Hentikan Dikotomi Islam dan Nasionalisme

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0610/23/Politikhukum/3048537.htm
===========================

Jakarta, Kompas – Islamisme masih sering disalahpahami dan
didikotomikan dengan nasionalisme. Padahal, dikotomi ini merupakan
cacat sejarah yang harus diselesaikan agar bangsa ini bisa berjalan
maju.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din
Syamsuddin dalam ceramah silaturahmi dan buka puasa bersama Presidium
Persatuan Alumni (PPA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)
dengan tema “Islamisme dan Nasionalisme” di Jakarta, Jumat (20/10)
malam. Acara itu dihadiri sesepuh GMNI Taufik Kiemas, Ketua Dewan
Pertimbangan PPA GMNI Siswono Yudohusodo, dan Ketua Dewan Pakar PPA
GMNI TB Silalahi.

Islamisme, menurut Din, sudah menjadi fokus perhatian Bung Karno
sejak tahun 1926. Bahkan, Soekarno sebenarnya merupakan pemikir
Muslim besar pada saat itu. Kebesarannya tak kalah dengan pemikir
Islam abad XX di Mesir atau Afrika. “Sayang, pemikiran keislaman itu
tidak berkembang,” ujarnya.

Bahkan, Universitas Muhammadiyah Jakarta pernah memberi gelar doktor
kehormatan bidang ilmu Tauhid. Dan penghargaan ini belum pernah lagi
diberikan kepada pemikir Islam Indonesia. Menurut Din, banyak
pemikiran Bung Karno tentang kehidupan kebangsaan yang salah
dipahami, termasuk islamisme dan nasionalisme. “Nasionalisme di sini
adalah nilai kebangsaan yang luas, bukan cuma kesukuan, agama, tetapi
nasionalisme berdasar universalisme,” katanya.

Selain memecahkan dikotomi nasionalisme dan islamisme dan relasi
sosial politiknya, Din juga menekankan perlunya menyelesaikan
ganjalan dalam relasi Islam dan Kristen serta relasi dengan etnis
Tionghoa.

Sebelumnya, Siswono mengatakan, islamisme dan nasionalisme tidak
perlu dipertentangkan. Pasalnya, banyak tokoh nasionalisme yang
sangat islami, dan tidak sedikit tokoh nasionalis yang tidak kalah
agamaisnya.

Apa pun suku dan agama di Indonesia, menurut Siswono, harus memiliki
sikap sebagai nasionalis. Bangsa ini harus bisa membangun
kemandiriannya. “Saat ini banyak kekayaan alam kita yang dikeruk
perusahaan asing,” ujarnya.

Silalahi mengatakan, kalau nasionalisme sudah luntur, bangsa ini akan
runtuh. “Dan kita tentunya tidak ingin bangsa ini hancur,” ujarnya.
(MAM)

2 Comments

  1. sukri said,

    November 28, 2008 at 6:40 am

    Salam kenal,
    Sy ingin bermaksud mendapat informasi dan membangun jaringan.sy skrg sdg aktif di PB HMI.Tks

  2. sukri said,

    November 28, 2008 at 6:46 am

    Sy kira gagasan Islam dan Nasionalisme adalah sesuatu hal yang perlu dikembangkan dari politik identitas menjadi politik imperium global yang mampu menjawab tantangan global yang tidak adil dan civic culture.
    Barang dari modal sosial Indonesia yang mempunyai lokalitas yang beragam sampai pada pertautan agama dan politik yang bercermin pada sosialisme profetik.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: