Kamu-kamu, Kita-kita…

Oleh Windoro Adi
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/08/Politikhukum/2711570.htm
————————————————-

Suasana membosankan dalam acara “Apel Kesetiaan Pancasila dan UUD
1945” di Gedung Juang, Jakarta, Rabu (7/6) siang, berubah jadi ceria
ketika Franky Sahilatua tampil dengan kelompok musiknya. Ada Tito
Sumarsono pada bas, Gatot pada gitar, George pada drum, Freddy pada
gitar akustik, dan putri-putri tetangga Freddy sebagai penyanyi
latar.

Franky pun menyanyi di sela sambaran koor para penyanyi latar nan
belia.

Minyak mahal, bangsa bayar utang. Listrik mahal, bangsa bayar utang.
Sekolah mahal, bangsa bayar utang. Berobat mahal, bangsa bayar utang.
Bangsa yang utang, koruptor yang makan. Yang miskin tambah miskin,
kita-kita-kita. Yang kaya tambah kaya, kamu-kamu-kamu.

Kota banjir bangsa bayar utang. Desa terendam, bangsa bayar utang.
Pengangguran tinggi, bangsa bayar utang. Busung lapar, bangsa bayar
utang…

Orang-orang yang sebelumnya hadir terpencar di sekitar Gedung Juang
lalu berkumpul menikmati lagu berirama samba itu, lagu-lagu bertema
kritik sosial. Lagu-lagu serupa ini sedang tenggelam oleh gelombang
pasang industri musik yang sedang doyan tema cinta gombal dan
cengeng. Apel ini diselenggarakan Paguyuban Nusantara Bangkit
Bersatu.

Franky mengaku, lagu tersebut memang mendendangkan ketidakadilan
global. “Saya buat lagu itu ketika ikut berunjuk rasa di Hongkong
bersama Federasi Serikat Petani Indonesia dan Global Justice
Institute, menentang Organisasi Perdagangan Dunia,” tuturnya.

Ia berpendapat sejumlah negara, termasuk Indonesia, terperangkap
dalam tarik-menarik dua kekuatan besar, Barat dan Timur. Barat
diwakili kekuatan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, sedangkan
Timur diwakili kekuatan negara-negara Timur Tengah.

Kalangan elite nasional pun terbelah menjadi kepanjangan dua
kekuatan. Walhasil, rakyat kebingungan. Sebagian ikut-ikutan menjadi
kepanjangan tangan para elite, sebagian lain terus kebingungan. Maka
meluncurlah lagu keempat di tengah suasana masih menunggu itu.

Kita bukan Barat, kita bukan Timur. Ada yang ke barat, ada yang ke
timur. Jangan termakan oleh perubahan. Jangan tinggalkan cita-cita.
Perlahan bangsa dibunuh oleh anak-anaknya sendiri. Lawan satu kata,
lawan satu kata, lawan anak bangsa…

Ketika musik berhenti, Abdurrahman Wahid memulai pidatonya. Para
pemimpin Indonesia, kata Wahid, gamang menghadapi arus deras
globalisasi. Mereka tidak berani bersikap tegas. Kedaulatan hukum
cuma jadi kata-kata slogan karena menghamba pada kepentingan politik
elite.

Ketidakmampuan para pemimpin membuat publik kehilangan kepercayaan
dan melakukan reaksi berlebihan berupa fundamentalisme dan
nasionalisme sempit. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika terkoyak-koyak.

Teror dan tindak kekerasan terjadi di mana-mana. Agama dijadikan
komoditas politik untuk memenangi pilkada atau pemilu, atau sekadar
membuat konstituen lupa akan lapar yang mendera.

Sementara itu, korupsi terus merajalela, menimbulkan ekonomi biaya
tinggi dan inflasi. Harga-harga melambung dan bla, bla, bla….

Abdurrahman Wahid mengimbau elite dan publik kembali ke Pancasila. Ia
mengingatkan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sudah
menjadi harga mati bagi bangsa Indonesia. Kemudian Franky melantunkan
lagu, “Pancasila Rumah Kita”.

1 Comment

  1. May 29, 2016 at 1:44 pm

    maju terus


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: