“Character Building” dan Pendidikan Kita

Oleh Mochtar Buchori
Pendidik
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0607/26/opini/2836169.htm
===============================

Ungkapan character building kini sudah klise kosong, nyaris tidak
bermakna. Diucapkan para politisi, birokrat pendidikan, pemimpin
organisasi pendidikan, ungkapan ini tidak meninggalkan bekas apa-apa.

Ketika ungkapan ini diucapkan oleh Bung Karno dulu, oleh Mohamad Said
dari Taman Siswa, oleh St Takdir, oleh Soedjatmoko, ungkapan ini
meninggalkan bekas yang mendalam di hati saya. Ungkapan ini
menghidupkan harapan besar dalam hati saya.

Kini, kalau saya mendengar orang mengucapkan kata-kata ini, ia
berlalu begitu saja, tidak mampir di otak atau hati saya. Apakah
character building atau pembinaan watak kini sudah bukan masalah lagi
di Indonesia?

Ketika Bung Karno mengucapkan kata-kata ini, rasanya diucapkan dalam
konteks politik. Jadi yang dimaksud ialah watak bangsa harus
dibangun. Tetapi ketika kata-kata ini diungkapkan oleh para pendidik,
dari Ki Hajar Dewantara hingga Mohammad Said, konteksnya adalah
pedagogik. Yang dimaksudkan ialah pendidikan watak untuk para siswa,
satu demi satu. Bagaimana cara mendidik anak di sekolah agar selain
menjadi pintar juga menjadi manusia berwatak?

Pendidikan watak

Jika diuraikan seperti ini, masalah character building masih
merupakan suatu isu besar, bahkan amat besar. Semua kebobrokan yang
kita rasakan kini lahir dari tidak adanya watak yang cukup kokoh pada
diri kita bersama. Watak bangsa rapuh dan watak manusia Indonesia
mudah goyah. Saya kira jumlah orang yang jujur masih cukup banyak di
Indonesia, tetapi mereka tidak berdaya menghadapi kelompok kecil
manusia Indonesia yang korup, yang mempunyai kekuasaan atau
membonceng pada kekuasaan.

Jadi apa yang salah dengan pendidikan watak kita? Banyak
sekali! “Pendidikan watak” diformulasikan menjadi pelajaran agama,
pelajaran kewarganegaraan, atau pelajaran budi pekerti, yang program
utamanya ialah pengenalan nilai-nilai secara kognitif semata. Paling-
paling mendalam sedikit sampai ke penghayatan nilai secara afektif.

Padahal, pendidikan watak seharusnya membawa anak ke pengenalan nilai
secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, akhirnya ke
pengamalan nilai secara nyata. Dari gnosis sampai ke praksis, istilah
pedagogiknya.

Untuk sampai ke praksis, ada satu peristiwa batin yang amat penting
yang harus terjadi dalam diri anak, yaitu munculnya keinginan yang
sangat kuat (tekad) untuk mengamalkan nilai. Peristiwa ini disebut
conatio. Dan langkah untuk membimbing anak membulatkan tekad ini
disebut langkah konatif.

Jadi dalam pendidikan watak, urut-urutan langkah yang harus terjadi
ialah langkah pengenalan nilai secara kognitif, langkah memahami dan
menghayati nilai secara afektif, dan langkah pembentukan tekad secara
konatif. Ini trilogi klasik pendidikan. Oleh Ki Hajar diterjemahkan
dengan kata-kata cipta, rasa, karsa.

Berdasar analisis ini pendidikan watak pada dasarnya adalah
membimbing anak untuk secara sukarela mengikatkan diri pada nilai.
Rumusan Profesor Phenix ialah “voluntary personal commitment to
values”. Dilihat dari sudut ini tidak akan terlalu sukar untuk
mengetahui kesalahan-kesalahan kita dalam menyelenggarakan pendidikan
watak.

Pelaksanaan

Kini, lihatlah cara kita melaksanakan pendidikan watak, terutama dari
segi evaluasi. Mengetahui kemajuan anak dalam aspek kognitif relatif
itu mudah. Nilai-nilai apa saja yang dikenal dan dipahami anak
mengenai berbagai hal dalam kehidupan? Nilai-nilai tentang pergaulan
sosial, tentang etos kerja, tentang kejujuran? Apa saja yang telah
diketahui dan dipahami anak tentang berbagai jenis nilai tadi?
Bagaimana mengevaluasi keberhasilan anak dalam mengenali dan memahami
nilai-nilai ini?

Jelas tidak dengan tes multiple choice (pilihan ganda) semata.
Bagaimana menilai kemajuan aspek afektif anak? Observasi dan catatan
hasil observasi adalah cara terbaik. Dan menilai kemajuan anak dalam
aspek praksis juga harus dilakukan dengan observasi yang sistematis.

Dilihat dari segi ini, kita tidak dapat menghindari kesan, pendidikan
watak di sekolah kita benar-benar amburadul. Saya mendapat kesan,
kita tidak sungguh-sungguh berusaha melaksanakan pendidikan watak.
Rupanya tidak ada tempat dalam kurikulum sekolah Indonesia untuk
melaksanakan pendidikan watak yang sebenarnya. Para guru bertanya,
untuk apa menghabiskan waktu dan tenaga untuk pendidikan watak? “Soal
watak kan tidak akan ditanyakan dalam ujian nasional!”

Kesan ini diperkuat cara penyelenggaraan ujian nasional. Hanya tiga
mata pelajaran yang diujikan, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
dan Matematika. Ketiga hal ini memang penting, tetapi siapa berani
mengatakan pendidikan watak tidak penting? Kiranya tidak ada! Namun,
ketentuan atas ketiga pelajaran menentukan lulus-tidaknya seorang
siswa dari ujian nasional berarti pemerintah memandang pendidikan
watak sama sekali tidak penting. Ujian nasional telah mengubur
pendidikan watak.

Mungkin ada yang mengatakan, mengevaluasi hasil pendidikan watak
dengan baik tidak mungkin dilakukan secara nasional, tetapi harus
secara lokal. Saya setuju! Tetapi kenyataannya, penilaian lokal tidak
diperhitungkan sama sekali. Kesimpulan saya, Departemen Pendidikan
Nasional (Depdiknas) menganggap pendidikan watak tidak penting. Itu
hanya suatu komoditas politik yang tidak perlu dianggap terlalu
serius. Selain itu, Depdiknas menganggap para guru yang tiap hari
mendampingi anak tidak memiliki informasi yang sah tentang
perkembangan murid, termasuk perkembangan wataknya.

Kini kita harus menentukan secara definitif, pendidikan watak di
sekolah itu penting atau tidak bagi masa depan bangsa dan negara?
Kalau penting, mari ditangani bersama dengan baik. Kalau kita
menganggapnya tidak penting lagi, karena sudah ada pelajaran agama,
kewarganegaraan, dan budi pekerti, ya sudah! Jangan ngomong lagi
tentang pendidikan watak. Jangan ngomong tentang nation and character
building.

24 Comments

  1. iin hanifa said,

    August 26, 2007 at 4:35 am

    saya setuju sekali dengan anda..saya juga merasa kalau pelajaran kewarganegaraan dan agama hanya memberikan penjelasan secara teori,,sehingga buat saya pelajaran itu sama dengan pel2 eksak…dan menurut saya pendidikan watak bukan tidak mungkin dievaluasi secara nasional..
    tetapi harus secara nasional…karena untuk menjadi suatu negara yang maju pasti harus memiliki pendidikan watak yang baik..seharusnya depdiknas juga memprioritaskan pendidikan watak…
    dari pendidikan watak sebenarnya kita dapat melihat bakat seseorang..
    saya merasa waktu SMA saya dipaksa belajar yang tidak saya suka…pilihan peminatan juga hanya sedikit dan pilihan itu masih bersifat umum seperti IPA/IPS..tetapi orang yang menyukai musik,tari,atau otomotif harus jg belajar itu???
    pada saat nanti saya dewasa dan masuk dunia kerja,,saya pasti dituntut profesional..sedangkan diperkuliahan apa cukup untuk menjadikan seseorang itu profesional???belum tentu kan??
    apalagi pengembangan bakat harusnya di bimbing sejak masih kecil..bukan saat masuk kuliah…
    saya pengen banget pendidikan seperti tari,musik dan yg lainnya di masukan menjadi pendidikan formal juga..bukan cuma hanya dijadikan ekskul..seandainya ada kelas2 seperti itu indonesia bisa memproduksi penyanyi dan penari profesional,dll..yang berkualitas…apalagi pelajaran yang saya pel 9 tahun..pada saat masuk ke dunia kerja hanya 10% aja…
    begitulah karena tidak adnya pendidikan watak..para pendidik kita tidak tau potensi apa aja yang bisa di dapat dari adanya pendidikan watak..

    terimakasih…

  2. diena said,

    January 14, 2008 at 8:00 am

    Jangan “mutung” dulu pak Mochtar. Prinsipnya, saya juga gemes mengenai ambiguitas pemegang policy pendidikan negeri ini tentang character building, mereka mengakui pentingnya tapi kurang real dalam mendukung pelaksanaannya.
    Saya yakin tidak ada satu pun pendidik yang “say no” tentang penting nya pengaruh character building terhadap perkembangan anak didik (itu kalo kita sedikit lebih peduli pada nasib anak didik kita selain cuma pada nilai ujiannya yang sebenarnya adalah sebagian dari ajang unjuk egoisme sebagai guru yang ingin dikatakan sukses).
    Dari semua itu mungkin akan lebih bijak jika menawarkan solusi. Pendidikan watak atau character building mungkin harus dikemas dalam konteks baru yang lebih segar. Bukan sekedar pengetahuan kognitif yang tercantum dalam mata pelajaran sosial, kewarganegaraan atau keagamaan.
    Karena mengubah perilaku/watak bukanlah sekedar upaya penggerojokan ceramah mental setiap hari , namun lebih pada pemaknaan konkrit dan teladan dari hari-ke hari.
    Mungkin pendidikan watak harus dikemas dalam rangkaian games atau outdoor activities kemudian diadakan diskusi pemaknaan dari hal yang dilakukan.
    Mungkin perlu ada sebentuk rekam monitoring individu sebagai pelengkapnya.
    Memang bukan upaya yang praktis dan mudah, namun mudah-mudahan akan setimpal dengan hasilnya.

  3. onga said,

    February 19, 2008 at 7:32 am

    wah..wah..ternyata begitu rumitnya ya tentang character building..
    ternyata amat sangat penting dalam kehidupan kita!!
    maklum karna saya baru 2 thn lulus dari SMA..dan selama saya sekolah,ya begitulah,terucap aja mungkin ngga dari mulut pengajar!!!
    apa lagi memahami tentang character building!!!
    tapi,masa iya kita cuma bisa komentar lewat jari-jari kita ini..
    mari deh kita sama2 bangun character building kita masing2 dulu..
    ya ngga tau juga sih itu bakalan tercapai di diri saya!!
    tapi kalo emang ada manusia yang bisa membantu untuk membangun karakter manusia lain..kenapa kita tidak membantu saja..

    kan kita INDONESIA . . masih punya rasa NASIONALIS to?????

  4. Arman said,

    March 26, 2008 at 8:52 am

    Character Building, menurut memang sangat penting sekali.saya setuju dengan Pak Mochtar.
    Orang akan bisa menghargai orang lain kalo memiliki watak yang tidak egois.Makanya tidak salah kalo pejabat di pemerintahan berlomba-lomba untuk memperkaya diri sendiri dengan cara korupsi.Itu salah satu akibat tidak diperkenalkan secara gamblang tentang Character Building.Mungkn jika mereka memahami secara tuntas tidak akan terjadi tindakan yang menyimpang hukum.
    Pada dasarnya orang yang bisa profesional dalam bekerja bila dia tau selukbeluk pekerjaanya.
    Tapi ya begitulah orang INDONESIA…….!!!!!

  5. B. Sarta Ketut said,

    April 17, 2008 at 1:02 am

    Ada banyak sekali mata pelajaran yang berkaitan dengan character building, tetapi tidak berdampak apa-apa terhadap perubahan perilaku generasi bangsa kita.

    Menurut saya, ada banyak faktor yang menghambat pendidikan karakter. Selain kondisi masyarakat dan keluarga yang tidak mendukung, juga kondisi pendidikan di sekolah. Sekolah tidak memiliki acuan yang komprehensif untuk pendidikan karakter. Walaupun ada, itupun tidak optimal.

    Menurut saya, proses asimilasi dan internalisasi nilai-nilai untuk pembentukan karakter harus melibatkan seluruh ranah kompetensi manusia: kognitif, afektif, dan psikomotor. Tiga ranah kompetensi ini harus tampak dalam seluruh proses pendidikan karakter, sehingga nilai-nilai itu terinternalisasi secara permanen.

    Saya ingin sekali membuat sebuah acuan program pendidikan nilai yang demikian. Mungkin suatu saat akan saya publish, sekarang sedang dalam proses.

    Terimakasih.

  6. rahadian said,

    August 26, 2008 at 10:18 am

    Kalau menilik judulnya yang bicara karakter, kayaknya ranahnya memang ranah afektif. Adakah cara-cara melatihkan karakter seseorang dari ranah psikomotor? Saya kita kok nggak ada. Saya merasa disini masalahnya. Terkadang kita ingin melatihkan pengembangan di ranah afektif, tapi dengan cara-cara psikomotorik. Ini kurang tepat. Tntangan besar dalam pendidikan memang persoalan afektif. Bagaimana mengembangkan ranah afektif di sekolah?

  7. Jipy Priscilia said,

    May 21, 2009 at 5:05 am

    Pembangunan karakter atau character building sekarang makin banyak digaungkan oleh penyelenggara pendidikan, baik sekolah national plus atau sekolah yang menggunakan kurikum IB. Namun, perlu ditelusuri lebih jauh lagi, apakah pemahaman penyelenggara pendidikan tentang pembangunan karakter itu sudah terinternalisasi dalam proses pembelajaran siswa ataukah hanya sekadar formalitas menyisipkan mata pelajaran pembangunan karakter atau lebih jauh menginternalisasikan pembangunan karakter dalam setiap aspek pendidikan di sekolah. Kekhawatiran saya justru adalah ketika pembangunan karakter dipandang hanya sebagai mata pelajaran formal yang kemudian bila siswa mendapatkan nilai yang baik di atas kertas berarti menjadi jaminan bahwa perilakunya akan baik pula.
    Padahal justru para “pelaku” pendidikan di sekolah dan orang-orang dewasa di sekitar anak itulah yang berperan penting sebagai suri tauladan bagi siswanya karena dari situlah siswa bisa mencontoh pendidiknya dalam cara berbicara, cara bertindak, cara memandang sesuatu dan menerapkan toleransinya, cara memotivasi orang lain, dsb. Tanpa contoh konkret dan ketiadaan ruang untuk penerapan mata pelajaran character building akan menghasilkan character building sebagai mata pelajaran formal layaknya matematika, bahasa inggris dll…
    Apabila ingin menerapkan karakter building dengan tepat, ada baiknya penyelenggara pendidikan mulai memikirkan indikator2 apa saja yang bisa digunakan untuk melihat perkembangan karakter siswa dan satu alatnya mungkin adalah portfolio siswa dan tentunya ini harus didukung dengan komitmen guru, siswa sekaligus orang tua.

  8. abror said,

    June 4, 2009 at 8:39 am

    pa minta penjelasan detail tentang character building.untuk pengembangan kedepan.biar yang tak peduli,..

  9. Sunardinartha said,

    June 17, 2010 at 5:15 am

    selama ada Ujian Nasional, pendidikan karakter dijamin gagal 1000%. Betapa tidak! Banyak kecurangan ujian nasional yang dilakukan secara sistemik dengan jurus : Jangan ada dusta di antara kita!

  10. muwahhid said,

    June 20, 2010 at 3:58 am

    Pendidikan anak dimulai sejak seorang laki-laki lajang memilih seorang wanita calon ibu dari anak-anaknya.
    Pemilihan sosok wanita yang tepat, sangat menentukan karakter anak-anak bangsa di masa depan.
    Islam memberikan solusi itu , yakni : nikahilah wanita itu karena kebaikkan akhlak dan agamanya. Niscaya kamu beruntung.
    Saya yakin, jika kita mengabaikan petunjuk ini, pendidikan karakter model apapun yang diterapkan tidak akan banyak melahirkan generasi-generasi berkarakter baik sebagaimana kita harapkan selama ini.
    Ibu dan Bapak di rumah, merupakan pembangun dasar karakter anak.
    Pendidikan anak yang baik di rumah, di dukung pendidikan anak di lingkungan luar rumah ( masyarakat dewasa ) yang baik, serta pendidikan anak di sekolah yang juga baik , InsyaAllah mampu melahirkan generasi-generasi cerdas intelektual-cerdas emosional-cerdas spiritual.
    Jadi Kita tidak bisa hanya mengandalkan sekolah dalam membangun karakter anak yang kuat dan tangguh IQ-EQ-SQ nya.

  11. Suparlan said,

    February 16, 2011 at 4:03 am

    Jika PKn, Pendidikan Agama dan Akhlak Mulia itu dilaksanakan dengan konsep trilogi pedagogis (kognitif, affektif, dan konasi) menurut Pak Muchtar Buchari, saya yakin hasilnya juga akan mampu membangun watak yang sebenarnya. Masalahnya terbentur dengan pemahaman para pendidik tentang proses pendidikan yang seharusnya, termasuk masalah metodologis, yang sampai saat ini para pendidik masih berorientasi kepada metode ceramah. PAKEM, CBSA, JAL, pendidikan ramah anak, dan konsep-konsep lain masih sampai pada batas teori, belum ke praktik.

    Soal UN, saya tahu di Malaysia juga ada ujian. Saya pernah menjadi kepala sekolah di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK) selama lima tahun. Ujian di Malaysia juga ada ujian praktik, jadi bukan hanya kognitif. Di Indonesia memang benar-benar hanya mengukur ranah kognitif saja, walaupun kita tahu bahwa soal yang disusun dengan baik, diyakini dapat mengukur lebih dari sekedar kognitif.

    Bolehkah saya memperoleh e-mail Pak Muchtar Buchori?

    Wallahu alam bishawab.

  12. Irwan said,

    February 17, 2011 at 1:31 am

    salam,,,,

    saya menyetujui suatu karakter watak/pendidikan watak ditingkatkan di bangsa kita sangat penting dikarenakan untuk suatu modal penerapan sikap dan pemikiran terkontrol untuk menuju suatu kebaikan dalam masyarakat, saya mahasiswa baru mau belajar character Bulding, saya pernah tidak disengaja observsi, waktu itu saya ada tugas dari dosen membuat setruktur keluarga, sebagian tugas belum ke print, ketika saya kerentalan komputer untuk ngprint tugas yang belum selesai, saya merasa terkejut dan diam memandang, oprator rental itu datang menghampiri saya dengan ucapan salam dan ramah dia mungucap, dengan keadaan fisik yang sedikit tidak normal waktu itu di menghampiri saya meronta-ronta jalan tanpa keadaan kaki, kedua kakinya sudah tidak ada, tangan kirinyapun sudah tidak ada kita bayangkan keadaan yang dia alami, dia melayani saya dengan baik, saya bertanya !! kayanya rentalan ini baru ya?? dijawab ya,, ini rentalan warnet dialah mengeset semua jaringan network, saya bertanya darimana anda bisa ini, ?? dia selam kurang lebih 7 thun kalu ga salah belajar otodidak,, tadinya sih seringnya nonton TV yang berbau teknologi dia tertarik perkembangan teknologi ngingga saat ini, dia saat ini lagi merancang pembuatan game dan disen grafik multi media, usah nya itu hampir turun byangkan dah 6 bulan berjalan baru bisa bayar sepedynya ja,,, tapi dengan patang menyerah dia saya bangga bisa mengenal dia,, dn waktu adzan berkumandang dia bergegas shalt ditinggalkanlah pekerjaanya,,, saya berfikir saya aja yang diberik kesempurnaan dalam badan saya masih melalaikan sahalt,, subhanallh,, kita bisa mengambil kesimpulan tersebut dengan watak dan sikap yang dimiliki berbicara apaadanya dan jujur,,
    saya berharap bapak bisa berkenan suatu saat kita bisa shering bareng mengenai karakter watak dikeadaan bangsa kita saat ini
    mingkin ini bisa berguna untuk silatuhrohmi menciptakn saudara
    alamt facebook = ir_wenksakses@yahoo.co.id
    no hp = 085720116294

    wasalam,,

  13. rj said,

    June 10, 2011 at 3:56 pm

    sae

  14. karim salmaa said,

    June 23, 2011 at 2:08 am

    karim salama tidore
    skarng ini pendidikan yang berhubungan dengan watak dan prilaku manusia dianggap sebagai suatu hal yang tidk memeliki arti di mata manusia, perlu ketahui bahwa pandangan uma sekarangt, ternyata pada diri manusia sudah banyak konsumsi budya-buday luar yang memang secara nyata menentang nilai-nilai panca sila….bahkan hukum2 Allah .nah solusinya apa??????solusonya adalah saling mengingat antara sesama, selama masih diberi kesempatan oleh Allah swt…dan lebih lah mendekatkan diri kepada sang pencipta…untuk pemerintah, pintar-pintar lah membaca keadaan masyrakat sekarang ini….karna anak bangsa sekarang yang akan menentukan bangsa ini ke depan, dengan tegas saya katakan bahwa bukan berada di tangan pemerintah skrng….

  15. July 4, 2011 at 8:24 am

    pendidikan karakter sekarang digaung2kan mengingat fakta degradasi moral dalm masyarakat kita… menariknya.. dalam grand design pendidikan karakter, paparan tersebut amat jelas namun ketika kembali berbicara fakta, sosialisasi yg belum juga menyentuh pemahaman para pendidik dan tenaga kependidikan itu sendiri…hasilnya belum juga jelas….
    saya stuju, belum adanya tolak ukur yg dapat menjadi acuan assesment u/ karakter itu sendiri… guru2 belum juga paham kok…bagaimana mau mengintegrasikannya dalam tiap mata pelajaran jika ditilik dalam keseharian, masih saja belum ketemu tauladan yang tepat, gambaran ini amat jelas terpampang di depan mata saya… ” si anak berlarian mengejar tangan2 gurunya buat disalami ketika pulang..reaksinya??? sang guru mengambil tangan anak, mengacungkan tangannya ke wajah sang anak… lalu dengan takzimnya sang anak mencium tangan sang guru…lhaaa… mata guru kemana? mulutnya ngomong apa???”
    saya benar2 terkesima menyaksikan itu semua….
    tentunya akan menyenangkan bagi saya jika saya bisa berdiskusi ttg hal ini dg bapak…🙂

    • ecenggondog said,

      July 15, 2011 at 3:25 am

      kompleksitas!!!! itu mungkin yang ada dibenak saya ketika memandang bahwa character building itu terintegral dalam sistem pendidikan nasional saat ini, ok itu ada didalam kurikulum, toh jatuh2nya itu hanya menjadi pengetahuan yang tidak akan terimplementasi dalam kehidupan, belum lagi jika tenaga pendidik itu tidak menghidupi yang namanya character building tersebut, asik ngajar tentang character building…egh ketahuan sama muridnya selingkuh sama guru yang lain… sampai saat ini saya masih yakin bahwa Rumah (Keluarga) tetap adalah fondasi untuk membangun karakter / watak kebangsaan….tanpa mengesampingkan pentingnya character building ada dalam kurikulum pendidikan nasional…tapi peran aktif orang tua sangat sangat dan sangat penting……..karena agar character building itu benar-benar terinkarnasi dalam kehidupan anak bangsa, keteladanan adalah faktor penting,…..butuh kehidupan secara bersama-sama dengan sang pendidik untuk mewujudkan itu…!!! dan sang pendidik yang akan selalu hidup bersama-sama dengan anak didik adalah orang tua!!!!🙂

  16. farida said,

    October 1, 2011 at 1:25 am

    semuanya belum terlambat, meskipun kita sering menjadi orang latah. jikalau ada masalah degradasi moral dan carut marutnya karakter penghuni bumi pertiwi, baru heboh dan disibukkan dengan konsep membangun karakter. padahal saat manusia ada pastilah aturan dan pendidikan untuk berbuat baik selalu ada pada setiap kelompok, namun kadang-kadang aturan itu menjadi ucapan slogan “manis” yang namun berat dan sulit untuk ditaati. marilah dimulai dari diri sendiri dan orang-orang terdekat baru meluas ke seluruh warga negara untuk melakukan kebaikan sesuai dengan aturan yang ada. kita adalah manusia yang sangat mungkin untuk berubah, jangan malah berlomba-lomba jadi robot yang punya nyawa (robot aja ada yang ramah dan suka menolong kok), he he he

  17. October 25, 2011 at 4:41 am

    Artikel yang bermanfaat..
    Blognya juga sangat menarik..
    Saya juga punya blog yang berisi pendidikan anak-anak..
    Ada:
    1. Lagu anak
    2. Artikel parenting (cara mendidik buah hati).
    3. Artikel pendidikan kreatif..
    4. Dongeng anak moral
    Kalau mau berkunjung ada di
    http://lagu2anak.blogspot.com
    Salam kenal..
    Mari bertukar link… (kak zepe),,,,

  18. Ahmad Hisyam said,

    December 4, 2011 at 8:18 am

    “Character Building” lebih sulit ketimbang membangun gedung bertingkat, dibutuhkan fondasi yang sangat kuat dan kesadaran -secara ikhlas- dari dalam diri (faktor intern) serta cara mendidik yg tepat (faktor ekstern), jika kedua faktor tersebut tidak terpenuhi, akan sulit terbentuk karakter yang baik sesuai yang diharapkan…

  19. arman said,

    December 30, 2011 at 11:32 am

    kalau saya boleh berpandangan dengan karakter building…harus dimulai dari segi kepribadian seseorang…karena karakter itu sangatlah penting dalam menjalankan kehidupan ini, baik anak-anak ataupun orang dewasa harus bisa menjadi pribadi yang memiliki sikap ataupun karakter yang mencerminkan seseorang yang bisa diteladani….karena apa yang ada dalam pribadi ini, akan terpancar lewat kehidupan kita sehari-hari….apa yang harus kita buat didalam komunitas kita ataupun dimana kita bernaung? kalau pribadi kta sendiri tidak ada yang disukai orang……….memang tidaklah sulit melakukan itu,,,tapi dengan berjuang untuk merubahnya…puji Tuhan pasti dengan perlahan-lahan akan timbul perubahan…

  20. gus farid said,

    March 7, 2012 at 1:40 pm

    jika kita mau belajar tentang segala kemulian yang Allah punyai, akan selalu ada pribadi yang sebenarnya pada diri yang mau membaca dan belajar, insyaallah

  21. umi salamah said,

    February 8, 2014 at 9:06 am

    Character building sudah seharusnya menjadi agenda utama dalam pendidikan di Indonesia. Dan bisa terwujud dengan adanya kerjasama yang baik antar setiap komponen yang ada di sekolah/madrasah,dalam hal ini utamanya adalah guru.
    Agar siswa berakhlak maka dibutuhkan guru yang berakhlak,karena guru adalah sosok yang digugu dan ditiru di lingkungan sekolah/madrasah setelah rumah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: