Desakralisasi Pram

Oleh Putu Wijaya
Sastrawan dan Dramawan
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/11/seni/2715072.htm
=====================================

Pramudya Ananta Toer bagi saya adalah pengarang terbesar Indonesia
sampai saat ini. Saya sudah mengaguminya sejak masih SMP. Mula-mula
lewat kumpulan cerita pendek Subuh. Kemudian Keluarga Gerilya,
Perburuan, Bukan Pasar Malam, Di Tepi Kali Bekasi, Mereka Yang
Dilumpuhkan, Dia Yang Menyerah, dan sebagainya.

Bahasa Pram, ungkapan-ungkapannya, caranya memberikan diskripsi serta
juga renungan-renungannya, bagi saya segar, baru, cerdik, tangkas,
mengisi dan memesona. Tetapi kemudian salahnya, saya memuja dia.
Rasanya tak ada pengarang lain selain Utuy Tatang Sontany dan Chairil
Anwar yang bisa didekatkan dengan raksasa yang terus produktif sampai
akhir hayatnya itu. Bagi saya, Pram adalah dewa sastra Indonesia.

Apa pun dari Pram dan tentang Pram bagi saya sangat penting. Waktu di
SMP saya menabung uang jajan untuk memesan lewat pos bukunya Hoakiau
di Indonesia sebelum dilarang. Tetapi kemudian saya kecewa berat
ketika ia menulis Midah Si Manis Bergigi Emas yang disusul dengan
Korupsi. Saya anggap kedua novel itu bukan karyanya. Setelah itu,
karena situasi politik dunia penerbitan berubah, saya agak terpisah
dengan karya-karya Pram, walau tetap mencintainya.

Kemudian ketika Pram keluar dari Pulau Buru membawa empat jilid Bumi
Manusia—yang dilarang Orde Baru tetapi larisnya minta ampun—saya
bingung. Tiba-tiba saingan saya dalam memuja Pram banyak sekali.
Semua orang mengelu- elukan sastrawan Angkatan 45 yang “mau
menggantung” Paus kritik sastra Indonesia HB Jassin itu. Bumi Manusia
meledak, diterjemahkan ke banyak bahasa, serta tak henti- hentinya
dibicarakan sebagai karya monumental. Pram bukan lagi hanya sebagai
pengarang, tetapi juga sejarawan.

Kecemburuan saya karena harus berbagi dengan para pemuja Pram yang
lain, menyebabkan saya gerah. Entah kenapa, saya ingin memiliki Pram
secara pribadi, sehingga saya merasa tertekan dan ingin keluar. Saya
tak mau sama latahnya dengan pemuja lain, yang bahkan tanpa pernah
membaca Pram, memujikan Pram sebagai idolanya. Pram bukan lagi
pengarang seperti yang saya kagumi waktu SMP, tetapi sudah menjadi
simbol perjuangan dalam usaha menentang kemapanan. Pram adalah
senjata untuk dikibarkan melawan dominasi kekuasaan.

Namun, bagaimana mungkin bisa keluar dari tindihan Pram yang
sedahsyat itu. Dia seakan tak ada duanya. Saya tak pernah merasa
tergetar membaca karya-karya pengarang lain. Kemampuan bahasa mereka
mungkin jauh lebih bagus, terampil, kenyal, tajam, tangkas, dan
cerdik, juga basah dan lebih gaul kalau dibandingkan dengan Pram.
Tetapi itu hanya berhenti pada bentuk dan keterampilan teknis. Tak
pernah saya lihat penulis yang secara teknis prima, memiliki
kematangan jiwa, keluasan pandangan dan cita-cita yang jelas tentang
negeri ini seperti Pram.

Bertahun-tahun saya ingin berhenti menjadi “bonek” Pram, tetapi
selalu gagal. Saya tidak melihat ada jalan keluar, di samping mungkin
saya sendiri tidak berkemampuan. Pram bagaikan tukang sihir yang
membuat saya takut melihat kekurang-kekurangannya. Seperti banyak
atau bahkan mungkin semua pemujanya, saya tidak mampu kritis lagi
pada Pram. Rasanya dia sesuatu yang sudah sempurna. Sastra Indonesia
selesai pada Pram. Ada perasaan berdosa kalau sampai meragukan
kebesarannya.

Akan tetapi, perhelatan mengenang 40 hari meninggalnya almarhun, pada
6-6-06 di Bentara Budaya, menyelamatkan saya. Diskusi sastra
bertajuk: “Peta Pram, Peta Indonesia: Di Mana?” yang dipandu oleh
Radhar Panca Dahana itu, menyuguhkan pembicara Taufiq Rahzen, Sitor
Situmorang, dan Goenawan Mohamad. Pengunjungnya seabrek, sehingga
bangku-bangku tambahan dimasukkan untuk memberi kenyamanan para muda
yang tampak begitu ingin tahu lebih banyak tentang Pram.

Taufiq Rahzen membenarkan bahwa posisi Pram bukan hanya seorang
pengarang, tetapi dia memang sudah menjadi “ikon” dan “alamat”
Indonesia bagi orang dari mancanegara kalau bicara tentang Indonesia.
Kalau tidak ada Pram, siapa yang akan bisa dengan berani dan keras
kepala menentang kekuasaan sampai akhir hayatnya demi membela
keyakinannya, kata Taufiq yang ada di dekat Pram saat-saat menjelang
meninggal. Sementara semua orang memilih sikap abu-abu, Pram satu-
satunya yang terus mampu menunjukkan sikap yang tegas, tandas Taufiq
selanjutnya.

Saya terperangah. Kalau 220 juta manusia Indonesia “alamatnya” hanya
satu, saya kira saya memang tidak sendirian. Ribuan orang, termasuk
pengamat dari mancanegara, sudah terserang penyakit seperti saya.
Tersekap dalam ketidakberdayaan menghadapi kebesaran Pram. Takut
bersikap kritis pada Pram yang sudah dicalonkan sebagai pemenang
Nobel. Jadi bukan apresiasi, tetapi sakralisasi yang sudah terjadi.

Sitor Situmorang yang membacakan sebuah sajak yang dibuatnya untuk
Pram, tak mau mengacaukan penilaian terhadap karya-karya Pram dengan
kehidupan pribadi yang bersangkutan. Ketika Radhar mencoba mendesak
bagaimana pendapatnya tentang dendam Pram pada Jawa dan Soeharto yang
agaknya mewarnai dan terus dikibarkannya sampai meninggal, Sitor
mengatakan, itu sudah melangkah ke soal ilmu jiwa. Penyair ini
menganggap adalah bagian dari kebebasan seorang pengarang dalam
berekspresi untuk membenci Jawa. Tetapi ia sendiri tidak ikut-ikutan
menamakan itu sebagai “dendam”.

Pendapat Sitor juga terasa benar. Tidak sedikit saya jumpai orang
yang ikut memuja-muja karya Pram, hanya karena bersimpati pada nasib
pengarangnya. Kecintaan mereka disebabkan nguping atau dipacu oleh
persesuaian pada keyakinan dan sikap politik Pram. Bukan oleh nilai
sastranya. Ada juga yang terbawa oleh bencinya pada penindasan
kekuasaan. Kerancuan yang lebih menyangkut masalah psikologi itu,
sudah menerjang ke bidang kritik sastra. Akibatnya, tolok ukur yang
dipakai untuk menilai karya sastra pun kabur.

Goenawan Mohamad yang berbicara terakhir, tiba-tiba mengagetkan saya
karena mengungkap bahwa realisme di dalam karya-karya Pram, yang
menjadi salah satu kekuatan utamanya, adalah realisme yang dibentuk
atau terdengar oleh batin saya dibekuk oleh pengarang. Pram tidak
menggambar konteks, tetapi memusatkan semuanya pada manusia yang
adalah dirinya. Goenawan juga melihat persamaan Pram dan STA dalam
memaknakan modernisasi.

Pram benci kepada wayang, karena yang berkuasa adalah dewa-dewa,
bukannya manusia. Semua itu terungkap dalam Nyanyi Sunyi Orang Bisu.
STA juga lewat tokoh Tuty dalam Layar Terkembang menganggap
Sandyakalaning Majapahit karya Sanusi Pane memang memikat, tetapi
melemahkan perjuangan. Kedua-duanya mengajak manusia Indonesia lebih
percaya kepada rasio.

Tiba-tiba saya melihat jalan untuk keluar. Saya semakin yakin bahwa
karya-karya almarhum tidak menjadi besar karena nasibnya yang amat
pedih. Tidak menjadi lebih hebat, karena Pram sudah keluar-masuk
penjara. Bukan juga karena karya-karya itu sempat dilarang, nilainya
jadi bertambah. Tetapi, karya Pram memang hebat. Namun, tidak ada
kehebatan yang tidak boleh diragukan, kecuali kehebatan dewa. Dan
Pram yang benci kepada dewa-dewa, mestinya juga tidak suka kalau
didewakan. Dikritik, dicela atau dihujat pun, sebuah karya besar akan
tetap bersinar, bahkan semakin bersinar.

Diskusi yang disimpulkan oleh Radhar sebagai “ternyata Pram adalah
manusia yang kompleks” menjadi proses desakralisasi Pram pada diri
saya. Saya sekarang tidak merasa perlu kualat lagi untuk mengkritisi
karya-karya Pram. Justru itu akan membuat saya lebih nikmat lagi
meresapi warisan penulis kaliber kakap itu.

1 Comment

  1. December 3, 2012 at 9:01 am

    […] Desakralisasi Pram […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: