Kerajaan Pikiran Cak Nur

Oleh Yudi Latif
Deputi Rektor Universitas Paramadina; Chairman Pusat Studi Islam dan
Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0607/21/opini/2823434.htm
==================================

Menjelang wafat, Cak Nur tak kehilangan kehirauan dan ketajaman
pemikirannya. Dari jarak jauh, sambil bergelut dengan daya tahan
tubuh yang memburuk, pekan-pekan terakhir dari hidupnya dicurahkan
untuk menggugah kesadaran bangsa akan komitmen nasional.

Dari buah penanya yang terakhir, Indonesia Kita, bisa dibaca pokok
keprihatinan dan harapannya. Bahwa kini terasa kian sedikit orang
yang dengan sungguh-sungguh berpikir dan bertindak untuk kepentingan
bangsa. Menyitir Bung Hatta dalam Demokrasi Kita, tak luput dari
keprihatinannya, Indonesia adalah sebuah negara besar yang hanya
menemukan orang-orang kerdil.

Jelas, pikiran kerdil tidak akan menghasilkan tindakan besar, dan
sistem yang salah tidak mungkin melahirkan tatanan kehidupan yang
membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Peneguhan tekad

Mengingat besarnya persoalan yang menghadang, diperlukan usaha dan
kekuatan besar dan tangguh untuk mengatasinya. Kekuatan itu akan
terbentuk hanya dengan peneguhan kembali ikatan batin atau komitmen
semua warga negara kepada cita-cita nasionalnya, disertai pembaruan
tekad bersama untuk melaksanakannya. Semua itu memerlukan semangat
ungkapan Bung Karno (dengan sedikit revisi), “samen bundeling van
alle krachten van de natie”, “pengikatan bersama seluruh kekuatan
bangsa”.

Peneguhan kembali tekad bersama dan komitmen nasional itu memerlukan
kesadaran sejarah dan pengembangan pikiran-pikiran mendasar tentang
kebangsaan dan kenegaraan, melanjutkan dan memperluas tradisi tukar
pikiran para tokoh pendirinya.

Tampak nyata, masalah kekerdilan dan pengembangan pikiran menjadi
pokok kepeduliannya. Seperti Sokrates, warisan yang diberikan Cak Nur
(Nurcholish Madjid) adalah empire of mind. Kekuatannya tidak terletak
pada barisan panjang pendukung berani mati, tetapi pada visi yang
mencerahkan, yang sering disalahpahami arus utama pemahaman zamannya.

Dekade 1970-an, ketika ide-ide liberalisasi dan pembaruan pemikiran
Islamnya hendak diambil alih Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang
menyediakan diri sebagai jaringan gerakan pembaruan, Cak Nur
menolaknya. Intelektual selalu dihadapkan pada dilema antara
mempertahankan “terobosan dan integritas intelektual”
atau “pelembagaan demi popularisasi”. Dan memilih yang pertama.

Ketegangan dan keberjarakan dengan publik justru menyediakan ruang
yang baik bagi penahbisan intelektual garda depan. Dalam kontroversi
publik yang ajek, intelektual selalu tertantang untuk membangun
konstruksi pemikirannya secara kokoh. Sebaliknya, godaan pelembagaan
demi penerimaan publik secara luas, betapapun bisa menguntungkan
secara politis, bisa berakibat fatal bagi keberlangsungan pemikiran
intelektual.

Pelembagaan selalu menuntut familiarisasi gagasan, dan familiarisasi
kerap mengandung risiko penyederhanaan, dan peremeh-temehan.
Trivialisasi membuat refleksi kehilangan keragaman dan kedalamannya.
Kepadatan argumentasi mengalami peluluhan. Dalam penerimaan khalayak
ramai, refleksi berubah menjadi ritual. Di dalam ritual, terobosan
pemikiran mengalami pemandekan.

Tanpa terkait gurita kelembagaan yang terstruktur, Cak Nur bukan saja
bebas dan mampu memproduksi pikirannya, secara bernas dan berbobot,
sekaligus menampilkan dirinya sebagai “rumah” kebebasan. Betapapun
dia dibesarkan dalam jaringan HMI dan pernah terkait ICMI, ia tidak
pernah terobsesi untuk menjadikan organisasi-organisasi itu sebagai
barisan pendukungnya. Ia cenderung mempertahankan jarak.

Intelektual langka

Ide-ide kebebasan yang bersanding dengan otonomi relatifnya inilah
yang menjadikan Cak Nur sebagai intelektual langka di Indonesia.
Kebanyakan kaum terdidik kita lebih memperlihatkan diri sebagai
inteligensia. Perbedaan keduanya terletak pada sikapnya terhadap ide
dan relasi sosialnya. Inteligensia lebih memandang ide sebagai suatu
yang instrumental sehingga bersimpuh pada ideologi yang sejalan
dengan kepentingan mereka. Karena itu, kerja politik lebih
merepresentasikan dan diorientasikan pada kepentingan kelompok
tertentu (yang dipersatukan menurut garis ideologis/pragmatis).

Adapun sikap intelektual terhadap ide tidak terlalu mempertimbangkan
segi-segi praktis. Hal ini tidak berarti intelektual mengabaikan
kepentingannya demi suatu ide. Yang terjadi, aneka kepentingan ideal
mereka (yang muncul dari proses rasionalisasi) mengimbangi,
adakalanya mendahului, bahkan mungkin berlawanan dengan kepentingan-
kepentingan praktis dan material mereka. Karena itu, mereka lebih
merepresentasikan diri sebagai individu-individu kreatif ketimbang
representasi kelompok.

Hal ini tidak berarti intelektual tidak bisa berorientasi praktis
dalam aksi kolektif. Praksis intelektual akan terjadi karena
terpanggil oleh apa yang disebut Max Weber sebagai ethics of
responsibility. Panggilan untuk berkompromi dengan politik praktis
sebagai pertanggungjawaban moral demi mencegah terancamnya segi-segi
etis, kebebasan, dan kewarasan nalar yang bersumber dari distorsi-
distorsi dalam politik praktis. Seperti kata Vaclav Havel, “mereka
yang mendedikasikan hidupnya untuk memikirkan realitas hidup lebih
memahami apa yang salah dalam kehidupan, karena itu bertanggung jawab
untuk memperjuangkan jalan keluar”.

“Nurcholish Madjid Memorial Lecture” yang digelar 19-20 Juli 2006 di
Universitas Paramadina merupakan ikhtiar meneguhkan kembali semangat
untuk terlibat dalam setiap gerak perkembangan bangsa. Hingga ajal,
dia tetap menegaskan komitmen kepada kaum muda, “untuk melanjutkan
perjuangan demokrasi, memelihara toleransi dan mempertahankan
keterbukaan”.

1 Comment

  1. September 10, 2007 at 1:57 pm

    saya sepakat dengan penilaian kang yudi, tapi persoalannya sekarang kita kehilangan ruang yang betul-betul netral untuk membumikan pikiran cak nur. soalnya, kadang kohesitas ideologis kadang menjebak kita dalam melakukanb sebuah proses transformasi!!
    wassalam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: