Andra, Andragogi, dan Kejernihan Soal

Oleh Hariadi Saptono
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0701/30/humaniora/3278680.htm
==========================

Ini cerita menggelikan tentang Andra, siswa Kelas I Sekolah Dasar
Kanisius Baciro, Yogyakarta. Jam tiga sore. Sehabis tidur siang.
Setelah pulang sekolah. Bocah berusia tujuh tahun itu, menyeret-
nyeret neneknya, meniti globalisasi yang meresahkan..

Ia membuka buku di meja makan. Ia minta neneknya, Nyonya Aloysia
Slamet mengeja kalimat-kalimat di bawah sejumlah gambar.

“Ini bahasa Mandarin, Nek. Bukan gitu ngomongnya,” kata Andra dengan
nada ringan.

Neneknya, yang selama ini telah sukses “meluluskan” tujuh sampai 12
orang anak dan cucu dengan metode “belajar di meja makan”, –sembari
si nenek memasak di dapur–kali ini kelabakan, tapi juga sangat geli
menghadapi cucunya.

“Duuh..Nenek nggak tahu, bagaimana mengucapkan kata-kata ini Ndra.
Coba kamu ucapkan,” kata si nenek. Mulailah, nenek dan cucu ini
mengarungi teka-teki pendidikan kita di meja makan.

Cerita seperti dialami Andra ini, sejak beberapa tahun terakhir jamak
dialami berbagai keluarga. , Ssuatu yang membuat banyak keluarga
shocked, terperangah saat mengikuti anak-anak mereka belajar di
sekolah.

Salah satu soal pilihan ganda mata pelajaran Sosiologi, untuk ulangan
umum Kelas I SMA tahun 2005 lalu kami simpan. Sebab pertanyaannya
amat memukau, begini bunyinya: Teori yang menyebut agar masyarakat
mempertahankan integritasnya dan kekerabatan sosial di era modern,
karena ikatan latar belakang keagamaan dan ikatan etnik tak bisa
dipertahankan lagi, adalah teori dari 1). Peter Drukker 2). Emile
Durheim, 3). Socrates 4). Talcot Parson.

Komentar yang umumnya tajam, segera muncul kalau cerita ini
dibagikan. Tentu harus segera ditambahkan: suasana pendidikan sebuah
sekolah yang curious dan menantang,– pendeknya bagus karena
mengembangkan minat dan gairah murid untuk mencari dan terus mencari
sendiri pengetahuan–, kami yakin masih bisa ditemukan di negeri ini.

Salah satu faktor kunci dan relatif konstan dampaknya, ialah guru dan
metoda pengajarannya. Di atas faktor guru dan metode pengajaran, yang
ikut menentukan tentulah kurikulum, rencana strategis (Renstra)
Departemen Pendidikan Nasional, berbagai agenda teknis, dan tentu
saja anggaran pendidikan.

Tetapi alas, landasan dasar dari seluruh kegiatan pendidikan,
tentulah visi pendidikan itu sendiri. Inilah yang menjadi catatan
pokok, sekaligus kritik keras pakar pendidikan Mochtar Buchori.

“Saya katakan di sini bahwa kritik-kritik saya terhadap kebijakan
pembangunan pendidikan, selama ini menyentuh tidak jelasnya visi yang
mendasari berbagai pembangunan pendidikan,” kata Mochtar Buchori

Jika kita bertanya apa visi kita tentang pengembangan pendidikan
untuk menuju kepada peningkatan kecerdasan kehidupan bangsa, menurut
Buchori, tak ada jawabannya, karena kita tidak punya visi.

Kita langsung menyusun rencana dan melaksanakan langkah-langkah tanpa
pernah secara eksplisit membicarakan masalah visi ini. Kita memang
melangkah maju tetapi tidak akan menjadi lebih baik, kalau dalam
mendidik generasi muda, kita berpegang pada retorika iman, takwa, dan
cerdas. “Retorika ini kita terima sebagai visi kita tentang
pendidikan nasional. Memadaikah visi ini? Saya kira tidak, setelah
sekian lama kita mengimplementasikan pendidikan yang bertumpu kepada
pembinaan iman dan takwa, kehidupan bangsa tidak terasa menjadi lebih
cerdas, kita masih menjadi bangsa yang korup dengan berbagai kelas
yang lebih berorientasi ke penguasa daripada ke publik, dan dengan
sistem hukum yang makin lama makin rusak.”

Apa yang dikemukakan Mochtar Buchori memang termaktub dalam Undang-
Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Substansi tentang tanggungjawab negara untuk mencerdaskan bangsa,
justru ditempatkan pada gagasan paling akhir, dan memang menyiratkan
misleading, tidak jernih menangkap akar persoalan, yaitu visi
pendidikan. Kutipannya : (Menimbang : b. bahwa UUD Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan Pemerintah mengusahakan dan
menyeenggarakan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan
dan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-
undang.

Mochtar Buchori bahkan merinci perlunya discourse tentang visi
berbagai hal menyangkut bebagai aspek pendidikan. Buchori mislanya
mengajukan perlunya visi tentang proses perkembangan pendidikan, visi
tentang sekolah Indonesia, visi tentang guru Indonesia, visi tentang
hubungan antara sekolah dan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan
formal di sekolah.

“Jadi sungguh tidak bijaksana, kalau setiap kritik mengenai visi
dikesampingkan begitu saja sebagai hal yang mengganggu kinerja
birokrasi, katanya.

Tentang metode pembelajaran hafalan, dan berbagai keruwetan karena
beratnya beban kurikulum SD hingga SMA, Prof Dr Soedijarto menyoroti
eksesnya.

Akibat sistem pendidikan yang berorientasi pada Ujian Nasional
seluruh sekolah tidak bisa tidak (terpaksa) mengutamakan pelajaran
yang mau diujikan. “Padahal pendidikan yang benar-benar pendidikan
itu yang memungkinkan anak bisa exploring, learning to know
something . Jadi saya katakan mana mungkin anak tertarik membaca
novel karena time consuming. Kalau nggak diuji mana mungkin dia
tertarik mau ke laboratorium, karena nggak ada ujian tentang
laboratorium, mana mungkin dia mencoba mengarang, wong nggak akan
diuji mengarang. Jadi saya serius, sejak tahun 1981, saya katakan
Ujian Nasional itu tidak memungkinkan lahirnya manusia Indonesia
dalam arti yang mampu mengeksplorasi tadi,” kata Soedijarto.

Dalam konteks lain, Soedijarto menilai pendekatan yang dilakukan
ilmuwan Yohanes Surya, untuk mempersiapkan pelajar Indonesia meraih
Nobel Prize 2020 dengan sistem “diperam”, perlu dipertanyakan.

Sebab hanya dengan “kebebasan, gairah, dan kegembiraan mencari”,
Einstein, Isaac Newton, juga Thomas Alva Edison yang tak suka belajar
itu justru dibimbing curiousity yang bersumber dari “bermain-main”.

Jadi benarlah kata Utomo Dananjaya, bahwa sebagian besar guru–dan
ini tercermin dalam UN–tidak bisa sebenarnya telah menerapkan
andragogi pada pendidikan dasar.

Soal-soal UN dengan pilihan ganda, tetapi dengan jawaban hanya satu
yang benar, menurut Utomo telah mereduksi kreativitas, dan bias makna
seuatu persoalan. Sebutlah kata ibu, tentu bisa disebut pula mother.

Karena di sekolah diajarkan bahwa “kebersihan adalah bagian dari
iman”, maka cucu Utomo Dananjaya pun mengadu kepada eyang kakungnya
itu. “Karena saya kakeknya mengajarkan saya mengajarkan cucu saya
menjawab kebersihan adalah bagian dari kesehatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: