Dua Abad Islam Liberal

Oleh Luthfi Assyaukanie
Pendiri JIL, Peneliti Freedom Institute, dan Dosen Universitas
Paramadina, Jakarta
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/02/Bentara/3344564.htm
==========================

Sebagai gerakan lokal, Jaringan Islam Liberal Maret ini baru berusia
enam tahun, tapi sebagai gerakan global, Islam Liberal—dari mana
istilah JIL berasal—sesungguhnya telah berusia dua abad lebih.
Mengambil patokan tahun 1798, usia Islam Liberal mencapai 209 tahun.

Tahun 1798 adalah saat Napoleon Bonaparte menginjakkan kaki di
Mesir. Tahun itu sangat bersejarah. Bernard Lewis menyebutnya
sebagai a watershed in history dan the first shock to Islamic
complacency, the first impulse to westernization and reform (Lewis
1964:34). Para ahli sejarah sepakat, kedatangan Bonaparte di Mesir
merupakan tonggak penting bagi kaum Muslim dan juga bagi bangsa
Eropa.

Bagi kaum Muslim, kedatangan itu membuka mata betapa tentara Eropa
yang modern mampu menaklukkan dan menguasai jantung Islam. Bagi
orang Eropa, kedatangan itu menyadarkan betapa mudah menaklukkan
sebuah peradaban yang di masa silam begitu berjaya dan sulit
ditaklukkan.

Begitu penting 1798. Albert Hourani, sejarawan Inggris keturunan
Lebanon, menjadikannya awal era liberal bagi bangsa Arab dan kaum
Islam. Seperti yang ia jelaskan dalam bukunya, Arabic Thought in the
Liberal Age, kedatangan Bonaparte ke Mesir bukan sekadar penaklukan
militer, melainkan juga awal kebangkitan kesadaran kaum Muslim akan
diri mereka.

Menarik dicatat, Hourani menggunakan era liberal untuk merujuk masa
kebangkitan Islam di dunia modern. Kata liberal di sini ialah sebuah
kondisi dan suasana di mana kaum Muslim bebas mengartikulasikan
kesadaran budaya dan peradaban mereka. Dalam konteks Eropa, liberal
mengacu kepada situasi kebangkitan dan pencerahan. Itu sebab ketika
karya Hourani itu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, yang digunakan
untuk liberal age adalah asr al-nahdah yang berarti ‘era
kebangkitan’ (judul lengkapnya al-fikr al-arabi fi asr al-nahdah).
Menurut Hourani, era liberal di dunia Arab terentang dalam (1798-
1939). Tahun 1939 merujuk kepada pecahnya Perang Dunia II dan
dimulainya kiprah politik Ikhwanul Muslim di Mesir. Selama rentang
itu dasar pemikiran seperti kemajuan, modernitas, kebebasan, dan
persamaan dibincangkan secara luas.

Para liberalis awal

Para pembaharu awal seperti al-Tahtawi, al-Tunisi, dan al-Kawakibi
menyadari betul kondisi kaum Muslim yang terbelakang. Perhatian
utama mereka: bagaimana mengubah keadaan ke arah lebih baik. Mereka
selalu membenturkan kondisi keterbelakangan kaum Muslim dengan
kemajuan Eropa. Persis seperti yang dipertanyakan Abd al-Rahman al-
Kawakibi dalam bukunya, limadza taakhkhara al-muslimun wa limadza
taqaddama ghayruhum (mengapa kaum Muslim mundur dan mengapa bangsa
lain maju?).

Seluruh pemikiran dan gagasan yang dikemukakan para pembaharu Islam
abad ke-19 berputar pada upaya menjawab pertanyaan di atas. Adalah
ironis, peradaban yang pada masa silam memiliki sejarah gemilang dan
kitab sucinya mewartakan “umat terbaik di dunia” (khayru ummatin
ukhrijat linnas) berada pada titik nadir peradaban. Bukan hanya
berada dalam keterbelakangan, mereka juga dalam penjajahan bangsa
lain. Mesti ada satu sebab utama mengapa kaum Muslim terbelakang dan
mengapa bangsa Eropa maju?

Rifa’a al-Tahtawi (1801-1873) adalah salah satu tokoh pembaharu
pertama yang mencoba menjawab pertanyaan itu. Menurut al-Tahtawi,
kunci pertanyaan itu adalah “kebebasan” (hurriyyah). Bangsa Eropa
maju karena memiliki kebebasan. Temuan sains dan teknologi di Eropa
sejak abad ke-16 didorong oleh suasana kebebasan dalam masyarakat
itu. Tahtawi menganggap kebebasan bukan hanya kunci bagi
kebahagiaan, tapi juga bagi keamanan dan kesejahteraan.

Sebab utama keterbelakangan kaum Muslim, menurut Tahtawi, ialah
ketiadaan kebebasan itu. Ini sudah terjadi sejak kerajaan Islam di
Baghdad (abad ke-12) dan Cordova (abad ke-15) runtuh. Sebaliknya,
kebebasan berpikir yang dalam istilah agama dikenal dengan ijtihad
justru dimusuhi dan diharamkan. Selama rentang abad ke-15-ke-19,
wacana pemikiran Islam diwarnai dengan semangat menutup pintu
ijtihad.

Tahtawi tak sendirian meyakini kebebasan sebagai kunci kemajuan
suatu bangsa. Pada 1878 Sa’dullah, intelektual dan diplomat Turki,
berkunjung ke Pameran Besar di Paris. Dalam sepucuk surat kepada
teman-temannya, dia bercerita: “Di depan pintu utama aku melihat
patung kebebasan. Dia duduk dan memegang sesuatu di tangannya.
Gayanya seolah sedang menyampaikan pesan: ‘Hai para pengunjung! Jika
Anda menyaksikan berbagai pencapaian kemajuan manusia dalam pameran
ini, jangan lupa bahwa seluruh pencapaian ini adalah hasil dari
kebebasan. Lewat kebebasan manusia mencapai kebahagiaan. Tanpa
kebebasan, tak akan ada keamanan; tanpa keamanan, tak akan ada
pencapaian; tanpa pencapaian, tak akan ada kesejahteraan; tanpa
kesejahteraan, tak akan ada kebahagiaan’.” (Lewis 1964:47).

Para pembaharu atau liberalis Muslim awal melihat kebebasan benar-
benar sebagai kunci kebahagiaan. Bukan hanya kebahagiaan individu,
tapi juga kebahagiaan suatu bangsa. Pandangan ini mengingatkan kita
pada Francis Fukuyama (2000) ketika menjelaskan “modal sosial” dalam
berdemokrasi. Menurut Fukuyama, demokrasi sangat ditentukan oleh
modal sosial yang mendukungnya. Modal sosial adalah sekumpulan
berbagai unit dalam sebuah masyarakat. Unit terkecil kumpulan sosial
adalah keluarga yang terdiri dari individu-individu. Jika individu
dalam keluarga ini baik, dia akan memiliki dampak pada unit yang
lebih besar, yakni masyarakat sebagai modal demokrasi.

Tahtawi dan para pembaharu Islam abad ke-19 juga melihat kebebasan
individu sebagai langkah awal mewujudkan kebahagiaan dan sukses yang
lebih besar. Yang dimaksud dengan kebebasan adalah kebebasan
politik, suatu keadaan di mana individu bisa memikirkan dan berbuat
sesuatu secara bebas tanpa tekanan atau larangan penguasa. Yang
dimaksud dengan “penguasa” sebetulnya adalah kepala negara—raja
maupun sultan—tapi dalam pemahaman Tahtawi dan para pembaru awal
Islam, “penguasa” adalah otoritas dalam sebuah kelompok masyarakat
yang mampu memengaruhi. Dalam hal ini, tokoh atau lembaga agama yang
memiliki pengaruh politik di masyarakat bisa dianggap
sebagai “penguasa”.

Problem utama absennya kebebasan dalam Islam, menurut Tahtawi, bukan
hanya datang dari penguasa politik (pemerintah), melainkan juga dari
penguasa agama. Kadang kedua kekuasaan ini bergabung jadi satu,
mengakibatkan keadaan makin buruk. Para pemimpin politik melarang
kebebasan karena takut kekuasaannya terancam. Para tokoh agama
melakukan hal serupa karena takut kehilangan otoritas sebagai
petinggi agama. Kasus pelarangan terhadap kebebasan yang terjadi di
Mesir kerap melibatkan dua kubu antara kekuasaan agama (yang
biasanya diwakili oleh lembaga al-Azhar) dan para pembaharu Muslim
yang umumnya berada di luar—atau tak sedang menjabat posisi penting
dalam—lembaga itu.

Generasi kedua

Generasi kedua gerakan pembaharuan Islam juga menganggap kebebasan
sebagai kunci utama memperbaiki keadaan kaum Muslim. Para tokoh
generasi ini (Muhammad Abduh yang kemudian dilanjutkan oleh murid
setianya: Qassim Amin, Ali Abd al-Raziq, dan seorang murid asal
Indonesia, Muhammad Tahir Djalaluddin) menganggap kebebasan sebagai
modal penting merealisasikan solusi lain. Qassim Amin (1863-1908),
misalnya, menganggap kebebasan sebagai prasyarat utama bagi
terwujudnya gagasan emansipasi perempuan. Amin adalah tokoh Islam
pertama yang lantang menyuarakan nasib kaum perempuan di dunia
Islam. Baginya, persoalan kebodohan dan keterbelakangan kaum Muslim
sangat erat dengan persoalan perempuan. Argumennya sebagai berikut.

Keterbelakangan bersumber pada kebodohan. Kebodohan terkait erat
dengan pendidikan. Sebelum anak masuk sekolah, ia menerima
pendidikan dari keluarga. Unsur terpenting dalam keluarga, menurut
Amien, adalah ibu. Nasib dan masa depan seorang anak sering
ditentukan ibunya. Bukan hanya ibu sebagai “sekolah pertama”
(madrasat al-ula) bagi anak-anak, tapi ibu juga yang berperan besar
bagi pertumbuhan tubuh dan jiwa sang anak sejak dalam kandungan.
Jadi, ibu berperan sentral menentukan masa depan seseorang.

Peran penting yang dimainkan ibu (perempuan) seperti itu tak
berjalan lurus dengan nasib dan perlakuan yang diterimanya.
Perempuan dalam masyarakat Islam kerap mengalami diskriminasi peran.
Bukan hanya dihalangi berkiprah di ruang publik, hak-hak dasar
mereka untuk belajar juga kerap ditiadakan. Pada abad ke-19 situasi
ketertindasan kaum Muslim adalah lumrah. Larangan bersekolah bagi
perempuan dan secara umum larangan keluar rumah adalah aturan
universal di mana-mana. Hanya segelintir kaum perempuan Muslim yang
mendapat kemewahan bersekolah.

Karena itu, bagi Qassim Amin, solusinya adalah memberikan kesempatan
luas bagi perempuan mendapat pendidikan layak. Ini bukan semata demi
penegakan hak kaum perempuan yang terabaikan, tapi demi generasi
masa depan kaum Muslim. Selama perempuan terabaikan, menurut Amin,
selama itu pula kaum Muslim akan terbelakang dan bodoh.

Ali Abd al-Raziq (1888-1966) adalah sahabat dan pendukung Qassim
Amin. Sepenuhnya ia setuju dengan gagasan emansipasi perempuan dan
perlunya kaum Muslim memberi ruang bagi perempuan. Tapi, selama
sistem politik yang menaungi kaum Muslim tak bersahabat pada gagasan
progresif ini, selama itu pula gagasan itu tak bisa terealisasi.
Yang dia maksud dengan sistem politik tak bersahabat adalah sistem
pemerintahan khilafah. Ketika Abd al-Raziq berbicara
tentang “khilafah”, rujukannya adalah sistem pemerintahan Kerajaan
Utsmaniyah. Seperti umumnya para reformis Muslim saat itu, Abd al-
Raziq memandang kekhalifahan Utsmaniyah sebagai contoh buruk
pemerintahan Islam. Pola hidup hedonistik para khalifah dengan harem
dan kemewahan yang mengelilinginya kerap dikontraskan dengan
kemiskinan dan kebodohan kaum Muslim ketika itu. Khilafah bukan
sistem yang ideal, bahkan bukan sistem yang sesuai dengan nilai-
nilai yang diajarkan moral Islam.

Itu sebabnya, Abd al-Raziq menolak sistem khilafah. Baginya,
khilafah bukan sistem politik yang diwajibkan Islam. Ia hanya satu
dari banyak pilihan ciptaan manusia. Di era modern, ketika ada
sistem politik yang lebih baik, sudah seharusnya kaum Muslim
menyerapnya. Mempertahankan sistem khilafah tak hanya menghabiskan
energi kaum Muslim, tetapi juga melestarikan kebodohan dan
keterbelakangan mereka.

Konteks Indonesia

Muhammad Tahir Djalaluddin (1869-1956) adalah murid Muhammad Abduh
yang paling berjasa menyebarkan gagasan pembaharuan Islam di
Indonesia. Selesai berguru kepada Abduh, ia meninggalkan Mesir.
Karena situasi politik tak menguntungkan, ia tak kembali ke
Indonesia, tapi transit di Singapura mulai menyebarkan gagasan
pembaruannya dari sana. Di Singapura (1906) ia mendirikan majalah
Islam, al-Imam. Nama ini terinspirasi dari panggilan akrab Abduh.
Murid Abduh loyal dan sangat mencintai gurunya. Di Mesir mereka
mendirikan kelompok diskusi yang disebut madrasat al-imam dan
mendirikan partai politik yang disebut hizb al-imam.

Lewat Djalaluddin, gagasan pembaruan dan liberalisme Islam Timur
Tengah disebarkan di Indonesia dan Malaysia. Tulisan al-Afghani dan
Abduh dalam al-Urwat al-Wutsqa dan al-Manar diterjemahkan dan
diterbitkan dalam al-Imam. Tema tentang kemajuan, kebebasan, dan
emansipasi wanita mewarnai majalah ini. Majalah al-Imam jadi media
Islam pertama yang menyebarkan gagasan liberalisme Islam di
Indonesia. Pada 1911 majalah Islam lain, al-Munir, terbit di
Sumatera. Pendirinya, Abdullah Ahmad, adalah murid Ahmad Khatib,
reformis Melayu yang bermukim di Mekkah. Majalah ini, bersama al-
Imam, jadi corong kaum muda menyebarkan gagasan Islam Liberal.

Memasuki kemerdekaan Indonesia, gerakan pembaruan Islam menurun.
Tokoh Islam lebih banyak mencurahkan energi mengupayakan dan mengisi
kemerdekaan Indonesia. Sebagian besar terlibat dalam perdebatan isu
keislaman pada tahun 1930-an. Agus Salim dan Muhammad Natsir sibuk
dengan politik, terlibat aktif dalam pemerintahan Soekarno-Hatta.
Salim pernah menjabat sebagai menteri luar negeri; Natsir menteri
penerangan kemudian perdana menteri. Mungkin karena keterlibatan
mereka yang intensif dengan dunia politik, para tokoh Islam tak
sempat merenung dan berefleksi mendalam terhadap persoalan pembaruan
Islam.

Gerakan Islam Liberal menemukan momentumnya kembali di Indonesia
pada awal 1970-an, seiring dengan perubahan politik dari era
Soekarno ke Soeharto. Gerakan ini dipicu oleh munculnya generasi
santri baru yang lebih banyak berkesempatan mempelajari Islam dan
melakukan refleksi lebih serius atas berbagai isu sosial-keagamaan.
Seperti berulang dicatat buku sejarah, tokoh paling penting dalam
gerakan pembaruan ini adalah Nurcholish Madjid, sarjana Islam yang
memiliki semua syarat menjadi pembaharu. Lahir dan tumbuh dari
keluarga santri taat, Nurcholish adalah penulis dan pembicara yang
baik. Ia menguasai bahasa Arab dan Inggris. Kefasihannya berbicara
tentang teori ilmu sosial sama baiknya dengan uraiannya tentang
khazanah Islam. Nurcholish adalah penerus sempurna gerakan pembaruan
Islam yang telah dimuali sejak abad ke-19.

Selama kiprahnya menjadi intelektual liberal, Nurcholish banyak
melontarkan gagasan yang mencerahkan dan membangkitkan kuriositas
orang. Sumbangan yang paling besar bagi Indonesia adalah gagasannya
tentang sekularisasi. Nurcholishlah cendikiawan pertama yang
meyakinkan kaum Muslim Indonesia: menjadi seorang Muslim yang baik
tak harus berafiliasi kepada partai Islam. Memperjuangkan Islam tak
harus lewat lembaga atau partai dengan nama Islam. Baginya, Islam
bisa diperjuangkan dengan berbagai cara, lewat berbagai medium.
Pandangan ini cukup ampuh. Tiga dekade kemudian, dalam dua Pemilu
(1999 dan 2004) tak banyak kaum Muslim yang tertarik dengan partai
Islam dan agenda negara Islam, yang pada tahun 1960-an dianggap
sakral.

Nurcholish tak sendirian. Menjelang tahun 1980-an, gerbong Islam
Liberal diperkuat dengan semakin banyaknya intelektual santri yang
muncul. Harun Nasution, Abdurrahman Wahid, Munawir Sjadzali, dan
Ahmad Syafii Maarif adalah di antara para eksponen pembaruan yang
mewarnai kancah pemikiran Islam dasawarsa 1980-an dan 1990-an. Semua
intelektual ini menganggap diri sebagai penerus cita-cita
kebangkitan (nahdah) dalam semangat Abduh, Qassim Amin, Ali Abd al-
Raziq, dan Muhammad Iqbal. Tulisan dan refleksi mereka tersebar di
media massa. Gagasan pembaruan mereka dikaji dan disebarkan generasi
lebih muda di Universitas Islam Negeri (UIN) maupun Nahdlatul Ulama
dan Muhammadiyah.

JIL

Pada 2001 Jaringan Islam Liberal (JIL) didirikan di Jakarta.
Organisasi (lebih tepatnya gerakan) ini melengkapi munculnya
organisasi Islam serupa yang sudah ada lebih dulu: Rahima,
Lakpesdam, Puan Amal Hayati, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan
Masyarakat (P3M), dan Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ). Sejak
awal, JIL diniatkan sebagai payung atau penghubung organisasi Islam
Liberal yang ada di Indonesia. Karena itu, gerakan ini tak memakai
nama organisasi atau lembaga, tapi jaringan. Dengan nama jaringan,
JIL berusaha jadi komunitas tempat para aktivis Muslim berbagai
organisasi Islam Liberal berinteraksi dan bertukar pandangan secara
bebas.

Lewat programnya, seperti diskusi publik, talkshow, sindikasi media,
dan workshop, JIL berusaha konsisten, mempromosikan dan
menyebarluaskan gagasan nahdah. Perhatian utama JIL: bagaimana
menciptakan dan menjaga ruang kebebasan di Indonesia. Sebagaimana
tokoh Islam Liberal awal, JIL meyakini kebebasan adalah kunci bagi
kesejahteraan dan kebahagiaan. Tak ada kebahagiaan tanpa
kesejahteraan dan tak ada kesejahteraan tanpa kebebasan.

Maret ini tak terasa JIL memasuki usia keenam. Sebagai gerakan, ia
masih muda. Sebagai pemikiran, JIL adalah ujung dari mata rantai
gerakan pembaharuan Islam yang sudah berusia lebih dari dua abad.
Orang yang menyadari betapa penting merawat cita-cita nahdah pasti
akan gembira dengan ulang tahun JIL sebab ulang tahun JIL bukanlah
perayaan sekelompok orang, tapi perayaan sebuah gerakan pencerahan
bagi umat Islam di Indonesia. Selamat merayakan ulang tahun JIL.
Selamat merayakan kebebasan.

12 Comments

  1. Maryoto said,

    July 17, 2007 at 11:44 am

    Bullshit!!!
    Omongkosong yang penuh dengan pembodohan…

  2. August 23, 2007 at 7:38 am

    assalamualikum wr.wb
    Bapak2, ibu2 sekalian pengasuh paramadina. Islam itu tidak ada yang fundamentalis ataupun yang lainnya. Hanya ada satu Islam. Islam adalah umat yang adil dan umat pilihan sesuai firman Allah swt yang artinya” Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia” (Al baqarah:143).
    Umat yang adil dan pilihan adalah “ummatan Wasatha: (umat pertengahan). Menurut Hamka ” Bangkitnya Nabi Muhammad saw dipadang pasir arabia itu adalah membawa ajaran bagi membangunkan ummatan washatan, suatu umat yang menempuh jalan tengah, menerima hidup didalam kenyataan, Percaya kepada hari akhir lalu beramal didunia, mencari kekayaan untuk membela keadilan, mementingkan kesehatan jasmani dan rohani, mementingkan kecerdasan fikiran tetapi dengan menguatkan ibadah untuk menghaluskan perasaan. Menjadi khalifah Allah diatas bumi untuk bekal menuju akhirat. Apa2 yang sudah jelas Allah SWT haramkan tidak akan berubah halal hanya karena perubahan zaman dan kemudian yang Allah halalkan tidak akan berubah menjadi haram. Tapi paham yang anda sekalian sebarkan sangat merusak aqidah ummat dan lari dari inti sari islam yang sebenarnya. Terutama kompilasi hukum islam yang anda keluarkan…sesuatu yang sudah jelas hukumnya siapapun orangnya tidak berhak merubah…tapi apa yang anda lakukan. Jangan melihat kekerasan cuma dalam bentuk fisik…anda juga tidak berbeda dengan terorisme…mungkin yang beraliran fundamental lebih sedikit ekstrim dan tidak canggung menunjukkan jati diri…tapi anda apa? kerusakan akhlak yang anda lakukan juga sangat parah…islam agama yang pasti dan sempurna…anda tidak perlu susah2 mengulirkan keinginan mengkritisi ALQur’an…AlQur’an itu sudah sempurna…Silahkan kalau ingin mendirikan agama baru sebut saja agama sipilis tapi tanpa embel2 islam…tidak ada yang melarang. Allah SWT bukan tuhan untuk semua agama…yang diakui Allah SWT hanyalah islam…Nama islam sendiri berasal langsung dari Allah bukan buatan manusia…Bagaimana anda bisa semua agama menuju tuhan yang sama…Tidak akan pernah agama dipisahkan dari kehidupan sehari2…Islam agama yang terdiri dari aqidah yang mengatur tata cara berhubungan dengan Allah dan bekal akhirat nanti (rukun islam dan rukun iman) dan syariat aturan Allah dalam kehidupan didunia, mulai dari perkawinan, warisan, politik, ekonomi, pemerintahan, sosial…keduanya adalah satu kesatuan yang utuh yaitu islam.

  3. August 23, 2007 at 8:13 am

    Sebagai tambahan aqidah dan syariat tidak dapat dipisahkan..islam juga tidak bisa dirubah menjadi agama yang mengusung kekebasan berfikir semata (liberalisme)…sangat wajar kemudian MUI mengharamkan Liberalisme, Sekulerisme dan Pluralisme islam untuk melindungi umat islam di indonesia…Ada kalanya pena dan lisan itu lebih tajam dari pedang…seperti yang sekarang yang anda2 sekalian lakukan. Siapapun juga tidak mendukung adanya kekerasan dalam berdakwah…bukan begitu cara yang diajarkan rasullulah saw. Jadi anda dan yang melakukan kekerasan atau “orang2 barat yang menjadi tuan anda” menyebutnya teroris adalah sama saja. Bisa dibilang melakukan kekerasan dan pembodohan…anda termasuk yang melakukan pembodohan.

  4. Harto said,

    September 20, 2007 at 2:22 am

    Artikel yang bagus sekali, membangun kecerdasan umat.

  5. October 21, 2007 at 3:14 am

    I. Islam apakah mereka; Islam ini atau Islam itu, Islam Syi’ah, Islam Sunni, Islam NU atau Islam Muhammadiyah, Islam Persis, dan lain sebagaimya, tetap dalam keadaan telah meninggalkan Al Quran sesuai Al Furqaan (25) ayat 30, padahal mudah sesuai Al Qamar (54) ayat 17,22,32,40. Apa buktinya, nabi Muhammad saw. telah meramalkan akan terpecah belah menjadi 73 firqah golongan sekte sampai sekarang. Penyebabnya adalah THEORI KHILAFIAH yang tetap dikembangkan sejak Al Khulafa Rasyidin, Tabiin dll. sampai khilafiah para pemuka agama yang katanya mengaku ulama hari ini. Hal ini akan tetap berlaku terus (buktinya antara MUI dan Islam Liberal, Ahmadiyah dll.) Mereka lupa bahwa Al Quran itu adalah alat pemersatu agama-agama sesuai An Nahl (16) ayat 93. Bagaimana umat islam akan menyatukan agama-agama menjadi satu persepsi tunggal nabi suci dibola atlas ini dengan rahmatan lil alamin sesuai Al Anbiyaa (21) ayat 107 sedang mereka didalam masih berselisih 73 firqah didalam golongannya sendiri. .

    II. Penyebab satu-satunya dari pecah-belahnya Persepsi Tunggal Agama yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. sebagai rahmatan lil alamin sesuai Al Anbiyaa (21) ayat 107 adalah karena 1,3 milyard umatnya sampai sekarang tidak mengacu kepada pesan-pesan hujjah Allah, hujjah Nabi Suci, hujjah Kitab suci-Nya yaitu wajib menunggu-nunggu tetapi telah melupakannya Allah dengan hal-hal hujjah sebagai berikut:

    1. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Allah datang menurunkan Hari Takwil Kebenaran KItab untuk kepentinga kesatuan agama sesuai An Nahl (16) ayat 93.

    2. Fushshilat (41) ayat 44: Allah datang menjadikan Al Quran dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab demi kepentingan kesatuan agama sesuai An Nhal (16) ayat 93.

    3. Thaha (20) ayat 114,115: Allah datang menyempurnakan pewahyuan Al Quran berkat do’a ilmu pengetahuan agama oleh umat manusia untuk kesatuan agama sesuai An Nahl (16) ayat 93.

    4. Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22: Allah datang membangkitkan umat manusia semuananya dengan ilmu pengetahuan agama untuk kesatuan uamat sesuai An Nahl (16) ayat 93.

    5. An Nashr (110) ayat 1,2,3: Allah datang mempersiapkan Agama Allah setelah agama disisi Allah adalah Islam sesuai Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208, untuk kesatuan agama memenuhi An Nahl (16) ayat 93 oleh Ilmu Persepsi Tunggal Agama bangsa Indonesia awal millennium ke-3 masehi yang berkembang keseluruh penjuru bola atlas.

    6. Untuk penjelasan lengkapnya bacalah buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    dengan lamiran 4 (empat) macam:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA”
    hasil karya penelitian atas kitab-kitab suci agama-agama selama 25 (dua puluh lima) tahun menuju kepada Persepsi Tunggal Agama untuk semua agama dan kepercayaan yang menyebar keseluruh penjuru bola atlas.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  6. November 18, 2007 at 7:11 pm

    Buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama:
    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berikut 4 buah lampiran acuan:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    mendapat sambutan hangat tertulis dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  7. March 11, 2008 at 12:39 pm

    Apabila syariat kiamat datang hari ini sesuai Al Jaatsiyah (45) ayat 16,17,18, dan wajib dilaksanakan, dan apabila tidak mau melaksanakan divonis Allah “mengikuti hawa nafsu manusia yang tidak mengetahui” dan bagaimana nasibnya syriat Islam? Dan ini pasti terjadi, bagi mereka yang mengetahui ilmu kebangakaitan agama sesuai Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22, sesuai Al Baqarah (2) ayat 120,145.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  8. July 3, 2008 at 7:30 pm

    Buku “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Tersedia ditoko buku K A L A M
    Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
    Telp. 62-21-8573388

  9. Alexs Black said,

    June 18, 2009 at 9:33 am

    “Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (At-Taubah:32)

    Alhamdulillahi Rabbil ‘alamien.

    Shalawat dan salam semoga tetap Allah curahkan atas Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, tabi’in, tabi’it tabi’in dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.

    Amma ba’du. Buku ini kami tulis berdua, dengan judul “Menangkal Bahaya JIL dan FLA”. Isinya berupa bantahan terhadap lontaran-lontaran aneh yang menyesatkan dari orang-orang firqah liberal (JIL; Jaringan Islam Liberal, Paramadina -yayasan bentukan Nurcholish Madjid cs kini dipimpin Azzumardi Azra rektor UIN/ Universitas Islam Negeri Jakarta, sebagian orang NU -Nahdlatul Ulama, sebagian orang Muhammadiyah, sebagian orang IAIN -Institut Agama Islam Negeri, dan lain-lain. Juga bantahan terhadap isi buku “Fikih Lintas Agama” yang ditulis oleh tim sembilan penulis Paramadina di Jakarta bekerjasama dengan yayasan orang kafir, The Asia Foundation yang berpusat di Amerika.

    Tim penulis paramadina sembilan orang itu adalah; Nurcholish Madjid, Kautsar Azhari Noer, Komarudin Hidayat, Masdar F. Mas’udi, Zainun Kamal, Zuhairi Misrawi, Budhy Munawar-Rahman, Ahmad Gaus AF dan Mun’im A. Sirry. Mereka menulis buku yang judul lengkapnya; “Fikih Lintas Agama Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis”. Cetakan: I, September 2003.

    Mereka itu secara terang-terangan mengusung keyakinan inklusif pluralis alias menyamakan semua agama, dan secara blak-blakan memang mereka sengaja membuka jati diri mereka bahwa meskipun mengaku Islam namun juga mengakui bahwa aqidah mereka berbeda.

    Kalau mereka meyakini aqidah yang berbeda itu tanpa menyelewengkan pengertian ayat-ayat Al-Qur’an, As-Sunnah (Hadits Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam), menghujat ulama, memelintir perkataan ulama, meninggikan tokoh-tokoh non Islam bahkan anti agama, dan menggiring umat ke filsafat yang tak punya landasan itu serta hanya untuk mereka ‘nikmati’ sendiri bukan dipropagandakan; maka urusannya masih sebatas urusan mereka. Urusan orang-orang tertentu dan terbatas yang lokasi kumpulnya di sekitar Ciputat, Pondok Indah, dan Utan Kayu Jakarta. Namun “aqidah yang berbeda” itu mereka pasarkan dengan cara-cara menyelewengkan pengertian ayat-ayat Al-Qur’an, As-Sunnah, menghujat ulama, memelintir perkataan ulama, meninggikan kedudukan dan suara serta tingkah tokoh-tokoh kafir bahkan sangat anti agama, mengekspose penyelewengan sebagian tokoh dijadikan sample/ contoh untuk dicarikan jalan keluarnya berupa penghalalannya, dan menggiring umat Islam untuk tidak meyakini Islam secara semestinya.

    “Aqidah yang berbeda” itu memerlukan “Fikih yang berbeda” pula. Mereka sendiri yang menyatakan itu, bahwa yang aqidahnya eksklusif maka Fikihnya eksklusif pula, sedang mereka (kaum liberal) yang aqidahnya inklusif pluralis alias menyamakan semua agama, maka memerlukan Fikih pluraris pula. Mereka buatlah ramai-ramai (9 orang) sebuah buku setebal 274 halaman dengan judul “Fikih Lintas Agama”.

    Sesuai dengan sifatnya ‘yang berbeda’, maka Fikih Lintas Agama itu pun berbeda dengan fikih hasil ijtihad para ulama. Di antara perbedaannya bisa disimplifikasikan/ disederhanakan sebagai berikut:

    1. Dibiayai oleh lembaga orang kafir dan duit lembaga pendana itu dari orang kafir.

    2. Ditulis oleh orang-orang yang latar belakang keilmuannya bukan ilmu fikih, namun rata-rata menggeluti filsafat atau perbandingan agama, atau tasawuf, atau ilmu kalam (bukan ilmu Tauhid). Kalau toh tadinya belajar ilmu fikih di Fakultas Syari’ah seperti Masdar F Mas’udi (salah satu dari 9 orang tim Penulis FLA Paramadina) pada perjalanan terkininya bukan lagi menekuni studi jurusan Fikih tetapi filsafat.

    3. Cara ber-istidlal (mengambil dalil untuk menyimpulkan hukum) tidak ada konsistensi, sehingga antagonistis, bertabrakan satu sama lain.

    4.Tidak jujur.

    5. Memperlakukan ayat-ayat Al-Qur’an semau mereka.

    6. Pendapat yang sangat lemah pun dijadikan hujjah, lalu disimpulkan satu ketentuan, dan ketentuan yang berdasarkan pendapat sangat lemah itu kemudian untuk menghukumi secara keseluruhan. Akibatnya, hukum dibalik-balik, yang haram jadi halal.

    7. Pembolak-balikan itu untuk mempropagandakan “aqidah dan Fikih yang berbeda” yaitu di antaranya:

    Ulama diposisikan sebagai orang durjana

    Orang kafir naik kedudukannya hingga suaranya bisa dijadikan hujjah untuk membantah ulama, bahkan bisa-bisa untuk membantah hadits bahkan naik lagi bisa untuk membantah ayat Al-Qur’an.

    Orang kafir berhak nikah dengan Muslim dan Muslimat.

    Orang kafir berhak mendapatkan waris dari orang Muslim.

    Orang Muslim tidak boleh menegakkan syari’at Islam dalam kehidupan siyasah.

    Orang Muslim dalam kehidupannya hanya boleh diatur pakai selain syari’at Islam.

    Muslim dan kafir sama, namun jangan bawa-bawa agama untuk mengatur hidup ini. Ini artinya, aturan dari orang kafir harus dipakai, sedang aturan dari Allah tak boleh dipakai.

    Itulah “aqidah yang berbeda” maka memerlukan “Fikih yang berbeda” pula. Dan itulah Fikih yang pembuatan dan penerbitannya dibiayai oleh orang kafir.

    Propaganda kepentingan kafirin namun lewat jalur ilmu Islam praktis yakni Fikih inilah sebenarnya persoalan dalam pembicaraan ini. Namun kalau hanya dikemukakan bahwa itu upaya mengusung kepentingan orang kafir, lalu tidak disertai bukti-bukti hujjah yang nyata, maka persoalannya bisa mereka balikkan. Bahkan membalikkannya pun bisa pakai ayat atau hadits dengan disesuaikan dengan kepentingan mereka. Lalu khalayak ramai, kafirin plus sebagian umat Islam yang hatinya ada penyakitnya, bisa-bisa serta merta memberondongkan serangan yang menyakitkan, bukan sekadar kepada orang yang mengecam Paramadina namun bisa jadi terhadap Islam itu sendiri.

    Oleh karena itu saya mengajak seorang Ustadz Agus Hasan Bashori Lc, Mag, yang bermukim di Malang Jawa Timur, untuk menulis bantahan terhadap buku Fikih Lintas Agama itu.

    Berhubung yang mengusung aqidah rusak berupa paham pluralisme agama, menyamakan Islam dengan agama-agama lain, itu bukan hanya tim 9 penulis FLA Paramadina, maka pemikiran, lontaran-lontaran, dan beberapa hal yang berkaitan dengan penyebaran paham pluralisme agama pun saya uraikan. Sehingga diharapkan buku ini akan bisa menguak sepak terjang mereka serta pola pikir dan kelicikan mereka.

    Untuk lebih memudahkan pertanggungjawabannya, maka buku ini di bagian pertama adalah tulisan saya, sedang bagian kedua tulisan Ustadz Hasan Bashori. Adapun kalau pembahasannya ada yang sama, berarti masing-masing menganggap masalah itu penting untuk disoroti. Namun apabila ada masalah yang sebenarnya penting tetapi ternyata kami berdua sama-sama tidak membahasnya, itu kemungkinan saling tidak mau melangkahi satu sama lain, tahu-tahu sama-sama tidak melangkah.

    Kami menyadari, yang kami bantah itu adalah buku yang mereka tulis ramai-ramai 9 orang, yang sebelum dibukukan pun diseminarkan di pergedungan dengan mengundang atau didatangi pers. Entah kumpulan tulisan para penulis itu pesanan atau ‘pengajuan’ (untuk cari dana ke orang kafir), wallahua’lam, tetapi Zuhairi Misrawi mengemukakan bahwa kerja mereka siang malam untuk mewujudkan buku FLA itu. Sementara itu kami berdua untuk membantah buku FLA itu tidak pakai kumpul-kumpul apalagi mengumpulkan orang untuk seminar membahas tulisan yang akan dibukukan. Kami berdua (saya di Jakarta, Ustadz Hasan Bashori di Malang Jawa Timur) hanya bertemu 3 kali dan bukan urusan untuk membicarakan tentang tulisan ini tetapi sama-sama menghadiri pertemuan yang diadakan orang di Puncak Bogor Jawa Barat dan Jakarta. Lalu saya katakan, tulislah apa yang Antum (Anda) mau, dan saya juga akan tulis semau saya.

    Ketika beredar buku saya berjudul “Mengkritisi Debat Fikih Lintas Agama”, Maret 2004, ada pertanyaan dari Ustadz Hasan Bashori lewat SMS, “Antum sudah menerbitkan buku, jadi tulisan saya sama siapa nanti?” Saya jawab, “Ya sama saya, kan buku “Mengkritisi Debat Fikih Lintas Agama” itu baru manasi saja.”

    Alhamdulillah, Allah memberikan kesempatan dan kesanggupan, sehingga bicara-bicara antara kami berdua ketika ketemu itu kemudian bisa terwujud tulisan untuk membantah para ‘jagoan’ liberal tua dan muda (yang tua seperti Nurcholish Madjid sudah 64 tahun, yang muda seperti Zuhairi Misrawi bujangan umur 29-an tahun).

    Kami sangat berterimakasih kepada berbagai pihak yang secara langsung atau tidak langsung memberikan semangat kepada kami untuk mewujudkan buku ini. Kunjungan rombongan kiai dan ustadz yang menyempatkan untuk bertemu kami dan mengemukakan keprihatinan mereka atas makin menjadi-jadinya kenekadan kelompok liberal dengan menerbitkan buku nyleneh di antaranya “Fikih Lintas Agama”, merupakan dorongan tersendiri yang seakan meletakkan beban di pundak kami untuk memikulnya. Sehingga dunia terasa sempit ketika tulisan ini belum jadi. Bukan lantaran kami punya hutang budi, jasa, atau harta kepada orang kuat, lembaga kuat, kelembagaan ataupun perorangan, sehingga harus menanggapi buku FLA. Namun keresahan dan keprihatinan para da’i, para ustadz, para pengelola santri, mahasiswa, dan masyarakat atas meruyaknya penyesatan di mana-mana yang sistematis dan terprogram rapi itulah yang mengetuk hati kami untuk menyusun buku ini.

    Mudah-mudahan sumbangan dorongan itu akan mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Berhubung buku ini disusun dengan proses seperti yang telah saya uraikan itu, maka saran dan kritik yang membangun dari pembaca budiman senantiasa kami nantikan.

    Hanya kepada Allah-lah kami menyembah, dan hanya kepada Allah pula kami minta pertolongan. Semoga buku ini bermanfaat bagi umat Islam dan terutama bagi kami, keluarga dan sanak kerabat Muslimin Muslimat. Amin.

  10. Alexs Black said,

    June 18, 2009 at 10:18 am

    Kesesatan itu bahasa Arabnya dholal. Yaitu setiap yang menyimpang dari jalan yang dituju (yang benar) dan setiap yang berjalan bukan pada jalan yang benar, itulah kesesatan. Demikian menurut Tafsir At-Thobari Juz 1 halaman 84.

    Dalam Al-Qur’an disebutkan, setiap yang di luar kebenaran itu adalah sesat. Allah SWT berfirman:

    “…maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? (QS Yunus: 32).
    Kebenaran itu datangnya dari Allah. Sebagaimana telah Allah tegaskan:

    Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS Al-Baqarah: 147).
    Apa-apa yang dari Tuhan berupa kebenaran itu disampaikan kepada manusia ini lewat wahyu Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw. Dalam hadits dijelaskan:

    Hadits dari Miqdam bin Ma’di Karib Al-Kindi yang berkata, Rasulullah saw bersabda: Ingatlah sesungguhnya aku diberi Al-Kitab (Al-Qur’an) dan yang sesamanya bersamanya. Ingatlah sesungguhnya aku diberi Al-Qur’an dan yang sesamanya bersamanya. (HR Ahmad).

    Hadits itu menjelaskan bahwa Nabi saw diberi wahyu berupa Al-Qur’an dan wahyu yang sesamanya besertanya, yaitu wahyu berupa hadits. Sehingga Al-Qur’an dan Al-Hadits yang menjadi sumber Islam itu sebenarnya adalah wahyu dari Allah. Maka benarlah bahwa Islam itu agama dari sisi Allah, karena memang berupa wahyu dari Allah SWT.

    Dari pengertian tersebut maka hal-hal yang tidak sesuai atau menyimpang dari Al-Qur’an dan Al-hadits/ As-Sunnah itu adalah kesesatan.
    Untuk lebih mudahnya, maka letak kesesatan yang sudah jelas berada di luar garis Al-Qur’an dan As-Sunnah itu letaknya di mana, bisa dijelaskan sebagai berikut.

    Di dalam Islam ada wilayah-wilayah:

    1. Wilayah prinsip/ pokok/ dasar (ushul).
    2. Wilayah cabang-cabang (furu’)
    3. Wilayah yang didiamkan (maskut ‘anhu) yaitu mubah atau boleh-boleh saja.

    Keterangan 1. Dalam hal wilayah pokok (ushul) biasanya dalilnya (ayat atau hadits)nya jelas, tegas, tidak ada makna-makna lain lagi. Hingga tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Misalnya Allah itu Esa. Nabi Muhammad nabi terakhir. Ka’bah adalah kiblat ummat Islam. Shalat 5 waktu itu wajib. Puasa Ramadhan wajib. Akherat itu ada. Surga, neraka, malaikat, hisab/ perhitungan amal di akherat itu pasti ada. Al-Qur’an dan hadits itu pedoman Islam. Dan sebagainya. Itu semua dalilnya jelas, tegas, dan tidak ada makna-makna lain lagi, serta tidak ada perbedaan di kalangan ulama.
    Siapa saja yang menyelisihi dari hal-hal pokok yang sifatnya sudah tegas dalilnya seperti tersebut, itu jelas sesat.

    Contoh:

    1. Orang yang tidak mempercayai hadits Nabi saw sebagai landasan Islam, maka dia sesat. Itulah kelompok Inkar Sunnah.
    2. Orang yang mengakui adanya nabi lagi sesudah Nabi Muhammad saw maka mereka sesat. Itulah kelompok Ahmadiyah yang mempercayai Mirza Ghulam Ahmad dari India sebagai nabi setelah Nabi Muhammad saw.
    3. Orang yang menganggap Al-Qur’an dan As-Sunnah baru sah diamalkan kalau manqul (yang keluar dari mulut imam atau amirnya), maka anggapan itu sesat. Sebab membuat syarat baru tentang sahnya keislaman orang. Akibatnya, orang yang tidak masuk golongan mereka dianggap kafir dan najis. Itulah kelompok LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang dulunya bernama Lemkari, Islam Jama’ah, Darul Hadits pimpinan Nur Hasan Ubaidah Madigol Lubis (Luar Biasa) Sakeh (Sawahe Akeh/ sawahnya banyak) dari Kediri Jawa Timur yang kini digantikan anaknya, Abdu Dhohir. Penampilan orang sesat model ini: kaku –kasar tidak lemah lembut, ada yang bedigasan, ngotot karena mewarisi sifat kaum khawarij, kadang nyolongan (suka mencuri) karena ada doktrin bahwa mencuri barang selain kelompok mereka itu boleh, dan bohong karena ayat saja oleh amirnya diplintir-plintir untuk kepentingan dirinya.
    4. Orang yang menganggap bahwa dirinya mendapat wahyu dan didampingi malaikat Jibril, maka dia sesat. Karena wahyu kenabian telah selesai dengan wafatnya Nabi Muhammad saw. Kelompok inilah yang mendirikan agama baru, Salamullah yang menghimpun semua agama, yaitu perempuan bernama Lia Aminuddin di Jakarta. Dia mengaku sebagai Imam Mahdi padahal wanita. Perangkai bunga kering ini gundah gulana akibat kecewa dengan dua muballigh (Nur Muhammad Iskandar dan Zainuddin MZ) dan Anton Medan (mantan penggede preman) dalam hal Yayasan At-Taibin (yang menggarap/ mendakwahi preman-preman, bajingan, pelacur dan sebagainya), menurut pengakuan Lia Aminuddin kepada MUI (Majelis Ulama Indonesia). Lalu MUI memfatwakan (22 Desember 1997) bahwa pengakuan Lia Aminuddin yang dirinya didampingi Malaikat Jibril dan mendapatkan ajaran keagamaan darinya itu sesat lagi menyesatkan. Namun ajaran sesat agama Salamullah itu ada Wakil/ Imam Besarnya bernama Abdul Rahman, konon alumni IAIN Jakarta.
    5. Orang yang menganggap hadits Nabi saw yang sah hanyalah yang diriwayatkan oleh Ahlul Bait, maka mereka sesat. Sebab sama dengan menuduh para sahabat yang bukan Ahlul Bait (keluarga Nabi saw) itu tidak bisa dipercaya. Padahal Allah SWT saja memuji para sahabat Nabi saw. Orang yang tak mempercayai sahabat untuk jadi periwayat hadits itulah kelompom Syi’ah. Orang Syi’ah yang ghuluw/ ekstrim sampai menuhankan Ali bin Abi Thalib, maka mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib ra. Syi’ah Imamiyah (Itsna ‘Asyariyah) yang kini merupakan mayoritas, di Iran, Irak, dan menyebar ke lain tempat, mereka mempercayai adanya 12 Imam keturunan Ali yang dianggap ma’shum (terjaga dari dosa). Padahal yang ma’shum itu hanya Nabi. Perkataan Imam dianggap sama dengan perkataan Nabi. Syekh Muhammad At-Tamimi menjelaskan, Syi’ah –yang benar adalah sebutan Rafidhah karena pengelompokan mereka kepada Ali bin Abi Thalib ra adalah pengelompokan yang ekstrim keterlaluan, tidak diterima oleh Ali ra. Rafidhah/ Syi’ah seperti yang disifatkan oleh Syekh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, Iqtidho’us shirothil mustaqiem mukholafafatu ash-haabil jahiim, halaman 391, beliau berkata: Sesungguhnya mereka (Rafidhoh/ Syi’ah) adalah kelompok paling dusta dari kalangan ahlil ahwa’ (pengikut hawa nafsu), paling besar kemusyrikannya, maka tidak ada pengikut hawa nafsu yang lebih dusta dibanding mereka, dan tidak ada yang lebih jauh dari Tauhid (melebihi mereka). (Muhammad At-Tamimi, Fatawa Muhimmah, juz 1 halaman 145).
    Karena sikap ghuluw (ekstrimnya) hingga menuhankan Imam mereka dan keekstriman-keekstriman lainnya, maka Imam Ibnu Taimiyyah menyebut orang Syi’ah atau Rafidhah itu sebagai pengikut hawa nafsu (ahlul ahwa’) yang paling sesat, dan paling jauh dari Tauhid.
    6. Orang yang memaknakan Al-Qur’an semaunya, tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw, bahkan tak sesuai dengan lafal/ kalimat Al-Qur’an, maka mereka sesat. Itulah kelompok Isa Bugis. Contohnya, mereka memaknakan al-fiel yang artinya gajah menjadi meriam atau tank baja. Alasannya di Yaman saat zaman Nabi tidak ada rumput maka tak mungkin ada gajah. Mereka tidak percaya mu’jizat, maka dianggapnya dongeng lampu Aladin. Nabi Ibrahim menyembelih Isma’il itu dianggapnya dongeng belaka. Tafsir Al-Qur’an yang ada sekarang harus dimuseumkan, karena salah semua. Al-Qur’an bukan Bahasa Arab, maka untuk memahami Al-Qur’an tak perlu belajar Bahasa Arab, tata bahasa Arab dan sejenisnya. Lembaga Pembaru Isa Bugis adalah Nur, sedang yang lain adalah dhulumat, maka sesat dan kafir. Itulah ajaran sesat Isa Bugis.
    7. Orang yang menggabung-gabungkan Islam dengan Yahudi, Nasrani dan lainnya, maka sesat. Itulah kelompok Baha’i. Menghilangkan setiap ikatan agama Islam, menganggap syari’at Islam telah kadaluarsa. Persamaan antara manusia meskipun berlainan jelnis, warna kulit dan agama. Inilah inti ajaran Baha’i. Menolak ketentuan-ketentuan Islam. Menolak Poligami kecuali ada kekecualian, dan tak boleh dari dua isteri. Melarang talak dan menghapus ‘iddah. Janda boleh langsung kawin lagi, tanpa ‘iddah (masa tunggu). Ka’bah bukanlah kiblat yang mereka akui, Kiblat mereka adalah di mana Tuhan menyatu dalam diri Bahaullah (pemimpin mereka). Ini sama dengan pandangan sufi /orang tasawuf sesat bahwa qolbul mu’min baitullah, hati mukmin itu baitullah. Ini mirip Gatoloco (penghina Islam model Kebatinan Jawa) bahwa hati manusia itu bikinan Allah, sedang ka’bah itu bikinan Ibrahim dan Isma’il, maka lebih baik mana bikinan Allah dibanding bikinan manusia. Demikianlah kesesatan model penolak Islam sambil mencari-cari spiritualitas yang dibikin-bikin syetan.
    8. Orang yang menyamakan semua Agama, hingga Islam disamakan dengan Yahudi, Nasrani, dan agama-agama kemusyrikan, maka mereka sesat. Itulah kelompok yang berfaham pluralisme agama, yang sejak Maret 2001 membentuk kelompok yang bermarkas di Utan Kayu Jakarta dengan menamakan diri sebagai JIL (Jaringan Islam Liberal) yang dikordinir oleh Ulil Abshar Abdalla dari unsur NU (Nahdlatul Ulama). Ulil tidak mengakui adanya hukum Tuhan, hingga syari’at mu’amalah (pergaulan antar manusia) dia kampanyekan agar tidak usah diikuti, seperti syari’at jilbab, qishosh, hudud, potong tangan bagi pencuri dan sebagainya itu tidak usah diikuti. Bahkan larangan nikah antara Muslim dengan non Muslim dianggap tidak berlaku lagi, karena ayat larangannya dianggap tidak jelas. Vodca (minuman keras beralkohol lebih dari 16%) pun menurut Ulil bisa jadi di Rusia halal, karena udaranya dingin sekali. Pemahaman “kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah/ Al-Hadits” seperti yang difahami ummat Islam sekarang ini menurut Ulil salah, karena menjadikan penyembahan terhadap teks. Maka harus difahami dengan bahwa Al-Qur’an itu yang sekarang ini baru separuhnya, sedang separuhnya lagi adalah pengalaman manusia. Itulah kemauan Ulil, yang kalau dituruti, maka justru akan menyembah kemauan manusia. Dengan pemahaman Ulil yang sudah membabat dan menghina Islam seperti itu, maka fatwa hukuman mati yang semula oleh FUUI (Forum Ulama Ummat Islam) di Bandung ditujukan kepada penghina Islam dari kalangan Nasrani (Pendeta Suradi dan H Amos) tinggal dirujuk untuk Ulil. Kelompok JIL (Jaringan Islam Liberal) ini mengacak-acak Islam, pemahaman Islam, yang akibatnya menguntungkan gerakan pemurtadan. Itulah menurut hadits Hudzaifah yang terkenal diriwayatkan oleh Imam Bukhari telah disinyalir adanya penyeru-penyeru di pintu-pintu neraka jahannam. Siapa yang mengikuti ajakannya maka dilemparkan ke dalam neraka. Na’udzubillaah min dzaalik.
    9. Orang yang mengibaratkan Rasul bagai menteri, sedang kerasulan bagai departemen. Lalu Rasul boleh wafat sebagaimana menteri boleh mati, namun kerasulan atau departemen tetap ada, maka tetap diangkatlah rasul baru sebagaimana diangkat pula menteri baru, maka mereka itu sesat. Karena Nabi Muhammad saw adalah rasul terakhir. Yang berfaham Rasul tetap diangkat sampai hari Qiyamat itulah kelompok Lembaga Kerasulan.
    10. Orang yang menghalalkan merampas dan merampok harta orang lain asal untuk disetorkan kepada pemimpin, itu adalah sesat. Itulah kelompok NII KW IX (Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah IX) yang kini punya Ma’had Al-Zaitun dipimpin Abdul Salam (AS) Panji Gumilang. Anehnya, orang sesat ini justru dijadikan ketua alumni IAIN (kini UIN Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan dipuji-puji oleh Rektor Azyumardi Azra yang disebut-sebut sebagai simpatisan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang sesat menyesatkan itu.
    11. Orang yang menganggap Nabi saw memberikan wirid-wirid untuk diamalkan, padahal beliau telah wafat, maka mereka sesat. Itulah kelompok Darul Arqam berasal dari Malaysia, yang mengaku bahwa Syeikhnya, Syaikh Suhaimi bertemu Nabi Muhammad saw dalam keadaan melek/ jaga di Ka’bah lalu Nabi saw memberikan wirid-wirid yang mereka sebut Aurad Muhammadiyah. Kelompok ini sekarang menamakan diri Hawariyyun. Nama itu aslinya adalah sebutan untuk sahabat-sahabat Nabi Isa as. Kelompok ini termasuk sejenis kalangan tasawuf sesat dan tarekat, makanya ketika Ummat Islam ramai agar kelompok sesat ini dilarang, maka yang tampak agak keberatan dilarangnya adalah orang-orang NU (Nahdlatul Ulama) yang di antara mereka ada yang bergelimang bahkan membuat tasawuf sesat (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Bila Kyai Dipertuhankan Membedah Sikap Beragama NU dan buku Tasawuf Belitan Iblis)..

    Keterangan 2. Mengenai wilayah cabang (furu’) adalah yang tidak ada dalilnya, atau ada dalilnya namun tidak menunjukkan makna yang pasti, bisa punya dua makna atau maknanya tidak tegas pasti. Misalnya, apakah sesudah Imam shalat membaca fatihah secara jahar/ keras, lalu ma’mum wajib membaca fatihah? Itu tidak ada dalil yang pasti. Maka di situlah ruang ijtihad (mencurahkan pikiran) untuk menentukan hukumnya. Yang berijtihad itu adalah yang memenuhi syarat, yaitu ulama yang menguasai ilmunya. Hasil ijtihad itu bisa berbeda satu dengan lainnya. Maka ada istilah ikhtilaf, yaitu beda pendapat. Di situ masih ada kesempatan lagi untuk menentukan mana yang lebih kuat dalilnya. Itulah namanya mentarjih yaitu menentukan mana yang lebih kuat.

    Di wilayah furu’ inipun bisa timbul kesesatan, apabila orang yang tidak tahu malah memberi fatwa tanpa ilmu. Atau bila orang sengaja untuk menyelisihi dari ketentuan Islam. walaupun ketentuan itu bukan merupakan pokok, dan hanya menyangkut sunnat, namun bila diubah semaunya, maka sesat pula. Contohnya, Ma’had Al-Zaitun pimpinan AS Panji Gumilang di Indramayu Jawa Barat mengubah penyembelihan hewan qurban dengan duit, tanpa diadakan penyembelihan qurban, dengan alasan, telah banyak hewan diqurbankan namun tidak mensejahtera-sejahterakan ummat pula. Pengubahan itu adalah kesesatan.

    Contoh lain, orang-orang sekuler dan anti Islam memaknakan negara agama itu adalah teokrasi yang pengertiannya negara kependetaan. Lalu mereka menimpakan pengertian dari luar Islam itu kepada Islam, padahal negara agama kalau dirujuk kepada praktek kepemimpinan kekuasaan dalam Islam (zaman Nabi saw dan Khluafaur Rasyidin) maka istilah sekarang adalah negara hukum atau nomokrasi, yang hukumnya itu adalah syari’at Islam. Jadi negara agama menurut praktek dalam Islam adalah negara berdasarkan syari’at Islam, bukan negara teokrasi yang muatannya adalah kependetaan. (Lebih jelasnya, silakan baca buku Gus Dur Menjual Bapaknya, Bantahan Pengantar Buku Aku Bangga Jadi Anak PKI, Darul Falah, Jakarta 2003).

    Keterangan 3. Mengenai wilayah yang didiamkan (maskut ‘anhu), biasanya adalah menyangkut dunia. Hal-hal yang dibiarkan, tidak ditentukan oleh ayat ataupun hadits, dalam urusan dunia ini, maka boleh-boleh saja, alias mubah. Terhadap yang mubah/ boleh-boleh saja inipun bisa timbul kesesatan, yakni apabila orang membuat larangan untuk drinya atau pengikutnya dalam rangka ibadah atau mendekatkan diri kepada Allah padahal tak ada larangan syari’atnya.

    Misalnya, orang-orang Tarekat untuk mendekatkan diri kepada Allah maka mereka mengadakan larangan sendiri, tidak boleh makan daging atau ikan ketika mereka mengadakan suluk (mengkhususkan waktu untuk beribadah). Memakan daging halal.itu hukum asalnya adalah mubah/ boleh-boleh saja. Lalu diadakan larangan sendiri demi beribadah kepada Allah. Pengadaan larangan sendiri dan untuk ibadah, itulah kesesatan. Namun kalau pelarangan itu karena menjaga kesehatan, misalnya tidak minum kopi karena darah tinggi, maka boleh. Demikian pula, kalau makanan syubhat (samar antara halal dan haram) kemudian kita menjauhinya karena menjaga ibadah, justru baik. Karena berarti kita menjauhkan diri dari yang mendekati keharaman. Ini berbeda dengan mengharamkan sendiri hal yang halal demi ibadah.

    Kesimpulan: Dari 3 wilayah (ushul, furu’, dan mubah) itu ada celah-celah yang bisa timbul kesesatan. Namun kesesatan yang paling banyak dan membahayakan aqidah/ keyakinan adalah yang menyangkut ushul (pokok). Karena, begitu menyelisihi dalil yang sudah jelas, maka sesat.

    Adapun mengenai yang furu’, kesesatannya adalah mengada-adakan sesuatu tanpa diketahui dalilnya, ataupun mengubah aturan tidak sesuai dengan dalil, seperti tentang menyembelih binatang qurban diubah jadi penyetoran duit lalu duit itu tidak untuk beli binatang qurban tetapi untuk lain-lain, dengan alasan yang dibuat-buat. Juga mengalihkan pengertian istilah dalam Islam kepada istilah yang bukan Islam hingga pengertiannya jauh berubah.

    Kesesatan pun bisa timbul di wilayah yang mubah/ boleh-boleh saja. Yaitu bila orang mengadakan pelarangan terhadap hal yang sebenarnya tidak dilarang, yang pengadaan larangannya itu demi ibadah.

    Kesesatan-kesesatan itu beda-beda tingkatnya, ada yang sampai kafir, misalnya menganggap Allah SWT tidak mengutus Nabi Muhammad saw, shalat 5 waktu itu tidak wajib dan sebagainya.

    Ada yang sesatnya tidak sampai kafir, misalnya atas nama untuk ibadah, lalu melarang dirinya makan daging (pada waktu-waktu tertentu) padahal daging halal. Meskipun kesesatannya itu tidak sampai kafir, namun merusak agama. Sebab sudah mengada-adakan aturan/ syari’at baru. Dan hal itu dilarang mengadakannya oleh Rasulullah saw.

    Itulah letak-letak kesesatan dan contoh-contoh jenisnya yang senantiasa menggerogoti Ummat Islam di Indonesia bahkan bisa jadi sedunia. Ummat Islam wajib mewaspadainya dan menghindarkan diri serta keluarga dari aneka kesesatan itu, supaya ketika maut menjemput, masih tetap dalam keadaan Muslim. Sebagaimana Allah swt telah wanti-wanti (berpesan dengan sungguh-sungguh agar dijaga pesan itu):

    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS Ali Imran: 102).

  11. asgar said,

    March 26, 2011 at 1:27 pm

    JANGAN BELAJAR KEPADA BARAT,BELAJARLAH DARI AL-QURAN DAN SUNNAH.

  12. July 30, 2016 at 8:09 am

    Soegana Gandakoesoema
    Perumahan Puri BSI Permai Blok A no. 3
    Jl. Samudera Jaya
    LKelurahan Rangkapan Jaya
    Kecamatan Pancoran Mas
    Depok 16435
    Tel./Fax. 02177884755
    HP. 085881409050

    Penulis otodidak isi Al Quran dan Bible arah tafsir tunggal 4:82 memberantas muti tafsir 15:91 dicurahkan kedalam buku panduan “Bhinneka Catur Sila Tunggal Ika” terhadap “Skema Tunggal Ilmu Laduni Tempat Acuan Ayat kitab Suci Tentang Kesatuan Agama”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: