Belajarlah dari China

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0604/08/Politikhukum/2565785.htm
———————————————————-

Posisi Indonesia yang strategis, ada di posisi silang, sejak zaman
kolonial memang telah menjadi incaran kekuatan dari luar dan sasaran
kekuatan global. Kekuatan itu hadir dalam segala bentuknya, seperti
perdagangan dan agama. B Josie Susilo Hardianto

Dalam balutan kemeja dan celana panjang sederhana berwarna abu-abu,
Ignatius Wibowo Wibisono, dosen Fakultas Sastra Universitas
Indonesia, untuk beberapa mata kuliah tentang isu-isu China dan dosen
pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara menerima dengan hangat.
Berikut petikan wawancaranya.

Apa yang Anda lihat dari globalisasi di China dan negeri ini?

Pada masa Presiden Soekarno, Indonesia pernah menutup diri beberapa
waktu. Soekarno menyerukan Indonesia keluar PBB. Tetapi, pada
dasarnya Indonesia adalah terbuka. Semasa Soeharto berkuasa,
Indonesia setengah tertutup. Investasi asing boleh masuk, tetapi tak
bebas merambah. Kita baru betul-betul terbuka sejak tahun 1998 ketika
IMF masuk. Kala itu Indonesia dipaksa membuka pasar sehingga kini ada
investor asing di mana-mana.

China dulu juga jadi sasaran kolonialis Inggris ketika dikalahkan
dalam perang candu, ada Jerman, Perancis, Amerika, Jepang, Rusia
semua menjarah China. Tetapi, kemudian China menjadi negara tertutup
selama pemerintahan Mao Che Thung. Yang menarik adalah mengapa
Indonesia cepat terbuka dan mengapa China tidak. Kini Indonesia
seperti telanjang bulat, sedangkan China tidak.

Maksudnya?

Begini, China itu masih melindungi negaranya. Investasi asing masuk,
tetapi tidak gila- gilaan. Pemerintah mengontrol mereka. Investasi
asing hanya bisa masuk ke wilayah tertentu yang ditunjuk negara. Di
Indonesia sistem devisa kita bebas sebebas-bebasnya. Kita dapat
mentransfer uang ke New York sebanyak-banyaknya. China dikenal sangat
ketat mengontrol lalu lintas mata uang. Sistem keuangan dikendalikan
empat bank pemerintah. Bank swasta belum masuk ke ritel. Perdagangan
bebas terjadi, tetapi di bawah kontrol negara.

China kan juga masuk WTO, bagaimana itu?

Indonesia masuk WTO, China juga, tetapi China belum 100 persen
menaati WTO. Mengapa mereka berani menentang? Itu karena kemauan
pemimpin partai komunis yang berkuasa. Mereka punya komitmen untuk
membangun China yang kuat dan perkasa. Komitmen itu ada juga pada era
Mao Che Tung dengan gerakan lompatan pada 1959 berusaha mengejar
Amerika dalam waktu 15 tahun dan Inggris dalam 10 tahun. Komitmen itu
juga ada dalam pemerintah Deng Xio Ping. Kini mereka mati-matian
mewujudkan China yang kaya dan perkasa.

Bagaimana komitmen itu dibangun?

China punya kebanggaan luar biasa terhadap bangsanya. Ini tak bisa
dilepaskan dari sejarah bangsa China yang panjang sejak masa
kebesaran dinasti-dinasti seperti Han, Thang, Ming, dan Ching. Pada
masa itu China sangat dihormati di kawasan Asia Timur. Selain itu,
pengalaman traumatik terpuruk selama 100 tahun di bawah Inggris juga
memberi tambahan energi untuk mengembalikan kejayaan masa lampau.
Mengembalikan kejayaan China berarti menjadi hegemon lokal,
sekurangnya di Asia Timur seperti masa Dinasti Han, Thang dan Ming.

Bagaimana mewujudkannya dalam ekonomi modern?

Ketika reformasi, mereka punya komitmen menarik investor asing. Itu
dilakukan sejak masa Deng Xio Ping. Namun, mereka tak mau investor
asing menjadi seperti pada masa penjajahan, ketika semua wilayah
China dijarah. Investor asing boleh masuk tetapi hanya di wilayah-
wilayah seperti Shenzen. Ada kompromi, di satu pihak terbuka, di
pihak lain tertutup. Itu dilakukan agar Pemerintah China tetap
memegang kendali. Sekarang ada 100 wilayah dengan berbagai tingkatan
dari sangat terbuka, cukup terbuka, dan kurang terbuka. Itu sebabnya
ada development zone atau special economic zone.

China mampu mengatur pintu investasi dan memperkuat ekonomi mereka
karena kekuatan mereka ada pada ekspor yang berlipat-lipat. Dari mana
ekspor itu? Ya, dari investor asing yang masuk ke China serta
kekuatan domestik. Caranya dengan memberikan angin kepada swasta.
Namun, mereka harus bersaing dengan BUMN untuk menjadi pemain besar.

Bagi laki-laki kelahiran Ambarawa, 2 Agustus 1952, itu, langkah China
dapat dilihat sebagai sebuah cara menyikapi globalisasi. Pemerintah
China sadar tak mungkin mereka mengendalikan negara sebesar itu hanya
dari Beijing. Maka, mereka memberikan izin kepada pemda untuk secara
otonom menarik investor asing. Ada kebijakan yang memberikan wewenang
kepada pemerintah daerah untuk memutuskan apakah investor diizinkan
masuk atau tidak. Juga soal pajak, ada negosiasi antar pemerintah
pusat dengan daerah. Itu menjadi nilai tawar terhadap globalisasi.
Globalisasi tak menyebabkan mereka membiarkan perusahaan asing
menguasai segala-galanya. Globalisasi tak boleh merusak China.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kita tak pernah membanggakan Majapahit, Kediri, Singosari, Mataram,
dan Sriwijaya. Kita tak punya itu. Orang Sunda, misalnya, tak mau
membanggakan Majapahit. Yang ada hanya kebanggaan lokal, bukan
kebanggaan sebagai bangsa. Ini kekurangan besar kita. Di satu sisi,
ada baiknya karena tak perlu terikat dengan masa lampau. Namun,
Indonesia menjadi tidak belajar dari masa lampau. Akhirnya kita tak
punya visi ke depan.

Kita pun tak punya gairah menjadi hegemon di ASEAN. Indonesia mau ke
mana tidak jelas. Di Indonesia anti-Barat itu kuat sekali, anti-
Amerika juga kuat walaupun ada juga kelompok pro-Barat. Di China
semuanya ingin seperti Amerika, lalu ingin menyalip dan menyaingi
Amerika. Kita tidak. Kita tak punya daya dorong untuk menciptakan
Indonesia seperti apa, tak ada strategi yang jelas, terutama setelah
reformasi.

Bukankah reformasi memberi peluang untuk maju?

Setelah reformasi, Indonesia hancur. Ibaratnya rumah, semua tembok
yang dibangun dirobohkan kehadiran IMF. Ketika kita mendapat utang
dari IMF, kita harus tunduk pada apa yang namanya Structural
Adjustment Program. Harus ada privatisasi, harus ada deregulasi, free
trade. Indonesia sudah dirobohkan.

Kebijakan investasi menjadi tidak jelas. Indonesia telah jadi sinking
state. Privatisasi, misalnya, membuat kita tak lagi punya pendapatan
dari BUMN. Lalu dengan bermacam kebijakan free trade, Indonesia tak
bisa mengendalikan lagi pendapatan dari bea impor. Dulu kita masih
punya pendapatan dari bea impor, lha sekarang bea impor harus
diturunkan, kita mengalami pengurangan keuangan drastis. Semua barang
boleh masuk termasuk dari China. Beras dari Vietnam yang heboh itu
boleh masuk. Exxon, Freeport, Newmont, Mossanto juga masuk.

Dengan proses demokratisasi seperti sekarang, kita tidak tahu mau ke
mana. Partai-partai tak lagi berpikir dalam kerangka Indonesia,
tetapi kerangka partai. Pemerintah tak pernah tegas dan jarang
mengambil inisiatif. Mereka selalu tawar-menawar dengan legislatif
agar selamat. Sistem fraksi juga menghambat kebebasan anggota
parlemen.

Demokratisasi di Indonesia dibangun saat rakyat terjerat krisis
ekonomi. Padahal, demokrasi akan berkembang dalam kondisi rakyat
makmur. Asumsinya, jika pendapatan per kapita 3.000 dollar AS per
tahun dan tingkat pendidikan mereka tinggi, proses demokrasi dapat
berjalan. Demokrasi mengandalkan apa yang dinamakan individual
choice. Semua orang tahu apa yang diputuskan. Pemilih di Indonesia
adalah korban agitasi, provokasi, atau money politic.

Di China tidak ada demokrasi karena pendapatan per kapita mereka
masih di bawah 1.000 dollar AS per tahun. Itu menjelaskan mengapa
transisi ke demokrasi tak dapat digabung dengan pembangunan ekonomi
ala kapitalis. Di China pemerintah melakukan pembangunan ekonomi,
sementara proses demokratisasi dijanjikan nanti. Sekurangnya mereka
mengatakan itu. Di Indonesia tidak. Proses transisi demokrasi dan
kapitalisme berjalan dengan seluruh keguncangannya. Dua arus kekuatan
itu saling mematahkan.

Globalisasi di Indonesia lebih menghancurkan?

Ya, iya dong. Globalisasi itu ada dalam bentuk arus organisasi
internasional, seperti IMF, World Bank, dan WTO. Belum lagi kekuatan
multinational coorporation, seperti Exxon, Newmont, Freeport yang
makin membuat Indonesia terseok-seok. Jadi seorang Susilo Bambang
Yudhoyono seakan-akan dicabik kiri-kanan oleh kekuatan global
kapitalis, termasuk kapitalis domestik yang meminta ini-itu.

Apakah Pemerintah Indonesia tidak sadar akan itu?

Saya kira semua pemimpin sadar. Komitmen juga beberapa orang mungkin
punya. Tetapi, kekuatan eksternal dan internal itu bertabrakan,
membuat pemimpin sulit berkutik. Misalnya, ada pengaruh dari hadirnya
Menteri Luar Negeri AS ke Indonesia. Secara psikologis kita seperti
takut dengan asing.

Kalau China?

Sayang, Indonesia tak punya figur seperti Deng Xio Ping. China oleh
AS diminta merevaluasi mata uangnya agar tidak terlalu murah. Selama
dua tahun AS menekan berkali-kali. Akhirnya China setuju, tetapi
naiknya sedikit. AS menekan lagi, tetapi China berani menolak.

Kita? Beras Vietnam saja tak bisa kita tolak. Petani kita menjerit-
jerit, tetapi tidak ada yang peduli. Kita mencabut subsidi pupuk
karena dilarang IMF. Lha, bagaimana itu, subsidi pupuk dilarang,
tetapi impor beras dipersilakan. Berhadapan dengan Freeport dan Exxon
yang mengeruk kekayaan Indonesia, kita malah berpikir toh kita masih
untung karena mendapat sesuatu. Karena itu, tuntutan warga Papua
sebenarnya nyata. Freeport sudah di sana sejak 1967, tetapi Papua
masih seperti itu. Tuntutan orang Papua itu sah.

Apa yang mesti dilakukan?

Presiden Yudhoyono harus benar-benar memanfaatkan mandat rakyat.
Jangan terlalu peduli dengan partai atau bertindak seolah
pemerintahan bersifat parlementer. Yudhoyono orang cerdas, jadi
mestinya mampu menggunakan dukungan rakyat, jangan malah bermain
dengan partai. Tidak akan maju. Belajarlah dari China….

3 Comments

  1. newbie said,

    December 12, 2007 at 7:52 am

    Memang benar, indonesia terpuruk karena ulah indonesia sendiri, dengan mempersilahkan warga asing “menetap” di indonesia yang menyebabkan masyarakat “terusir” dari tempat tinggalnya dan akhirnya tempat- tempat usaha (wilayah pinggir jalan yang dapat “menghasilkan”) menjadi milik warga asing, apakah mereka (yang mengaku orang indonesia, dengan ktp indonesia, dengan bahasa indonesia, bahkan berbahasa sesuai dengan daerah dimana ia tinggal) mencintai indonesia seperti kami mencintai indonesia? TIDAK !!!, buktinya setiap ada masalah di indonesia-ku mereka lari ke negaranya, tidak percaya? tengok http://www.liputan6.com/daerah/?id=151872
    pada bagian akhir, yang “minggat” adakah kami?
    banyak dari mereka datang ke negara-ku dengan alasan “ikut keluarga” padahal mereka tidak memiliki surat izin menetap, kadang kala ada surat izin pun itu hasil pemalsuan (saya pernah melakukan pemalsuan itu (yang notabene adalah warga asing) karena dipaksa, dan akhirnya tertangkap). adakah yang perduli? tidak mereka melenggang keluar kantor polisi tanpa wajah bersalah, karena mereka sudah membayar denda (baca: menyogok) karena mereka punya uang.

    lahan dan rumah kami digusur karena akan didirikan pertokoan, mall, kompleks asing padahal kami memiliki hak dan surat yang sah terhadap lahan dan tempat tinggal kami, karena pemerintah mempersilahkan hal itu asal punya uang, ketika ditanya siapa pemiliknya? Mr… (lagi lagi orang asing)
    lalu dimana milik kita? semuanya dikuasai orang asing? apa bedanya dengan zaman penjajahan (untuk menguasai dengan kekerasan/ untuk menguasai dengan ramah tamah)

    tengoklah situasi saat bekerja! yang terlihat sibuk dan rajin adalah kami, dan lihat siapa yang memimpin, menunjuk, memerintah, memaki kami, menyebut kami anjing, bodoh tolol (meskipun kami berusaha melakukannya dengan benar), lagi lagi orang asing
    pada kondisi itu, apakah kami bodoh? belum tentu, buktinya apa mereka dapat melakukan pekerjaan itu seperti kami melakukannya?

    Sebaiknya, menurut kami, jangan ada warga asing yang boleh menetap lebih dari satu tahun, tahun ke tiga baru boleh menetap lagi, begitu seterusnya, jangan ada perpanjangan surat izin menetap,

    kebanyakan pemimpin sekarang yang namanya “pejabat” hanyalah “jabatan” yang bisa digunakan untuk menakut nakuti dan berkuasa seenaknya

    renungkanlah,…
    kami bukan siapa- siapa,…
    kami hanya rakyat kecil yang sangat sangat mencintai indonesia,…

  2. febrina said,

    June 15, 2010 at 5:11 am

    makasih featurenya, eh arigato.

  3. febrina said,

    June 15, 2010 at 5:12 am

    makasih featurenya, eh arigato……………………


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: