Bangsa Tujuh Huruf

Oleh Budiarto Shambazy
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0612/09/utama/3151358.htm
=====================

Suasana menjelang liburan akhir tahun 2006 benar-benar istimewa. Mula-
mula rakyat mendapat hiburan gratis menyaksikan kocaknya pemerintah
menyambut Presiden Amerika Serikat George W Bush—termasuk menyiapkan
helipad yang dibongkar paksa tanpa pernah dipakai.

Lalu ada tontonan video itu. Jika menyaksikan final sepak bola Piala
Dunia tanpa sadar saya suka bergumam, “Aduh, wah, gilé, goblok,
alamak…”

And last but not least “ada sebuah peristiwa yang layak disebut
dengan “Bandung Lautan Asap.” Saya jadi ingat iklan sebuah mobil yang
kursinya banyak dan mampu sekaligus memuat “aa’, tétéh, kakak, dédé’,
abah, nenek, pembantu…”

Di satu pihak siapa yang tak suka gosip? Namun, di lain pihak hati
jadi miris membayangkan reaksi anak-anak yang belum puber saat
menyaksikan tayangan final Piala Dunia dan drama Bandung Lautan Asap
di berbagai acara infotainment di televisi.

Orangtua pasti bingung jika mereka bertanya apakah sparring partner
hanya berlaku di olahraga tinju—tidak di cabang sepak bola Piala
Dunia? Orangtua pasti menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal jika
anaknya yang masih balita akhirnya tahu bahwa ada sebuah kata yang di
depannya berbunyi “poli” selain “politik” atau “polisi.”

Tiba-tiba saya mengalami ketegang syaraf saat menyetir mobil Kamis
malam lalu gara-gara mendengar laporan pandangan mata final Piala
Dunia yang disiarkan stasiun radio. Si wartawan melaporkannya dengan
penuh gairah karena, maklum, sejak subuh sampai gelap telah nongkrong
di depan rumah.

“Saudara-saudara, baru saja sebuah mobil Kijang berwarna hitam keluar
dari rumah itu. Mobil melaju dengan kencang! Ternyata penumpangnya,
selain supir, ada dua. Salah satunya adalah sang istri resmi. Namun,
saudara-saudara, ia menutupi kepalanya dengan sehelai kain panjang”
lapor sang wartawati.

“Wajahnya sama sekali tak tampak, tetapi pembantu di rumah itu
membenarkan bahwa itu adalah sang istri. Saya berhasil mewawancarai
sang pembantu,” tambah si wartawati. “Iya neng, itu memang ibu. Ibu
tadi bilang katanya mau pegi belanja. Saya mah enggak tau..,” kata si
pembantu.

Hampir 100 persen jam tayang acara berita maupun infotainment
televisi dan acara interaktif setiap radio serta halaman tabloid-
tabloid yang dijual di lampu-lampu merah terisi sesak oleh berita
final Piala Dunia dan Bandung Lautan Asap. Siapa bilang demokrasi
tidak enak?

Berita video mesum Paris Hilton, perceraian Britney Spears, atau
Madonna mengadopsi anak Afrika mendapat saingan baru. Indonesia tidak
kalah pamor dibandingkan Hollywood atau New York.

Faktanya Indonesia telah lama ketularan penyakit “moralitas
Victoria”. elite politik di Inggris saat diperintah Ratu Victoria
(1837-1901) mengembangkan budaya “lain ucapan lain tindakan” serta
pura-pura suci di hadapan rakyat yang hidupnya makin sengsara.

Tokoh-tokoh agama pada zaman moralitas Victoria berbicara elegan dan
berpenampilan sopan, tetapi kelakuannya sudah mirip dengan setan.
Politisi- politisinya pandai berbicara tentang hak-hak perempuan,
tetapi mempunyai banyak simpanan.

Aparat hukum kerajaan pandai bersilat lidah tentang keadilan, namun
tidak pernah tahan godaan. Para industrialis suka mengeluhkan soal
sedikitnya keuntungan perusahaan, tetapi tak pernah memikirkan soal
perbaikan kesejahteraan karyawan.

Sudah mirip dengan negeri kita bukan?

Kata kunci moralitas Victoria gaya baru mencakup “sex, drugs, and
money.” Tiga-tiganya telah dimanipulasi oleh elite politik di negeri
ini.

Politisi, pengusaha, dan aparat keamanan telah berkali-kali terbukti
berkomplot memproduksi sekaligus mengedarkan narkoba. Polisi memakai
nakoba atau melecehkan wanita-wanita anak buahnya, itu sudah menjadi
cerita biasa.

Politisi terlibat sparring partner di final Piala Dunia juga bukan
rahasia. Toh sebelum ini sudah ada rumor heboh tentang seorang ketua
umum partai politik yang terlibat hubungan asmara dengan perempuan
yang bukan istrinya.

Sebelumnya ada juga ingar-bingar tentang sang istri pertama tokoh
ternama yang menyerbu rumah istri kedua. Ternyata adik sang suami
yang bapaknya dulu berkuasa juga terlibat sengketa dengan tokoh
pengusaha mengenai siapa gerangan ayah dari seorang putra yang kini
diasuh oleh seorang wanita jelita.

Kalau sudah tahu Anda tak perlu bertanya lagi kepada saya.

Apakah Anda mengetahui bahwa salah satu presiden kita bukan cuma
beristri sedikitnya dua, tetapi juga dikelilingi oleh sejumlah wanita
yang berasal dari berbagai suku di Nusantara? Saya mau berbagi
cerita.

Waktu di AS sang presiden mengaku sedang mencari kutang untuk seorang
istrinya. Waktu ditanya nomor berapa ukurannya, ia mencari ukuran
yang pas dengan cara meraba-raba bagian dada beberapa perempuan
penjaga toko yang ada di sekitarnya.

Menurut saya almarhum Ny Tien Soeharto berjasa besar bagi republik
ini dalam mengatur perilaku seksual para pejabat negara melalui
mekanisme Dharma Wanita. Namun, apa lacur seorang lelaki menteri
malahan terlibat pelecehan seksual di luar negeri dengan…lelaki
juga.

Seorang komentator sosial AS, Gore Vidal mengatakan, “Perilaku
seksual setiap masyarakat mencerminkan keputusan-keputusan politik
pemerintahnya.” Jika elite kekuasaannya doyan bersikap “tujuh huruf”
(huruf depannya “m” dan huruf belakangnya “k”) maka begitu pula
dengan bangsanya.

Dan takkan ada yang mampu mencegah terulangnya Bandung Lautan Asap
atau menggagalkan berlangsungnya final Piala Dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: