Karya, Manusia, dan Pandangan Hidupnya

Oleh Faruk
Pakar Sastra, Pengajar di Universitas Gadjah Mada
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0607/16/seni/2804829.htm
==============================

Saya sudah lama menduga, Putu Wijaya, sebagaimana yang ia nyatakan
dalam harian ini tanggal 11 Juni 2006 yang lalu, adalah pengagum
Pramudya. Saya melihat hal itu setidaknya dalam dua hal. Pertama,
pada kecerdasan dialog yang ada dalam cerita keduanya, konflik-
konflik yang keras dan tajam antartokoh dalam karya-karya mereka.
Kedua, saya bahkan melihat bayang-bayang Bukan Pasar Malam karya Pram
pada Telegram karya Putu Wijaya.

Kedua novel itu setidaknya sama-sama bercerita mengenai telegram
dengan suasana kecemasan yang terjadi ketika tokoh-tokoh dalam cerita
menerima sebuah telegram yang dikirim dari “kampung”. Kedua cerita
itu juga bercerita tentang sebuah perjalanan yang kemudian terjadi,
mengikuti apa yang diberitakan di dalam telegram itu.

Namun, tentu saja Putu berbeda dari Pram. Mungkin karena mereka
memang dua pribadi yang berbeda. Tapi, terutama mungkin pula karena
mereka memang hidup dalam dua masa yang berbeda, mempunyai pengalaman
sosial, kultural, dan kesenian yang berbeda pula. Putu yang dekat
dengan Rendra, yang menulis pada tahun 1970-an, ketika sastra
Indonesia penuh dengan eksperimentasi estetik, melahirkan Telegram
yang lain sekali dari Pram.

Bukan Pasar Malam memperlihatkan realisme yang kuat, sedangkan
Telegram cenderung pada pengaburan batas antara realitas dan
imajinasi. Karya Pram itu berpusat pada persoalan sosial ekonomi
ketika manusia dihadapkan pada batas tuntutan yang hidup yang ada
pada batas survival, yang dapat menempatkan manusia kehilangan
kesetiakawanannya. Karya Putu di atas memusatkan perhatian pada
persoalan psikologis, ketika lapar bukan lagi menjadi masalah bagi
manusia.

Hanya saja, saya pun sebenarnya telah lama berpikir bahwa kesukaan
Putu pada Pram itu merupakan hal yang secara kultural amat logis.
Memang, Pram orang Jawa dan Putu orang Bali. Dan kedua kebudayaan
tersebut, meskipun mungkin memperlihatkan pertalian historis yang
kuat, sesungguhnya amatlah berbeda jika tidak dapat dikatakan
bertentangan sama sekali.

Kebudayaan Jawa adalah kebudayaan yang sudah diluluhlantakkan oleh
kolonialisme Belanda selama berabad-abad, sedangkan kebudayaan Bali
adalah kebudayaan yang relatif masih utuh karena persentuhannya
dengan kolonialisme Belanda tidak sampai satu abad. Kebudayaan Jawa
adalah kebudayaan yang begitu cair sebagai akibat persentuhannya
dengan begitu banyak manusia dan kebudayaan yang berbeda seperti
India, Islam, China, Belanda, Melayu, dan sebagainya, sedangkan
kebudayaan Bali merupakan kebudayaan yang relatif stabil akibat
posisinya yang relatif terisolir dalam waktu yang lama.

Namun, ada yang membuat keduanya bisa menjadi serupa. Pram bukan
orang Jawa biasa. Pertama, Pram berasal dari kultur Jawa “Samin”,
sebuah kebudayaan yang memang sejak awal menolak kebudayaan Jawa yang
hegemonik. Kedua, dari segi diri pribadinya, setidaknya sebagaimana
yang tampak dalam sejarah hidup dan karya-karyanya, Pram benar-benar,
secara mendarah-daging, menolak dan berusaha keras untuk tidak
menjadi orang Jawa dengan kebudayaannya di atas.

Bila kebudayaan Jawa adalah kebudayaan yang cair. Manusia Jawa pun
cenderung menjadi manusia yang cair, lentur, dan dapat beradaptasi
dengan berbagai perubahan yang terjadi. Tapi Pram lain. Pram adalah
manusia dengan tingkat integritas kepribadian yang benar-benar
tinggi. Ia adalah pribadi yang utuh, seutuh dan sesolid kebudayaan
Bali.

Pram adalah manusia yang berusaha keras untuk tetap sebagai dirinya,
tidak takluk pada perubahan apa pun yang terjadi di sekitarnya.
Kecenderungan demikian sebenarnya merupakan kecenderungan yang umum
pada sastrawan Indonesia yang aktif segera sesudah Perang Dunia II,
yaitu mereka yang amat kuat dipengaruhi oleh sebuah wacana besar,
sebuah “kata yang kuat” dalam pengertian Henk Maier, yaitu
kata “Human Dignity”, sebuah kata yang membayangkan sebuah proyek
bagi tegaknya diri manusia sebagai “Subyek” tidak hanya di hadapan
Sang Nasib, melainkan di hadapan lingkungan sekitarnya, kekuatan-
kekuatan eksternal yang mengelilingi dan berusaha menyentuh dan
melumpuhkannya.

Namun, jika sastrawan-sastrawan lain, sebagaimana manusia Indonesia
yang amat kuat terpengaruh oleh kebudayaan (yang berkembang dan hidup
di Pulau) Jawa sesudah Majapahit, dengan mudah luluh walaupun, antara
lain, dengan menganggap keluluhan itu sebagai “kebaikan”
dan “kebijakan”, Pram tidak.

Dalam hal terakhir di atas Goenawan, sebagaimana yang dikutip Putu,
benar. Pram mirip dengan Sutan Takdir Alisyahbana, yang tetap pada
pendiriannya yang dibangun pada masa sebelum PD II, walaupun dunia
dan kebudayaan yang ada di sekitarnya sudah berubah, jauh
meninggalkannya. Namun, tentu saja Pram tidak bisa sepenuhnya
disamakan dengan Takdir.

Pram seorang realis, bukan dalam artian yang biasa digunakan di
Indonesia, yaitu sebagai orang yang dapat menyesuaikan diri dengan
apa yang disebut “kenyataan” yang sebenarnya terjemahan dari
konsep “kahanan” Jawa, melainkan dalam pengertian kemampuannya
mewujudkan gagasan ke dalam imaji-imaji yang konkret, yang seakan
dapat disentuh, dapat dialami, dan bahkan terkesan benar-benar
sebagai dunia pengalaman.

Sedangkan Takdir jelas seorang idealis, yang tentunya dalam
pengertian yang berkebalikan dengan Pram, yaitu tak mampu keluar dari
dunia ide dan tak mampu mewujudkannya ke dalam imaji-imaji konkret
dalam pengertian di atas. Dalam hal ini Pram menjadi istimewa.

Meskipun mempunyai kepribadian yang bisa dikatakan kaku, simplistik,
Pram mempunyai kepekaan indrawi dan ingatan akan detail yang amat
kuat. Dalam Bukan Pasar Malam, misalnya, ia dapat membuat gagasannya
dialami melalui deskripsi mengenai tenggorokan, suara, garis-garis
tulang, dahak, debu, pandangan mata, yang tampak amat sepele. Dan
Putu mempunyai kemampuan yang demikian pula. Tidak hanya Putu,
bahkan. Banyak sastrawan Indonesia yang mempunyai kemampuan demikian,
kemampuan yang tidak dimiliki Takdir. Hanya saja, mereka cenderung
menjadi manusia-manusia “kahanan” yang begitu cair, dengan konsep
mengenai kebijakan yang amat berbeda dari Pram.

Saya tidak tahu, apa persisnya pandangan Radhar Panca Dahana. Namun,
menurut saya, Pram sama sekali tidak kompleks bila kompleksitas
diartikan sebagai sebuah kepribadian yang bermacam-macam. Pram hanya
punya satu kepribadian. Dan kepribadian itu terus bertahan tidak
hanya dalam keseluruhan karyanya, melainkan bahkan dalam keseluruhan
sejarah hidupnya. Pram tetap konsisten bahkan ketika ia bergabung
dengan Lekra, bahkan ketika karya-karyanya di masa Lekra, sebagaimana
yang antara lain dikatakan Putu, bukan lagi Pram.

Pram, menurut saya, adalah seorang modernis atau humanis sejati, yang
menempatkan manusia, terutama sebagai pribadi, sebagai pusat dunia,
sebagai subyek yang dapat menentukan nasibnya sendiri. Dalam hal
inilah ia selalu menentang segala bentuk penindasan terhadap manusia,
segala kekuatan yang menempatkan manusia hanya sebagai obyek,
sebagai “budak” dalam istilah yang banyak digunakan Pram sendiri.
Subyektivitas manusia itu begitu penting baginya sehingga ia tidak
hanya berusaha membebaskan diri dari “penindasan” politik yang makro,
melainkan “penindasan” politik yang mikro, yang terutama berkaitan
dengan ketergantungan pribadi pada apa yang dinamakan komunitas atau
ikatan sosial pada umumnya.

Apa yang dinamakan keluarga merupakan salah satu kekuatan hegemonik
terpenting yang dapat membelenggu manusia, yang dapat membuatnya
tidak dapat berdiri sebagai Subyek yang sepenuhnya mandiri. Dan dalam
perlawanan terhadap kekuatan inilah Pram banyak mengeluarkan
energinya, tetapi sekaligus menjadi manusia Indonesia yang paling
berhasil.

Novel-novel Pram hampir selalu memperlihatkan bagaimana usaha
manusia, individu, untuk tetap dapat mempertahankan idealismenya,
integritas pribadinya, di hadapan “rayuan” yang bernama keluarga ini.
Ada potret mengenai keluarga yang begitu terserak, tanpa keutuhan,
ada pembantaian antara sesama anggota keluarga, ada sikap yang amat
dingin dalam menghadapi rayuan keluarga, dan sebagainya.

Novel Perburuan, misalnya, memperlihatkan gambaran yang mencekam
mengenai hal ini dalam setidaknya tiga adegan, yaitu adegan yang
berisi dialog antara Hardo dan ayah Ningsih, antara Hardo dan
bapaknya yang sudah luluh lantak oleh penderitaan, dan adegan
kematian Ningsih yang menyertai proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Keputusan Gadis Pantai untuk meninggalkan keluarganya yang sangat ia
rindukan justru pada saat ia mempunyai kesempatan untuk bersatu
dengannya kembali dan bahkan pada saat ia amat membutuhkan mereka,
merupakan salah satu ilustrasi mengenai hal ini pula.

Dalam hal yang demikian Pram tampak menjadi begitu kejam tidak hanya
terhadap orang lain, tapi juga, mungkin, terhadap dirinya sendiri.
Kemampuan untuk kejam dan teramat kejam terhadap orang lain dari diri
sendiri demi penegakan subyektivitas manusia itulah yang tampaknya
mengejutkan banyak sastrawan Indonesia ketika Pram bergabung dengan
Lekra.

Menurut saya, serangan yang teramat kejam dan dingin dari Pram atas
kelompok Manikebu, termasuk HB Jassin pada waktu itu, mungkin
merupakan hal yang juga sangat menyakitkan bagi diri Pram sendiri.
Namun, sekali lagi, demi subyektivitas itu, ia tetap harus
melakukannya. Perasaan penyesalan Putu menyaksikan “kejatuhan” Pram
dalam karya-karya Lekranya, bukan tidak mungkin merupakan perasaan
Pram pula.

Sebagaimana halnya modernisme, Pram pun menghadapi risiko untuk
menjadi totaliter dan otoriter. Tapi, menurut saya, Indonesia sungguh
membutuhkan manusia seperti Pram. Dan, dengan kematiannya, saya
sungguh amat menyesal karena manusia seperti itu akan hilang untuk
selama-lamanya, tak tergantikan lagi. Yang tersisa adalah manusia-
manusia “kahanan” yang mungkin akan bertambah banyak seiring dengan
berkembang dan menguatnya apa yang disebut pasca-modernisme. Manusia-
manusia yang kemudian ini mungkin akan membuat Indonesia menjadi
(tetap dan makin) “ramah”, tetapi tak bergerak ke mana-mana, tetap
seperti sekarang ini, hidup dalam lingkaran krisis yang tak kunjung
berakhir.

Selamat jalan, Pram. Selamat datang, “Penghambatan” yang di dalamnya
manusia tak lagi (ingin) menjadi subyek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: