Etnonasionalisme

Oleh William Chang
Pemerhati Masalah-masalah Kemasyarakatan
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0610/03/opini/3001204.htm
============================

Gejala konflik sosial (bernuansa etnis, rasial) tidak hanya melukai
keutuhan bangsa, tetapi juga ikut mencabik kodrat suatu bangsa.
Masyarakat yang terfragmentasi mulai berkembang di sejumlah kawasan
dalam negara kita.

Salah satu kecemasan yang menghantui sejumlah kalangan kaum muda kita
adalah etnonasionalisme yang bakal menggerogoti keutuhan bangsa kita.
Kecemasan ini beralasan. Perasaan dan ketegangan etnis sebegitu
menonjol sehingga timbul kecenderungan untuk melepaskan diri dari
pangkuan negara.

Rupanya, etnonasionalisme mampu menimbulkan ketakutan, kecemasan, dan
kecurigaan dalam hidup bersama sebagai suatu masyarakat majemuk.
Keamanan dan kedamaian dipertanyakan. Keragaman etnisitas acap kali
dimanfaatkan dan dimanipulasi oleh pihak-pihak yang de facto
berkepentingan politik terselubung. Pergesekan dan pertikaian
antaretnis di Rwanda, Yugoslavia, Indonesia, India, dan Bosnia
membuktikan disharmoni dalam masyarakat multietnik.

Politik kesukubangsaan

Kesadaran dasar akan sisi negatif etnonasionalisme ini mengundang
kita untuk menyediakan ruang pengolahan etnonasionalisme yang
berperan penting dalam bidang politik domestik dan internasional.
Setelah kejatuhan komunisme di negara-negara Eropa Timur, etnisitas
memperoleh tempat baru dan lebih penting dalam dunia politik. Politik
kesukubangsaan mulai bangkit dalam aneka bentuk hidup sosial (Allen H
Kassof dan Livia B Plaks, Ethnonationalism: Fears, dangers, and
policies in the Post-Communist World, 1995).

Istilah etnonasionalisme, menurut Umberto Melotti, merujuk pada tipe
khusus nasionalisme dan terkait dengan warga negara yang masih
memimpikan kemerdekaan. Gerakan-gerakan etnonasionalis telah tersebar
di sejumlah negara (Guido Bolaffi dkk, Dictionary of Race, Ethnicity
& Culture, 2003: 103-104). Banyak lokakaryawan dalam debat bulan
Januari 1995 di Moskwa mengkritik pengertian etnonasionalisme.
Ternyata, dimensi etnis sudah meresap ke dalam pelbagai bidang hidup.
Etnonasionalisme di kawasan Eropa Timur, antara lain, merupakan buah
politik “kekejaman” komunisme.

Etnonasionalisme mengandung benih disintegrasi seperti konflik di
Chechnya. Kerangka keutuhan suatu bangsa dilepaskan satu per satu.
Dalam konteks ini, etnonasionalisme tampil sebagai jeritan perlawanan
terhadap ancaman dari luar. Perjuangan-perjuangan untuk self-
determination dan pembentukan negara terpisah dapat dianggap sebagai
mobilisasi etnisitas dalam suatu bangsa.

Sejak era otonomi daerah, politik identitas mulai mengental di
beberapa kawasan negara kita. Identitas etnis ditonjolkan dalam
proses pemilihan kepala daerah. Harga diri daerah kian terasa.
Kompetensi profesional diabaikan dalam sistem birokrasi pemerintah.

Terlilit kemiskinan

Mengapa muncul primordialisasi etnonasionalisme di Rwanda,
Yugoslavia, India, dan Rusia? Mengapa warga negara dalam sebuah
negara masih memperjuangkan dan menuntut otonomi dan/atau kemerdekaan
atas nama identitas etnis dan kebudayaan dalam artian luas? Mengapa
gerakan-gerakan etnonasional ini kian menguat di kawasan Eropa sejak
Perang Dunia II?

Pertama, keadaan sosial-ekonomi yang masih terlilit kemiskinan acap
kali menimbulkan sikap antipati dan ingin melepaskan diri dari suatu
bangsa. Rakyat kecewa karena pemerintah lemah, korup, dan tak sanggup
mewujudkan kesejahteraan umum. Ketidakamanan nasional mendorong warga
suatu bangsa untuk mencari negara lain yang lebih menghargai
kemanusiaan dan lebih aman.

Kedua, ketidakadilan sosial dalam bidang hukum, politik, ekonomi,
religius, dan pendidikan mendatangkan sikap protes dan perlawanan
sosial terhadap penguasa. Pengelolaan kekayaan alam tanpa
memerhatikan masyarakat lokal telah menimbulkan kecemburuan sosial
yang akan terjelma dalam sikap protes, perlawanan, dan antipati
masyarakat.

Ketiga, silent discrimination warisan zaman penjajahan termasuk unsur
pemecah belah keutuhan suatu bangsa. Lingkaran setan diskriminasi
perlu dipotong melalui jalur birokrasi pemerintahan. Etnisitas,
agama, bahasa, dan pengelompokan sosial, antara lain, dapat menjadi
daya penggerak kegiatan organisasi-organisasi kriminal dalam konteks
etnonasionalisme.

Sebelum paham etnonasionalisme melebar dalam negara kita, sudah
saatnya negara kita menerapkan hukum yang sungguh adil dari pusat
hingga ke daerah, menciptakan iklim pemerintahan yang bersih dan
mewujudkan kesejahteraan umum tanpa pilih kasih.

Jika ini terwujud, besar harapan bahwa etnonasionalisme akan sulit
mengembangkan sayap di Tanah Air.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: