Mandeknya Pemikiran Pendidikan

Oleh Agus Suwignyo
Alumnus Faculteit der Pedagogische Onderwijskundige Wetenschappen,
Universitas Amsterdam
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0701/18/opini/3249805.htm
=========================

Kemandekan pemikiran pendidikan, meminjam uraian Mochtar Buchori
(Taman Siswa dan Pendidikan Kita, Kompas 3/7/2006), mencerminkan
kekaburan batasan dan hubungan hulu-hilir kebijakan pendidikan kita.

Kebijakan hulu merupakan hasil pemikiran filsafati tentang hakikat
dan arah pendidikan serta hubungan pendidikan dengan bidang-bidang
lain. Kebijakan hilir adalah praktik implementasi yang mengacu pada
kebijakan hulu sebagai panduan.

Agaknya, hiruk-pikuk implementasi kebijakan telah menyita seluruh
perhatian sehingga pemikiran pendidikan tak beranjak dari berbagai
persoalan kebijakan hilir. Misalnya, pengelolaan pendidikan terlalu
menekankan pada manajemen birokrasi (Kompas, 28/10/2006) dan proyek-
proyek teknis (Kompas, 26/10/2006). Selain itu, menurut Mohammad
Abduhzen (Pemikiran Pendidikan, Kompas 28/12/2006), ada
intervensi “politik” dan jiwa korupsi.

Dalam konteks luas, kemandekan pemikiran pendidikan mengindikasikan
ada masalah dalam kesadaran identitas kebangsaan kita. Ia menyangkut
suatu perkara mendasar pada cakrawala “ruang hidup” dan “kehidupan
bersama” sebagai bangsa. Seberapa jauh multidimensionalitas dalam
cakrawala itu disadari, digali, dan diterjemahkan? Kemandekan
pemikiran pendidikan tidak berdiri sendiri.

Karena terkekang?

Beberapa pemikiran “besar” dalam sejarah pendidikan kita lahir dari
pergulatan para pemikir pada situasi politik dan kebudayaan yang
mengekang.

Pendidikan yang berpijak pada budaya “pribumi” yang dicetuskan
Soewardi Soerjaningrat bersemi di tengah dominannya model pendidikan
Belanda yang berorientasi Barat dan diskriminatif. Model robotik
pendidikan Orde Baru dengan metode hafalan dan tekanan sikap penurut
melahirkan gagasan bagi YB Mangunwijaya tentang pendidikan yang
mengembangkan keingintahuan, eksplorasi, dan kekritisan.

Fakta-fakta itu menegaskan, hegemoni negara (baca: pemerintah) dalam
kebijakan dan praktik pendidikan menjadi konteks jitu yang mengasah
counter-discourse bagi visi pendidikan penguasa.

Dalam alam reformasi, hegemoni negara relatif cair dan kebebasan
berpendapat praktis lebih dijamin. Namun, mengutip seorang responden
penelitian saya, reformasi bagaikan tanggul jebol menenggelamkan
kita dalam hiruk-pikuk kebebasan dan ketakberaturan alam pikir.

Berbagai masalah pendidikan kita pada alam reformasi tidak
berkurang, mungkin lebih kompleks karena prinsip kesetaraan
kepentingan. Namun, ruang kontemplasi untuk memikirkan berbagai
persoalan itu terlibas dalam kebisingan “pembaruan”. Akibatnya,
pemetaan persoalan-persoalan pendidikan melulu bertolak dari hal-hal
kasatmata, seperti gedung sekolah hancur, angka nilai, dan kertas
sertifikasi.

Di sisi lain, wacana-wacana “besar” pendidikan memaku kita pada
romantisme. Kita terpancang angan-angan, pemikiran pendidikan
sekarang harus “besar dan alternatif” tanpa merefleksikan mengapa
tokoh-tokoh pendidikan mampu melahirkan pemikiran demikian pada
zamannya.

Jadi, meski akhir-akhir ini perujukan wacana-wacana itu cenderung
latah dan menjenuhkan, keterpakuan romantis menghalangi pencarian
visi baru pendidikan yang kontekstual dan segar. Agaknya, bagi
kalangan reformis pun, jiwa zaman (zeitgeist) merupakan keniscayaan.

Persoalan hulu

Dalam konteks luas, kemandekan pemikiran pendidikan mengindikasikan
betapa rapuh kesadaran kebangsaan dewasa ini. Pada sejumlah masa di
masa lalu, konsep kebangsaan versi penguasa begitu kuat
diterjemahkan dalam kebijakan dan praktik pendidikan.

Betapapun tak disukai, posisi pendidikan pada masa-masa itu jelas.
Ia fungsional terhadap implementasi konsep kebangsaan penguasa. Di
sisi lain, resistensi terhadap penindasan penguasa melahirkan
pemikiran-pergerakan dahsyat tentang kebangsaan dan pendidikan.

Kini, cukup sulit menemukan konsep kebangsaan, entah versi penguasa
maupun bukan penguasa, yang kokoh sebagai sumber inspirasi
pengembangan pemikiran pendidikan. Dalam batasan “Pendidikan
Nasional” Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, misalnya,
makna “nasional” tidak terurai. Nasionalisme kebangsaan dalam
Pancasila dan UUD 1945, meski formal mengikat, praktis tidak
bergaung dalam kesadaran pemikiran hari ini.

Pada praktiknya, makna “nasional” ditemukan sekadar menyangkut
standar “nasional” pendidikan atau ujian “nasional”. Upaya meluaskan
batasan “kecerdasan” dengan memasukkan aspek spiritual yang dianggap
satu kekhasan pendidikan “nasional” cenderung terjebak
primordialisme agama yang justru mengacaukan prinsip inklusivitas
dan universalitas pendidikan.

Uraian ini menegaskan, betapa sempit cakrawala kita tentang “bangsa”
(nation) dan “menjadi bangsa” sehingga terbata-bata mencari makna
pendidikan “nasional” yang mendalam dan inklusif. Kebekuan pemikiran
pendidikan adalah pantulan kekacauan pemikiran pada aras kebangsaan.

Jika kita meyakini proses pendidikan pada hakikatnya bertumpu pada
dinamika masyarakat-bangsa, maka kekaburan
identitas “kemasyarakatan” dan “kebangsaan” harus dibenahi sebelum
pemikiran pendidikan dapat dilahirkan kembali. Kebebasan reformasi
memungkinkan itu!

1 Comment

  1. July 2, 2008 at 5:05 am

    Ya mungkin lebih baik begini:
    yang dipikir=yang diucapkan=perbuatan
    Jadi pemikiran yang ada benar2 dapat direalisasikan, pendidikan yang sekarang hanya disibukkan pada bentuk peerubahan sistem saja, tapi tiada menyentuh bagaimana kualitas belajar/mengajar tersebut, apakah tidak terpikir menerapkan Revolusi atau Sistem belajar dipercepat, yang menimbulkan kemandirian pada bangsanya. Namus lagi2 hal ini terganjar pada masalah ekonomi dan budaya bangsa kita yang sedang dalam masa krisis. kedepannya mungkin yang dapat menjadi pendorong pendidikan di negeri kita, adalah mewujudkan pendidikan teknologi pembebasan, sehingga pendidikan yang di tekuni bangsa ini mampu menghasilkan teknologi pembebasan, yang memudajkan rakyat menggunakannya dan memanfaatkan untuk kesejahteraan mereka.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: