Adakah Masa Depan Indonesia?

Oleh Mochtar Buchori
Pendidik
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0604/22/opini/2575703.htm
—————————————————-

Sekitar satu tahun lalu, seorang teman nyeletuk, “Apakah Republik
Indonesia ini masih akan ada dua puluh tahun mendatang?” Ini terjadi
dalam suatu diskusi.

Saya tersentak. Pikir saya: “Teman ini keterlaluan! Dongkol ya
dongkol, tetapi haruskah dinyatakan dengan gaya sinis seperti itu?”
Sinisme teman itu saya tanggapi dengan gaya orang tua.

“Hal ini tergantung kita, terutama generasi muda. Jika rasa
kebangsaan, rasa ke-Indonesia-an cukup kuat, bentuk negara dapat
berubah, tetapi bangsa Indonesia akan tetap ada. Tetapi, jika rasa ke-
Indonesia-an terus menipis, tidak mustahil suatu saat di masa depan
bangsa dan negara Indonesia akan lenyap dari peta dunia. Lihat apa
yang terjadi dengan bangsa dan negara Yugoslavia. Negara dan bangsa
ini hilang dari percaturan dunia, diganti berbagai bangsa dan negara:
Bosnia, Kroasia, Serbia, Kosovo, dan Montenegro. Jadi, jika kita
khawatir mengenai kelangsungan eksistensi bangsa dan negara, maka
yang harus dilakukan ialah mengusahakan agar rasa kebangsaan
Indonesia terus hidup di hati generasi muda. Soalnya, apakah sistem
pendidikan kita kini menjamin kelangsungan semangat ke-Indonesia-an
ini?”

Suara-suara seperti itu akhir-akhir ini kian sering terdengar dan
dalam bentuk pernyataan-pernyataan yang lebih sinis dan lebih
skeptis. Makin besar kesemrawutan dalam negara dan masyarakat, makin
sering terdengar ucapan-ucapan sinis dan skeptis.

Sekitar dua bulan lalu, muncul pertanyaan bernada jengkel, “Apakah
Pemilu 2009 nanti akan terlaksana?”

Pekan lalu muncul cerita lebih menyedihkan. Seorang teman, anak muda
usia sekitar 35 tahun dan bekerja di dunia pelayanan jasa keuangan,
berceritera, di setiap perusahaan keuangan internasional yang besar
ada anak-anak muda Indonesia yang amat cerdas. Kini, seluruh
perhatian mereka dicurahkan kepada usaha untuk merangkai kawasan-
kawasan seluruh Indonesia melalui sistem jaringan komunikasi dan
distribusi, dan membuat Indonesia menjadi suatu mata rantai yang
kokoh dalam jaringan dengan dunia usaha di Asia Tenggara.

Bisnis apa yang akhirnya akan mengalir lewat jaringan ini tidak
menjadi soal. Apa yang akan disalurkan, berupa bisnis air, minyak,
atau gas, tidak jadi soal. Yang penting jaringan komunikasi dan
distribusi ini terbentuk. Dan, kalau bisa, jaringan ini dikuasai oleh
modal yang diwakili perusahaan tempat mereka bekerja. Apa perusahaan
itu bekerja dengan modal Jepang, China, Singapura, India, Eropa, atau
Amerika, juga tidak menjadi soal. Dan, yang lebih menyedihkan lagi
ialah, orang- orang ini tidak pernah mempersoalkan apakah yang akan
terjadi dengan bangsa dan negara Indonesia dalam perebutan penguasaan
jaringan ini. Apakah Indonesia akan bangkit dan tertarik ke atas
ataukah akan menjadi makin terpuruk, bagi mereka juga bukan
soal. “They just don’t care,” kata teman saya tadi.

Malapetaka

Kalau cerita ini benar, saya akan benar-benar merasa sedih dan
terpukul. Dengan pengalaman hidup saya yang panjang dan cukup beragam
ini tidak bisa saya bayangkan adanya orang-orang muda Indonesia yang
tidak peduli dengan Indonesia dan ke-Indonesia-an. “Ini sungguh suatu
malapetaka,” begitu pikir saya. Ada kecenderungan dalam hati saya
untuk “mengutuk” para eksekutif muda ini sebagai manusia Indonesia
yang tidak cukup nasionalistik.

Sekonyong-konyong saya teringat suatu peristiwa yang terjadi dalam
keluarga saya sendiri. Kira-kira lima tahun yang lalu salah seorang
anak saya berkata, “Saya mungkin akan pindah ke luar negeri, Pa! Saya
mendapat tawaran kerja di Gottingen, Jerman, untuk tiga tahun.
Tetapi, saya juga dapat tawaran kerja di Universitas Columbia di New
York. Kemungkinan besar saya akan ke Jerman dahulu untuk satu tahun
lalu terus ke New York. Dan, saya ingin membawa seluruh keluarga
saya, tiga anak dan suami! Boleh, kan, Pa? Tidak apa-apa, ya, Pa?
Tentu saya akan nengok Papa dan Mama dari waktu ke waktu. Tetapi,
intinya, saya ingin bermigrasi.”

Pada waktu itu tidak sedikit pun terpikir oleh saya bahwa niat anak
saya ini sudah mengandung kecenderungan yang bersifat a-
nasionalistik. Apa bedanya sikap anak saya ini dengan sikap para
eksekutif muda tadi? Tidak ada! Saya sadar telah mempergunakan
standar ganda dalam hal ini. Pada akhirnya anak saya tidak jadi
bermigrasi. “Peristiwa 11 September” di New York dan perkembangan
yang terjadi sesudah itu di Amerika Serikat menghilangkan seluruh
seleranya untuk tinggal di New York. Dia beberapa kali ke Gottingen
dan New York, tetapi setiap kali hanya untuk dua atau tiga minggu,
paling lama satu bulan. Dia tidak jadi kehilangan nasionalismenya.

Dalam zaman globalisasi ini menjadi sukar untuk menarik batas yang
tegas antara kehidupan dalam konteks nasional dan internasional.
Kehidupan nasional sering berimpitan dengan kehidupan internasional
sehingga menjadi sukar untuk dalam kasus-kasus tertentu memisahkan
kehidupan nasional dari kehidupan internasional. Lalu timbul
pertanyaan: mana batas antara kehidupan internasional yang
nasionalistik dan yang a-nasionalistik?

Hilangnya rasa ke-Indonesia-an

Pertanyaan-pertanyaan ini dengan sengaja saya hidupkan dalam benak
saya untuk mengembangkan sikap yang “adil” terhadap orang-orang muda
pelaku bisnis internasional tadi. Tetapi, kegelisahan saya mengenai
masa depan Indonesia tetap tidak dapat saya halau. Saya tetap merasa
khawatir akan hilangnya rasa ke-Indonesia-an ini pada generasi
mendatang. Apa yang sekarang ini masih dapat dilakukan untuk
melestarikan rasa ke-Indonesia-an ini pada mereka?

Yang saat ini terpikirkan oleh saya ialah pengembangan suatu
paradigma pendidikan yang dapat menimbulkan “suasana berbagi” (the
spirit of sharing) di sekolah antara guru dan murid. Kalau guru dapat
berbagi dengan murid-muridnya segenap kecemasan yang kita rasakan
bersama mengenai kondisi bangsa dan negara saat ini, dan juga berbagi
harapan mengenai masa depan Indonesia, barangkali pendidikan akan
dapat mencegah runtuhnya suatu “imperium” bernama Republik Indonesia.
Kita hanya akan dapat mengembangkan suasana seperti ini kalau kita
membiasakan diri melihat kegiatan mendidik sebagai suatu kegiatan
berbagi antara guru dan murid. Dengan sikap seperti ini, mengajar
akan menjadi kegiatan untuk berbagi pengetahuan dan ketidaktahuan
(sharing knowledge and ignorance), dan bukan sebagai kegiatan untuk
mentransfer pengetahuan semata-mata.

1 Comment

  1. Fatika & Ervi said,

    April 3, 2009 at 1:15 am

    kita ciptakan pendidikan di masa depan lebih baik dari pada dimasa-masa yang lalu.kita harus mengembangkan pendidikan sejak dini supaya pendidikan lebih maju dan berkembang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: