Mari Bersahabat dengan Menapaki Jejak Peradaban

Oleh Bambang Budi Utomo
Kerani Rendahan pada Puslitbang Arkeologi Nasional
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0609/27/humaniora/2980370.htm
=================================

“Akibat dari hubungan perdagangan pada bangsa-bangsa di Asia Tenggara
sangat luas. Ia tidak terbatas pada hegemoni politik saja, tetapi
juga tukar-menukar kebudayaan,” ujar seorang dosen pakar sejarah kuna
Asia Tenggara di depan kelas. Gambaran seperti itulah yang terjadi di
masa lampau di kawasan Asia Tenggara.

Pada tanggal 28 Agustus 2006, Pemerintah Indonesia memprakarsai suatu
bentuk persahabatan dengan sebagian negara-negara anggota ASEAN
(Indonesia, Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam), yang
memiliki tinggalan sejarah beragama Buddha, dengan menelurkan
Deklarasi Borobudur.

Dasar pemikirannya adalah latar belakang kesejarahan dan beberapa
kesamaan budaya. Isi Deklarasi Borobudur adalah komitmen bersama
untuk mengembangkan pariwisata melalui pengelolaan dan promosi
warisan budaya bersama dalam wujud kerja sama wisata ziarah dan
wisata budaya.

Disadari atau tidak, eratnya persahabatan antardua bangsa atau lebih
biasanya dimulai dari kebudayaan. Apalagi kedua bangsa itu mempunyai
latar belakang budaya yang mempunyai banyak kesamaan, sekalipun di
masa lampau sejarahnya tidak begitu baik. Tepat apa yang dirintis
oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika kunjungan kenegaraan ke
Kamboja dan Myanmar, yaitu kunjungan wisata dengan obyek bangunan
stupa Buddha. Ide persamaan peradaban tersebut dapat dirangkai
menjadi obyek budaya yang baik.

Hubungan kesejajaran

Sejak awal milenium pertama tarikh Masehi, bangsa-bangsa di Asia
Tenggara telah menjalin hubungan. Dimulai dari hubungan perdagangan,
disusul hubungan keagamaan dan politik antarkerajaan-kerajaan.
Adakalanya hubungan antarkerajaan mengalami sandungan-sandungan.
Namun, itu semua tidak berlangsung lama karena ambisi politik seorang
penguasa dalam kerajaan itu. Sementara itu, bangsanya (rakyat) tidak
bermusuhan.

Adanya hubungan antarsamudra dan antarbenua ternyata telah
menimbulkan kesejajaran di dalam pertumbuhan sejarah kerajaan-
kerajaan di Asia Tenggara.

Sebagai akibat perkembangan pelayaran dan perdagangan, pada kurun
abad VII-IX Masehi telah timbul pusat-pusat kekuasaan dengan kerajaan-
kerajaan seperti Sriwijaya dan Mataram (Indonesia), Tchen-la (Kamboja
dan Vietnam), dan Pagan (Myanmar). Kemudian, pada abad X-XI Masehi,
pasangan kesejajaran ini meliputi Pagan (Myanmar), Angkor (Kamboja),
Campa (Vietnam), Sriwijaya, Mataram, dan Kadiri (Indonesia).
Demikianlah seterusnya, pasangan kesejajaran ini berubah-ubah sampai
kedatangan kolonialisme Barat.

Pada waktu Tchen-la mencapai puncak kejayaannya, kerajaan ini
menguasai jalur-jalur pelayaran dan perdagangan di Asia Tenggara,
khususnya di Laut Tiongkok Selatan. Kapal-kapal dagangnya banyak
menyinggahi pelabuhan-pelabuhan di Nusantara dan pesisir Asia
Tenggara daratan.

Namun keadaan ini tidak berlangsung lama. Menurut kronik Vietnam dan
Berita Tionghoa, pada tahun 767, ketika Campa diperintah oleh
Prthiwindrawarman, daerah delta Semenanjung Indocina diserbu oleh
pasukan yang datang dari Jawa dengan menaiki kapal. Diduga, raja Jawa
yang menyerang adalah Rakai Panamkaran dari Mataram. Penyerbuan ini
diulangi lagi pada tahun 774 dan 787. Berita mengenai serangan dari
selatan ini juga terdapat dalam prasasti yang ditemukan di kawasan
yang sekarang termasuk Kamboja.

Ketika Tchen-la menguasai Asia Tenggara daratan, seorang bangsawan
dari Kamboja berhasil meloloskan diri ke Jawa. Setelah dididik dan
matang di Jawa, pada tahun 790 bangsawan ini kembali ke Kamboja.
Ketika kembali ke negeri asalnya, kerajaan di Jawa sedang guncang dan
Tchen-la sudah terpecah-pecah. Pada akhir abad VIII itulah ia
menyatukan seluruh Kamboja, mendirikan Kerajaan Angkor, dan
mengangkat dirinya sebagai raja dengan gelar Jayawarman II (802-850
Masehi).

Prasasti Yang Tikuh yang dikeluarkan oleh Raja Indrawarman pada tahun
799 Masehi menyebutkan tentang selesainya pemugaran kuil
Bhadradhipatiswara, yang pada tahun 787 Masehi telah diserang dan
dibakar oleh satu pasukan yang datang naik kapal dari Jawa. Pada
tahun 774 Masehi, Campa juga pernah mendapat serangan dari orang-
orang yang datang dari Jawa.

Menjelang akhir abad IX Masehi, sebuah dinasti baru memerintah di
Campa dengan pusat pemerintahannya di Indrapura (sekarang bernama
Quang-nam, Vietnam). Pendiri dinasti adalah Indrawarman I (877-889
Masehi). Raja ini dikenal sebagai seorang penganut agama Buddha
Mahayana yang taat.

Selama pemerintahannya ia berjasa membangun kompleks Dong-duong.
Diketahui pula bahwa raja ini dan para penggantinya telah menjalin
hubungan persahabatan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara
(Indonesia). Karena itulah banyak arsitektur Campa yang dipengaruhi
oleh gaya arsitektur bangunan candi Jawa Tengah.

Pada akhir abad VIII dan awal abad IX, Jawa telah dapat menanamkan
pengaruhnya di Kamboja hingga beberapa waktu lamanya. Akibat dari
pengaruh budaya itu terdapat pula perubahan gaya seni pada bangunan,
misalnya bangunan-bangunan di Phnom Kulen.

Sekalipun pengaruh budaya Jawa telah “tertanam” di Asia Tenggara
daratan, namun secara politis ada usaha untuk melepaskan diri dari
pengaruh Jawa. Sebuah upacara sakral dilakukan oleh Jayawarman II
dengan cara menobatkan dirinya sebagai “raja gunung” dan penguasa
universal di Mahendraparwata (Phnom Kulen). Dengan upacara dasar
tersebut ia menjadi seorang penguasa yang universal dan tidak lagi
tergantung pada Jawa.

Agama Buddha

Agama Buddha meluas pemeluknya pada abad VII-X Masehi. Pada waktu itu
sebuah kerajaan yang kuat dan berpengaruh di Asia Tenggara adalah
Sriwijaya. Kerajaan ini selain dikenal sebagai kerajaan maritim, juga
dikenal sebagai kerajaan yang andilnya cukup besar dalam perkembangan
agama Buddha.

Pendeta Buddha dari berbagai bangsa datang ke Sriwijaya untuk
mempelajari tata bahasa Sansekerta sebelum melanjutkan pelajarannya
ke Nalanda di India. Bahkan, Atisa—seorang pendeta Buddha dari Tibet—
menyempatkan diri untuk memperdalam agama Buddha di Sriwijaya.

Pada sekitar tahun 775 Masehi, Rakai Panamkaran dari Dinasti
Sailendra yang dikenal dengan julukan “Pembunuh musuh-musuh yang
gagah berani” mendirikan Trisamaya Caitya untuk pemujaan kepada
Padmapani, Sakyamuni, dan Wajrapani di Ligor (Thailand Selatan).
Pengaruh Sriwijaya di Thailand Selatan cukup kuat, tampak pada gaya
seni arca yang ditemukan di kawasan ini. Banyak arca Buddha dan
Bodhisattwa yang dikatakan berlanggam Sailendra, Sriwijaya, atau
kadang-kadang disebut berlanggam Semenanjung.

Ketika di belahan barat Nusantara berkembang agama Buddha Mahayana
(abad VII-IX Masehi), di Asia Tenggara daratan sebagian besar
masyarakatnya memeluk agama Hindu aliran Siwa. Agama Buddha mulai
berkembang pada sekitar abad XI Masehi. Ketika itu di Burma terdapat
Kerajaan Dwarawati dengan rajanya Anoratha. Raja ini memerintahkan
pembangunan kompleks pagoda di Pagan untuk agama Buddha Theravada. Di
kompleks itu tinggal para biksu dan biksuni.

Di Kerajaan Angkor, ketika diperintah oleh Suryawarman I (1002-1050
Masehi; seorang Pangeran Ligor, Dwarawati), pintu perkembangan agama
Buddha Mahayana terbuka lebar. Secara pribadi ia pemeluk agama Siwa
yang melanjutkan kultus dewaraja seperti para pendahulunya. Pada masa
pemerintahannya agama Buddha berkembang secara luas di Asia Tenggara
daratan.

Dalam konteks kekinian, konflik di kawasan tersebut terjadi karena
tidak tercapainya saling mengerti dan saling menghargai di antara
berbagai kebudayaan.

Berkaca pada kejadian-kejadian sejarah masa lampau, sudah saatnya
Deklarasi Borobudur diimplementasikan untuk tujuan perdamaian melalui
diplomasi kebudayaan dan kunjungan wisata ziarah agama Buddha dan
wisata budaya. Sekaligus membuktikan bahwa Indonesia juga
memfasilitasi agama lain yang berdasarkan jumlah penganutnya termasuk
minoritas.

9 Comments

  1. alieguit said,

    June 25, 2007 at 12:36 am

    ford tampa

  2. eddykusuma said,

    August 1, 2007 at 8:20 am

    pak bambang,
    nampaknya tulisan anda cukup baik untuk dimuat diberbagai situs di indonesia. mohon perkenan bapak memuat tulisan bapak tentang menapak jajak peradaban..disitus kami yang beralamatkan http://www.sriwijayanet.org dan kami ucapkan terimakasih

  3. Bambang Budi Utomo said,

    September 10, 2007 at 6:17 pm

    Ke alamat mana kalau saya ingin mengirim artikel? Terima kasih.

  4. Bait Wright said,

    September 20, 2007 at 1:37 pm

    Nice blog Bambang… you could also following this link http://www.goldengrab.com for sharing information between us…
    Thanks

  5. koko said,

    July 24, 2008 at 8:11 pm

    pak Bambang, apa bisa saya bertemu dengan bapak untuk ngangsu kawruh? Nuwun.

  6. Shangkala said,

    August 21, 2009 at 4:22 pm

    Salam Budaya!
    Saya suka artikel ini.
    Yuk terus lestarikan ‘sadar-budaya’ kita.

    http://www.artshangkala.wordpress.com

  7. jemy said,

    October 13, 2011 at 3:20 am

    Saya ingin bertanya sedikit namun sebelumnya saya ingin share bahwa kata “adab”-yang berimbuhan ber-adab, dan “Per-adab-an”- adalah satu kata dasar yang sama yang mempunyai nilai arti yang berbeda-beda (deggress komparietif) tingkatan makna, dimana tiap kata mewakili perubahan “tingkahlaku” jadi peradaban adalah tingkahlaku yang ditinggalkan sekelompok ummat, kaum, dan dalam sejarahnya selalu berlandaskan sejarah, karena tidak akan ada sejarah kalau tidak ada peradaban, sejarah adalah suatu ilmu yang menceritkan, mengalaisis, membuktikan, suatu perjalanan peradaban suatu kaum, suatu orang, jadi Jika tidak ada peradaban jals tidak akan ada “sejarah” sejarah itu sendiri.sama seperti hukum newton “tidak akan ada gaya kalau tidak diberikan gaya” baik gaya maju,mundur,keatas,kebawah jika gayanya=0, kemudian “adab, perilaku, tingkah pola pasti akan melahirkan budaya, adat istiadat. Nah dalam konteks ini sebenarnya Adat Indonesia itu dulunya satu, bukan banyak seperti sekarang ini, yaitu taat kepada “kerajaan” yang sma seperti adabnya “roma” taat kepada rajanya, yang saya ingin tanyakan sebenarnya “per-adab-an” nenek moyang kita dulu yang kayak apa dan jika dilihat dari tahun 700-an SM sudah ada “golongan manusia” disini kira kira sejak tahun berapa indonesia ini ada, apakah sebelum adam, ataukan sesudah adam, atau sebelum lahir “Masehi(Al-Masih), karena kalau dilihat dari “per-adab-an” ummat-terdahulu yaitu tahun 300 SM dindonesia sudah berdiri Kerajaan “Sriwijaya”, berarti jauh sebelum muhammad dilahirkan disini sduah ada “orang” hidup karena nabi isa lahir itu baru dihitung tahun masehi (abad I) sedang muhammad lahir beberapa puluh atau ratus (?) tahun kemudian dan katanya di Taurat bahwa ada beberapa orang majus dari Timur yang menyambang kelahiran ISA AS yang dengan melihat munculnya bintang baru. yang menjadi pertanyaan saya:
    1. Tahun berapa adanya manusia di Indoensia?
    2. Darimanakah Orang majus dari itu yang diceritakan ditaurat?
    3. sebenarnya peradaban yang bagaimanakah yang dilakukan (afalkan) ummat (JAWA) terdahulu sebelum kami?
    4. apakah ada hubungan dengan pancasila dengan sila kedua yaitu “Kemanusiaan yang adil dan Beradab” dengan peradaban dan utama dengan Agama.
    5. Apakah Adab disini hanya bagi kehidupan didunia saja ataukah ada hubungannya dengan akhirat.
    Sekian dan terima kasih atas shernya karena sesungguhnya Peradaban tidak lepas dari Akal, Ilmu, Agama=Adab (ISQ) = “Peradaban”

  8. jemy manora said,

    October 13, 2011 at 3:44 am

    Satu lagi pak bambang oertanyaan saya dengan melihat sejarah-sejarah diatas dan pada umumnya baik yang diceritakan oleh Ahli sejarah yahudi, dengan penemuan-penemuan fosil di indonesia dan dengan peninggalan sejarah seperti Candi Borobudur, Candi-candi yang lain saya beranggapan bahawa dimana ada satu kehidupan dan kehidupan itu sudah menggunakan akal (ilmu) maka dijaman itu diseantero asia berarti indoensia sudah lebih maju (moderen) pada jamanya dengan bangsa-bangsa didunia, bahkan negara amerika pada saat kelahiran ISA itu belum ada, karena perkembangan Yahudi berkembang setelah ISA lahir, yang ada hanya Suku Indian Kuno (INKA) dibagian utara Amerika. dan suku Indian Kuno Itu Mempunyai Peninggalan peradaban yang hampir mirip dengan indonesia yaitu batu-batu yang diatur sedemikan rupa dan ditumpuk sehingga membentuk tempat sesembahan / Ibadah dan anehnya lagi sama juga yang ada didaerah Roma atau Yunani (Athena) dan di Mesir dengan piramidanya apakah ini pertanda bahawa semua itu berasal dari satu “titik-Pusat?” atau satu sumber yang sama? mohon penjelasan karena terus terang saya dengan menonton melihat televisi menjadi bingung koq bisa sama? apakah ini ada hubungannya dengan ayat “Berkebangbiaklah kamu untuk memenuhi segenap penjuru bumi” atau bersuku-sukulah kamu untuk dapat saling mengenal satu dengan yang lainnya? jika dilihat dari sudut pandang 360 derajat jelas ada benang merahnya diatara mereka itu, mohon dan terima kasih penjelasannya pak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: