Indonesia Kini dan Indonesia Esok

Oleh Budiman Tanuredjo
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0605/03/Politikhukum/2626508.htm
———————————–

Indonesia sekarang dan juga Indonesia esok tak bisa dilepaskan dari
perjalanan delapan tahun reformasi, atau bahkan Indonesia 50 tahun
lalu. Kemampuan mendesain masa depan bangsa ikut juga ditentukan oleh
sejauh mana bangsa ini mampu mengidentifikasi “kebenaran” masa lalu
untuk membangun sebuah masa depan.

Sebagaimana dikatakan sejumlah filsuf: kalender hanyalah pagar yang
ditancapkan pada waktu. Perjalanan sejarah bangsa adalah sebuah
kontinuitas, meskipun tetap mungkin saja terjadi patahan atau
diskontinuitas sejarah.

Indonesia sekarang ini tak bisa dilepaskan dari arus perjalanan
bangsa delapan tahun lalu, ketika gerakan reformasi memaksa Presiden
Soeharto turun dari kekuasaan dan menyerahkan kekuasaan kepada Wakil
Presiden BJ Habibie. Transisi politik Indonesia yang bercorak
transplacement dalam kategori Huntington juga ikut menentukan
perjalanan transisi, berbeda dengan corak replacement yang dianut
Yunani dan Argentina.

Transplacement adalah sebuah transisi di mana terjadi perundingan
antara kelompok Orde Baru dan kelompok reformis. Tak ada garis tegas
yang membedakan antara Orde Baru dan kelompok reformasi. Ini berbeda
dengan corak replacement saat peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke
Orde Baru. Saat itu, Soeharto meletakkan garis pemisah yang tegas
antara kelompok Orde Lama dan Orde Baru. Partai Komunis Indonesia
(PKI) bukan hanya tak boleh ikut dalam proses politik, tetapi
dibubarkan dan tak mempunyai hak hidup lagi di bumi Indonesia.

Perubahan kelembagaan politik tak bisa dilepaskan dari keputusan
politik MPR untuk mengubah UUD 1945. Perubahan cara pemilihan
pemimpin di pusat maupun di daerah juga tak bisa dilepaskan dari
perubahan konstitusi itu. Perubahan konstitusi menjadi puncak sejarah
yang ikut menentukan perubahan sejarah bangsa Indonesia.

Munculnya komisi negara (state auxiliary body) didasari pada sebuah
semangat ketidakpercayaan pada unsur negara. Karenanya, unsur
masyarakat direkrut untuk menjalankan tugas negara. Namun dalam
perkembangannya, di tengah sebuah kepemimpinan politik yang lemah dan
tak ada cetak biru sistem ketatanegaraan, komisi terus lahir dengan
dasar hukum yang berbeda dan dengan kewenangan yang bisa saja saling
tumpang tindih. Improvisasi dan akomodasi menjadi prinsip.

Kekuasaan kehakiman beranak pinak. Setelah Soeharto jatuh, muncul
Pengadilan Niaga yang terbit atas desakan Dana Moneter Internasional,
kemudian muncul Pengadilan Hak Asasi Manusia, lalu Pengadilan
Hubungan Industrial untuk mengadili sengketa perburuhan. Entah
pengadilan apa yang muncul lagi karena masih ada tuntutan membuat
Pengadilan Agraria.

Jack Snyder dalam buku Dari Pemungutan Suara ke Pertumpahan Daerah –
Demokratisasi dan Konflik Nasionalistik (2003) mengutarakan,
demokrasi tak selalu menguntungkan elite politik. Ada yang
diuntungkan, ada yang tidak diuntungkan. Kelompok yang merasa
diuntungkan akan mendukung proses, sementara yang tidak diuntungkan
akan menghambat.

Arief Budiman, yang memberikan pengantar buku itu, paling tidak
menyarikan empat nasionalisme Snyder. Apa yang dikatakan Snyder,
paling tidak, memberikan gambaran: demokratisasi adalah sebuah proses
yang tidak mudah. Dalam ruang terbuka bernama demokrasi, akan muncul
elite politik atau para demagog yang menggunakan sentimen
nasionalisme. Ia membagi menjadi nasionalisme sipil ketika elite
politik tidak terancam oleh proses demokratisasi, dan kelembagaan
negara yang ada sudah cukup kuat. Nasionalisme SARA adalah ketika
solidaritas dibangkitkan berdasarkan persamaan budaya, bahasa, agama,
dan sejarah.

Nasionalisme revolusioner merupakan usaha untuk mempertahankan suatu
perubahan politik yang melahirkan rezim baru yang dianggap lebih baik
dari rezim sebelumnya. Ini terjadi ketika Orde Baru mendobrak Orde
Lama, Orde Baru dikategorikan sebagai nasionalisme revolusioner.
Sedangkan nasionalisme kontrarevolusioner adalah upaya membangun
solidaritas untuk mempertahankan kelembagaan negara yang ada terhadap
berbagai perubahan.

Menggunakan pendapat Snyder, demokratisasi memang akan ditandai
dengan “persaingan antarkelompok rakyat” (popular-rivalries)
dan “propaganda elite”. Kondisi itu pula yang sebenarnya sedang
terjadi di Indonesia. Dalam perjalanan menuju negara dengan demokrasi
matang itu pulalah terjadi persaingan antarkelompok rakyat. Elite
politik menawarkan ideologi lain. Nasionalisme SARA dikorbankan.

Kegalauan

Dalam sebuah percakapan dengan direksi perusahaan di Jakarta pekan
lalu, terungkap kegalauan mereka atas keadaan bangsa Indonesia saat
ini. Mereka mempertanyakan ke mana bangsa Indonesia ini dibawa.

Kegalauan akan keadaan rasanya banyak dijumpai dalam beberapa
pertemuan informal. Proses demokratisasi kadang memberi harapan,
namun kadang pula menyebarkan kecemasan. Publik cemas menyaksikan
proses pilkada Tuban yang berakhir anarki. Namun, perasaan publik
terobati ketika unjuk rasa buruh memperingati Hari Buruh
Internasional, yang dikabarkan akan rusuh, justru berjalan damai.

Ke mana Indonesia akan menuju? Pada era Orde Baru—terlepas berbagai
kelemahan dalam strategi pembangunan—ada tahapan pembangunan Rencana
Pembangunan Lima Tahun hingga Rencana Pembangunan Jangka Panjang. Ada
pula Garis-garis Besar Haluan Negara.

Sekarang? “Going no where,” ucap salah seorang direktur. Setelah
berdiskusi ke sana kemari, ada dua faktor yang berhasil
diidentifikasi: faktor kepemimpinan dan ideologi. “Kita punya
Pancasila, tapi sudah tak banyak dibicarakan,” ucapnya.

Terasa mengejutkan ketika kata Pancasila justru muncul dari
pengusaha. Beberapa hari kemudian ideologi Pancasila kembali diangkat
mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Ma’arif dalam acara di
Gedung Cawang Kencana, Jakarta, 27 April 2006.

Syafii membawakan makalah bertajuk “Indonesia: Mengapa Belum Juga
Bangkit?”. Ia memaparkan kondisi bangsa Indonesia dan mengapa itu
semua terjadi. Jawabannya: nilai luhur Pancasila telah
dikhianati. “Pancasila sudah jarang disebut sejak delapan tahun
terakhir, jangan diartikan bahwa filosofi ini ingin diganti dengan
yang lain. Sama sekali tidak,” ucapnya.

Diskursus Pancasila menghilang dalam pemberitaan media massa.
Misalnya, dengan menggunakan kata kunci Pancasila kita bisa
mengetahui ada 89 kata Pancasila—dalam berbagai format dan konteksnya—
yang tertera dalam berita Kompas sepanjang tahun 2005. Sementara pada
tahun 1998 terdapat 156 kata Pancasila, tahun 1999 (92), tahun 2000
(69), tahun 2001 (75), tahun 2002 (37), tahun 2003 (78), dan tahun
2004 (89).

Pendekatan kultural mungkin menarik untuk melihat kondisi Indonesia
sekarang. Lawrence E Harrison dan Samuel P Huntington dalam buku
Culture Matters (2000) memberikan gambaran penting kultur dalam
hubungannya dengan kemajuan sebuah bangsa. Keduanya melukiskan
kondisi Korea Selatan dan Ghana pada awal tahun 1960. Ghana dan Korea
Selatan mempunyai indikator ekonomi yang sama, di antaranya GNP.
Namun, tiga puluh tahun kemudian Korea Selatan telah berubah menjadi
negara industri raksasa. Akan tetapi tak ada perubahan signifikan di
Ghana. Huntington mengatakan, kunci perubahan di Korea Selatan adalah
adanya nilai penghematan, kerja keras, investasi, pendidikan, dan
organisasi. Sementara nilai itu tak ada di Ghana.

Nilai tampaknya menjadi satu hal yang penting. Tocqueville dalam buku
Democracy in America menyebutkan, salah satu faktor penting dalam
menjadikan demokrasi di Amerika berjalan adalah budi pekerti. Budi
pekerti diberi makna sebagai kumpulan sifat moral dan intelektual
dari manusia sosial.

Belum usai

Transisi demokrasi belumlah usai. Direktur Wilayah The Asia
Foundation untuk Kajian Islam dan Pembangunan Robin Bush melihat
proses demokratisasi berjalan baik. Ia mengagumi proses itu karena
dalam kurun waktu delapan tahun Indonesia mulai memasuki arena
demokratisasi yang makin dewasa. Kenyataan bahwa saat ini sebagian
besar masyarakat masih belum dapat merasakannya, Robin melihat bahwa
persoalan yang dihadapi Indonesia sangat banyak (Kompas, 19/4).

Perspektif senada disampaikan aktivis politik Bara Hasibuan. “Di mana
pun transisi tak bisa cepat. Banyak tantangan yang dihadapi. Apalagi
dengan karakteristik Indonesia saat Soeharto jatuh, fondasi
demokrasinya rapuh,” ujarnya.

Setelah Pemilu 2004 Indonesia sudah punya konstruksi politik yang
lebih mantap. “Kita mempunyai rule of the game dalam politik,” ujar
aktivis yang pernah menjadi fellowship di Kongres AS itu.

Memang problem besar yang dihadapi pemimpin transisi adalah mengelola
tingginya ekspektasi rakyat akan perubahan. Perubahan bukan hanya
pada level kelembagaan politik, tetapi perubahan akan nasib hidup.

Kesadaran akan penyelamatan demokrasi haruslah menjadi kesadaran
bangsa. Beberapa ilmuwan politik seperti dikutip Snyder merumuskan
demokrasi terkonsolidasi paling tidak setelah “dua kali pergantian
kekuasaan” (two turnover rule). Artinya, demokrasi dianggap
terkonsolidasi apabila kekuasaan sudah dua kali pindah tangan melalui
sebuah proses pemilihan umum. Akan tetapi ada pula yang mengatakan,
demokrasi terkonsolidasi apa elite politik menempatkan pemilu sebagai
arena permainan satu-satunya. Artinya, regularitas dan periodisitas
pemerintahan menjadi salah satu faktor kunci. Tapi itu semua
dihadapkan pada ketidaksabaran publik akan beratnya beban kehidupan.

Bagi Syafii, kekurangan bangsa Indonesia terutama terjebak pada
kenyataan sukarnya kita menemukan tipe pemimpin yang mau berjibaku
dan membela bangsa dan negara yang masih dirundung malang. Situasi
sekarang sangatlah tidak normal, demokrasi yang sedang berjalan
adalah demokrasi setengah liar ditambah kebanyakan politisi yang
tidak bertanggung jawab. Figur pemimpin amatlah menentukan untuk
mengendalikan demokrasi setengah liar.

Politik membutuhkan prinsip. Politik membutuhkan keutamaan dalam
bersikap. Namun, politik juga menuntut konsistensi antara ucapan dan
kenyataan, bukan sebuah politik bunglon.

Untuk menatap Indonesia esok, masa-masa sulit sekarang ini harus
dilalui. Untuk itu, perlu hadir pemimpin yang bisa mengajak duduk
bersama semua komponen bangsa untuk membicarakan masalah bangsa
secara tajam dan komprehensif untuk menatap Indonesia esok.

2 Comments

  1. heru subagyo said,

    October 2, 2007 at 4:28 am

    cari pemimpin yg kompeten utk menghadapi kondisi bangsa saat ini dan yg memiliki kesolehan sosial yg tinggi serta tegas memiliki leader ship. nasionalimenya tdk diragukan. orientasi kpd kepentingan rakyat. untk anggota DPR partai2 harus memperbaiki system rekrutmet yang tepat jangan asal bisa kasih duit kepartainya akhirnya dapat orang2 yg kwalifikasinya rendah sekali sekedar cari hidup dan status sebagai wakil rakyat rusak rek negoro nek pemimpine koyok ngene terus sakno anak cucu kita……ok

  2. September 24, 2008 at 12:32 am

    Tulisan yang sangat baik dibaca kawula muda dan bagi setiap orang yang ingin perubahan.

    AS sekarang tengah dilanda krisis yag luar biasa, Lehman Brothers tumbang, Namun ada suatu hal yang fenomal dengan tampilnya kandidat Presiden Barrack Obama. Beliau dalam salah satu media disudutkan karena pernah bersekolah di Indonesia. Indonesia bukan satu-satunya tempat kita untuk jadi tempat mendiskusikan begitu banyaknya persoalan, namun hal yang perlu kita lakukan adalah perubahan.

    Dari sekian banyak know how dalam mental transformation, yang pertama dan yang utama kita harus kembali mengenali siapa diri kita dan hakikat penciptaan, sehingga jawabannya bagi yang beragama Islam kita harus mengkaji dan mulai mencitai sang Pencipta, Allah SWT, sehingga untuk melakukan perubahan segalanya akan semakin muda dalam konteks hakiki. Kedua saya ada tools yang anda silahkan baca di web saya http://www.sukseskoe.com

    Tulisan ini untuk menggunggah perubahan yang memang harus segera dan semestinya dimulai dari diri kita dstnya hingga kepada Nation. Salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: