Oleh Sayidiman Suryohadiprojo
Mantan Gubernur Lemhannas
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/23/opini/2758329.htm
=====================================
Amat menggembirakan, pada tahun 2006 terjadi perubahan dalam sikap
masyarakat Indonesia yang ingin Pancasila direvitalisasi dan
dikembangkan dalam kehidupan bangsa.
Ini satu perubahan dari keadaan saat Pancasila dilecehkan, bahkan
ditolak oleh banyak kalangan, termasuk kaum muda.
Harus diakui, banyak penyelewengan dilakukan dengan kedok Pancasila.
Namun itu bukan alasan untuk menolak dan membuang Pancasila. Sukar
dibayangkan kehidupan bangsa Indonesia yang sungguh- sungguh
sejahtera lahir batin tanpa Pancasila yang merupakan formulasi sikap
budaya Indonesia. Di satu pihak, kebudayaan Indonesia terbentuk dari
aneka ragam budaya yang merupakan hasil budidaya berbagai suku bangsa
Indonesia.
Di pihak lain, ada garis merah yang menunjukkan persamaan sikap hidup
di antara sekian banyak suku bangsa Indonesia. Itulah yang digali
Bung Karno, presiden pertama, dari kehidupan bangsa Indonesia. Kita
bersyukur, para Pendiri Bangsa Indonesia menerima pendapat Bung Karno
untuk menjadikan Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa dan Dasar
Negara Republik Indonesia.
Harmoni
Sikap budaya Indonesia yang sama dalam semua kebudayaan Indonesia
adalah bahwa manusia Indonesia menegakkan harmoni dalam hubungannya
dengan alam semesta dan masyarakat. Harmoni atau keselarasan itulah
yang tergambar dalam Pancasila berupa Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan
yang Dipimpin Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan,
dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Sikap budaya harmonis itu banyak persamaannya dengan sikap budaya
berbagai bangsa di Asia, antara lain Jepang yang juga menegakkan
harmoni dalam segenap hubungan manusianya.
Namun, sikap budaya itu berbeda, bahkan bertentangan dengan sikap
budaya dunia Barat yang sejak Renaissance di abad ke-15 mengambil
sikap budaya yang menaklukkan alam (to conquer nature). Dengan sikap
budaya itu dunia Barat mengembangkan ilmu pengetahuan secara dramatis
dan kehidupan dinamis yang memandang konflik sebagai jalan kemajuan.
Berdasarkan ilmu pengetahuan, Barat mengembangkan kehidupan
materiilnya dan kesanggupan meluaskan kekuasaan.
Jika sikap budaya Harmoni memandang kebersamaan atau masyarakat
sebagai pilar kehidupan, maka sikap budaya Barat menganggap individu
manusia sebagai nilai utama. Itu sebabnya dunia Barat menghasilkan
individualisme dan liberalisme, diikuti materialisme yang bermuara
pada imperialisme dan kolonialisme.
Sebagaimana dibuktikan sejarah, sikap budaya harmonis bukan sesuatu
yang pasif dan status quo. Itu terlihat dalam sejarah Indonesia
dengan kesediaan untuk menerima agama Hindu, lalu Buddha, diikuti
Islam dan Kristen. Sikap budaya harmonis berusaha melihat segi
positif barang luar untuk diambil dan diintegrasikan dengan miliknya
sendiri.
Namun pengambilan itu tidak membuang yang lama meski berbeda, tetapi
dijaga kontinuitas keindonesiaan. Diterima Hindu tanpa membuang yang
asli, yaitu animisme dan dinamisme. Diterima Buddha tidak
menghilangkan Hindu, begitu seterusnya. Itu sebabnya Raden Patah
sebagai pimpinan kerajaan Islam Demak menyatakan Demak adalah
kelanjutan Majapahit, bukan perpanjangan tangan satu kerajaan Arab.
Sikap budaya harmonis adalah toleran. Itu dapat dilihat saat berbagai
umat beragama yang berbeda, khususnya Islam dan Kristen,
bereksistensi dengan baik dan penuh gotong royong antara pemeluknya,
sebagaimana dulu dapat dilihat di Angkola Sipirok (Tapanuli) dan di
Maluku.
Ketika di Indonesia, dunia Barat dengan sikap budayanya bisa
diimbangi budaya harmonis, meski terjadi penjajahan dan praktik
imperialisme, kehidupan masyarakat Indonesia dapat terpelihara sesuai
prinsip harmoni, toleransi, kontinuitas.
Komunis
Namun, sejak pertengahan abad ke-20 hegemoni dunia Barat meningkat
drastis, baik yang kapitalistis maupun komunistis. Mulai saat itu
bangsa Indonesia kian sukar memelihara sikap budaya harmoni,
dibuktikan kian tersisihnya sifat gotong royong dalam kehidupan,
bahkan di desa- desa. Apalagi setelah Amerika dan sekutunya
mengalahkan saingannya, komunis, semangat menaklukkan dan hegemoni
kuat dirasakan di Indonesia dan dunia.
Kini, di Indonesia tidak saja sifat gotong royong sulit ditemukan,
toleransi antarumat beragama makin tiada. Dan yang lebih berbahaya,
makin banyak yang mengabaikan kontinuitas keindonesiaan.
Maka, jika kita merevitalisasi Pancasila, yang harus dilakukan adalah
menghidupkan dan memperkuat sikap budaya Indonesia. Waspadai, jangan
sampai revitalisasi disalahgunakan untuk membelokkan Pancasila sesuai
dengan keinginan pihak tertentu. Sebagaimana dulu PKI menerima
Pancasila tetapi sesuai dengan kepentingannya. Jangan sampai dengan
alasan bahwa Pancasila adalah ideologi terbuka, lalu dibelokkan
dengan nama sama, seperti mengubah UUD 1945 amandemen yang jiwanya
bertentangan.
Hal ini merupakan perjuangan yang tidak mudah karena kita belum
mempunyai kehidupan modern yang berlandasan harmoni. Berbeda dengan
Jepang yang sejak Restorasi Meiji berhasil merebut keunggulan Barat
dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap menjaga
kontinuitas Jepang berupa sikap harmoni dalam kehidupan.
Perjuangan yang tidak mudah ini memerlukan kepemimpinan yang teguh,
mempunyai pemahaman budaya, tetapi juga ada visi yang luas. Sebab di
satu pihak, harus ditegakkan kembali sikap harmoni, terwujud dalam
gotong royong. Di pihak lain, harus mengambil berbagai unsur luar
yang bermanfaat tanpa mengorbankan harmoni sebagai sikap budaya
Indonesia. Perjuangan ini harus dilakukan dalam kondisi dunia
sekarang yang penuh konflik. Ditambah kondisi masyarakat Indonesia
sendiri yang seperti lepas kendali.
Karena diperlukan kepemimpinan yang tidak ringan dan harus berjangka
lama, sebaiknya dikembangkan kepemimpinan kolektif yang anggotanya
mempunyai akar berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Mereka
telah membuktikan kesetiaannya kepada kontinuitas Indonesia dan
mempunyai kepribadian yang berwibawa serta berbekal pengetahuan dan
pengalaman.