Ada Apa dengan (Dua) Hari Raya?

Oleh Syaifullah Amin
Peneliti Religious and Cultural Studies, Pesantren Ciganjur
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0610/21/opini/3044533.htm
=============================

Berakhirnya bulan Ramadhan merupakan saat yang dinanti- nanti umat
Muslim, terutama di Indonesia.

Maka, warga Muhammadiyah bersorak saat pimpinan pusat- nya menyatakan
hari raya Idul Fitri jatuh lebih awal dari yang dijadwalkan. Idul
Fitri yang disemboyankan sebagai hari kemenangan segera disongsong.

Keputusan Muhammadiyah melalui Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Din Syamsuddin untuk berlebaran hari Senin (23/10)—dengan menghitung
bulan Ramadhan hanya 29 hari—merupakan bentuk kemandirian umat.
Landasan hisab falakiyyah (hitungan astronomi) hasilnya sering
berbeda dengan fakta lapangan yang didasarkan rukyat hilal (melihat
bulan sabit pergantian bulan).

Perbedaan

Perbedaan ini disebabkan hilal (bulan sabit) seharusnya sudah tampak,
sebagaimana argumen matematis ahli hisab (yang mengandalkan hitungan
perputaran bulan dan bumi atas matahari), tetapi tidak seorang pun di
antara tim ahli rukyat (yang lebih memilih melihat langsung kejadian
di lapangan) melihatnya atau mereka berbeda pendapat mengenai
posisinya. Fenomena demikian memang bukan hal baru di Indonesia. Hari
raya Idul Fitri bisa berbeda bagi tiap kelompok masyarakat Muslim.

Dua kubu besar ini, yakni tim ahli hisab dan para perukyat, sering
berbeda pendapat mengenai penetapan hari raya.

Banyak argumen klasik yang dikemukakan dan budaya saling bantah tak
pernah dapat ditinggalkan. Namun, tak pernah sedikit pun terjadi
pergeseran sikap menuju perbaikan pemahaman (baca: persatuan) di
antara sesama kelompok Muslim. Alih-alih berusaha menenggang
perbedaan, yang terjadi justru menegaskan batas dan identitas masing-
masing untuk menunjukkan eksistensi diri dan kelompok.

Sebenarnya bisa saja terjadi dua hari raya di Indonesia, baik secara
matematis ilmiah maupun kebenaran sakral doktrin agama, mengingat
panjang bentang wilayah Nusantara dari wilayah timur di Papua hingga
ujung barat pantai Aceh. Namun, kenyataannya, di Indonesia belum
pernah terjadi dua hari raya Idul Fitri dengan alasan wilayah
geografis. Justru yang selalu terjadi adalah ada dua hari raya dengan
alasan ideologis, antara orang-orang yang konon disebut tradisional
dan mereka yang mengklaim diri Muslim modern atas dasar fanatisme
demi menjaga prestise golongan.

Selama 29 atau 30 hari

Sebagaimana diakui Din Syamsuddin, sebenarnya di beberapa wilayah,
tentu saja yang lebih barat seperti Pulau Jawa dan Sumatera, hilal
(kemunculan bulan sabit) belum dapat terjadi. Hanya saja, karena
alasan politis (kekuasaan), ormas merasa berhak menyatukan hari raya
dengan mengesampingkan peran negara yang tentu saja tidak asal-
asalan.

Bias ideologi inilah yang menarik dipertanyakan, mengapa lebih
memilih menyatukan dua hitungan hari daripada menjaga obyektivitas
matematis ilmiah dan mengesampingkan persatuan umat Muslim Indonesia.

Di sisi lain, masyarakat Muslim tradisional cenderung lebih suka
memilih kehati-hatian dengan sering menggenapkan hitungan Ramadhan
menjadi 30 hari. Dalam hal ini, mereka mengedepankan substansi hadis
Fain ghumma ‘alaikum faakmilul ‘iddah (jika penglihatan pada hilal
terhalang, hendaknya kalian menggenapkan hitungan).

Sederhananya, rasio doktrinal adalah, seandainya bulan Ramadhan hanya
29 hari, dapat dianggap telah terjadi suatu kesalahan. Namun, jika
yang benar adalah 30 hari dan mereka hanya berpuasa 29 hari, kapankah
kekurangannya akan disusulkan? Seperti biasa, masyarakat Muslim
tradisional lebih memilih menggenapkannya menjadi 30 hari.

Kebenaran kelompok

Meski validitas dari masing-masing cara, baik rukyat maupun hisab,
sangat relatif, hasil ini kemudian diyakini sebagai kebenaran
kelompok, lebih dari apa pun. Bahkan, negara pun dianggap tidak
berhak melakukan intervensi mengenai penetapan hari raya ini. Negara
hanya dapat menentukan kapan para pegawai kantor libur dan bekerja
kembali. Selebihnya, mengenai kapan dan di mana shalat Idul Fitri
dilaksanakan menjadi wewenang masing-masing lembaga agama.

Uniknya, tradisi berbeda ini diyakini beberapa kalangan sebagai ciri
sekaligus cara survive masyarakat Muslim Nusantara dalam melestarikan
dan mengembangkan keyakinannya dari masa ke masa.

Akibatnya, turun-temurun kesadaran untuk melestarikan perbedaan pun
mengakar. Tidak puas jika hari raya tidak berbeda. Bahkan, pertanyaan
di antara sesama kelompok agamawan sering terdengar agak
miring, “Apakah hari raya tahun ini akan sama?” atau “Kelompok mana
yang berhari raya lebih dulu?”

Siklus “tiga tahunan” ini telah menjadi bagian integral keberagamaan
sekaligus simbol abadi keberagaman masyarakat Muslim Indonesia.
Pemerintah Orde Baru pun tidak sanggup menyatukan dua keyakinan ini,
apalagi fatwa haram MUI yang sering diabaikan daripada ditaati.

Dalam hal ini tidak perlu fatwa haram karena telah dianggap lumrah
sebagai perkara furuiyyah semata kendati dalam banyak kitab fiqh,
dinyatakan haram berpuasa pada hari raya dan jelas tidak mungkin
terjadi dua kali Idul Fitri dalam setahun.

Harapan yang layak dikemukakan adalah, kapankah masyarakat Muslim
Indonesia dapat menghargai perbedaan dalam skala lebih luas. Bukan
sekadar saling menghargai saat berbeda hari raya, tetapi juga saling
menghargai saat berbeda pendapat dari sisi pemahaman keagamaan dan
akidah. Mereduksi segala tindak anarkisme dan peminggiran kelompok
sebagaimana dapat menghargai perayaan hari raya Idul Fitri yang tidak
kompak.

3 Comments

  1. dassa silam said,

    March 21, 2007 at 11:40 am

    ya saya setuju dengan pendapat penulis

  2. faras gavelt said,

    March 28, 2007 at 4:27 am

    oh menurut gw pendapat penulis terlalu berlebihan
    ya….. kalau orang berkompromi dalam pesta itu sih wajar
    tapi kalau kompromi masalah kewajiban dan hak?
    bulshit

  3. gevind said,

    March 28, 2007 at 4:29 am

    boleh boleh saja sih orang berpendapat, tapi kan seseorang selalu ingin jadi yang paling berpengaruh. nah kecenderungan speerti ninilah yang sering merussak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: