Insinyur Pembentuk Bangsa

Oleh Nirwan Ahmad Arsuka (Editor Tamu Bentara Kompas)
=================================================
THE Arcades Project (Cambridge: Belknap/Harvard, 1999), karya Walter
Benjamin yang terentang hampir 1.000 halaman itu, disebut oleh
beberapa pihak sebagai salah satu upaya terbesar di abad ke-20 dalam
memahami “Sejarah”. Ada yang bahkan menyebut kitab cantik montok ini
sebagai upaya terbesar di antara semua telaah atas salah satu
pengertian paling fundamental dalam 2.500 tahun perkembangan dunia:
sebuah pengertian yang lahir bersama kesadaran akan hubungan antara
manusia yang terbatas dengan arus waktu yang tak-terbatas.
Pengertian yang tumbuh menjadi begitu berpengaruh dalam membentuk
kenyataan dunia dalam tiga abad terakhir.

DENGAN mengambil banyak ilham dari berbagai sumber, terutama Marcel
Proust dan Martin Heidegger, Rudolf Mrazek-pakar sejarah modern Asia
Tenggara, khususnya Indonesia, yang lahir di Ceko lalu hijrah ke
Amerika-melakukan upaya yang mirip kerja Benjamin. Upaya Mrazek ini
tertuang dalam karya mutakhirnya yang kini sedang diindonesiakan,
Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in A Colony
(Princeton: Princeton University Press, 2002).

The Arcades Project memulung reruntuhan dan menghadirkan ulang Paris-
Ibu Kota Dunia Abad ke-19-yang sudah silam dan dengan itu menyajikan
tafsir sekaligus kepingan impian sebuah benua, sebuah zaman. Mrazek
menelisik Indonesia di masa-masa akhir penjajahan Belanda dan dari
sana menyajikan sebuah alternatif menarik dalam mengaji bangsa,
identitas dan kebudayaan di abad ke-20. Jika The Arcades Project-
karena disabot oleh Perang Dunia II-hanya sempat tampak seperti
catatan atas sejumlah buku ketimbang sebuah buku utuh, Engineers of
Happy Land adalah buku yang punya cukup waktu untuk jadi komposisi
yang bagus dengan struktur dan bentuk penulisan yang tampak benar
dipikir matang.

Mrazek menata Engineers dalam enam bab besar. Bab pertama dengan
tajuk “Bahasa sebagai Aspal” adalah tentang teknologi perpindahan
dan penyebaran, pergerakan dan percepatan. Dibuka dengan cerita
tentang Ekspedisi Siak yang berangkat pada 13 Februari 1891, bab ini
menghadirkan berbagai panorama pemisahan diri manusia dari alam yang
tenang dan sentosa, dari kaki-kaki telanjang yang beranjak berat
menjejak lumpur ke kaki-kaki yang melangkah maju dan roda-roda yang
berputar pesat di atas aspal dan rel. Kaki yang melesak ke dalam
lumpur mungkin memang kaki yang lebur dalam haribaan alam. Namun,
kaki yang kedualah, yang berpisah dan tak bersentuhan langsung
dengan tanah yang mentah, kaki yang akhirnya menggerakkan manusia
membebaskan diri.

Bagi para pembaca Jacques Lacan, pemisahan diri dari alam ini dapat
dilihat sejajar dengan fase Oedipal dalam perkembangan diri manusia,
fase pamungkas yang mekar ketika si anak menghadapi kastrasi untuk
berpisah dari ibunya untuk menjadi subyek yang mandiri. Berangkat
dari Padang Pandjang, Ekspedisi Siak yang langkah awalnya dibuka
dengan kata madjoe itu adalah ekspedisi untuk meninjau wilayah
perawan di balik cakrawala yang di tubuhnya akan direntangkan rel
sampai ke pantai timur Sumatera. Memang ekspedisi yang dipimpin Dr
Jan Willem Ijzerman, pemrakarsa sekolah tinggi teknik satu-satunya
di Hindia Belanda (ITB) ini, bisa dilihat sebagai bagian dari kerja
kapitalisme dan kolonialisme untuk menyedot sumber daya sampai ke
wilayah yang tak terjangkau. Namun, bagi Raden Adjeng Kartini, dan
bagi banyak orang yang melihat dunia tradisional mereka sebagai
dunia yang kandas dan menindas, rel-rel logam dan aspal yang
menembus kaki langit adalah jalan untuk berpindah ke dunia yang
lebih baik.

Jalan raya beraspal dan jaringan rel besi hanyalah salah satu sarana
transportasi yang ada. Sarana yang lain adalah bahasa. Jika jalan
beraspal dan rel besi membantu perpindahan tubuh dan persebaran
bahan, bahasa membantu perpindahan gagasan dan persebaran cita-cita.
Persentuhan dengan aspal dan rel kereta api-alat transportasi paling
modern dan paling perkasa waktu itu-yang menembus masuk jauh ke
horizon memang memungkinkan manusia berpindah secara spasial. Namun,
hanya bahasa yang memungkinkan manusia, meski tak secara fisik
berpindah secara temporal, bergerak ke masa silam dan masa depan
sembari menyatukan serpihan kenyataan yang tampak saling tolak.

Dengan berbagai kelokan dan lompatan yang penuh kejutan, Mrazek
menyeret kita melihat keharusan bahasa Indonesia berjuang menjadi
sarana transportasi yang baik, yang keras dan bersih. Itu artinya
mengubah dan menumbuhkan bahasa Indonesia dari setapak berlumpur
yang disesaki “kata-kata penuh atmosfer” menjadi jaringan jalan
beraspal dan rel kereta yang disusun dari potongan kata dan kalimat
yang punya pengertian jelas, pejal, dan tepat.

Dalam upaya besar membentuk bahasa Indonesia sebagai senjata
perlawanan dan pemerdekaan diri, sekaligus harga yang harus dibayar
untuk cita-cita itu, Mrazek menelisik berbagai dokumen yang merekam
pemikiran-dan pengorbanan-sejumlah tokoh. Mulai dari Mas Marco
Martodikromo, jurnalis dan penulis modern pertama Indonesia, sampai
ke Soesilo, intelektual muda cemerlang yang kini sudah dilupakan. Di
tangan merekalah antara lain jaringan rel dan jalan beraspal modern
yang dibangun Belanda kelak jadi jaringan pembuluh nadi dan arteri
dari gerakan kebangsaan. Di atas jalan beraspal dan rel-rel besi itu
kata-kata Belanda bertemu dan bertabrakan dengan kata-kata Melayu,
cikal bakal bahasa Indonesia. Pertemuan itu menghasilkan banyak hal,
bukan hanya pelbagai bentuk perlawanan dan pembebasan.

DI ujung dorongan untuk berpindah dan menyebar adalah dorongan untuk
menetap dan bermukim. Bab ke-2 dipersembahkan Mrazek untuk teknologi
arsitektur dan tata kota. Membaca bab ini kita kian mengerti mengapa
moto Nationale Indische Partij berbunyi: Hindia Belanda adalah untuk
mereka yang berkehendak terus tinggal di sana. Partai politik
pertama di Nusantara ini berdiri memperjuangkan persamaan yang tak
memandang warna kulit, keadilan sosial-ekonomi, dan kemerdekaan
penuh atas kerja sama masyarakat Eurasia-Indonesia. Dengan segera
partai ini menarik sekitar 6.000 orang Indo (hampir sepertiga jumlah
anggota), terutama mereka yang menolak ikut dalam persaingan yang
kian keras dengan banyak Belanda totok yang hendak pulang ke Eropa
setelah kariernya di Hindia Belanda berakhir.

Bab ke-2 yang diberi tajuk “Menara-menara” ini dibuka dengan
sejumlah kutipan dan citra tentang menara yang menjulang ke langit,
tapi yang berfungsi sebagai jangkar, yang mengikat manusia dengan
dasar-dasar kebudayaan yang paling dalam. Menara-menara seperti ini
memang banyak berdiri di Eropa, tapi tidak di Hindia Belanda. Menara-
menara di Hindia Belanda justru menandai ketiadaan perasaan berlabuh
di suatu tempat-menara-menara itu ditegakkan untuk memudahkan orang
berpindah. Di tanah jajahan itu banyak orang datang dan tersingkir
ke sana bukan untuk menetap dan menumbuhkan akar tunggang, tapi
untuk sekadar singgah dan lewat dengan harapan untuk kembali tiba di
Eropa. Mereka ini tak pernah benar-benar menganggap Hindia Belanda
sebagai Tanah Air yang sesungguhnya meski mereka mungkin juga
mencintainya.

Willem Walraven adalah jurnalis Belanda yang menulis tentang orang-
orang kulit putih di Hindia Belanda yang hidup bagaikan
kerumunan “lalat di permukaan susu” (halaman 65). Tulisan Walraven
ini, dan sejumlah dokumen yang dikumpul, “digelitik dan diajak
ngobrol” oleh Mrazek memberi penjelasan tambahan tentang akar
historis arsitektur dan tata kota Hindia Belanda yang dibangun buat
keinginan untuk tinggal berlibur senikmat-nikmatnya, berteduh
sementara sambil berkelompok memisahkan diri dari dunia luar. Karena
sebagian besar orang Eropa yang ke Indonesia adalah pelintas, yang
hidup bagai tamu hotel, maka arsitektur berkembang jadi teknologi
yang berupaya agar gaya hidup dalam perjalanan, dalam transisi ini,
menjadi senyaman mungkin. Sementara mereka yang menetap menggunakan
arsitektur untuk membangun rumah bagaikan benteng pertahanan. Mereka
menjadikan kubu mewah dan kukuh ini sebagai unit-unit yang
swasembada, dilengkapi dengan pendingin udara dan listrik serta
menara air yang membuat mereka tak tergantung dan tak terganggu oleh
dunia luar, oleh atmosfer kolonial.

Bersisian dengan arsitektur adalah irigasi. Mula-mula irigasi
dibangun sebagai solusi untuk soal-soal agraria, tapi kemudian
berkembang menjadi soal tata kota dan urbanisasi. Dalam irigasi
kolonial, bukan hanya air bersih dan lumpur yang harus diatur, tapi
juga sperma yang tak boleh menyebar bebas mencemari kemurnian ras
kaukasia. Rasialisme yang berakar pada sejenis ketakutan dan
ketakpercayaan akan yang lain (the other) memang menuntut teknologi
tentang bagaimana berada di seberang lautan, di pantai yang asing,
tanpa harus merasakan-apalagi terganggu dan terpaksa menyesuaikan
diri dengan-keasingan itu.

Jika hunian kaum kulit putih dibangun untuk mempermudah perpindahan,
rumah yang tak ingin menumbuhkan akar (kecuali akar tempel dan
pencekik), maka rumah kaum pribumi menjadi hunian yang kehilangan
akar. Setidaknya begitulah yang dilihat oleh Ki Hajar Dewantara
sebagaimana dikutip Mrazek: Mereka kehilangan roch kebangsaan
merdeka dan cita-cita mereka sendiri mati. Kini mereka hidup seakan
menumpang di hotel orang lain, dan puas hanya dengan memperoleh
makan enak dan tidur nyenyak. Arsitektur dan tata kota yang buruk
ini memang buah dari masyarakat yang tak punya cukup homogenitas,
tanpa kepastian-kepastian minimal yang di atasnya bisa dibangun
sesuatu yang kukuh, indah, dan terbuka. Sungguh menarik bahwa dengan
segala persoalan berat ini, ada segelintir bule yang mengatasi
prasangka piciknya dan bermimpi membentuk komunitas padu, modern,
dan merdeka. Hendrik Freek Tillema menciptakan neologi untuk
komunitas yang dicita-citakannya: Kromoblanda.

Judul bab ke-3 diambil dari judul buku kumpulan surat-surat Kartini.
Bab ini mengulas teknologi yang membantu kerja indra penglihatan
manusia. Teknologi optik dan kaca, juga fotografi dan daktiloskop,
serta perluasan jaringan lampu listerik, semua ini tak cuma
menawarkan keluasan penglihatan, tapi juga kedalaman penyelidikan.
Kegelapan dan kekaburan yang dulunya abadi mulai terusir bersama
datangnya perspektif dan sudut pandang baru. Keinginan untuk melihat
secara lebih tajam dan terang benderang ini dibuka dengan kupasan
empat buah buku yang terbit di Hindia Belanda.

Buku pertama adalah karya RA van Sandick, In het Rijk van Vulcaan:
de uitbarsting van Krakatau en hare gevolgen (Di Kekaisaran Vulkan:
Ledakan Krakatau dan Akibat-akibatnya). Dari bestseller yang
bercerita tentang kegelapan dan bencana yang menyelimuti Nusantara
akibat letusan gunung vulkanik itu, Mrazek masuk ke bestseller lain
karya F Wiggers, Fatima. Thriller ini mengisahkan pembunuhan seorang
janda kembang, tetapi Mrazek lebih banyak memumpunkan perhatian pada
kehadiran cahaya dalam pencegahan kejahatan dan pengungkapan kasus
pembunuhan tersebut. Dua buku lain yang bukan bestseller, tapi
dianggap gema dari zaman yang menjelang tiba, diangkat Mrazek
selanjutnya. Buku-buku itu adalah novel Louis Couperus, De Stille
Kracht (Daya yang Sembunyi) dan buku Kartini, Door duisternis tot
licht, yang lebih terkenal sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang.

Harapan dan obsesi terhadap cahaya memperlihatkan perwujudan yang
ganjil dalam masyarakat kulit putih di Hindia Belanda. Pemerintah
kolonial memang membangun jaringan tenaga listrik. Namun, karena
ditata menurut standar Eropa yang paling sempurna dan mewah untuk
membentengi kenyamanan kaum kulit putih, dan tidak disesuaikan
dengan kondisi demografis koloni itu, tarif listrik di Hindia
Belanda menjadi yang paling mahal di seluruh planet Bumi.

Bukan hanya cahaya yang memperjelas penglihatan manusia, tapi juga
binokuler, teleskop, dan teodolit. Dengan perangkat-perangkat optik
ini, orang-orang di Hindia Belanda melihat dunia dan dirinya,
sekaligus mengukur dan memetakannya. Kadang-kadang mereka memetakan
dunia secara surealistik, mendahului kaum pembaharu di Benua Eropa.
Sejumlah orang di Hindia Belanda, karena terpukau oleh kekuatan
teknologi optik, mencoba juga menjangkau kekuatan itu dengan cara
yang lucu. Mereka memasang di parasnya kaca mata palsu yang justru
bisa merusak mata. Namun, yang paling layak catat adalah
digunakannya teknologi optik bersama berbagai teknik perekaman untuk
tak hanya memperluas penglihatan, tetapi terutama memperkuat
pengawasan. Hindia Belanda pun berubah jadi sebuah Rumah Kaca, di
mana penguasa bahkan bisa menyidik dan mengintip masuk ke palung
sukma kaum pribumi.

DORONGAN untuk terlihat lebih baik, sekaligus menyatakan diri lebih
terang benderang, adalah benang merah Bab ke-4: “Kaum Dandy
Indonesia”. Bab ini menyajikan kajian segar tentang bagaimana
penduduk Hindia Belanda mendandani dirinya, menyatakan diri
sekaligus membedakan diri dari yang lain. Pernyataan diri itu mula-
mula dikaji Mrazek lewat boneka. Sebuah koleksi yang terdiri dari
sekitar 150 boneka orang-orang pribumi yang dibuat oleh perempuan-
perempuan terhormat di Hindia Belanda dipersembahkan kepada Ratu
Belanda. Koleksi ini menghadirkan berbagai kelompok etnis dan
lapisan sosial. Mula-mula kaum pribumi, dalam hal ini senimannya,
perlu dibantu dalam merepresentasikan diri dan kaumnya. Seniman
pribumi ini piawai membentuk wayang: boneka berdimensi dua. Namun,
mereka tak terbiasa membuat boneka realistis berdimensi tiga.
Bantuan kaum kolonialis terhadap representasi kaum pribumi itu
berjalan bersamaan dengan miniaturisasi, inventarisasi dan
pengawasan, yang akhirnya diikuti oleh pendisiplinan Foucauldian
kaum pribumi.

Dari realisme boneka, Mrazek bergerak ke realitas berbusana kaum
kulit putih yang, selain mempertegas ketidaknyamanan mereka di
koloni ini, juga mempertegas keinginan mereka untuk membedakan diri.
Jika kaum pribumi berpakaian serba longgar dan tampak acak-acakan,
bahkan nyaris telanjang, kaum kolonial berbusana dengan ketat,
formal, dan serba putih seakan siap berperang. Mereka selalu tampak
siaga atas ancaman, baik dari wabah maupun pemberontakan. Busana
kaum kulit putih adalah busana yang menciptakan jarak dan hierarki.

Mode, kesadaran busana yang sangat sadar-waktu sebagai bentuk
pernyataan diri, mungkin memang berkerabat dekat dengan modernitas.
Di Hindia Belanda kesadaran berbusana itu sangat rapat dengan
bangkitnya nasionalisme dengan hasrat untuk sejajar dengan kaum
kulit putih sekaligus lepas dari cengkeramannya. Busana tokoh awal
pergerakan seperti Mas Marco dan tokoh-tokoh utama angkatan ’28
seperti Bung Karno dan Sjahrir menghadirkan semangat itu. Dengan
berubahnya dinamika politik kolonial dan naik turunnya pergerakan
kebangsaan, busana dan penampilan para tokoh juga berubah. Mrazek
mengikuti perubahan itu dan menghadirkan banyak cerita tentang
tubuh, aspirasi, dan pernyataan diri.

Jika bab ke-3 dan ke-4 berkait banyak dengan teknologi pengindraan
visual, bab ke-5 memusatkan diri pada teknologi pengindraan auditif,
pada kebutuhan untuk mendengar dan didengar secara lebih baik. Bab
berjudul “Mari Jadi Mekanik Radio” ini bergerak dari sejumlah hal
yang berkait dengan penyebaran suara, masuk ke bentuk-bentuk
teknologi komunikasi kabel dan nirkabel hingga kerinduan akan hening
ketika udara dibuat sesak dan cemar oleh suara-suara bising. Memang
pada mulanya ada semacam kebutuhan untuk menjadi saling dekat dengan
dunia luar, dengan Eropa. Hindia Belanda, betapapun, memandang dan
menyimak Barat-sumber modernitas sekaligus kecemasan mereka.
Sementara itu, Barat, khususnya Belanda, mengawasi dan memerintah
Timur, termasuk pulau-pulau di Nusantara, sebagai penjamin kejayaan
sekaligus sumber rasa tak nyaman mereka.

Ionosfer kolonial tak terelakkan menjadi medan pertarungan aspirasi
kolonial dan aspirasi kebangsaan. Seperti halnya rasa revolusi yang
mulai menggumpal, harapan dan luka dari pergerakan kebangsaan tak
hanya terkonsentrasi pada jalan beraspal dan rel kereta, tapi juga
melatu lewat jaringan nirkabel. Ionosfer itu sekaligus juga jadi
medan pertarungan antara kekuatan-kekuatan yang berhadapan di Eropa.
Ketika serdadu Nazi menduduki Belanda, aria-aria komposer besar
Jerman yang disiarkan di udara Hindia Belanda dengan heroik-atau
malah norak?-tak lagi dinyanyikan dalam bahasa Jerman.

Bab ke-5 ditutup dengan dua kutipan dari dua jurnal milik kaum
pergerakan: Kebudajaan dan Masjarakat, dan Soeloeh Indonesia Moeda.
Kutipan pertama berisi ajakan untuk menjadi ahli mekanik radio agar
bisa dengan fasih menyatakan diri ke kancah dunia. Kutipan kedua
berisi ramalan akan datangnya revolusi kemerdekaan di mana
imperialis terakhir-dibayangkan “tampak” bukan lagi dalam radio,
tapi benar-benar terlihat dalam televisi-tengah menggulung lapak
kolonialnya.

Bab terakhir berjudul “Hanya Si Tuli yang Bisa Mendengar Jernih”.
Bab ini berpusar pada tokoh yang tak jelas riwayatnya sebagai
insinyur, tetapi sangat lantang menggemakan modernitas dan
nasionalisme. Tokoh ini membangun kebangsaan Indonesia bukan dengan
perangkat mekanik, tapi dengan peranti linguistik: dengan novel,
cerita pendek, telaah, dan surat-surat. Pramoedya Ananta Toer jelas
bukan insinyur dalam pengertian akademik. Ia memang pernah bercita-
cita jadi insinyur teknik, tetapi pendidikannya mentok hanya sebagai
siswa Sekolah Teknik Radio di Surabaya.

Dalam riwayat Pram, dan kejadian-kejadian yang menimpanya di
pembuangan, Mrazek menghadirkan contoh hidup pergulatan sebuah
bangsa yang luka parah meraih kemerdekaannya. Kebesaran Pram memang
tak tumbuh dari keadaannya sebagai korban yang inosen, dengan
ingatan yang selektif, kepala yang mengeras dan telinga yang rusak
ditumbuk popor. Epilog ini membawa pembaca “melompat” ke masa kini,
ke masa senja Pram yang merenungkan gerak waktu; dan dengan itu
menerawang kembali seluruh bab sebelumnya, dari konsolidasi kolonial
hingga terbitnya kemerdekaan. Kali ini kemerdekaan spiritual.

Akhirnya memang dalam membangun bangsa, yang paling penting bukanlah
sains dan teknologi, tetapi sebuah jiwa yang merdeka dan penuh
martabat. Teknologi tentu tak bisa langsung merekayasa jiwa manusia,
tetapi ia bisa membantu jiwa yang merdeka itu: menjadi ekstensi dari
indra, otot, dan ingatan. Tanpa jiwa yang merdeka, teknologi hanya
menelurkan banyak hal yang menggelikan, juga menyedihkan, cerminan
pikiran dan sukma pemakainya. Rasa tak aman sekaligus tak nyaman
sebagian besar orang Eropa di Hindia Belanda membuahkan banyak
arsitektur, tata busana, atau jaringan lampu penembak cahaya yang
terlihat ganjil.

Kegamangan dan konservatisme kolonial, seperti halnya kegamangan dan
konservatisme politik-kultural sebagian besar mereka yang telah
merasakan kemerdekaan, membuat kemungkinan-kemungkinan teknologis
sungguh tak bisa sepenuhnya memerdekakan manusia. Penjajah Belanda
dan Jepang barangkali sudah hengkang, sudah gulung tikar. Namun,
ketaknyamanan, kegelisahan dan ilusi penguasa pribumi, kegagapannya
mengelola transformasi dan kekerdilannya mengurus organisasi besar
berskala-mereka menyebutnya-Indonesia Raya, membuat represi,
diskriminasi, dan perilaku fasis-otoriter yang dulu dikembangkan
Belanda dan Jepang kembali tampil di era kemerdekaan.

MRAZEK menata bukunya seperti seorang insinyur membangun sirkuit
terpadu: tiap bagiannya saling topang dan persambungannya
melambungkan pikiran. Atau, seperti penyair peka yang sadar akan
kekuatan ruang kosong di antara jejeran imaji yang sepintas tampak
tak saling kait. Dari bab pertama hingga ke epilog, Mrazek menyusun
berbagai kutipan dari surat-surat dan buku harian, esai-esai budaya,
pidato politik, novel, puisi, lirik lagu, lukisan, laporan surat
kabar, dan potongan iklan di atas latar waktu yang bergeser linier
dari masa akhir abad ke-19 sampai ke pertengahan dan ujung abad ke-
20. Dengan tebaran fragmen seperti konstelasi bintang di langit,
buku ini adalah tenunan berlapis yang menghadirkan sekaligus
realitas politik, kultural, dan psikologis di Hindia Belanda.

Para sejarawan yang pernah membongkar data tentang Indonesia yang
berasal dari periode yang diteliti oleh Mrazek tentu tahu betapa
masih banyak yang belum disentuhnya. Namun, dengan yang “belum
banyak” ini, dengan buku seramping 300-an halaman, Mrazek
menghasilkan karya yang sangat kaya dan kompleks hingga mustahil
diringkas tanpa memiuh dan merusaknya. Mrazek yang telah menyumbang
banyak kajian berharga tentang gerakan pembebasan sekaligus
pergulatan bangsa-bangsa di Asia Tenggara-dalam kepustakaan
berbahasa Indonesia, sumbangannya tersaji dalam telaah kehidupan
Sutan Sjahrir dan Tan Malaka-dengan menarik menunjukkan
betapa “Dunia” dan “Sejarah” memang bagian sangat penting dari
Indonesia, kelahiran dan kelangsungan hidupnya.

Selain membuyarkan tembok waktu dengan melonggarkan belitan dan
melapangkan arusnya hingga masa silam hadir di masa kini, Engineers
juga melantak tembok spasial dan menunjukkan bahwa persoalan
mendasar orang-orang di Eropa taklah jauh beda dengan persoalan
orang-orang di Indonesia. Jika kaum nasionalis di Hindia Belanda
gamang dengan diri dan masa silamnya, kaum kolonialis pun gamang
dengan dirinya, dengan kebangkrutannya sebagai negeri adidaya abad
ke-17, yang lalu dijajah Napoleon dan diinjak Hitler. Kebudayaan,
identitas, dan rasa bangsa di era kolonial-lanjut sungguh cerminan
jelas dari dinamika di tingkat global. Dorongan untuk merdeka dan
memberi jawaban tepat pada sejarah untuk mencerna kepungan kenyataan
asing yang membentangkan diri sebagai chaos sama saja di belahan
dunia mana pun. Karena itu, bukanlah hal yang aneh bahwa banyak hal
yang baru hendak meletup di Eropa, gerakan avant-garde misalnya,
gemanya sudah lebih dahulu mengiang di Nusantara.

Nasionalisme memang undercurrent buku ini, tetapi di bawahnya masih
mengalir arus lain yang lebih lebar, arus yang menegaskan bahwa di
samping serba perbedaan yang menyolok indra, manusia-di Barat maupun
di Timur, putih atau coklat-sungguh punya banyak persamaan.
Perbedaan manusia disebabkan justru oleh persamaan-persamaannya:
duri dan mahkota perbedaan itu rekah karena akar persamaan yang
mendasar-dorongan untuk hidup dan berkembang, to sense and make
sense the world-harus merespons konteks yang berbeda. Sekali
konteksnya diubah dan disepadankan, persamaan yang mendekam di dasar-
dasar antropologis umat manusia akan tampil terang benderang.

Perbedaan yang keras memang memungkinkan seseorang terbuang, tetapi
persamaan yang ada memustahilkannya untuk terasing selamanya.
Teknologi bisa sangat memperlebar solidaritas dan jalan melepaskan
diri dari lingkaran setan waktu sirkuler, dan kembali bersatu
mempertautkan diri dengan arus sejarah. Meski jalannya tampak serba
tak terduga, sejarah bersama teknologi sungguh telah membentangkan
sejenis kartografi tiga dimensi untuk membangun sebuah versi lain
Kromoblanda yang jauh lebih agung.

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0504/06/Bentara/1661652.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: