Mulia, MA., Islam, Ahli Peneliti Utama (APU) Balitbang dan Diklat Departemen Agama Republik Indonesia, untuk diteliti sampai kepada kesimpulan membenarkan atau menolak dengan hujjah, sebagaimana hujjah yang terdapat didalam buku itu sendiri.

    II. Telah dibedah oleh:

    A. DR. Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Islam, Presiden Republik Indonesia ke-4 tahun 1999-2002.

    B. Prof. DR. Budya Pradiptanagoro, Penghayat Kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, dosen FIPB Universitas Indonesia.

    C. Prof. DR. Usman Arif, Konghucu, dosen Ilmu Filsafat Universitas Gajah Mada.

    D. Prof. DR. Robert Paul Walean Sr., Pendeta Nasrani, sebagai Moderator, seorang peneliti Al Quran, sebagaimana Soegana Gandakoesoema meneliti Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru, keduanya setingkat dan sejajar dengan Waraqah bin Naufal bin Assab bin Abdul Uzza 94 tahun, anak paman Siti Khadijah 40 tahun, isteri Muhammad 25 tahun, sebelum menerima wahyu 15 tahun kemudian pada usia 40 tahun melalui Jibril (IQ), sedang Musa wahyu langsung dari Allah sesuai Al A’raaf (7) ayat 144,145.
    Petanyaannya yang sangat sulit untuk dijawab akan tetapi sangat logis dan wajar untuk dipertanyakan adalah Siti Khadijah dan Muhammad sebelum turun wahyu adalah seorang yang baik, patonah, sidik, amin dan lain-lainnya, mengadakan pernikahan diantara mereka berdua dengan acara ritual agama apa dan beragama apa ? Sedang waktu itu agama Nasrani adalah yang paling terkini !

    E. Disaksikan oleh 500 perserta seminar dan bedah buku dengan diakhiri oleh sesi dialog tanya-jawab. Apabila waktu tidak dibatasi, maka akan mengulur panjang sekali, disebabkan banyaknya gairah pertanyaan yang diajukan oleh para hadirin dari berbagai penganut agama dan kepercayaan/Keyakinan.

    F. Pada hari Kamis tanggal 29 Mei 2008, jam 09.00-14.30, tempat Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, jl. Salemba Raya 28A, Jakarta 10002, dalam rangka peringatan satu abad (1908-2008) kebangkitan nasional “dan kebangkitan agama-agama (1301-1401 hujrah) (1901-2001 masehi), diacara Seminar & Bedah Buku hari/tanggal: Selasa 27 Mei – Kamis 29 Mei 2008, dengan tema merunut benang merah sejarah bangsa untuk menemukan kembali jati diri roh Bhinneka Tunggal Ika Pancasila Indonesia.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  7. February 21, 2009 at 1:38 pm

    Buku Panduan “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema
    Penerbit: GOD-A CENTRE
    Bonus: “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI) berukuran 63×60 cm.
    Mendapat sambutan tertulis dari Departemen Agama Republik Indonesia,SekDitJen Bimas Buddha, Pendeta Nasrani dan Tokoh Islam Pakistan.

    Tersedia ditoko-toko buku distributor tunggal
    P.T. BUKU KITA
    Telp. 021.78881850
    Fax. 021.78881860

    Salamun ‘alaikum daiman fi yaumiddin, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millenniuan ke-3 masehi.

  8. February 21, 2009 at 1:40 pm

    Buku Panduan “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema
    Penerbit: GOD-A CENTRE
    Bonus: “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI) berukuran 63×60 cm.
    Hasil karya tulis ilmiah alamiah penelitian otodidak selama 25 tahun
    Mendapat sambutan tertulis dari Departemen Agama Republik Indonesia,SekDitJen Bimas Buddha, Pendeta Nasrani dan Tokoh Islam Pakistan.

    Tersedia ditoko-toko buku distributor tunggal
    P.T. BUKU KITA
    Telp. 021.78881850
    Fax. 021.78881860

    Salamun ‘alaikum daiman fi yaumiddin, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millenniuan ke-3 masehi.

  9. H Dungdu said,

    September 27, 2010 at 3:43 pm

    Islam adalah agama sejak Nabi Adam as. sampai Muhammad saw.
    Nabi Daud, Musa dan Isa adalah pembawa risalah islam, Namun akhirnya pe-
    ngikutnya yang menyelewengkan ajaran islam.
    Dan kini agama islam yang telah disempurnakan Allah melalui Nabi Muhammad
    yang telah berumur 15 abad. bermunculan penyeleweng-penyeleweng agama. Tidak heran zaman Abu Bakar shiddiq juga ada Musailmah Al-Kazab.
    Namun Islam, Dienullah dalam Pedoman Al-Qur’an dan Hadist dalam perlindungan Allah “Inna nahnu nazzalnaa^ddzikra wa inna lahu lahaafidzuun”

    • rinaldi m. harun said,

      December 15, 2012 at 8:36 am

      Subhnalllah. Bpk. Komaruddin, bisa menjadi sumber inpirasi bagi kita semua, dalam hal berperilaku yang sebenarnya dalam melaksanakan ajaran agama Islam. Saya sangat sependapat bahwa contoh sempurna untuk “pola hidup zuhud” adalah Nabi Besar Muhammad SAW. Nabi kita memberikan contoh bahwa pola hidup zuhud, bukanlah dalam arti kata ‘lari’ dari kehidupan duniawi. Beliau menjalani semua proses kehidupan duniawi dengan satu tujuan, yaitu Redha Allah swt. yang secara lahiriah tergambar dari ‘akhlak’ beliau yang begitu mulia kepada sesama makhluk Allah SWT.

  10. January 14, 2013 at 1:49 am

    Buku Panduan; “Bhinneka Catur Sila Tunggal Ika”
    Bonus: “Skema Tunggal Ilmu Laduni Tempat Acuan Ayat KItab Scu Tentang Kesatuan Agama” penulis Soegana Gandakoesoema
    Tersedia di-
    Perum. BSI PermaiBlok A3,
    Jl. Samudera Jaya
    Kelurahan Rangkapan Jaya
    Kecamatan Pancoran Mas
    Depok 16435
    Telp./Fax. 021 77884755
    HP. 085881409050

    • June 30, 2013 at 7:24 am

      Saya Ali Syahbana, selaku ajudan pribadi bapak Soegana Gandakoesoema menyatakan dengan sebenarnya, pengalaman dalam saya mengantar beliau mengunjungi bapak Prof. Dr. Komaruddin Hidayat , selaku rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta pada hari rabu tanggal 22 Desember 2010 jam 10.00 -12.00 diruang tamu sekretariaat, dalam rangka menyampaikansebuah buku risalah Allah berjudul Bhinneka Catur Sila Tunggal Ika, sebagai kitab panduan terhadap Skema Tunggal Ilmu Laduni Tempat Acuan Ayat Kitab Suci Tentang Kesuatuan Agama (Globalisasi). Diantara kitab suci dimaksud ialah yang diberikan Allah kepada nabi Muhammad saw. dimana didalamnya terkandung wujud sebuah Al Quran, yang juga terkandung didalam kitab suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang disebut Al Kitab atau Bible diberikan Allah kepada Musa as. dan Isa as. Buku panduan dan bonus skema tersebut diatas, adalah hasil tulisan penelitian otodidak terhadap dua buah kitab suci itu selama 25 tahun dan terbukti, bahwa isi dua buah kitab suci Isalam dan Kristen itu mengandung ilmu teologi yang yang sama dan sebangun dan tidak ada perbedaan dan perselisihan didalamnya, dan disebut tafsirnya tnggal (4:82) dan bukan multi tafsir (15:91). Sebaliknya dalam kenyataan kedua umat penganut kitab-kitab itu masing-masing berselisih faham selama lebih dari 1400 tahun. Dikemukakan oleh beliau kepada bapak rektor, sambil menunjuk kepada sebuah “Al Quranterjemah Indonesia” terbitan PT Sari Agung dan sebuah Al Kitab (Bible) perjanjian lama dan perjanjian baru bahasa Indonesia terbitan Lembaga Al Kitab Indonesia. Menurut atanggapan penulis, bahwa buku suci bertuliskan ayat-ayat dalam bahasa arab itu adalah Al Kitab, bukan Al Quran. Demiukian pula orang Kristen menamakan buku sucinya dengan sebutan Al Kitab. Dari dua buah Al Kitab itu terdapat didalamnya satu wujud Skema Risalah Allah yang disebut Al Quran yang mulia (56:77,78,79). Skema Al Quran itu dilukiskan oleh penulis dalam lembaran tertulis yang terbuka (17:13,14,71,72) yang dapat dipegang (6:7), sedang nami Muhammad saw. melukiskannya pada seluruh syiar-syiar proses manasik haji makani di Arab Saudi menurut Al Baqaaran (2) ayat 128. Sedang Al Quran dengan pengertian proses manasik haji zamani sejak Adam dahulu (2:30-39) sampai Adam kiamat era globalisasi (7:27 20:117 dijelaskan oleh penulis dalam lembaran kertas memenuhi Al Baqarah (2) ayat 197.
      Dan Al Quran yang mulia didalam kitab itu akan dijadikan
      Allah dalam bahasa asing “Indonesia” 41:44 selain dalam bahasa Arab (12:1,2,3 20:113 39:28 41:3 42:7 43:2,3) dan diprotes oleh orang arab. Pak rektor menanyakan kepada penulis “menurut ayat mana”, dan dijawab langsung “surat Fushshilat (41) ayat 44″, kemudian dicatat ayat itu oleh rektor pada sebuah halaman buku yang diberikan oleh penulis.
      Setelah beberapa saat meneliti buku panduan risalah Allah dan bonus lembaran skema itu, secara spontan rektor mengatakan kepada penulis, “Ini adalah hasil wahyu dan bapak adalah nabi.”
      Pernyataan itu disaksikan oleh yang hadir disana, diantaranya oleh pak Ahmadi sekretaris rektor dan saya sendiri selaku ajudan pribadi beliau. Seketika itu juga dijawab oleh pak Soegana: “Jangan begitu pak rektor, nanti banyak orang marah kepoada saya.” Setelah itu rektor masuk keruang kerjanya dan ketika kembali, beliau menyerahjkan sebuah amplop sambil berpesan: “Taun 2010 tinggal beberapa hari lagi, tahun depat hal ini kita lanjutkan. Akhirnya penulis diperkeanalkan kepada seorang Deputy Dean Academic Affairs bapak Prof Dr. Ikhsan Tanggok MA. Inilah sebuah pengalaman yang mengejutkan perasaan saya diakhir tahun 2010, Syubhan Allah !..

  11. bhinnekacatursilatunggalika said,

    July 31, 2013 at 9:27 am

    Hai manusia seluruh penduduk bumi !
    Dengan izin Allah kepada bangsa Indonesia menurut Fushshilat (41) ayat 44 era globalisasi 17:104 18:99 101:4 telah menurunkan Takwil kebenaran Kitab 7:52,53 yang wajib ditunggu-tunggu tetapi dilupakan oleh orang-orang Arab 9:97 dan bangsa Indonesia ditugaskan untuk menghakimi perselisihan antara umat beragama memenuhi 2:113 3:55 10:93 16:92,124 22:69 32:25 45:16,17,18 dan menyelesaikan perpecahan dalam agama 6:159 23:53,54 30:32 42:13.
    Alangkah mulianya bangsa Indonesia telah mendapat tugas itu diera globalisasi.

    Soegana Gandakoesoema Telepon / Fax. 02177884755
    HP. 085881409050

  12. bhinnekacatursilatunggalika said,

    August 21, 2013 at 7:20 am

    Salaamun qaulam mir robbir rahim 36:13,14,20,58

    Soegana Gandakoesoema, selaku direktur GOD-A CENTRE INDONESIA telah diminta oleh Dekan Fakultas Ushuluddin, Jurusan Perbandingan Agama, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, untuk memberikan kuliah umum pada hari Kamis tanggal 13 Juni 2013, jam 09.00 s/d. 11.45 dalam rangka meningkatkan wawasan para dosen, mahasiswa dan undangan lainnya.
    Sehubungan dengan itu, sebagai penghargaan, kami telah menerima “Setifikat Nara Sumber” Studium General Prodi Perbandingan Adama dengan “Doktrin Keselamatan Dalam Agama-Agama Dunia” yang ditanda tangani oleh Dekan Prof. DR. Zainun Kamaluddin Fakih MA. NIP 19500804 198603 1 002.

    Sebagai tambahan dapat kami beritahukan, bahwa apa yang ada pada kami ilmu konkrit teologi universal termasuk didalamnya:

    – Prodi Tafsir Hadist
    – Prodi Aqidah Filsafat
    – Prodi Perbandingan Agama-Agama dll.

    Kuliah Umum tuntas adalah 500 jam. menurut pengalaman kami sejak tahun 1986

    Demikian atas adanya hal-hal tersebut diatas kami mengucapkan terima kasih sebelumnya.

    Salaam qmrr,

    Soegana Gandakoesoema, Pemabaharu Persepsi Tunggal Agama Millennium ke-3.

    Alamat:
    Perumahan Puri BSI Permai Blok A no. 3
    Jl. Samudera Jaya,
    Kelurahan Rangkapan Jaya
    Kecamatan Pancoran Mas
    Depok 16435

    Teleppon / Fax. 02177884755
    HP. 085881409050


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers

%d bloggers like this: