Agustusan di Mata Belanda

Oleh Roch Basoeki Mangoenpoerojo
Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan PDI-P 1994-1999
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0608/12/opini/2876758.htm
=============================

Juli adalah pesta kalkun bagi orang Amerika di hari jadi. Agustusan
adalah sorak-sorai orang Indonesia yang menyakitkan Kerajaan
Belanda, karena Jepang membiarkan patriot Indonesia merdeka.

Sakitnya Belanda bukan karena kecolongan kekuasaan. Lebih sakit,
karena “seharusnya Indonesia tidak terpuruk seperti sekarang”.
Belanda saja bisa mengelola selama 300 tahun dengan relatif stabil,
lingkungan terjaga apik, gaji pegawai cukup buat tiga bulan.
Terlepas Belanda menjajah, hidup masyarakat zaman normal relatif
lebih baik. Indonesia harus fair.

“Ambtenaar”-lokal

Dulu rakyat produktif. Semua layanan administrasi publik berjalan
mulus, tanpa pungli. Yang strategis, konsepsi tata ruang yang siap
mengantisipasi perkembangan kehidupan manusia. Kini, banjir masuk
Istana. Rusak oleh ambtenaar-lokal.

Perilaku ambtenaar-lokal ini paling menyakitkan Belanda. Mereka
dididik, difasilitasi berlebih, dan dipercaya berkuasa menjadi alat
penjajah. Setelah merdeka, mereka tetap berkuasa tanpa menggubris
jasa Belanda. Merdeka, dimanfaatkan buat “memilih tuan” yang lebih
canggih. Juga menyakitkan pribumi, khususnya pejuang kemerdekaan.

Belanda adalah pihak asing yang amat tahu perilaku manusia
jajahannya. Seperti orang Spanyol tahu benar Argentina, Brasil, dan
lainnya. Atau Inggris tahu benar negara-negara commenwealth. Mereka,
penjajah dan yang dijajah, tidak bermusuhan bahkan saling membantu,
setidaknya secara psikologis. Nasionalisme Malaysia (di belakangnya
Inggris) dicuatkan Mahathir dengan mengkritik APEC. Sementara
ditekan tuan baru, “Nasionalisme Indonesia” menjadi barisan APEC
terdepan.

Meski tersakiti, haruskah Indonesia selalu menolak yang berbau
Belanda? Bukankah Indonesia itu blessing, berasal dari Hindia
Belanda. Memusuhi Belanda justru kerugian. Kesannya sombong, menutup
pintu bagi Belanda untuk balas budi. Tertutup peluang Belanda
menjadi jembatan Indonesia ke dunia Barat, jembatan peradaban untuk
iptek, diplomasi, sampai bisnis, seperti bekas jajahan lainnya.

Kebutuhan Belanda

Keinginan Belanda untuk berhubungan baik dicurigai. Ini sikap
keterjajahan, minderwaardigheids-kompleks. Ambtenaar kebablasan
adalah perilaku kompensasi rendah diri. Minder melihat bule lebih
tahu Bali daripada Indonesia. Padahal, orang kampung lebih tahu
Monas daripada Menteng. Orang kampung tak tahu Indonesia (dan
Menteng).

Belanda membutuhkan Indonesia. So pasti. Mulai sekadar rindu Parijs
van Java, sampai ingin melanjutkan kebanggaan masa lalu, negara
kecil tetapi mampu menguasai wilayah amat luas, kaya, dan strategis
di Asia Pasifik selama 350 tahun.

Breakdown-nya, mungkin ada ribuan kebutuhan Belanda yang hanya bisa
terwujud lewat Indonesia. Bila tidak tersalurkan, berpotensi
merugikan Indonesia. Dunia memandang, Belanda lebih tahu Indonesia
daripada orang Indonesia.

Memenuhi ribuan kebutuhan Belanda mustahil. Tetapi di antaranya
pasti ada yang merupakan kebutuhan bangsa Indonesia. Selayaknya
rakyat Indonesia memilah dan memilih yang sesuai kepentingan
Indonesia merdeka. Hal ini bisa mengurangi sakit hatinya Belanda
dengan keberadaan Indonesia merdeka.

Sedianya Ratu Beatrix hadir dalam Peringatan 17 Agustus 1995 di
Jakarta, tetapi Parlemen Belanda melarang. Sebaliknya, 1996, veteran
Belanda yang pernah bertempur melawan TNI di Jawa Barat mengundang
veteran Siliwangi ke markasnya di Ermelo. Letjen (Pur) Himawan
Soetanto memimpin 50 veteran memenuhi undangan. Beliau diminta
berbicara di salah satu fraksi Parlemen. Buntutnya, veteran Belanda
mendapat santunan tertentu per bulan.

Pakar “berpikir sistemik” (J. Winardi) mengatakan, pendekatan
kesisteman harus berakar pada perilaku para pelakunya. Sistem
Indonesia Merdeka, harus berakar dari perilaku manusia Indonesia.
Belanda amat paham perilaku manusia Indonesia, tetapi beda cara
melihatnya.

Indonesia dihantui pahitnya penjajahan sehingga harus menggunakan
Pancasila. Sedangkan Belanda merasakan nikmatnya penjajahan. Politik
etis van Deventer menyadari kesalahan, dan dibaca Pendiri Negara
dalam konteks peradaban, antisipasinya tertulis pada naskah
Pembukaan UUD 1945. Persahabatan dua bangsa sudah didesain, meski
belum terjabar untuk operasional.

Gerakan budaya

Perlawanan menjadi gerakan budaya, membebaskan dari jiwa
keterjajahan. Pahlawan Nasional Hasanuddin, Imam Bonjol, Diponegoro,
Teuku Umar, dan lainnya memang pemberontak. Tetapi tahun 1908-1942,
tiada lagi pemberontakan. 17 Agustus 1945 adalah wujud gerakan
budaya Boedi Oetomo yang menemukan momentum kalahnya Jepang.

Lain halnya paham hukum Belanda. Hindia-Belanda tetap dianggap
miliknya. Jepang “meminjam” (rekapitulasi Kalijati 9 Maret 1942) dan
mengembalikannya lewat Sekutu, 2 September 1945. Tetapi Indonesia
merebutnya, Belanda terpaksa memberikan 27 Desember 1949.

Indonesia sebaliknya. Memanfaatkan hampa kekuasaan (15 Agustus–2
September 1945), rakyat mengintimidasi pemimpin agar negara segera
diproklamasikan untuk memastikan Hindia Belanda sah milik Indonesia.

Peristiwa 20 Mei 1908; 28 Oktober 1928; BPUPKI; PPPKI adalah proses
peradaban. TNI, RRI, wartawan, pemuda, dan siapapun yang tergerak,
merupakan manifestasi gerakan budaya berbentuk pertahanan diri,
tidak memberontak.

Sayang Indonesia, tidak konsisten dengan peradaban. Tidak memproduk
hukum demi kepastian kebenaran. Pancasila, sejarah, Bhinneka Tunggal
Ika, seluruh prasasti, bukan referensi karena eksistensinya tidak
diperkuat hukum. Bahkan hingga kini belum ada UU Tanah-air dan
Penduduk, dua prasyarat negara.

Wajarlah NKRI terpaksa melepas Sipadan-Ligitan. Itulah kelakuan
ambtenaar-republik, pejabat berbaju Indonesia berjiwa “kulinya
tuan”. Bangsa dibuat tunduk pada hukum kolonial, jauh dari
terbentuknya hukum nasional. Semua persoalan Indonesia berakar dari
semrawutnya tata pikir (mindset) ini.

Dampak beda persepsi kemerdekaan meliputi tata pikir, perilaku
sampai produk hukum pengendali kebijakan Indonesia. Barier
psikologis harus dicerahkan untuk memenuhi kebutuhan kedua negara.

Belanda pasti enjoy bernostalgia sambil Agustusan di Parijs van Java
(Bandung) dalam suasana Indonesia Merdeka. Indonesia akan memiliki
jembatan peradaban ke masa depan, tidak harus lewat pesta kalkun.

1 Comment

  1. kisworoo said,

    July 6, 2015 at 5:04 pm

    Kadang ada hal yang tidak bisa dinilai dari perspektif orang luar yang indonesia rasakan. Kebanggaan rakyat Indonesia akan kemerdekaan adalah hal yang penting, selain sistem yang hancur di negeri ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: