Globalisasi, Warnai Corak Identifikasi Diri

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0701/09/humaniora/3222887.htm
====================

Jakarta, Kompas – Dalam suasana globalisasi, kosmopolitanisme Islam
tidak lagi hanya diwujudkan dalam rasa kesezamanan dalam sistem dan
kecenderungan pemikiran keagamaan, tetapi terkadang juga dalam
keterlibatan emosional yang diwujudkan dalam sikap dan prilaku.
Globalisasi ikut mewarnai corak identifikasi diri sebagai Islam.

“Globalisasi yang sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi telah merelatifkan jarak, waktu dan ruang. Proses yang
sangat fenomenal ini bukan saja semakin menebalkan rasa kesezamanan,
tetapi ternyata juga dengan sangat keras mewarnai corak identifikasi
diri,” ujar sejarawan Taufik Abdullah dalam orasi kebudayaannya yang
bertajuk “Tamasya Sejarah Islam di Nusantara; Sebuah Tinjauan Ulang”,
Jumat malam (5/1).

Orasi disampaikan pada peluncuran buku Menjadi Indonesia; 13 Abad
Eksistensi Islam di Bumi Nusantara. Buku yang diterbikan Yayasan
Festival Istiqlal dan Penerbit Mizan itu merupakan himpunan karangan
para cendikiawan dan rektor Universitas Islam Negeri dan Institut
Agama Islam Negeri di seluruh Indonesia. Hadir dalam acara ini antara
lain mantan Presiden Abdurrahman Wahid, mantan Wakil Presiden Try
Sutrisno, Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, dan Ketua Umum
Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dien Syamsudin.

Taufik mengungkapkan, kasus-kasus politik yang terjadi di dunia Islam
dengan begitu saja dan intens dirasakan di negeri tercinta ini.

Seakan-akan semuanya terjadi di sini, di kampung halaman sendiri.
Pada tahapan ekstrim, validitas dari ikatan politik bernegara bangsa
yang pernah diperjuangkan dengan darah dan air mata menjadi relatif
saja. Dalam suasana seperti ini, seluruh lapisan kesejarahan yang
pernah dilalui sejak masa pembentukan identitas Islam bertemu dan
bertarung dalam situasi yang lebih intens atau kritis dari masa-masa
sebelumnya.

“Ketika sebagian umat telah menyingsingkan lengan baju untuk
melangkah ke depan yang penuh tantangan, sebagian anggota masyarakat
lagi merasakan betapa identitas sebagai umat Islam terancam dengan
sangat keras,” ujarnya. Menurut dia, bahwa hanya waktu yang akan
menentukan sampai kapan situasi yang mengalir ini menemukan bentuknya
yang kreatif.

Dalam orasi itu, Taufik Abdullah juga menyampaikan fase-fase
perjalanan Islam di Nusantara. Dalam sejarahnya yang panjang
tersebut, Islam pernah mengalami masa-masa kritis dalam proses
penyebaran tersebut dan terjadinya penyesuaian simbol ke dalam
konteks lokal.

Proses ketika sesuatu yang bersifat asing dijadikan sesuatu yang
sesungguhnya berasal dari tradisi sendiri itu merupakan saat kritis
dalam perkembangan Islam di Nusantara.

Akan tetapi, dengan proses tersebut, keragaman dari “Kebudayaan
Islam” tidak terhindarkan. Islam kemudian tampil dalam wajah
struktural yang pruralistik di negara kepulauan Indonesia.

Islam yang sedang tumbuh juga sempat berhadapan dengan tantangan
barat, terutama saat kedatangan pelaut, monopoli dagang, dan
misionaris dari barat di Nusantara.

Pada tahap awal pertumbuhan nasionalisme dan hasrat mendirikan negara
bangsa, keterikatan pada nilai-nilai Islam menjadi salah satu sumber
utama dalam proses perumusan cita-cita dan idealisme bangsa.

“Dapat dipahami sejak awal pergerakan kebangsaan, kedudukan ajaran
Islam dan pemikirannya selalu menempati kedudukan sentral dalam
wacana dan proses politik,” ujar Taufik.

Suatu kemantapan sosial politik dan kultural seolah baru terwujud di
masa Orde Baru.

Akan tetapi, berbagai ketimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan
kekuasaan dan sistem wacana hanya menjadikan semuanya sebagai sebuah
kemungkinan saja.

Pada tahap reformasi inilah seluruh proses pembentukan seakan buyar
dan Indonesia mengalami re-examination dalam segala hal yang selama
ini dianggap wajar saja. Pada saat yang sama pula globalisasi semakin
dialami.

Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta Syarif Hidayatullah yang baru
dilantik dan editor buku itu, Komaruddin Hidayat mengatakan, di
tengah reformasi politik mari berbicara ke-Indonesia-an.

“Islam jangan diperhadapkan dengan Ke-Indonesia-an tersebut.
Indonesia merupakan proyek bersama ke depan dan tidak perlu di
kapling-kapling. Buku ini juga lahir dari keprihatinan bagaimana agar
Islam dijadikan aset bangsa,” katanya. (INE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: