Kisah Para Pemimpin Besar

http://batampos.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1371&Itemid=33
Rabu, 12 Juli 2006

Kisah Para Pemimpin Besar

Oleh: Riswandha Imawan*

Akhir-akhir ini bangsa Indonesia didera musibah. Di tengah musibah itu, ungkapan
retorik dengan perilaku teatrikal para pemimpin mencuat. Slogan “Indonesia
bangkit” sampai ke “Halangan yang ada hanya membuat kita makin kuat”
diteriakkan.

Nicholls dalam bukunya Power: A Political History of the Twentieth Century
(1990) mengungkapkan adalah lumrah bila satu bangsa dalam situasi anomali
(seperti kita alami saat ini), ada orang yang berusaha menjadi pemimpin besar.
Pemimpin besar dilahirkan oleh dinamika sosial-politik masyarakatnya. Karena
itu, secara fisik dan psikis dia menyatu dengan denyut nadi kehidupan bangsanya.

Banyak orang yang ingin menjadi pemimpin besar. Tapi, sedikit sekali yang
berhasil. Kuncinya ada pada kemampuannya untuk secara total lebur ke dalam
dinamika masyarakatnya. Totalitas ini menuntunnya merumuskan secara tepat apa
yang dibutuhkan bangsanya. Itu pun harus diwujudkan ke dalam satunya kata dengan
perbuatan.

Mahatma Gandhi menjadi pemimpin besar India walau dia tidak pernah menduduki
jabatan apa pun di jajaran pemerintahan. Dia merumuskan nilai-nilai
kemasyarakatan bangsa India sambil menyelaraskan penampilan dengan filosofi
ajaran-ajaran itu. Pakaiannya hanya dua helai kain, kakinya bersandal jepit.
Demikian pula Ho Chi Minh untuk Vietnam yang bersepatu sandal dari ban bekas.
Bila pergi keluar negeri, dia naik pesawat komersial kelas ekonomi.

Hitler sadar Jerman membutuhkan kebanggaan setelah martabatnya direndahkan
bangsa Romawi. Keluarlah doktrin totalitasnya: “disiplin, pantang menyerah, dan
berani berkorban” yang menjadi kunci sukses bangsa Jerman.
Churchill menggelorakan sikap optimistis bagi bangsa Inggris. Tantangan adalah
kesempatan, bukan hambatan. Nasib Inggris ada di tangan orang Inggris. Dia
tunjukkan komitmennya dengan tidak menggunakan barang-barang buatan luar negeri.
Semuanya harus made in England.
Napoleon Bonaparte menjadi pemimpin besar bangsa Prancis. Bukan hanya karena
idenya tentang prinsip demokrasi. Dia pimpin langsung pasukan ketika menyerang
bangsa-bangsa Eropa lain. Lewat penaklukan itu dia menebarkan ajaran-ajarannya.
Layak bila dia sesumbar: “Hai prajuritku, empat abad ke depan sedang menatap apa
yang sedang kalian lakukan.”

Indonesia juga melahirkan banyak pemimpin besar. Bung Karno hadir dengan ajaran
populis, kekeluargaan, karena itulah kenyataan hidup bangsanya. Dia kenakan peci
hitam yang banyak digunakan orang Indonesia. Di atas meja makannya ada lukisan
pengemis, agar dia ingat pada rakyat saat menyantap sayur lodeh, tahu, dan tempe
kesukaannya.

Saat Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Haji Agus Salim memakai sarung, peci
hitam, dan merokok kretek. Saat diprotes karena bau menyengat dari rokoknya, dia
berujar, “Tuan-Tuan, benda inilah yang membuat Tuan-Tuan datang dan menjajah
negeri kami.”
Bung Hatta hadir dengan kesederhanaan tak tertandingi. Saat gajinya sebagai
Wapres akan dinaikkan, dia menolak. Katanya, “Keuangan negara tidak cukup kuat,
sementara banyak rakyat melarat yang memerlukan uang itu.”

Saat ini, kita dibuat miris bila membaca kisah para pemimpin besar itu. Nilai
kebersamaan, kejujuran, dan kesederhanaan yang mematangkan mereka sebagai
pemimpin besar, seolah sirna. Padahal, situasi yang berkembang saat ini sangat
memungkinkan lahirnya pemimpin besar itu.
Para pemimpin saat ini justru menganut nilai kebalikannya. Melebarkan jarak
kaya-miskin, penuh tipu daya, dan hidup dibalut kemewahan ditonjolkan. Mereka
seolah hidup di alam berbeda dari rakyat yang dipimpinnya. Alhasil mereka hanya
mampu jadi pemimpi, bukan pemimpin.
Bermimpi tentang kebersamaan, namun menebalkan garis pembatas “siapa kamu, siapa
saya” (ingroup feeling). Menyeleksi siapa yang layak berbicara atau didengar
pendapatnya, hanya meninabobokan pemimpin pada realita rakyatnya. Mereka lupa
bahwa politik menyoal kekuasaan, dan kekuasaan hanya mendatangkan pemujaan. Lupa
bahwa dalam politik menghargai lawan sama pentingnya dengan menghargai kawan.

Jarak kaya-miskin dilebarkan kembali melalui kebijakan monopoli ala rezim
Soeharto. Ironisnya, itu diramu dengan janji yang membuat rakyat ikut bermimpi.
Janji bantuan untuk korban bencana alam di Yogyakarta, Rp 30 juta untuk rumah
rusak berat dan Rp10 juta rusak ringan, tidak terealisasi. Jangankan jumlah
jutaan rupiah, yang jumlahnya ribuan rupiah -uang jatah hidup- saja realisasinya
tidak becus.
Perilaku pemimpin saat ini seolah kemakmuran negeri kita setara negara-negara
maju. Simak saja, solusi bencana alam di negeri ini selalu dalam bentuk uang.
Untuk rehabilitasi Yogyakarta saja dibutuhkan dana Rp17 triliun. Belum lagi
bencana lumpur panas di Sidoarjo, banjir di Kalimantan dan Sulawesi, gempa bumi
di Maluku dan Papua. Jujur, bila dijumlah, pasti negara kita sudah bangkrut.

Herannya, dengan utang makin menggunung, akhir Mei 2006 tim DSKU Dephub
berangkat ke USA, kabarnya, untuk membeli pesawat kepresidenan. Ini isu lama
yang pada Oktober 2005 dibantah para juru bicara presiden. Perilaku tipu daya
muncul di sini. Akhir Juni 2006, saat terbang ke Medan, kaca kokpit pesawat yang
ditumpangi Wapres retak. Awal Juli, saat utusan pejabat DSKU itu sudah kembali,
Wapres menyatakan insiden terbang ke Medan tersebut membuat pemerintah
memutuskan membeli pesawat baru.

Lho. Tim berangkat Mei 2006, keputusan diambil Juli 2006? Polanya sama dengan
pola represi rezim Soeharto, gebuk dulu alasan belakangan. Kebijakan populis,
gaji ke-13 dilakukan untuk menutupinya. PNS golongan bawah sangat bersyukur
karena memang tepat waktu. Masalahnya, gaji pejabat negara yang jaraknya ratusan
kali lipat dari golongan bawah juga diberikan. Alasan pembenar ditebar. Ini ada
di APBN. Bila tidak dilaksanakan, atau ada yang menolak, artinya melanggar UU.
Masya Allah.

Kalau kebijakan ini untuk PNS yang -sebut saja- berpenghasilan di bawah Rp5 juta
sebulan, masuk akal. Tapi, untuk pejabat negara yang berpenghasilan di atas Rp40
juta, itu tidak masuk akal. Apalagi pejabat negara bukan PNS, dan realitanya
mereka dapat dari banyak sumber. Sikap mereka menegaskan bahwa sejatinya mereka
tidak memiliki kepedulian dengan nasib rakyat Indonesia. Fakta yang terpampang
di depan mata membuat rakyat bermimpi hadirnya pemimpin besar baru. Mungkinkah
itu terjadi pada Pemilu 2009? Mungkin. Asal kita tidak salah pilih lagi.

Riswandha Imawan
Guru besar UGM di Yogyakarta

5 Comments

  1. beatrix said,

    December 4, 2007 at 12:27 pm

    Good comment

  2. Yunarlis said,

    May 14, 2008 at 7:13 am

    Suatu sajian yang menggugah anak bangsa untuk lebih baik kedepan. Menjadi pemimpin yang memiliki integritas dan tanggung jawab moral tidaklah mudah, apalagi menjadi seperti pemimpin pemimpin besar yang benar-benar peduli terhadap penderitaan rakyat. Disaat masih banyak rakyat yang menderita dan kesulitan ekonomi, kok ada ya pemimpin kita yang masih mengurusi kepentingan pribadi dan kroninya serta memnfaatkan fasilitas negara yang berlebihan. Pemimpin besar yang baik pasti akan dikenang sepanjang zaman Tapi pemimpin yang serakah dan zalim akan disumpah dan dihardik sepanjang waktu.Ingat bahwa setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya dikemudian hari pada pengadilan ALLAH SWT.

  3. Yasrama said,

    October 8, 2008 at 6:41 am

    Betul tuh..

  4. July 29, 2010 at 2:16 pm

    […] Kisah Para Pemimpin Besar […]

  5. Miftha nurul pratiwi said,

    January 17, 2015 at 3:05 pm

    Jika belum mampu memimpin orang banyak.
    Maka cobalah untuk memimpin diri anda sendiri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: