85 Tahun Sartono Mengabdi

Oleh Endang Suryadinata
Peminat Sejarah Indonesia- Belanda, lulusan Erasmus Universiteit
Rotterdam, Tinggal di Belanda
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0602/18/opini/2445733.htm
————————————————————-

Kita layak bersyukur, Prof Dr Aloysius Sartono Kartodirdjo, sejarawan
andal Indonesia, dianugerahi umur panjang sampai 85 tahun, tepatnya
pada 15 Februari 2006. Lahir pada 15 Februari 1921, ayah Ruswita dan
Nimpuno buah pernikahannya dengan Sri Kadaryati tahun 1948,
dikaruniai tiga cucu.

Tidak semua orang biasa, apalagi sejarawan, bisa mencapai umur
sepanjang itu. Yang sering terjadi, banyak orang dalam usia relatif
muda sudah terkotak dalam sejarah. Sedangkan Sartono masih terus bisa
berkiprah menorehkan sejarah. Sartono memang begitu menghayati moto
hidupnya, Jangan seperti tanaman pisang, hanya berbuah sekali. Semua
mahasiswa atau orang- orang dekatnya pasti pernah mendengar nasihat
ini.

Tidak heran jika usia tua bagi Sartono bukan berarti kemewahan dan
kemanjaan atau sekadar menyongsong kematian. Terbukti belum lama ini,
dia masih aktif menghasilkan buah, seperti ikut berpartisipasi
menulis dalam buku persembahan 70 tahun sejarawan Taufik Abdullah
(LIPI Press, 2006). Sejak Indische sampai Indonesia yang berisi
tulisan- tulisannya di Kompas juga baru dibukukan (Penerbit Kompas,
2005). Ia juga masih menulis kata pengantar untuk buku Michael C
Williams Arit dan Bulan Sabit: Pemberontakan Komunis 1926 di Banten
(Syarikat, 2003). Sepanjang karier akademisnya, sekurang-kurangnya
telah dihasilkan 10 buku dan ratusan makalah atau artikel.

Setia pada kebenaran

Namun, apa sebenarnya yang paling menonjol dari sosok seorang
Sartono? Setia pada kebenaran.

Tugas seorang cendekiawan, kata Sartono, harus berani mengemukakan
kesaksian dalam semangat cinta kepada kebenaran disertai dengan
kecerdikan dalam merumuskan kritik.

Kita tahu sejarah negeri ini penuh bias, tergantung pada selera
penguasa. Akibatnya, kebenaran bisa dipermainkan, tergantung pada
selera penguasa. Sejarah peristiwa 30 September 1965, misalnya, ada
berbagai versi. Bukan rahasia lagi ada sejarawan yang melacurkan diri
dengan uang dan kekuasaan, senantiasa bekerja dengan merindukan
order. Namun, Sartono tidak. Dia berani menolak permintaan Menteri
Sekretaris Negara Moerdiono yang memintanya mengoreksi Buku Putih
tentang Peristiwa 1965. Tugas sejarawan bukan menyusun buku putih.
Kata-kata inilah yang amat berkesan pada penulis, sejarawan, atau
pencinta sejarah.

Penolakan untuk buku putih sekaligus meneguhkan keyakinan Sartono
bahwa sejarah tidak harus ditulis dari perspektif penguasa atau tokoh-
tokoh besar.

Selama ini beredar asumsi, hanya tokoh besar, seperti raja dan
presiden, yang layak dan menentukan jalannya roda sejarah. Para
sejarawan konvensional cenderung tak bisa lepas dari hegemoni kaum
kuat atau penguasa sehingga sejarah tak beda dari kumpulan biografi
atau kisah penguasa.

Sartono punya keyakinan wong cilik sekalipun bisa menentukan jalannya
sejarah. Secara terbuka selalu menyebutkan berpihak kepada mereka
yang lemah. Tidak heran jika Sartono tertarik menyoroti pemberontakan
petani Banten tahun 1888 sebagai tema disertasinya di Universiteit
van Amsterdam, Belanda, 1966, dengan promotor Prof Wertheim.

Disertasi itu diapresiasi dengan predikat cum laude sekaligus
merintis penulisan sejarah baru, sejarah tentang aktivitas orang-
orang kecil. Padahal, sebelum itu ada anggapan, petani adalah les
peuples sans histoire (masyarakat yang tanpa sejarah).
Keberpihakannya kepada kaum underdog boleh jadi terpengaruh Goubert,
sejarawan Perancis, yang tak mau berkonsentrasi pada kiprah Louis
XIV, tetapi pada para petani yang hidup di bawah pemerintahannya.

Relevansi sejarah

Lalu, apa relevansi penulisan sejarah dari kacamata wong cilik,
khususnya jika dikaitkan dengan Indonesia? Harus diakui, dalam
percaturan global yang kian kompetitif, negeri kita amat ketinggalan
dibandingkan dengan sepak terjang para pemain global yang begitu
dominan, seperti AS dan Barat. Impian menjadi bangsa unggul sering
dibajak korupsi, separatisme, serta berbagai isu global dan isu yang
dilontarkan para produsen isu. Meski demikian, dalam perspektif
Sartono, kita diajak untuk jangan sekalipun pesimistis. Setidaknya,
ada harapan ke depan kita tak menjadi bangsa pecundang.

Karena itu, menurut Sartono, sejarah masa silam harus menjadi guru
bagi kita. Jika selama 350 tahun dijajah Belanda, itu terjadi karena
kita selalu gampang termakan politik divide et impera.

Kini saatnya isu-isu global jangan memengaruhi langkah kita.
Indonesia yang unggul, besar, maju, dan sejahtera bukan isapan jempol
jika masih punya semangat patriotisme dan nasionalisme. Menurut
Sartono, patriotisme dan nasionalisme masih relevan di era
globalisasi. Melalui semangat patriotisme dan nasionalisme itulah
negara nasion atau negara kebangsaan Indonesia dulu terbentuk. Cita-
cita menjadi bangsa unggul juga bisa diraih dengan semangat yang
sama. Selamat ulang tahun ke-85, Pak Sartono, dedikasi dan
kehidupanmu sebagai sejarawan sungguh menjadi berkah bagi bangsa ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: