<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>INDONESIA KITA &#187; Rejuvenasi Pancasila</title>
	<atom:link href="http://paramadina.wordpress.com/category/rejuvenasi-pancasila/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://paramadina.wordpress.com</link>
	<description>INDONESIA KITA</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Apr 2008 19:36:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='paramadina.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/91e83b3a554677ba921de1ef7daa1551?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>INDONESIA KITA &#187; Rejuvenasi Pancasila</title>
		<link>http://paramadina.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Pancasila dan Budaya Indonesia</title>
		<link>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/pancasila-dan-budaya-indonesia/</link>
		<comments>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/pancasila-dan-budaya-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Mar 2007 04:08:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paramadina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Rejuvenasi Pancasila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/pancasila-dan-budaya-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Sayidiman Suryohadiprojo
Mantan Gubernur Lemhannas
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/23/opini/2758329.htm
=====================================
Amat menggembirakan, pada tahun 2006 terjadi perubahan dalam sikap
masyarakat Indonesia yang ingin Pancasila direvitalisasi dan
dikembangkan dalam kehidupan bangsa.
Ini satu perubahan dari keadaan saat Pancasila dilecehkan, bahkan
ditolak oleh banyak kalangan, termasuk kaum muda.
Harus diakui, banyak penyelewengan dilakukan dengan kedok Pancasila.
Namun itu bukan alasan untuk menolak dan membuang Pancasila. Sukar
dibayangkan kehidupan bangsa Indonesia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paramadina.wordpress.com&blog=731361&post=98&subd=paramadina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh Sayidiman Suryohadiprojo<br />
Mantan Gubernur Lemhannas<br />
<a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/23/opini/2758329.htm">http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/23/opini/2758329.htm</a><br />
=====================================</p>
<p>Amat menggembirakan, pada tahun 2006 terjadi perubahan dalam sikap<br />
masyarakat Indonesia yang ingin Pancasila direvitalisasi dan<br />
dikembangkan dalam kehidupan bangsa.</p>
<p>Ini satu perubahan dari keadaan saat Pancasila dilecehkan, bahkan<br />
ditolak oleh banyak kalangan, termasuk kaum muda.</p>
<p>Harus diakui, banyak penyelewengan dilakukan dengan kedok Pancasila.<br />
Namun itu bukan alasan untuk menolak dan membuang Pancasila. Sukar<br />
dibayangkan kehidupan bangsa Indonesia yang sungguh- sungguh<br />
sejahtera lahir batin tanpa Pancasila yang merupakan formulasi sikap<br />
budaya Indonesia. Di satu pihak, kebudayaan Indonesia terbentuk dari<br />
aneka ragam budaya yang merupakan hasil budidaya berbagai suku bangsa<br />
Indonesia.</p>
<p>Di pihak lain, ada garis merah yang menunjukkan persamaan sikap hidup<br />
di antara sekian banyak suku bangsa Indonesia. Itulah yang digali<br />
Bung Karno, presiden pertama, dari kehidupan bangsa Indonesia. Kita<br />
bersyukur, para Pendiri Bangsa Indonesia menerima pendapat Bung Karno<br />
untuk menjadikan Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa dan Dasar<br />
Negara Republik Indonesia.</p>
<p>Harmoni</p>
<p>Sikap budaya Indonesia yang sama dalam semua kebudayaan Indonesia<br />
adalah bahwa manusia Indonesia menegakkan harmoni dalam hubungannya<br />
dengan alam semesta dan masyarakat. Harmoni atau keselarasan itulah<br />
yang tergambar dalam Pancasila berupa Ketuhanan Yang Maha Esa,<br />
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan<br />
yang Dipimpin Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan,<br />
dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.</p>
<p>Sikap budaya harmonis itu banyak persamaannya dengan sikap budaya<br />
berbagai bangsa di Asia, antara lain Jepang yang juga menegakkan<br />
harmoni dalam segenap hubungan manusianya.</p>
<p>Namun, sikap budaya itu berbeda, bahkan bertentangan dengan sikap<br />
budaya dunia Barat yang sejak Renaissance di abad ke-15 mengambil<br />
sikap budaya yang menaklukkan alam (to conquer nature). Dengan sikap<br />
budaya itu dunia Barat mengembangkan ilmu pengetahuan secara dramatis<br />
dan kehidupan dinamis yang memandang konflik sebagai jalan kemajuan.<br />
Berdasarkan ilmu pengetahuan, Barat mengembangkan kehidupan<br />
materiilnya dan kesanggupan meluaskan kekuasaan.</p>
<p>Jika sikap budaya Harmoni memandang kebersamaan atau masyarakat<br />
sebagai pilar kehidupan, maka sikap budaya Barat menganggap individu<br />
manusia sebagai nilai utama. Itu sebabnya dunia Barat menghasilkan<br />
individualisme dan liberalisme, diikuti materialisme yang bermuara<br />
pada imperialisme dan kolonialisme.</p>
<p>Sebagaimana dibuktikan sejarah, sikap budaya harmonis bukan sesuatu<br />
yang pasif dan status quo. Itu terlihat dalam sejarah Indonesia<br />
dengan kesediaan untuk menerima agama Hindu, lalu Buddha, diikuti<br />
Islam dan Kristen. Sikap budaya harmonis berusaha melihat segi<br />
positif barang luar untuk diambil dan diintegrasikan dengan miliknya<br />
sendiri.</p>
<p>Namun pengambilan itu tidak membuang yang lama meski berbeda, tetapi<br />
dijaga kontinuitas keindonesiaan. Diterima Hindu tanpa membuang yang<br />
asli, yaitu animisme dan dinamisme. Diterima Buddha tidak<br />
menghilangkan Hindu, begitu seterusnya. Itu sebabnya Raden Patah<br />
sebagai pimpinan kerajaan Islam Demak menyatakan Demak adalah<br />
kelanjutan Majapahit, bukan perpanjangan tangan satu kerajaan Arab.</p>
<p>Sikap budaya harmonis adalah toleran. Itu dapat dilihat saat berbagai<br />
umat beragama yang berbeda, khususnya Islam dan Kristen,<br />
bereksistensi dengan baik dan penuh gotong royong antara pemeluknya,<br />
sebagaimana dulu dapat dilihat di Angkola Sipirok (Tapanuli) dan di<br />
Maluku.</p>
<p>Ketika di Indonesia, dunia Barat dengan sikap budayanya bisa<br />
diimbangi budaya harmonis, meski terjadi penjajahan dan praktik<br />
imperialisme, kehidupan masyarakat Indonesia dapat terpelihara sesuai<br />
prinsip harmoni, toleransi, kontinuitas.</p>
<p>Komunis</p>
<p>Namun, sejak pertengahan abad ke-20 hegemoni dunia Barat meningkat<br />
drastis, baik yang kapitalistis maupun komunistis. Mulai saat itu<br />
bangsa Indonesia kian sukar memelihara sikap budaya harmoni,<br />
dibuktikan kian tersisihnya sifat gotong royong dalam kehidupan,<br />
bahkan di desa- desa. Apalagi setelah Amerika dan sekutunya<br />
mengalahkan saingannya, komunis, semangat menaklukkan dan hegemoni<br />
kuat dirasakan di Indonesia dan dunia.</p>
<p>Kini, di Indonesia tidak saja sifat gotong royong sulit ditemukan,<br />
toleransi antarumat beragama makin tiada. Dan yang lebih berbahaya,<br />
makin banyak yang mengabaikan kontinuitas keindonesiaan.</p>
<p>Maka, jika kita merevitalisasi Pancasila, yang harus dilakukan adalah<br />
menghidupkan dan memperkuat sikap budaya Indonesia. Waspadai, jangan<br />
sampai revitalisasi disalahgunakan untuk membelokkan Pancasila sesuai<br />
dengan keinginan pihak tertentu. Sebagaimana dulu PKI menerima<br />
Pancasila tetapi sesuai dengan kepentingannya. Jangan sampai dengan<br />
alasan bahwa Pancasila adalah ideologi terbuka, lalu dibelokkan<br />
dengan nama sama, seperti mengubah UUD 1945 amandemen yang jiwanya<br />
bertentangan.</p>
<p>Hal ini merupakan perjuangan yang tidak mudah karena kita belum<br />
mempunyai kehidupan modern yang berlandasan harmoni. Berbeda dengan<br />
Jepang yang sejak Restorasi Meiji berhasil merebut keunggulan Barat<br />
dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap menjaga<br />
kontinuitas Jepang berupa sikap harmoni dalam kehidupan.</p>
<p>Perjuangan yang tidak mudah ini memerlukan kepemimpinan yang teguh,<br />
mempunyai pemahaman budaya, tetapi juga ada visi yang luas. Sebab di<br />
satu pihak, harus ditegakkan kembali sikap harmoni, terwujud dalam<br />
gotong royong. Di pihak lain, harus mengambil berbagai unsur luar<br />
yang bermanfaat tanpa mengorbankan harmoni sebagai sikap budaya<br />
Indonesia. Perjuangan ini harus dilakukan dalam kondisi dunia<br />
sekarang yang penuh konflik. Ditambah kondisi masyarakat Indonesia<br />
sendiri yang seperti lepas kendali.</p>
<p>Karena diperlukan kepemimpinan yang tidak ringan dan harus berjangka<br />
lama, sebaiknya dikembangkan kepemimpinan kolektif yang anggotanya<br />
mempunyai akar berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Mereka<br />
telah membuktikan kesetiaannya kepada kontinuitas Indonesia dan<br />
mempunyai kepribadian yang berwibawa serta berbekal pengetahuan dan<br />
pengalaman.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/paramadina.wordpress.com/98/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/paramadina.wordpress.com/98/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paramadina.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paramadina.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paramadina.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paramadina.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paramadina.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paramadina.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paramadina.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paramadina.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paramadina.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paramadina.wordpress.com/98/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paramadina.wordpress.com&blog=731361&post=98&subd=paramadina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/pancasila-dan-budaya-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a941cb87a7ec8dc1d48b5d750ca06ab1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">paramadina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekali Pancasila, Tetap Pancasila</title>
		<link>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/sekali-pancasila-tetap-pancasila/</link>
		<comments>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/sekali-pancasila-tetap-pancasila/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Mar 2007 02:27:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paramadina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rejuvenasi Pancasila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/sekali-pancasila-tetap-pancasila/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Guruh Sukarno Putra
Ketua Umum Gerakan Spirit Pancasila
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/01/opini/2690119.htm
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;
Tanggal 1 Juni ini Pancasila genap berusia 61 tahun. Tahun 1945 Bung
Karno mengusulkan dasar negara itu di depan sidang Badan Penyelidik
Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI.
Pancasila disahkan masuk Pembukaan (Preambule) UUD 1945 pada sidang
PPKI, 18 Agustus 1945. Tetapi, &#8220;perlakuan&#8221; terhadap Pancasila sebagai
falsafah negara melalui proses panjang. Pada awal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paramadina.wordpress.com&blog=731361&post=80&subd=paramadina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh Guruh Sukarno Putra<br />
Ketua Umum Gerakan Spirit Pancasila<br />
<a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/01/opini/2690119.htm">http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/01/opini/2690119.htm</a><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Tanggal 1 Juni ini Pancasila genap berusia 61 tahun. Tahun 1945 Bung<br />
Karno mengusulkan dasar negara itu di depan sidang Badan Penyelidik<br />
Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI.</p>
<p>Pancasila disahkan masuk Pembukaan (Preambule) UUD 1945 pada sidang<br />
PPKI, 18 Agustus 1945. Tetapi, &#8220;perlakuan&#8221; terhadap Pancasila sebagai<br />
falsafah negara melalui proses panjang. Pada awal revolusi Bung Karno<br />
harus menyosialisasikan Pancasila ke seluruh pelosok, memakai salam<br />
lima jari tangan, simbol kelima sila Pancasila. Pancasila akhirnya<br />
diterima rakyat.</p>
<p>Di era Orde Baru (Orba) Pancasila sempat menjadi polemik, terkait<br />
klaim, yang pertama kali mengusulkan adalah Muhammad Yamin, bukan<br />
Bung Karno. Dengan ditemukannya naskah otentik Notulen Sidang BPUPKI<br />
di Arsip Nasional dan Surat Wasiat Bung Hatta kepada Guntur Sukarno,<br />
masalah itu tak lagi mengemuka. Pancasila juga mendapat citra negatif<br />
melalui program penataran Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan<br />
Pancasila (P4). Masyarakat tidak diberi ruang untuk mengemukakan<br />
pendapat. Pancasila menjadi alat politik untuk mempertahankan<br />
kekuasaan.</p>
<p>Dalam peringatan HUT Ke-61 Pancasila, kita diliputi keprihatinan<br />
karena hampir seluruh sila Pancasila belum terwujud. Lihat saja,<br />
banyak warga mengalami kesulitan menjalankan ibadah menurut<br />
keyakinannya. Sila Kerakyatan atau demokrasi belum dihayati, terbukti<br />
banyak kekerasan dan kerusuhan.</p>
<p>Dampak belum dihayatinya Pancasila, yaitu kebobrokan moral, berdampak<br />
pada manusia, alam, dan lingkungan. Alam murka akibat perilaku<br />
manusia tak ramah lingkungan. Bencana alam kecil sampai besar terus<br />
terjadi, dari Aceh hingga Yogyakarta. Sebagian orang religius<br />
menganggap ini adalah pertanda azab. Orang spiritual menyebut ini<br />
karma karena ada sebab-akibat.</p>
<p>Bagaimana menghadapinya? Cerahkan kesadaran spiritual (spiritual<br />
awareness). Menurut Kamus Filsafat, spiritual mengacu ke nilai-nilai<br />
manusiawi nonmaterial, seperti keindahan, kebaikan, kebenaran,<br />
kejujuran, kesucian, dan cinta.</p>
<p>Selama manusia belum mau mengembara di alam spiritual, selama itu<br />
pula segala yang diimpikan tidak akan terwujud. Kalaupun terwujud,<br />
sifatnya sementara, semu, tanpa makna. Konflik senantiasa subur.</p>
<p>Kejayaan spiritual</p>
<p>Dalam sejarahnya, bangsa Indonesia pernah mengalami masa kejayaan<br />
spiritual, Contohnya pada masa Sriwijaya dan Mataram purba, dengan<br />
lahirnya mahakarya Borobudur. Juga dengan peradaban India, Tiongkok<br />
kuno, dan Islam di Timur Tengah. Ini bukti, spiritual mempunyai daya<br />
mahadahsyat untuk mencapai kemajuan.</p>
<p>Sepanjang sejarah manusia, pencarian spiritual terus berkembang. Di<br />
sana-sini pengetahuan mengenai spiritual makin maju dan luas. Sayang,<br />
mereka yang tertarik hal spiritual hingga kini masih minoritas,<br />
bahkan dalam perkembangannya spiritual mengalami pembelokan,<br />
mengakibatkan banyak orang merasa risi pada hal-hal spiritual.<br />
Spiritual dihubungkan dengan hal yang tidak realistis, paranormal,<br />
mistik, klenik, atau perdukunan dengan persepsi keliru.</p>
<p>Pada usia ke-61 Pancasila yang harus dipertanyakan adalah masihkah<br />
kita berpegang pada Pancasila sebagaimana disepakati founding<br />
fathers? Apakah kita perlu mencari dasar negara lain, dengan alasan<br />
Pancasila tidak memberi perubahan hakiki terhadap kehidupan dan<br />
kesejahteraan bangsa Indonesia? Rasanya tidak pantas negara<br />
menyandang nama Pancasila, sementara warganya saling membunuh.</p>
<p>Sebagai paham universal, Pancasila sarat dengan perspektif spiritual<br />
dan mengacu pada pluralisme, kemajemukan, atau heterogenitas. NKRI<br />
merupakan wadah rakyat yang plural. Maka, mewacanakan spiritual<br />
(Ketuhanan Yang Maha Esa) yang paling tepat hanya Pancasila.</p>
<p>Ibarat masih didominasi &#8220;kuasa gelap&#8221;, tidak ada jalan lain kita<br />
harus menuju &#8220;kuasa terang&#8221;. Jalan ke situ adalah jalan Pancasila<br />
dengan cara spiritual (The Pancasila way by a spiritual way).<br />
Spiritualisasi Pancasila bertujuan melakukan pembentukan jiwa. Dengan<br />
cara itu, kita dapat mencapai cita-cita Proklamasi Kemerdekaan<br />
Indonesia, yaitu Indonesia yang jaya sentosa, dunia damai penuh<br />
kasih, gotong royong, dan persaudaraan.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/paramadina.wordpress.com/80/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/paramadina.wordpress.com/80/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paramadina.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paramadina.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paramadina.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paramadina.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paramadina.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paramadina.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paramadina.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paramadina.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paramadina.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paramadina.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paramadina.wordpress.com&blog=731361&post=80&subd=paramadina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/sekali-pancasila-tetap-pancasila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a941cb87a7ec8dc1d48b5d750ca06ab1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">paramadina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PANCASILA ADALAH IDENTITAS DAN JIWA BANGSA DAN NEGARA</title>
		<link>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/pancasila-adalah-identitas-dan-jiwa-bangsa-dan-negara/</link>
		<comments>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/pancasila-adalah-identitas-dan-jiwa-bangsa-dan-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Mar 2007 02:27:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paramadina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rejuvenasi Pancasila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/pancasila-adalah-identitas-dan-jiwa-bangsa-dan-negara/</guid>
		<description><![CDATA[REPUBLIK INDONESIA dan
BAPAK PENDIRI BANGSA BUNG KARNO
Tahun ini, 2005, adalah tahun Republik Indonesia mencapai usia 60
tahun. Menjelang hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, 17 Agustus
1945, kiranya adalah pada tempatnya mengenangkan kembali, memikirkan
kembali, mengadakan penelitian kembali sekitar Republik Indonesia:
lahir, tumbuh dan perkembangan serta pengkonsolidasiannya. Tidaklah
terlalu pagi memulai penulisan seperti itu. Maksudnya tidak lain untuk
menarik pelajaran dari pengalaman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paramadina.wordpress.com&blog=731361&post=79&subd=paramadina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>REPUBLIK INDONESIA dan<br />
BAPAK PENDIRI BANGSA BUNG KARNO<br />
Tahun ini, 2005, adalah tahun Republik Indonesia mencapai usia 60<br />
tahun. Menjelang hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, 17 Agustus<br />
1945, kiranya adalah pada tempatnya mengenangkan kembali, memikirkan<br />
kembali, mengadakan penelitian kembali sekitar Republik Indonesia:<br />
lahir, tumbuh dan perkembangan serta pengkonsolidasiannya. Tidaklah<br />
terlalu pagi memulai penulisan seperti itu. Maksudnya tidak lain untuk<br />
menarik pelajaran dari pengalaman sendiri dan menatap ke depan dengan<br />
sikap dan semangat &#8220;berfikir positif&#8221; dan dengan pandangan optimisme.</p>
<p>Sesuai pemikiran tsb diatas, punya arti penting pernyataan baru-baru<br />
ini oleh salah seorang tokoh nasional, juga dianggap &#8220;sesepuh&#8221;, mantan<br />
Sekjen Konferensi Asia-Arika di Bandung (1955): Roeslan Abdoelgani.<br />
Berkenaan dengan Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni yang lalu, beliau<br />
menyatakan, bahwa, Pancasila (adalah) sebagai ruh dan ideologi Negara<br />
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sampai saat ini masih sangat<br />
relevan dan dibutuhkan untuk membangun bangsa yang bermartabat dan<br />
punya harga diri di mata dunia. Sehubungan dengan ini Cak Rus<br />
(panggilan akrab Roeslan Abgdoelgani) mengutip kata-kata Bung Karno<br />
penggali Pancasila, sbb: &#8220;Bangsa ini akan mengalami kesulitan besar<br />
kalau ideologi Pancasila ditinggalkan&#8221;.</p>
<p>Pancasila (Alhamdulillah) sudah dipakukan di dalam UUD Negara, sebagai<br />
dasar falsafah negara Republik Indonesia. Syukur sampai sekarang<br />
bangsa ini masih berdiri tegak sebagai nasion, &#8212; tanpa sedikitpun<br />
menutup mata, tanpa meremehkan berbagai tantangan dan kesulitan maupun<br />
rintangan yang dihadapinya dari luar maupun dari dalam. Yang merupakan<br />
masalah serius ialah bagaimana Pancasila diinterpretasi, bagaimana<br />
pelaksanaannya dalam kehidupan politik, ekonomi dan sosial-budaya<br />
bangsa. ORBA, para sejarawan dan pakar yang mendukung ORBA, tidak<br />
tanggung-tanggung berusaha untuk mensalahtafsirkan, memutarbalikkan<br />
makna sesungguhnya Pancasila. Untuk itu mereka merekayasa dan memulas<br />
fakta-fakta sejarah sekitar lahirnya Pancasila. Mereka bahkan<br />
menyalahgunakan Pancasila untuk memberangus hak-hak demokrasi dan<br />
menginjak-injak HAM. Pancasila mereka gunakan untuk membenarkan<br />
penyerobotan kekuasaan negara dari tangan penggali Pancasila itu sendiri.</p>
<p>Jalan terbaik dalam memahami makna dan tujuan Pancasila, adalah<br />
memulainya dengan membaca dan mengkaji sendiri tulisan penggalinya,<br />
karya politik klasik: LAHIRNYA PANCASILA, pidato Bung Karno di muka<br />
Panitia Persiapan Kemerdekaan, 1 Juni 1945.</p>
<p>Yang tidak kurang serius, bahkan yang teramat serius, ialah bahwa Orba<br />
dengan sewenang-wenang menyalahgunakan Pancasila untuk memaksa bangsa<br />
ini BERFIKIR SERAGAM. Manusia Indonesia hanya dibolehkan berfikir<br />
menurut pola berfikir penguasa. Menjadikan bangsa ini bangsa yang<br />
paling dungu. Yang beranggapan kebenaran itu hanya ada pada penguasa,<br />
pada pemerintah, pada para elite, para &#8220;bapak-bapak&#8221; pemimpin. Suatu<br />
hal yang tidak mungkin tercapai. Kalaupun berhasil itu hanya bisa<br />
berlaku untuk waktu tertentu saja. Dalam hal ini 32 tahun periode<br />
ORBA. Tidak mungkin berhasil dalam waktu panjang, karena fikiran tsb<br />
berasal dari ideologi fasisme. Gerakan Reformasi dan Demokratisasi<br />
telah berhasil mendobrak pola berfikir seperti itu, tetapi belum<br />
tuntas. Terutama kalangan generasi muda dalam jumlah besar telah<br />
meninggalkan pola berfikir seperti itu. Namun, disebabkan belum<br />
konsisten dan belum mendalamnya gerakan Reformasi dan Demokratisasi,<br />
sampai dewasa ini pola baerfikir semacam itu masih besarang pada para<br />
elite; pada kebanyakan pemimpin, baik dalam badan-badan eksekutif,<br />
legeslatif ataupun judikatif; baik dalam birokrasi maupun aparat<br />
kekuasaan negara.</p>
<p>Salah satu masalah yang masih terus didiskusikan dan diseminarkan,<br />
dipelajari kembali dan dianalisis atas dasar fakta-fakta, adalah<br />
masalah PELURUSAN SEJARAH. Membicarakan kembali dengan maksud<br />
memperdalam dan akhirnya mentuntaskan masalah PULURUSAN SEJARAH bangsa<br />
kita terutama selama periode kemerdekaan, adalah sesuai dengan maksud<br />
memperingati HARI KEMERDEKAAN. Maka, adalah menarik apa yang ditulis<br />
oleh sejarawan, Peneliti Utama LIPI, Dr. Asvi Warman Adam pada tanggal<br />
2 Juni y.l. (Jawa Pos), dalam artikel berjudul SUKARNO MENGGUGAT<br />
SEJARAH. Tulisan itu semacam resensi tentang buku &#8220;REVOLSUI BELUM<br />
SELESAI&#8221;, suatu &#8216;Kumpulan pidato Bung Karno&#8217; sebanyak 61 buah sejak<br />
1965 s/d 1967, yang berasal dari Arsip Nasional RI. Buku itu<br />
diterbitkan oleh Mesiass, Semarang. Jumlah keseluruhan pidato Bung<br />
Karno pada periode tsb adalah 103 buah. Oleh penerbit tidak<br />
diterbitkan semua, karena keterbatasan dana dan ruangan.</p>
<p>Aswi Adam menilai bahwa pidato-pidato Bung Karno itu memberi<br />
sumbangan signifikan untuk pelurusan sejarah awal Orde Baru. Sebagian<br />
terbesar rakyat Indonesia selama lebih 32 tahun Orba, tidak pernah<br />
mengetahui adanya pidato-pidato Presiden Sukarno yang begitu krusial<br />
dan teramat penting dalam sejarah Indonesia.</p>
<p>Pada saat-saat situasi politik Indonesia bergejolak sedemikian rupa<br />
drastis, dramatis dan tragisnya, bangsa dan negeri ini tidak<br />
mengetahui apa petunjuk, wejangan dan arah yang diberikan oleh kepala<br />
negara dan kepala pemerintahan Presiden RI Sukarno. Betapa tidak<br />
tragis dan dramatis misalnya nasib &#8220;Surat Perintah Sebelas Maret&#8221;<br />
(SUPERSEMAR) yang ditandatangani Presiden Sukarno, suatu surat<br />
perintah yang disampaikan oleh Kepala Negara, Kepala Pemerintah dan<br />
Panglima Tertinggi ABRI, untuk mendukung dan membela instruksi,<br />
kewibawaan dan ajaran-ajaran Bung Karno. Nyatanya dokumen penting ini<br />
telah disulap-salahgunakan oleh Jendral Suharto menjadi surat<br />
pengesahan perebutan kekuasaan negara. &#8220;Supersmar&#8221;, yang hitam diatas<br />
putih menyatakan bahwa ia dimaksudkan untuk membela kewibawaan<br />
Presiden Sukarno, demi ketertiban dan keamanan, justru digunakan untuk<br />
mensahkan dan melegitimasi pembunuhan lebih sejuta rakyat tidak<br />
bersalah, sebagai awal pelikwidasian dukungan dan pengaruh Bung Karno<br />
di kalangan rakyat.</p>
<p>Tidak berkelebihan untuk mengatakan, &#8212; kalau ada pengkhianatan dalam<br />
sejarah Republik Indonesia, maka, tindakan perebutan kekuasaan negara<br />
oleh Jendral Suharto dengan menyalahgunakan SUPERSEMAR adalah<br />
pengkhiantan yang paling besar dan paling keji, tiada ada taranya.</p>
<p>Membicarakan perjalanan hidup Republik Indonesia, lahir dan<br />
perjuangannya, tidak mungkin terlepas dari pembicaraan mengenai Bung<br />
Karno, salah seorang tokoh utama dari para &#8220;founding fathers of our<br />
nation&#8221;.</p>
<p>Perjuangan panjang bangsa ini untuk mencapai kemerdekaan dan<br />
menegakkan negara sendiri yang setara sejajar dengan negara-negara<br />
merdeka lainnya di dunia ini, bertalian erat sekali dengan perjuangan<br />
untuk membangun nasion, membangun puluhan sukubangsa kita menjadi<br />
satu bangsa, satu nasion yang punya kesadaran identitas sebagai bangsa<br />
Indonesia, sebagai suatu nasion yang bukan saja punya identitas<br />
nasional, tetapi juga punya hargadiri sebagai nasion.</p>
<p>Disinilah sumbangan tak terhingga yang telah diberikan oleh Bung Karno<br />
terhadap usaha besar ini. Membangun nasion Indonesia adalah dasar yang<br />
paling kokoh, adalah persiapan yang paling fundamental menuju<br />
Indonesia Merdeka. Tidak sekali dua Bung Karno menekankan betapa<br />
pentingnya membangun kesadaran berbangsa, dan semangat bangga sebagai<br />
bangsa Indonesia. Sehubungan ini Aswi Adam menulis sbb: Dia (Presiden<br />
Sukarno) mengungkapkan bahwa Tugu Nasional (kini dikenal sebagai<br />
Monas, Monumen Nasional) dibangun bukanlah dengan bujet negara,<br />
melainkan dari sumbangan pengusaha, sumbangan dari ekspor kopra, dan<br />
sumbangan pada karcis bioskop. Kepada mahasiswa yang mengecam, &#8220;Tidak<br />
perlu monumen, yang perlu beras&#8221;, Soekarno membalas, &#8220;Monumen itu<br />
celana. Celana bagi bangsa yang sedang melakukan revolusi. Makanan<br />
jiwa agar rakyat berkobar semangatnya. Manusia tidak hidup dari roti<br />
dan nasi thok.&#8221; Betapa Bung Karno menekankan arti penting dari<br />
semangat berbangsa, semangat kebangsaan yang berkobar.</p>
<p>Satu hal lagi yang tidak boleh dibiarkan, pada saat kita memikirkan<br />
kembali peristiwa-peristiwa sekitar Revolusi Kemerdekaan dan tegaknya<br />
Republik Indonesia, untuk menarik pelajaran sebaik-baiknya, ialah,<br />
fikiran yang melecehkan perjuangan bangsa sendiri. Ini termanifestasi<br />
dalam &#8220;analisis&#8221; yang menyimpulkan bahwa kemenangan bangsa kita dalam<br />
perjuangan melawan agresi militer 1 dan 2 pada tahun-tahun perjuangan<br />
kemerdekaan, b u k a n disebabkan oleh perjuangan bangsa kita<br />
sendiri. Pendapat atau &#8220;analisis&#8221; tsb mengklaim bahwa agresi 1 dan 2<br />
Belanda itu bukan digagalkan oleh perjuangan bangsa kita, &#8212; kesediaan<br />
Belanda untuk menghentikan agresinya terhadap RI yang akhirnya mau<br />
&#8220;mengembalikan daerah Republik Indonesia&#8221;, bersedia melakukan<br />
perundingan KMB dan bersedia meninggalkan Indonesia, itu semua<br />
disebabkan oleh TEKANAN AMERIKA SERIKAT atas Belanda. Dengan<br />
demikian, menurut &#8220;analisis&#8221; tsb adalah berkat Amerika Serikat, maka<br />
kita berhasil mengalahkan kolonialisme Belanda. Suatu fikiran yang<br />
teramat keliru dan samasekali tidak didukung oleh fakta-fakta sejarah<br />
perjuangan kita sendiri.</p>
<p>Kemerdekaan yang telah kita capai serta mendapat pengakuan<br />
internasional, pertama-tama disebabkan oleh hasil perjuangan bangsa<br />
kita sendiri. Kenyataan ini tampaknya masih ada yang meragukannya.<br />
Bahkan menyanggahnya.</p>
<p>Mari buka kembali catatan dan dokumentasi sejarah bangsa kita, yang<br />
ada di dalam maupun diluar negeri. Dari situ akan jelas bahwa<br />
perjuangan kita, sebagai bangsa Indonesia, sebagai suatu nasion, sudah<br />
dimulai jauh ke belakang, yaitu paling tidak sejak permulaan abad<br />
keduapuluh. Menjadi lebih kongkrit sejak deklarasi Sumpah Pemuda 20<br />
Mei 1928. Sebelum dan sesudahnya bangsa kita sudah melakukan<br />
perjuangan dan menderita pengorbanan yang tidak kecil akibat<br />
penindasan oleh aparat kolonial Belanda. Ada yang suratkabarnya<br />
diberangus, ada yang parpolnya dilarang, banyak yang ditangkap,<br />
dipenjarakan, dibuang ke Banda, Bengkulu dan Boven Digoel (Papua); ada<br />
pula yang dibuang ke luarnegeri. Sungguh tidak sedikit pengorbanan<br />
perjuangan nasional kita. Ketika atas nama bangsa Indonesia Bung Karno<br />
dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, segera kita<br />
dihadapkan pada kekuatan bersenjata Jepang, Inggris kemudian Belanda.<br />
Siapa yang tidak ingat akan pertempuran-pertumparan gagah berani<br />
pasukan bersenjata Indonesia melawan tentara Jepang, Inggris dan<br />
Belanda di Ambarawa, Surabaya, Jakarta, Bandung, Krawang, Jogyakarta<br />
dan di banyak tempat lainnya. Melalui pertempuran-pertempuran tsb<br />
lahirlah Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang baerkembang menjadi Tentara<br />
Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Republik Indonesia (TRI), kemudian<br />
akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).Perjuangan<br />
bersenjata rakyat kita itu tidak akan berhasil bila tidak dipadukan<br />
dengan perjuangan di bidang diplomasi, yang pada periode baru<br />
berdirinya Republik Indonesia sudah mendapat pengakuan dari<br />
negeri-negeri Sosialis seperti Ukraina, Tjekoslowakia dan kemudian Uni<br />
Sovyet. Juga dukungan dan pengakuan dari negeri-negeri Arab yang<br />
berpenduduk mayoritas Islam seperti Mesir, Syria dll. Juga dukungan<br />
dan pengakuan India punya peranan penting memperkokoh kedudukan<br />
internasional Republik Indonesia.</p>
<p>Adalah perpaduan dua cara perjuangan yang dilakukan oleh Republik<br />
Indonesia, yaitu perang rakyat semesta dengan TNI (dengan segala<br />
kekurangan-kekurangannya) sebagai kekuatan terbesar (juga dengan<br />
turursertanya kekuatan bersenjata yang masih ada di bawah pengaruh<br />
kekuatan politik Kiri, meskipun sudah menderita pukulan dalam<br />
Peristiwa Madiun) &#8212; yang dipadukan dengan perjuangan pandai dibidang<br />
diplomasi di dunia internasional, &#8212;- itulah yang memaksa Belanda<br />
mengakui kenyataan bahwa mereka tidak bisa bertahan terus di<br />
Indonesia, meskipun setelah agresi Belanda yang kedua, kebanyakan<br />
kota-kota besar Indonesia, kecuali di Aceh, diduduki oleh Belanda.<br />
Politik bumi hangus Indonesia juga memainkan peranan penting.</p>
<p>Maka adalah perjuangan kita sendiri, yang membikin AS yang terpancang<br />
dengan kesibukan &#8220;Perang Dingin&#8221;, terbuka matanya, menjadi ketakutan,<br />
jangan-jangan Indonesia nantinya jatuh di bawah pengarub blok Komunis,<br />
maka Amerika mengambil prakarsa menekan Belanda untuk berunding dengan<br />
Republik Indonesia dan kemudian meninggalkan Indonesia.</p>
<p>Jelas bukanlah berkat AS maka Belanda meninggalkan Indonesia dan<br />
kemerdekaan kita diakui oleh dunia internasional. Kemerdekaan Republik<br />
Indonesia, membelanya dan memperkokohnya, itu adalah berkat perjuangan<br />
kita sendiri, dengan dukungan dan soldaritas iternasional ***</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/paramadina.wordpress.com/79/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/paramadina.wordpress.com/79/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paramadina.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paramadina.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paramadina.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paramadina.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paramadina.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paramadina.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paramadina.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paramadina.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paramadina.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paramadina.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paramadina.wordpress.com&blog=731361&post=79&subd=paramadina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/pancasila-adalah-identitas-dan-jiwa-bangsa-dan-negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a941cb87a7ec8dc1d48b5d750ca06ab1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">paramadina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menggali Pancasila Kembali</title>
		<link>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/menggali-pancasila-kembali/</link>
		<comments>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/menggali-pancasila-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Mar 2007 02:03:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paramadina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rejuvenasi Pancasila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/menggali-pancasila-kembali/</guid>
		<description><![CDATA[Menggali Pancasila Kembali
Oleh Goenawan Mohamad
‘Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia
hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri’ &#8212; Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni
1945.
***
KITA hidup dalam sebuah zaman yang makin menyadari ketidak-sempurnaan nasib.
Gagasan ‘sosialisme ilmiah’ yang ditawarkan oleh Marx dan Engels pernah
meramalkan tercapainya ‘surga di bumi’, sebuah masyarakat di mana kapitalisme
hilang dan kontradiksi tak ditemukan lagi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paramadina.wordpress.com&blog=731361&post=70&subd=paramadina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Menggali Pancasila Kembali</p>
<p>Oleh Goenawan Mohamad</p>
<p>‘Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia<br />
hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri’ &#8212; Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni<br />
1945.</p>
<p>***</p>
<p>KITA hidup dalam sebuah zaman yang makin menyadari ketidak-sempurnaan nasib.<br />
Gagasan ‘sosialisme ilmiah’ yang ditawarkan oleh Marx dan Engels pernah<br />
meramalkan tercapainya ‘surga di bumi’, sebuah masyarakat di mana kapitalisme<br />
hilang dan kontradiksi tak ditemukan lagi. Tapi cita-cita itu terbentur dengan<br />
kenyataan yang keras di akhir dasawarsa ke-8 abad ke-20: Uni Soviet dan RRC<br />
mengubah haluan, dengan menerima ‘jalan kapitalis’ yang semula dikecam.<br />
Sosialisme pun terpuruk: ternyata ‘ilmiah’ bukan berarti ‘tanpa salah’, ternyata<br />
Marxisme sebuah gagasan yang akhirnya harus mengakui bahwa dunia tak akan<br />
pernah bebas dari kontradiksi.</p>
<p>Dewasa ini cita-cita menegakkan ‘Negara Islam’ mungkin satu-satunya yang masih<br />
percaya bahwa kesempurnaan bisa diwujudkan. Jika hukum Tuhan adalah hukum yang<br />
hendak diterapkan, mau tak mau hasil yang diharapkan adalah sebuah kehidupan<br />
sosial yang tanpa cacat.</p>
<p>Dengan kata lain, para penganjur ‘Negara Islam’ adalah penggagas yang tak<br />
membaca sejarah yang terbentang dalam jangka waktu lebih dari 21 abad – sebuah<br />
sejarah harapan dan kekecewaan yang silih berganti, sebuah sejarah ide dan<br />
rencana cemerlang yang kemudian terbentur, sebuah riwayat pemimpin dan khalifah<br />
yang tak selamanya tahu bagaimana menjauh dari sabu-sabu kekuasaan.</p>
<p>Para penganjur ide ‘Negara Islam’ lupa bahwa agama selamanya menjanjikan<br />
kehidupan alternatif: di samping yang ‘duniawi’ yang kita jalani kini, ada kelak<br />
yang ‘ukhrowi’ yang lebih baik. Maka sebuah ‘Negara Islam’ yang tak mengakui<br />
ketidak-sempurnaannya sendiri akan salah secara akidah. Tapi sebuah ‘Negara<br />
Islam’ yang mengakui ketidak-sempurnaannya sendiri akan menimbulkan persoalan:<br />
bukankah ajektif ‘Islam’ mengandaikan sesuatu yang sempurna?</p>
<p>Dilema itu berasal dari pengalaman kita: bumi adalah bumi; ia bukan surga.<br />
Ketidak-sempurnaan, bahkan cacat, berlangsung terus, berselang-seling dengan<br />
saat-saat yang mengagumkan. Agaknya akan demikian seterusnya.</p>
<p>Di tahun 1992 Francis Fukuyama mengatakan kita berada di ‘akhir sejarah’. Tapi<br />
ia tak mengatakan bahwa hidup tak akan lagi dirundung cela. Memang ia merayakan<br />
kemenangan ekonomi kapitalis dan demokrasi liberal yang kini tampak di banyak<br />
sudut. Ia ingin menunjukkan bahwa pandangan alternatif yang yakin untuk<br />
menggantikan kapitalisme dan demokrasi liberal telah kehilangan daya pikat;<br />
ideologi telah berakhir, seperti telah dikatakan Raymond Aron di tahun 1955 dan<br />
Daniel Bell di tahun 1960. Orang terdorong untuk jadi pragmatis. Tapi ada yang<br />
harus dibayar.</p>
<p>‘Akhir sejarah akan merupakan sebuah peristiwa yang amat sedih’, tulis<br />
Fukuyama. ‘Perjuangan untuk diakui, kehendak untuk mengambil risiko mati bagi<br />
sebuah cita-cita yang sepenuhnya abstrak, pergulatan ideologis sedunia yang<br />
menggugah tualang, keberanian, imajinasi, dan idealisme, akan digantikan oleh<br />
perhitungan ekonomis, keprihatinan soal lingkungan dan pemuasan permintaan<br />
konsumen yang kian canggih’.</p>
<p>Fukuyama tak sepenuhnya betul. Kini masih ada orang-orang yang terbakar oleh<br />
‘kehendak untuk mengambil risiko mati bagi sebuah cita-cita’; kita mengetahuinya<br />
tiap kali ada seseorang yang meledakkan tubuhnya sebagai alat pembunuh musuh.</p>
<p>Bahkan dalam sebuah proses politik yang ‘normal’, tak semua hal digantikan oleh<br />
‘perhitungan ekonomis’ dan ‘pemuasan permintaan konsumen’. Tapi apa yang betul<br />
dan tak betul dalam kesimpulan Fukuyama tetap menunjukkan kesadaran zaman ini:<br />
nasib manusia adalah ketidak-sempurnaan.</p>
<p>***</p>
<p>SAYA teringat akan Pancasila. Ketika Bung Karno menjelaskan, seraya membujuk,<br />
perlunya Indonesia mempunyai sebuah Weltanchauung, sebuah pandangan tentang<br />
dunia dan kehidupan, ia sebenarnya sedang meniti buih untuk selamat sampai ke<br />
seberang. Sebab itu, jika ditelaah benar, pidato Lahirnya Pancasila yang<br />
terkenal pada tanggal 1 Juni 1945 itu mengandung beberapa kontradiksi &#8212; yang<br />
bagi saya menunjukkan bahwa Bung Karno sedang mencoba mengatasi pelbagai hal<br />
yang saling bertentangan yang dihadapi Indonesia.</p>
<p>Kontradiksi yang paling menonjol justru pada masalah Weltanschauung itu. Sebuah<br />
pandangan tentang dunia dan kehidupan, atau sebuah ‘dasar filsafat’ (Bung Karno<br />
menyebutnya philosophische grondslag) yang melandasi persatuan bangsa adalah<br />
sebuah fondasi, perekat dan sekaligus payung. Di sini tersirat kecenderungan<br />
untuk memandangnya sebagai sesuatu yang harus kukuh dan sempurna – sebuah<br />
kecenderungan yang makin mengeras di masa ‘Orde Baru’, yang menganggap Pancasila<br />
itu ‘sakti’.</p>
<p>Jika demikian halnya, ia tak bisa diubah. Tapi timbul persoalan: bagaimana<br />
pandangan ini memungkinkan sebuah kehidupan politik yang, seperti dikatakan Bung<br />
Karno sendiri, niscaya mengandung ‘perjuangan faham’? Kata Bung Karno, tak ada<br />
sebuah negara yang hidup yang tak mengandung ‘kawah Candradimuka’ yang<br />
‘mendidih’ di mana pelbagai ‘faham’ beradu di dalam badan perwakilannya. Tak ada<br />
sebuah negara yang dinamis ‘kalau tidak ada perjuangan faham di dalamnya’.</p>
<p>Ketika Bung Karno menyebut kalimat ini, ketika ia mengakui bahwa sebuah negara<br />
mau tak mau mengandung ‘perjuangan sehebat-hebatnya’ di dalam persoalan ‘faham’,<br />
ia menatap ke sebuah arah: ia ingin membuat tenteram kalangan politik Islam. Ia<br />
menganjurkan agar ‘pihak Islam’ menerima berdirinya sebuah negara yang ‘satu<br />
buat semua, semua buat satu’. Ia menolak ‘egoisme-agama’.</p>
<p>Tapi ia juga membuka diri kepada kemungkinan ini: bisa saja suatu saat nanti<br />
hukum yang ditegakkan di Indonesia adalah hukum Islam – jika ‘utusan-utusan<br />
Islam’ menduduki ‘sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan<br />
rakyat’.</p>
<p>Di sini tampak, perjuangan ke arah hegemoni diakui sebagai sesuatu yang wajar<br />
dan sah. Tapi dengan demikian, Weltanchauung yang dirumuskan sebenarnya bukan<br />
fondasi yang kedap, pejal, sudah final dan kekal, hingga meniadakan kemungkinan<br />
satu ‘faham’ menerobosnya dan mengambil-alih posisi ‘filsafat dasar’ itu.<br />
Dengan kata lain, Pancasila bukan sesuatu yang ‘sakti’.</p>
<p>***</p>
<p>PANCASILA justru berarti, karena ia tidak ‘sakti’.</p>
<p>Ada tiga kesalahan besar ‘Orde Baru’ dalam memandang kelima ‘prinsip’ itu. Yang<br />
pertama adalah membuat Pancasila hampir-hampir keramat. Yang kedua, membuat<br />
Pancasila bagian dari bahasa, bahkan simbol eksklusif, si berkuasa. Yang ketiga,<br />
mendukung Pancasila dengan ancaman kekerasan.</p>
<p>‘Orde Baru’ telah memperlakukan Pancasila ibarat Rahwana mengambil-alih Sita<br />
selama bertahun-tahun. Analogi dari epos Ramayana ini tak sepenuhnya tepat,<br />
tapi seperti Sita setelah kembali dibebaskan oleh Rama, Pancasila di mata orang<br />
banyak, terutama bagi mereka yang tertekan, setelah ‘Orde Baru’ runtuh,<br />
seakan-akan bernoda: ia tetap dikenang sebagai bagian dari lambang kekuasaan<br />
sang Rahwana.</p>
<p>Tapi kita tahu, kesan itu tak benar dan tak adil – sama tak benar dan tak<br />
adilnya ketika Rama meletakkan Sita dalam api pembakaran untuk membuktikan<br />
kesuciannya.<br />
Kini kita membutuhkan Pancasila kembali, tapi tak seperti Rama menerima Sita<br />
pulang: kita tak perlu mempersoalkan ‘kesucian’, apalagi ‘kesaktian’-nya. Kini<br />
kita membutuhkan Pancasila kembali justru karena ia merupakan rumusan yang<br />
ringkas dari ikhtiar bangsa kita yang sedang bergulat melintasi lumpur untuk<br />
dengan selamat mencapai persatuan dalam perbedaan. Pidato Bung Karno dengan<br />
ekpresif mencerminkan ikhtiar itu; nadanya mengharukan: penuh semangat tapi juga<br />
tak bebas dari rasa cemas.</p>
<p>Dengan kata lain, kita membutuhkan Pancasila kembali untuk mengukuhkan, bahwa<br />
kita mau tak mau perlu hidup dengan sebuah pandangan dan sikap yang manusiawi –<br />
yang mengakui peliknya hidup bermasyarakat.</p>
<p>Para pembela ide ‘Negara Islam’ gemar mengatakan, mereka lebih baik memilih<br />
dasar Islam karena Islam datang dari Allah, sedang Pancasila itu bikinan<br />
manusia. Tapi justru karena Pancasila adalah bagian dari ikhtiar manusia, ia tak<br />
mengklaim dirinya suci dan sakti. Dengan demikian ia adalah cerminan dan juga<br />
cahaya dari dalam sebuah kehidupan bersama yang mengakui dirinya mengandung<br />
‘kurang’, karena senantiasa bergulat antara ‘eka’ dan ‘bhineka’.</p>
<p>Sebab itu tepat sekali ketika Bung Karno menggunakan kiasan ‘menggali’ dalam<br />
merumuskan Pancasila. ‘Menggali’ melibatkan bumi dan tubuh. Pancasila lahir<br />
dari jerih payah sejarah, dan – seperti halnya hasil bumi &#8212; menawarkan sesuatu<br />
yang tetap bisa diolah lebih lanjut. Ia tak ‘ready-for-use’. Ia tak menampik<br />
tafsir yang kreatif. Ia membuka kemungkinan untuk tak jadi doktrin, sebab tiap<br />
doktrin akan digugat perkembangan sejarah – dan sebab itu Bung Karno mengakui:<br />
tak ada teori revolusi yang ‘ready-for-use’.</p>
<p>Yang juga tampak dalam keterbukaan untuk kreatifitas itu adalah sifatnya yang<br />
tak bisa mutlak. Tiap ‘sila’ mau tak mau harus diimbangi oleh ‘sila’ yang lain:<br />
bangsa ini tak akan bisa hanya menjalankan ‘sila’ keberagamaan (‘Ketuhanan Yang<br />
Maha Esa’) tanpa juga diimbangi ‘sila’ kesatuan bangsa (‘kebangsaan Indonesia’),<br />
dan sebaliknya. Kita juga tak akan patut dan tak akan bisa bila kita ingin<br />
menerapkan ‘sila’ nasionalisme tanpa diimbangi perikemanusiaan, dan begitulah<br />
seterusnya.</p>
<p>Memutlakkan satu ‘sila’ saja akan melahirkan kesewenang-wenangan. Juga tak akan<br />
berhasil. Hidup begitu pelik. Masyarakat selalu merupakan bangunan dalam<br />
proses, hingga politik, dengan segala cacatnya, merupakan hal yang tak bisa<br />
dielakkan – bahkan tak bisa dihabisi oleh 100 tahun kekerasan.</p>
<p>Kita membutuhkan Pancasila kembali karena kita seakan-akan telah kehilangan<br />
bahasa untuk menangkis 100 tahun kekerasan yang tersirat dalam sikap<br />
sewenang-wenang yang juga pongah: sikap mereka yang merasa mewakili suara Tuhan<br />
dan suara Islam, meskipun tak jelas dari mana dan bagaimana ‘mandat’ itu datang<br />
ke tangan mereka; sikap mereka yang terbakar oleh ‘egoisme-agama’ dan menafikan<br />
cita-cita Indonesia yang penting, agar tiap manusia Indonesia ‘bertuhan Tuhannya<br />
sendiri’ – hingga agama tak dipaksakan, dan para penganut tak bersembunyi dalam<br />
kemunafikan.</p>
<p>Kita membutuhkan Pancasila kembali karena kita perlu bicara yakin kepada mereka<br />
yang mendadak merasa lebih tinggi ketimbang sebuah Republik yang didirikan<br />
dengan darah dan keringat berbagai penghuninya – Islam, Kristen, Hindu, Budha,<br />
Konghucu, ataupun atheis &#8212; perjuangan yang lebih lama ketimbang 60 tahun.</p>
<p>Kita membutuhkan Pancasila kembali karena ia merupakan proses negosiasi terus<br />
menerus dari sebuah bangsa yang tak pernah tunggal, tak sepenuhnya bisa ‘eka’.<br />
Kita membutuhkan Pancasila kembali karena tak akan ada yang bisa sepenuhnya<br />
meyakinkan bahwa dirinya, kaumnya, mewakili sesuatu yang Maha Benar dan Maha<br />
Besar dan bisa menafikan ketidak-sempurnaan nasib manusia.</p>
<p>***</p>
<p>Jakarta, 11 September 2005.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/paramadina.wordpress.com/70/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/paramadina.wordpress.com/70/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paramadina.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paramadina.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paramadina.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paramadina.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paramadina.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paramadina.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paramadina.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paramadina.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paramadina.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paramadina.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paramadina.wordpress.com&blog=731361&post=70&subd=paramadina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/menggali-pancasila-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a941cb87a7ec8dc1d48b5d750ca06ab1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">paramadina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indonesia Kini dan Indonesia Esok</title>
		<link>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/indonesia-kini-dan-indonesia-esok/</link>
		<comments>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/indonesia-kini-dan-indonesia-esok/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Mar 2007 01:32:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paramadina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rejuvenasi Pancasila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/sutan-sjahrir-etos-politik-dan-jiwa-klasik/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Budiman Tanuredjo
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0605/03/Politikhukum/2626508.htm
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;
Indonesia sekarang dan juga Indonesia esok tak bisa dilepaskan dari
perjalanan delapan tahun reformasi, atau bahkan Indonesia 50 tahun
lalu. Kemampuan mendesain masa depan bangsa ikut juga ditentukan oleh
sejauh mana bangsa ini mampu mengidentifikasi &#8220;kebenaran&#8221; masa lalu
untuk membangun sebuah masa depan.
Sebagaimana dikatakan sejumlah filsuf: kalender hanyalah pagar yang
ditancapkan pada waktu. Perjalanan sejarah bangsa adalah sebuah
kontinuitas, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paramadina.wordpress.com&blog=731361&post=56&subd=paramadina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh Budiman Tanuredjo<br />
<a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0605/03/Politikhukum/2626508.htm">http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0605/03/Politikhukum/2626508.htm</a><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Indonesia sekarang dan juga Indonesia esok tak bisa dilepaskan dari<br />
perjalanan delapan tahun reformasi, atau bahkan Indonesia 50 tahun<br />
lalu. Kemampuan mendesain masa depan bangsa ikut juga ditentukan oleh<br />
sejauh mana bangsa ini mampu mengidentifikasi &#8220;kebenaran&#8221; masa lalu<br />
untuk membangun sebuah masa depan.</p>
<p>Sebagaimana dikatakan sejumlah filsuf: kalender hanyalah pagar yang<br />
ditancapkan pada waktu. Perjalanan sejarah bangsa adalah sebuah<br />
kontinuitas, meskipun tetap mungkin saja terjadi patahan atau<br />
diskontinuitas sejarah.</p>
<p>Indonesia sekarang ini tak bisa dilepaskan dari arus perjalanan<br />
bangsa delapan tahun lalu, ketika gerakan reformasi memaksa Presiden<br />
Soeharto turun dari kekuasaan dan menyerahkan kekuasaan kepada Wakil<br />
Presiden BJ Habibie. Transisi politik Indonesia yang bercorak<br />
transplacement dalam kategori Huntington juga ikut menentukan<br />
perjalanan transisi, berbeda dengan corak replacement yang dianut<br />
Yunani dan Argentina.</p>
<p>Transplacement adalah sebuah transisi di mana terjadi perundingan<br />
antara kelompok Orde Baru dan kelompok reformis. Tak ada garis tegas<br />
yang membedakan antara Orde Baru dan kelompok reformasi. Ini berbeda<br />
dengan corak replacement saat peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke<br />
Orde Baru. Saat itu, Soeharto meletakkan garis pemisah yang tegas<br />
antara kelompok Orde Lama dan Orde Baru. Partai Komunis Indonesia<br />
(PKI) bukan hanya tak boleh ikut dalam proses politik, tetapi<br />
dibubarkan dan tak mempunyai hak hidup lagi di bumi Indonesia.</p>
<p>Perubahan kelembagaan politik tak bisa dilepaskan dari keputusan<br />
politik MPR untuk mengubah UUD 1945. Perubahan cara pemilihan<br />
pemimpin di pusat maupun di daerah juga tak bisa dilepaskan dari<br />
perubahan konstitusi itu. Perubahan konstitusi menjadi puncak sejarah<br />
yang ikut menentukan perubahan sejarah bangsa Indonesia.</p>
<p>Munculnya komisi negara (state auxiliary body) didasari pada sebuah<br />
semangat ketidakpercayaan pada unsur negara. Karenanya, unsur<br />
masyarakat direkrut untuk menjalankan tugas negara. Namun dalam<br />
perkembangannya, di tengah sebuah kepemimpinan politik yang lemah dan<br />
tak ada cetak biru sistem ketatanegaraan, komisi terus lahir dengan<br />
dasar hukum yang berbeda dan dengan kewenangan yang bisa saja saling<br />
tumpang tindih. Improvisasi dan akomodasi menjadi prinsip.</p>
<p>Kekuasaan kehakiman beranak pinak. Setelah Soeharto jatuh, muncul<br />
Pengadilan Niaga yang terbit atas desakan Dana Moneter Internasional,<br />
kemudian muncul Pengadilan Hak Asasi Manusia, lalu Pengadilan<br />
Hubungan Industrial untuk mengadili sengketa perburuhan. Entah<br />
pengadilan apa yang muncul lagi karena masih ada tuntutan membuat<br />
Pengadilan Agraria.</p>
<p>Jack Snyder dalam buku Dari Pemungutan Suara ke Pertumpahan Daerah -<br />
Demokratisasi dan Konflik Nasionalistik (2003) mengutarakan,<br />
demokrasi tak selalu menguntungkan elite politik. Ada yang<br />
diuntungkan, ada yang tidak diuntungkan. Kelompok yang merasa<br />
diuntungkan akan mendukung proses, sementara yang tidak diuntungkan<br />
akan menghambat.</p>
<p>Arief Budiman, yang memberikan pengantar buku itu, paling tidak<br />
menyarikan empat nasionalisme Snyder. Apa yang dikatakan Snyder,<br />
paling tidak, memberikan gambaran: demokratisasi adalah sebuah proses<br />
yang tidak mudah. Dalam ruang terbuka bernama demokrasi, akan muncul<br />
elite politik atau para demagog yang menggunakan sentimen<br />
nasionalisme. Ia membagi menjadi nasionalisme sipil ketika elite<br />
politik tidak terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan<br />
negara yang ada sudah cukup kuat. Nasionalisme SARA adalah ketika<br />
solidaritas dibangkitkan berdasarkan persamaan budaya, bahasa, agama,<br />
dan sejarah.</p>
<p>Nasionalisme revolusioner merupakan usaha untuk mempertahankan suatu<br />
perubahan politik yang melahirkan rezim baru yang dianggap lebih baik<br />
dari rezim sebelumnya. Ini terjadi ketika Orde Baru mendobrak Orde<br />
Lama, Orde Baru dikategorikan sebagai nasionalisme revolusioner.<br />
Sedangkan nasionalisme kontrarevolusioner adalah upaya membangun<br />
solidaritas untuk mempertahankan kelembagaan negara yang ada terhadap<br />
berbagai perubahan.</p>
<p>Menggunakan pendapat Snyder, demokratisasi memang akan ditandai<br />
dengan &#8220;persaingan antarkelompok rakyat&#8221; (popular-rivalries)<br />
dan &#8220;propaganda elite&#8221;. Kondisi itu pula yang sebenarnya sedang<br />
terjadi di Indonesia. Dalam perjalanan menuju negara dengan demokrasi<br />
matang itu pulalah terjadi persaingan antarkelompok rakyat. Elite<br />
politik menawarkan ideologi lain. Nasionalisme SARA dikorbankan.</p>
<p>Kegalauan</p>
<p>Dalam sebuah percakapan dengan direksi perusahaan di Jakarta pekan<br />
lalu, terungkap kegalauan mereka atas keadaan bangsa Indonesia saat<br />
ini. Mereka mempertanyakan ke mana bangsa Indonesia ini dibawa.</p>
<p>Kegalauan akan keadaan rasanya banyak dijumpai dalam beberapa<br />
pertemuan informal. Proses demokratisasi kadang memberi harapan,<br />
namun kadang pula menyebarkan kecemasan. Publik cemas menyaksikan<br />
proses pilkada Tuban yang berakhir anarki. Namun, perasaan publik<br />
terobati ketika unjuk rasa buruh memperingati Hari Buruh<br />
Internasional, yang dikabarkan akan rusuh, justru berjalan damai.</p>
<p>Ke mana Indonesia akan menuju? Pada era Orde Baru—terlepas berbagai<br />
kelemahan dalam strategi pembangunan—ada tahapan pembangunan Rencana<br />
Pembangunan Lima Tahun hingga Rencana Pembangunan Jangka Panjang. Ada<br />
pula Garis-garis Besar Haluan Negara.</p>
<p>Sekarang? &#8220;Going no where,&#8221; ucap salah seorang direktur. Setelah<br />
berdiskusi ke sana kemari, ada dua faktor yang berhasil<br />
diidentifikasi: faktor kepemimpinan dan ideologi. &#8220;Kita punya<br />
Pancasila, tapi sudah tak banyak dibicarakan,&#8221; ucapnya.</p>
<p>Terasa mengejutkan ketika kata Pancasila justru muncul dari<br />
pengusaha. Beberapa hari kemudian ideologi Pancasila kembali diangkat<br />
mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Ma&#8217;arif dalam acara di<br />
Gedung Cawang Kencana, Jakarta, 27 April 2006.</p>
<p>Syafii membawakan makalah bertajuk &#8220;Indonesia: Mengapa Belum Juga<br />
Bangkit?&#8221;. Ia memaparkan kondisi bangsa Indonesia dan mengapa itu<br />
semua terjadi. Jawabannya: nilai luhur Pancasila telah<br />
dikhianati. &#8220;Pancasila sudah jarang disebut sejak delapan tahun<br />
terakhir, jangan diartikan bahwa filosofi ini ingin diganti dengan<br />
yang lain. Sama sekali tidak,&#8221; ucapnya.</p>
<p>Diskursus Pancasila menghilang dalam pemberitaan media massa.<br />
Misalnya, dengan menggunakan kata kunci Pancasila kita bisa<br />
mengetahui ada 89 kata Pancasila—dalam berbagai format dan konteksnya—<br />
yang tertera dalam berita Kompas sepanjang tahun 2005. Sementara pada<br />
tahun 1998 terdapat 156 kata Pancasila, tahun 1999 (92), tahun 2000<br />
(69), tahun 2001 (75), tahun 2002 (37), tahun 2003 (78), dan tahun<br />
2004 (89).</p>
<p>Pendekatan kultural mungkin menarik untuk melihat kondisi Indonesia<br />
sekarang. Lawrence E Harrison dan Samuel P Huntington dalam buku<br />
Culture Matters (2000) memberikan gambaran penting kultur dalam<br />
hubungannya dengan kemajuan sebuah bangsa. Keduanya melukiskan<br />
kondisi Korea Selatan dan Ghana pada awal tahun 1960. Ghana dan Korea<br />
Selatan mempunyai indikator ekonomi yang sama, di antaranya GNP.<br />
Namun, tiga puluh tahun kemudian Korea Selatan telah berubah menjadi<br />
negara industri raksasa. Akan tetapi tak ada perubahan signifikan di<br />
Ghana. Huntington mengatakan, kunci perubahan di Korea Selatan adalah<br />
adanya nilai penghematan, kerja keras, investasi, pendidikan, dan<br />
organisasi. Sementara nilai itu tak ada di Ghana.</p>
<p>Nilai tampaknya menjadi satu hal yang penting. Tocqueville dalam buku<br />
Democracy in America menyebutkan, salah satu faktor penting dalam<br />
menjadikan demokrasi di Amerika berjalan adalah budi pekerti. Budi<br />
pekerti diberi makna sebagai kumpulan sifat moral dan intelektual<br />
dari manusia sosial.</p>
<p>Belum usai</p>
<p>Transisi demokrasi belumlah usai. Direktur Wilayah The Asia<br />
Foundation untuk Kajian Islam dan Pembangunan Robin Bush melihat<br />
proses demokratisasi berjalan baik. Ia mengagumi proses itu karena<br />
dalam kurun waktu delapan tahun Indonesia mulai memasuki arena<br />
demokratisasi yang makin dewasa. Kenyataan bahwa saat ini sebagian<br />
besar masyarakat masih belum dapat merasakannya, Robin melihat bahwa<br />
persoalan yang dihadapi Indonesia sangat banyak (Kompas, 19/4).</p>
<p>Perspektif senada disampaikan aktivis politik Bara Hasibuan. &#8220;Di mana<br />
pun transisi tak bisa cepat. Banyak tantangan yang dihadapi. Apalagi<br />
dengan karakteristik Indonesia saat Soeharto jatuh, fondasi<br />
demokrasinya rapuh,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Setelah Pemilu 2004 Indonesia sudah punya konstruksi politik yang<br />
lebih mantap. &#8220;Kita mempunyai rule of the game dalam politik,&#8221; ujar<br />
aktivis yang pernah menjadi fellowship di Kongres AS itu.</p>
<p>Memang problem besar yang dihadapi pemimpin transisi adalah mengelola<br />
tingginya ekspektasi rakyat akan perubahan. Perubahan bukan hanya<br />
pada level kelembagaan politik, tetapi perubahan akan nasib hidup.</p>
<p>Kesadaran akan penyelamatan demokrasi haruslah menjadi kesadaran<br />
bangsa. Beberapa ilmuwan politik seperti dikutip Snyder merumuskan<br />
demokrasi terkonsolidasi paling tidak setelah &#8220;dua kali pergantian<br />
kekuasaan&#8221; (two turnover rule). Artinya, demokrasi dianggap<br />
terkonsolidasi apabila kekuasaan sudah dua kali pindah tangan melalui<br />
sebuah proses pemilihan umum. Akan tetapi ada pula yang mengatakan,<br />
demokrasi terkonsolidasi apa elite politik menempatkan pemilu sebagai<br />
arena permainan satu-satunya. Artinya, regularitas dan periodisitas<br />
pemerintahan menjadi salah satu faktor kunci. Tapi itu semua<br />
dihadapkan pada ketidaksabaran publik akan beratnya beban kehidupan.</p>
<p>Bagi Syafii, kekurangan bangsa Indonesia terutama terjebak pada<br />
kenyataan sukarnya kita menemukan tipe pemimpin yang mau berjibaku<br />
dan membela bangsa dan negara yang masih dirundung malang. Situasi<br />
sekarang sangatlah tidak normal, demokrasi yang sedang berjalan<br />
adalah demokrasi setengah liar ditambah kebanyakan politisi yang<br />
tidak bertanggung jawab. Figur pemimpin amatlah menentukan untuk<br />
mengendalikan demokrasi setengah liar.</p>
<p>Politik membutuhkan prinsip. Politik membutuhkan keutamaan dalam<br />
bersikap. Namun, politik juga menuntut konsistensi antara ucapan dan<br />
kenyataan, bukan sebuah politik bunglon.</p>
<p>Untuk menatap Indonesia esok, masa-masa sulit sekarang ini harus<br />
dilalui. Untuk itu, perlu hadir pemimpin yang bisa mengajak duduk<br />
bersama semua komponen bangsa untuk membicarakan masalah bangsa<br />
secara tajam dan komprehensif untuk menatap Indonesia esok.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/paramadina.wordpress.com/56/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/paramadina.wordpress.com/56/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paramadina.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paramadina.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paramadina.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paramadina.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paramadina.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paramadina.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paramadina.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paramadina.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paramadina.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paramadina.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paramadina.wordpress.com&blog=731361&post=56&subd=paramadina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/indonesia-kini-dan-indonesia-esok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a941cb87a7ec8dc1d48b5d750ca06ab1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">paramadina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kamu-kamu, Kita-kita&#8230;</title>
		<link>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/kamu-kamu-kita-kita/</link>
		<comments>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/kamu-kamu-kita-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Mar 2007 01:24:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paramadina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rejuvenasi Pancasila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/kamu-kamu-kita-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Windoro Adi
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/08/Politikhukum/2711570.htm
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
Suasana membosankan dalam acara &#8220;Apel Kesetiaan Pancasila dan UUD
1945&#8243; di Gedung Juang, Jakarta, Rabu (7/6) siang, berubah jadi ceria
ketika Franky Sahilatua tampil dengan kelompok musiknya. Ada Tito
Sumarsono pada bas, Gatot pada gitar, George pada drum, Freddy pada
gitar akustik, dan putri-putri tetangga Freddy sebagai penyanyi
latar.
Franky pun menyanyi di sela sambaran koor para penyanyi latar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paramadina.wordpress.com&blog=731361&post=51&subd=paramadina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh Windoro Adi<br />
<a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/08/Politikhukum/2711570.htm">http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/08/Politikhukum/2711570.htm</a><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Suasana membosankan dalam acara &#8220;Apel Kesetiaan Pancasila dan UUD<br />
1945&#8243; di Gedung Juang, Jakarta, Rabu (7/6) siang, berubah jadi ceria<br />
ketika Franky Sahilatua tampil dengan kelompok musiknya. Ada Tito<br />
Sumarsono pada bas, Gatot pada gitar, George pada drum, Freddy pada<br />
gitar akustik, dan putri-putri tetangga Freddy sebagai penyanyi<br />
latar.</p>
<p>Franky pun menyanyi di sela sambaran koor para penyanyi latar nan<br />
belia.</p>
<p>Minyak mahal, bangsa bayar utang. Listrik mahal, bangsa bayar utang.<br />
Sekolah mahal, bangsa bayar utang. Berobat mahal, bangsa bayar utang.<br />
Bangsa yang utang, koruptor yang makan. Yang miskin tambah miskin,<br />
kita-kita-kita. Yang kaya tambah kaya, kamu-kamu-kamu.</p>
<p>Kota banjir bangsa bayar utang. Desa terendam, bangsa bayar utang.<br />
Pengangguran tinggi, bangsa bayar utang. Busung lapar, bangsa bayar<br />
utang&#8230;</p>
<p>Orang-orang yang sebelumnya hadir terpencar di sekitar Gedung Juang<br />
lalu berkumpul menikmati lagu berirama samba itu, lagu-lagu bertema<br />
kritik sosial. Lagu-lagu serupa ini sedang tenggelam oleh gelombang<br />
pasang industri musik yang sedang doyan tema cinta gombal dan<br />
cengeng. Apel ini diselenggarakan Paguyuban Nusantara Bangkit<br />
Bersatu.</p>
<p>Franky mengaku, lagu tersebut memang mendendangkan ketidakadilan<br />
global. &#8220;Saya buat lagu itu ketika ikut berunjuk rasa di Hongkong<br />
bersama Federasi Serikat Petani Indonesia dan Global Justice<br />
Institute, menentang Organisasi Perdagangan Dunia,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Ia berpendapat sejumlah negara, termasuk Indonesia, terperangkap<br />
dalam tarik-menarik dua kekuatan besar, Barat dan Timur. Barat<br />
diwakili kekuatan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, sedangkan<br />
Timur diwakili kekuatan negara-negara Timur Tengah.</p>
<p>Kalangan elite nasional pun terbelah menjadi kepanjangan dua<br />
kekuatan. Walhasil, rakyat kebingungan. Sebagian ikut-ikutan menjadi<br />
kepanjangan tangan para elite, sebagian lain terus kebingungan. Maka<br />
meluncurlah lagu keempat di tengah suasana masih menunggu itu.</p>
<p>Kita bukan Barat, kita bukan Timur. Ada yang ke barat, ada yang ke<br />
timur. Jangan termakan oleh perubahan. Jangan tinggalkan cita-cita.<br />
Perlahan bangsa dibunuh oleh anak-anaknya sendiri. Lawan satu kata,<br />
lawan satu kata, lawan anak bangsa&#8230;</p>
<p>Ketika musik berhenti, Abdurrahman Wahid memulai pidatonya. Para<br />
pemimpin Indonesia, kata Wahid, gamang menghadapi arus deras<br />
globalisasi. Mereka tidak berani bersikap tegas. Kedaulatan hukum<br />
cuma jadi kata-kata slogan karena menghamba pada kepentingan politik<br />
elite.</p>
<p>Ketidakmampuan para pemimpin membuat publik kehilangan kepercayaan<br />
dan melakukan reaksi berlebihan berupa fundamentalisme dan<br />
nasionalisme sempit. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika terkoyak-koyak.</p>
<p>Teror dan tindak kekerasan terjadi di mana-mana. Agama dijadikan<br />
komoditas politik untuk memenangi pilkada atau pemilu, atau sekadar<br />
membuat konstituen lupa akan lapar yang mendera.</p>
<p>Sementara itu, korupsi terus merajalela, menimbulkan ekonomi biaya<br />
tinggi dan inflasi. Harga-harga melambung dan bla, bla, bla&#8230;.</p>
<p>Abdurrahman Wahid mengimbau elite dan publik kembali ke Pancasila. Ia<br />
mengingatkan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sudah<br />
menjadi harga mati bagi bangsa Indonesia. Kemudian Franky melantunkan<br />
lagu, &#8220;Pancasila Rumah Kita&#8221;.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/paramadina.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/paramadina.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/paramadina.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/paramadina.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/paramadina.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/paramadina.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/paramadina.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/paramadina.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/paramadina.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/paramadina.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/paramadina.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/paramadina.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=paramadina.wordpress.com&blog=731361&post=51&subd=paramadina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://paramadina.wordpress.com/2007/03/04/kamu-kamu-kita-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a941cb87a7ec8dc1d48b5d750ca06ab1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">paramadina</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>