105 Tahun Bung Karno

Oleh Tjipta Lesmana
Anggota Komisi Konstitusi dan Mantan Dosen Pancasila di Berbagai
Universitas
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/06/opini/2704195.htm
—————————————————-

Bertepatan dengan 105 tahun kelahirannya hari ini dan 35 tahun
kematiannya sebentar lagi, apa kira-kira reaksi Ir Soekarno, salah
satu Proklamator Republik Indonesia jika ia diberikan kesempatan
untuk “bangkit kembali dari kuburnya” dan melihat situasi bangsa dan
negara? Tidak salah lagi, air mata Soekarno akan mengucur tiada
hentinya. Banyak sekali yang akan ditangisinya, tetapi yang utama
adalah hancurnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia pada saat
ini.

Soekarno mewariskan bangsanya dengan berbagai ajaran yang digalinya
sejak ia berjuang pada usia muda. Namun, jika kita teliti secara
saksama, ajaran pokok yang selalu didengung-dengungkan hingga
menjelang wafatnya adalah persatuan bangsa.

Tatkala memberikan sambutannya pada sidang kabinet 15 Januari 1966 di
Istana Merdeka, Presiden Soekarno bercerita, “Aku ini dari kecil
mula…yang menjadi gandrung saya bahkan yang saya derita untuknya,
yang saya dimasukkan dalam penjara untuknya, yang saya dibuang di
dalam pembuangan untuknya, bahkan pernah yang saya hampir-hampir saja
didrel mati di Brastagi…untuk bangsa, Tanah Air, kemerdekaan dan
negara…. Bangsa harus menjadi bangsa yang kuat dan besar. Oleh
karena itulah belakangan ini selalu saya menangis, bahkan donder-
donder, marah-marah. He, bangsa Indonesia, jangan gontok-gontokan!”

Persatuan Indonesia. Itulah cita-cita paling mendasar yang
diperjuangkan oleh Soekarno. Ketika Pancasila masih dalam tahap draf,
persatuan Indonesia dijadikan sila pertama. Tanpa persatuan, kata
Soekarno, suatu bangsa mustahil bisa maju membangun dirinya. Ia kerap
menyitir ucapan Arnold Toynbee bahwa “A great civilization never goes
down unless it destroy itself from within”. Atau ucapan Abraham
Lincoln yang tersohor itu, “A nation divided against itself, cannot
stand”. Mana ada bangsa yang bisa bertahan jika terpecah belah di
dalamnya?

Disintegrasi total

Ketika kita mengenang 105 tahun (Soekarno lahir 6 Juni 1901)
kelahiran Soekarno, Indonesia sesungguhnya sedang berjalan menuju
kehancuran atau disintegrasi total. Faktor pokoknya karena bangsa ini
hidup dalam situasi anomali atau valueless state. Di satu sisi kita
sudah meninggalkan Pancasila sebagai pandangan hidup, walau teoritis
masih mengakuinya sebagai ideologi, di sisi lain nilai penggantinya
belum diformalkan. Memang kita sedang bereksperimen dengan
liberalisme (plus kapitalisme sebagai anak kandungnya), tetapi banyak
elemen masyarakat yang menolak ideologi tersebut.

Soekarno pasti tahu bahwa para penggantinya telah mengobrak-abrik
semua jerih payah yang diperjuangkannya lebih dari setengah abad.
Ketika ia “memberikan” Supersemar kepada Jenderal Soeharto, diktum
pertamanya antara lain berbunyi “melaksanakan dengan pasti segala
ajaran Pemimpin Besar Revolusi”. Namun, Soeharto dengan bantuan para
pemikir dari “Mafia Berkeley”, segera meninggalkan ajaran Trisakti
Soekarno dengan merangkul liberalisme dalam pembangunan ekonomi.
Akibatnya, semakin lama membangun dirinya, bangsa kita semakin
bergantung pada utang luar negeri, suatu realita yang nyata-nyata
mencederai “sakti” kedua dari Trisakti.

Setelah Soeharto jatuh, Habibie naik panggung. Di mata Soeharto,
Habibie pun seorang pengkhianat. Semua orang tahu kalau Habibie anak
didik Soeharto. Namun, Soeharto kabarnya menangis karena menilai
Habibie menghancurkan apa yang sudah dibangunnya selama 30 tahun
lebih. Dosa paling besar Habibie di mata Soeharto ialah menjalankan
konsep otonomi daerah yang kebablasan. Menurut teori negara, dalam
suatu unitary state (negara kesatuan), kekuasaan atau kewenangan
kepada daerah sepenuhnya diatur oleh pemerintah pusat.

Ketika daerah tingkat II diberikan otonomi seperti diatur dalam UU
Otonomi Daerah yang dibuat pada rezim Habibie, kendali pusat terhadap
daerah pun lemah. Akibatnya, daerah kemudian menjadi “raja-raja” yang
setiap saat dapat menyepelekan perintah pusat. Nasionalisme kini
berganti menjadi regionalisme. Peraturan daerah (perda) kadang lebih
berkuasa daripada undang-undang sekalipun. Kini tidak kurang 20
daerah, baik tingkat I maupun II, yang sudah mengeluarkan perda yang
bernapaskan asas lain dari Pancasila. Toh, pusat mendiamkan saja.

Pada era Habibie itu juga, persatuan Indonesia mulai digerogoti.
Sejumlah elemen radikal yang sebelumnya diburu oleh Soeharto
diberikan kebebasan untuk kembali ke Indonesia. Satu per satu
organisasi kemasyarakatan berasaskan ajaran radikal berdiri. Teror
bom mulai bermunculan di mana-mana.

Quasi negara federal

Liberalisme seolah mencapai puncaknya pada era Gus Dur. Nama Irian
Jaya diganti menjadi Papua. Gus Dur pun sempat menyatakan
persetujuannya atas referendum di Aceh. Istilah “rakyat
Aceh”, “rakyat Riau”, “rakyat Kalimantan Timur”, dan “rakyat Madura”
dipakai bebas tanpa menyadari implikasinya terhadap pelaksanaan sila
ke-2 Pancasila.

Ironisnya, Megawati Soekanoputri pun sebenarnya telah mengkhianati
bapaknya sendiri. Dosa paling besar Ibu Mega, dari perspektif
Pancasila dan ajaran Bung Karno, adalah sikapnya yang mendukung
amandemen Undang-Undang Dasar 1945. Hasil empat kali amandemen UUD
1945 adalah puncak kemenangan dari unsur-unsur kekuatan, baik lokal
maupun global, yang memang ingin memecah belah bangsa Indonesia.

Di bawah naungan “UUD 2002”, Indonesia sesungguhnya bukan lagi negara
kesatuan, tetapi quasi negara federal. Di bawah pemerintahan Megawati
juga, proses privatisasi digenjot habis-habisan. Hasilnya sudah sama-
sama kita ketahui, sebagian besar perusahaan unggulan kita, baik
swasta mupun BUMN, kini sudah dikuasai asing. Lagi-lagi suatu
pengingkaran telanjang terhadap “sakti” kedua dari ajaran Trisakti
Bung Karno.

Proses disintegrasi seolah mencapai momentum emas pada era
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Tindak anarkis dan menginjak-
injak hukum yang kerap dilakukan oleh sejumlah elemen masyarakat
dibiarkan saja. Penegakan hukum kian lemah. Tancapan pengaruh asing
di bidang ekonomi, antara lain dimanifestasikan dalam kasus Blok Cepu
dan pencemaran lingkungan oleh Newmont, semakin kokoh. Kedaulatan
kita sebagai bangsa juga merosot. Kita sungguh tidak mengerti mengapa
bantuan kemanusiaan Amerika untuk korban gempa Yogya harus dikawal
oleh puluhan serdadu marinir berseragam yang bersenjata lengkap
layaknya mau bertempur.

Ya, Soekarno pada usianya yang 105 tahun sedang menangis dari liang
kuburnya karena melihat ajaran-ajarannya diinjak-injak oleh para
penerusnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: