Bangsa Importir

Oleh Jakob Sumardjo
Esais
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0603/04/opini/2460776.htm
————————————————–

Sejarah bangsa Indonesia pernah dimahkotai oleh munculnya negara-
negara kerajaan eksportir. Produksi beras di Majapahit dan Demak
mampu menghidupi negara-negara Asia Tenggara. Kerajaan Ternate-Tidore
dan Banten mampu memenuhi kebutuhan bangsa-bangsa di dunia dengan
lada dan cengkehnya. Bahkan, Sriwijaya mampu mengekspor siswa-siswa
Buddhis yang akan melanjutkan kuliah di Indonesia.

Kini, setelah merdeka, bangsa Indonesia menjadi bangsa importir.
Tidak mampu memenuhi kebutuhan sendiri, apalagi menyumbangkan sesuatu
kepada dunia. Beras harus diimpor, teknologi diimpor, pengetahuan
diimpor, hiburan diimpor, informasi diimpor, imajinasi pun diimpor.

Kapan bangsa ini mengekspor beras, teknologi, pengetahuan, hiburan,
informasi, atau mengekspor imajinasi? Jika tidak mengekspor, kapan
dapat memenuhi kebutuhan beras sendiri, teknologi sendiri,
pengetahuan sendiri, hiburan sendiri, informasi sendiri, imajinasi
sendiri?

Bangsa yang kalah. Bangsa yang tergantung. Bangsa yang konsumtif.
Bangsa yang minder. Bangsa tanpa kebanggaan kecuali bangga dalam
mengonsumsi, menerima, menghafal, meniru, dan dalam memakai. Karena
tergantung dan konsumtif, maka tak ada peluang untuk berpikir
sendiri, kreatif menciptakan sendiri, melihat diri sendiri. Alasannya
selalu globalisasi. Kita harus mengejar ketinggalan dan berlomba
dengan bangsa-bangsa lain.

Mengapa?

Sejauh mana ketinggalan? Mengapa dapat ketinggalan? Mengapa bangsa-
bangsa tetangga yang merdeka 20-30 tahun kemudian dari Indonesia
mampu meninggalkan kita? Dari mana kita harus mengglobal? Setiap
tujuan harus selalu bertolak dari suatu keadaan. Jika pengenalan diri
tidak pernah dikuasai, bagaimana kita bisa ikut globalisasi? Modal
kita apa? Kelebihan kita apa? Kekurangan kita apa? Bagaimana
mentalitas kita? Analisa SWOT-lah.

Apa dan siapakah Indonesia sekarang? Jika mengenali dan memahami
bangsa sendiri saja tidak dilakukan (karena asyik mengenali dan
memahami bangsa lain), bagaimana bisa menentukan masa depan?
Indonesia bukan Jepang, bukan Korea, bukan Eropa, bukan Amerika.
Mungkin titik Indonesia malah mirip Kongo, Kamerun, Ghana. Mengapa
tidak belajar dari mereka? Mengapa selalu ingin menjadi Jepang dan
Amerika?

Bangsa konsumtif adalah bangsa yang hanya mengenal hasil, produk
akhir, bukannya peduli pada proses. Segala sesuatu menjadi, dan bukan
bimsalabim. Semua bangsa yang ingin kita kejar mempunyai sejarah yang
menjadikannya seperti sekarang. Dan kita tak pernah mau tahu proses
menjadinya. Kita melupakan kegagalan-kegagalan mereka.

Setiap keberhasilan selalu mempunyai cerita yang panjang. Jika cerita
sukses orang lain pun kita tak peduli, bagaimana mau tahu cerita kita
menjadi bangsa importir? Mengapa setiap pesta film, kita selalu
meniru apa yang terjadi pada piala Oscar? Mengapa harus bikin pesawat
terbang kalau bikin motor saja belum mampu? Mengapa Giddens kalau
yang kita perlukan sebenarnya Karl Marx?

Kenali diri sendiri

Pada zaman Bung Karno, kita pernah dipaksa mengenali diri sendiri.
Lepas dari kelemahan-kelemahannya, Bung Karno berani menyatakan,
bangsa ini harus berdiri di atas kaki sendiri. Akibatnya cukup fatal.
Stop semua impor. Mencari buku pegangan Amerika atau Eropa setengah
mati. Mau mendengarkan musik Beatles takut masuk penjara. Kelaparan
di sana- sini (sekarang juga). Mendengarkan radio Australia harus
menempelkan kuping di radio. Mobil-mobil tua laku keras. Sepeda
memenuhi jalan-jalan. Memang sengsara, tetapi semua sengsara. Gaji
menteri dan gajih guru skalanya tidak terlalu tinggi. Miskin bersama.
Menderita bersama. Tidak seperti sekarang. Gaji lulusan SMA jika
berhasil melejit ke atas akan mengalahkan gaji guru besar kira-kira
20 atau 30 kali! Di mana kamu Dewa Keadilan?

Saat itu, karena semua dilarang masuk, daya kreatif bangsa bangkit
dari tidur panjangnya. Karena “tertutup”, mereka hanya mengenal diri
sendiri. Muncullah temuan-temuan teknologi yang sesuai kebutuhan
bangsa. Muncullah tokoh-tokoh legendaris musisi sendiri, Koes
Bersaudara, Titiek Puspa, Panjaitan Bersaudara. Beredar beras hasil
keringat petani sendiri. Mau korupsi? Apa yang dikorupsi? Tentu saja
koruptor tetap ada.

Strategi berdikari ini tak berjalan mulus akibat SDM yang sontoloyo.
Manusia Indonesia sulit ditebak. Setelah Bung Karno jatuh, haus impor
berkembang secepat wabah flu. Indonesia lapar impor, dari mulai
pinjaman luar negeri sampai acara televisi. Semua tinggal ditelan.
Maka yang kaya kian kaya dan yang miskin kian menyebar sebagai wabah.

Hari gini berdikari? Itu suara mereka yang sedang kenyang. Mereka
yang kebagian rezeki impor. Tentu saja bodoh mengulangi sejarah.
Hikmahnya, kita mengalami miskin bersama. Sedangkan sekarang piramida
kemiskinan tidak jalan. Yang terlihat gambar tiang terpancang di
tengah lempeng beton. Tidak usah berdikari, sekurangnya peduli diri
sendiri.

Sebagai bangsa importir, kita kurang percaya diri. Pembimbing tesis
marah jika daftar bibliografi tidak mencantumkan nama-nama besar
mutakhir dalam bahasa Inggris. Sarjana-sarjana lokal itu diragukan
kebenarannya. Kepastian itu hanya ada dalam literatur berbahasa
Inggris.

Bangsa ini tidak mempunyai sejarah lagi. Inilah sebabnya tidak
mengenal makna proses. Tahunya bahan jadi. Semua produk impor tak
perlu diketahui proses terjadinya. Apa sulitnya tinggal menelan.
Konsumtif seratus persen. Pantaslah kita disebut pribumi malas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: