Mas Afid dan Wimar Witoelar soal Multikulturalisme

Achmad Fedyani Saifuddin Multikulturalisme Perekat Indonesia
Edisi 534 | 05 Jun 2006 | Cetak Artikel Ini
Saya Wimar Witoelar akan membawakan suatu topik yang
sangat hidup dalam dunia politik, dunia sehari-hari, dan juga dalam dunia
akademik yaitu mengenai keragaman budaya, multikulturalisme. Beruntung kita
mendapat tamu yang sangat capable berbicara mengenai ini yaitu DR. Achmad
Fedyani Saifuddin. Dia mendapatkan gelar akademis Master dan Doctor of
Philosophy (Ph.D) dalam bidang anthropology dari Pittsburg University.
Sedangkan gelar sarjana strata satunya dari Universitas Indonesia.
Saya ingin memberikan catatan pribadi terlebih dahulu. Sejak ada teroris 11
September 2001, perhatian orang beralih pada hubungan negara dengan
budaya-budaya. Ada yang mengatakan perang melawan terorisme adalah perang
antara kebudayaan global, clash of civilization. Tapi lebih sempit lagi ada
yang melihat pada satu negara. Misalnya, Amerika Serikat yang semula
dibanggakan menjadi negara multikultur dimana segala macam suku, etnis, dan
agama bercampur, tapi sekarang malah menjadi terpecah-pecah. Contoh lebih dekat
lagi di Australia. Ada kerusuhan di pantai yang memecah-belah persatuan antara
orang pendatang 2-3 generasi lalu dengan pendatang baru.
Saat saya ke Serawak belum lama ini, di sana juga ada masalah multikultur
yang memang sudah melekat antara Cina, Melayu, dan sedikit orang India. Dalam
kondisi seperti ini, Indonesia muncul menjadi gurunya multikulturalisme karena
multikultur di sini bukan baru lahir sekarang. Sejak awal didirikan, Indonesia
sudah menjadi negara multikultur, bukan negara homogen yang dicampuri oleh
kultur baru.

Sehari-hari orang mengatakan Indonesia ini
multikultur karena ada restoran cepat saji McDonald, Kentcuky Fried Chicken
(KFC), Sushi Tei, Holland Bakery, dan segala macam. Secara popular ada karate,
kyodo, dan macam-macam fashion. Bagaimana sebetulnya pemahaman
multikulturalisme itu secara akademik dan juga secara politik? Bagaimana suatu
sistem politik mengakomodasi keragaman budaya?

Kalau kita melihat sebagai suatu konsep, multikulralisme itu ada 3 macam.
Pertama, cara pandang atau pemahaman orang mengenai multikulturalisme secara
awam dan secara populer, yang seperti Pak Wimar katakan tadi. Misalnya,
diantara kita saat ini hadir banyak sekali hal-hal yang semula kita tak pernah
kenal seperti contoh tadi ada McDonald, KFC, mie ayam, bakso. Itu tidak berasal
dari sini tapi dari luar.
Nah, yang kedua secara akademik, yaitu satu cara pandang melihat
multikultralisme dari segi konsep atau suatu teori. Multikulturalisme itu
sebetulnya kehadiran sejumlah kebudayaan secara berdampingan dan diharapkan
dari keberadaan mereka itu ada interaksi satu sama lain, dan dalam interaksi
itu dikembangkan pemahaman satu sama lain, saling menghargai, toleran,
kerukunan, dan lain-lain. Itu sebetulnya gagasan multikulturalisme yang hendak
dicapai.
Kalau secara populer, apakah multikulturalisme itu memperkuat suatu
masyarakat negara atau justru memecah?
Bisa memecah bisa juga memperkuat. Kalau unsur-unsur integratif itu cukup
kuat, nilai-nilai yang mengikat mereka saling menghargai atau toleransi maka
bisa memperkuat. Tapi kalau mereka itu justru hanya berorientasi pada diri
mereka sendiri. Artinya, orientasi kebudayaanya hanya pada dirinya
masing-masing sehingga interaksi yang diharapkan saling menghargai tidak
terjadi maka itu justru dapat memicu terjadinya perpecahan. Misalnya, kondisi
politik atau seperti yang kita saksikan sekarang, itu sebetulnya adalah
manifestasi dari pluralisme di masa lampau yang tidak memberikan peluang
terhadap unsur-unsur peringkat yang harusnya ada di dalam multikulturalisme.
Anda tadi mengatakan multikulturalisme terkadang positif terkadang
negatif. Di Indonesia belakangan ini menjadi masalah karena di satu pihak kita
melihat bangkitnya kesadaran terhadap pluralisme terutama setelah tahun 2000
kemarin. Di lain pihak banyak kelompok ekstrim muncul sekonyong-konyong. Apa
sebetulnya yang sedang terjadi di Indonesia?
Kalau kita perhatikan, di masa lampau sebetulnya kita belum mengenal konsep
multikuturalisme seperti kita kenal sekarang karena konsep ini motif baru
sebenarnya. Justru setelah terjadi kekerasan dimana-mana dan konflik di
berbagai daerah sehingga ada bagian dari daerah kita yang ingin melepaskan diri
dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kita mulai menyadari bahwa kita
perlu perekat baru. Nah, ini yang kemudian membuat orang berpaling ke
multikulturalisme.
Kalau kita berpikir segar dan tidak terpatok oleh pengertian
kewarganegaraan yang sudah sekian puluh tahun, apakah itu harus direkat kembali
kalau dalam suatu negara satu kultur tidak cocok dengan yang lainnya, atau
apakah negaranya yang disesuaikan dengan kultur sehingga orang kumpul dengan
sesamanya, saling menyukai?
Di masa lampau kita mengetahui dengan baik bahwa yang merekatkan
persatuan lebih banyak negara atau kekuasaan negara atau pemerintah. Pada masa
kini strategis semacam itu tampaknya tidak terlalu relevan lagi. Jadi yang
hendak dicapai sekarang ini adalah bagaimana dinamika kebudayaan yang beraneka
ragam itu diakomodasi, masalahnya di situ. Hanya cara mengakomodasinya seperti
apa? Kita membutuhkan cara pandang atau model. Untuk model, sampai sekarang pun
kita belum memperolehnya. Kita masih sibuk dengan penelitian, seminar, dan
lain-lain, dan belum mencapai yang kita harapkan menjadi sebuah model.
Saya mengenal Australia dan di negara tersebut sampai beberapa bulan yang
lalu membanggakan diri sebagai negara multikultural. Misalnya, ada stasiun TV
CBS yang setiap hari mempunyai siaran dalam berbagai bahasa, bahkan ada siaran
bahasa Indonesia, Persia, dan Cina. Tapi ada yang mengatakan itu menganjurkan
orang untuk tetap dalam kulturnya. Katanya, kalau multikulturalisme itu harus
mencampurkan semuanya, tapi kalau mencampurkan semuanya salah juga seperti
orang Cina disuruh memakai nama Melayu. Bagaimana sebetulnya konsep
multikulturalisme itu, apakah mempertahankan perbedaan atau menghilangkan
perbedaan?
Sebenarnya mempertahankan identitas masing-masing, tapi dengan tambahan
mesti dikembangkan nilai saling menghargai yang seharusnya juga berkembang
secara alamiah.
Kalau dari negara, Apakah multikulturalisme itu bisa berkembang?
Itulah yang menjadi persoalan kita sekarang. Seperti yang saya katakan
tadi, kita belum sampai pada suatu model yang kira-kira pas.
Soekarno dan Soeharto barangkali sudah pernah mencoba. Soekarno dengan
romantika nasionalisme, Soeharto dengan disiplin. Apakah keduanya gagal atau
ada hasilnya?
Di masa lampau kita justru melihat ada beberapa hasil yang positif
sebetulnya. Tapi tampaknya masyarakat global ini berkembang cepat sekali dan
dimana-mana kita mengenal atau ada gerakan demokratisasi, hak asasi manusia,
dan lainnya yang menghargai keanekaragaman. Kemudian peluang global semacam ini
ditangkap dengan baik oleh kebudayaan-kebudayaan yang beraneka ragam di
Indonesia dan justru memperkuat identitas mereka masing-masing. Jadi ketika
identitas ini diperkuat secara internal, peluang untuk mengembangkan saling
penghargaan itu belum ada.
Jadi yang diperkuat itu identitas kelompok masing-masing yang mempunyai
kaitan-kaitan international. Orang Islam dengan Islam international, orang
Kristen dengan Kristen international.
Tidak itu saja tapi juga Kristen dengan Islam, Kristen dengan Kristen,
antara berbagai macam etnik yang berbeda-beda, atau kepercayaan yang
berbeda-beda, dan lain-lainnya.
Apakah itu lebih kuat sebagai faktor budaya atau faktor pengelompokkan
agama atau etnik?
Sebenarnya tidak ada timbangan yang mana lebih kuat, jadi sangat
kontekstual. Kadang-kadang kalau kondisi politiknya memungkinkan, salah satu
atribut itu yang muncul. Mungkin agama yang lebih kuat.
Di Thailand tidak banyak kerusuhan agama, padahal ada perbedaan etnis
yang besar antara orang keturunan Cina dan asli Thailand dan keturunan Melayu,
tapi semuanya Buddhist. Apa karena agamanya sama maka kerusuhan itu menjadi
berkurang?
Bisa jadi. Beberapa penelitian tentang Buddha di Thailand memang
menunjukkan bahwa unsur Buddhist itu memperkuat integrasi. Ada contoh
penelitian seperti itu untuk Thailand dan beberapa tempat lainnya.
Bagaimana dengan di Filipina karena di sana Katolik Roma yang mungkin kuat
tapi juga ada minoritas Islam?
Saya kira di berbagai negara memiliki masalahnya sendiri-sendiri tentang
multikulturalisme ini termasuk juga di Indonesia.
Untuk di Indonesia, menurut Anda, apakah yang menyadari permasalahan ini
hanya orang ilmiah semacam Anda atau politikus juga menyadarinya dalam arti
positif atau bahkan mengeksploitasinya dengan kejelekan?
Ini juga menjadi persoalan kita. Kesadaran terhadap konsep itu sendiri baru
4-5 tahun terakhir. Ketika kita diramaikan oleh kerusuhan dimana-mana, konflik
dimana-mana, orang kemudian menoleh pada faktor kebudayaan.
Itu belum tentu karena kebudayaan. Barangkali orang ribut karena dihasut
tentara atau karena gap kecerdasan, dan sebagainya.
Bisa jadi, tapi dalam perspektif anthropology ini kita melihat bagaimana
unsur-unsur konsep pluralisme dan multikulturalisme itu, dan ternyata ini juga
satu pendekatan yang saya kira sangat menjanjikan pada masa depan. Tapi ada
persyaratan yang sangat berat yaitu apakah pemerintah kita atau kita semua
memiliki komitmen untuk mengembangkan konsep ini ke depan berjangka panjang
Apa jawabannya?
Saya kira sejauh ini kita belum melihat itu. Program-program yang ke arah
sana itu sangat fragmenter atau terpecah-pecah. Misalnya, Departemen Pendidikan
Nasional (Diknas) membuat program sendiri, nanti Departemen Agama membuatnya
sendiri juga. Program-program yang terintegrasi satu sama lain itu yang kita
harapkan.
Apakah ada think-thank tentang multikulturalisme yang melibatkan Anda
dengan orang-orang dalam kekuasaan?
Belum ada sampai sekarang.
Apakah keragaman budaya multikulturalisme kita itu pada dasarnya aset atau
liability? Tapi pada hakikatnya, mana lebih beruntung negara yang multikultur
seperti kita atau yang monokultur? Apakah ada atau tidak negara yang monokultur
dan apakah itu lebih kuat?
Saya kira tidak ada yang monokultur. Yang ada adalah salah satu dari unsur
penyusun bangsa itu dominan. Misalnya, ada model nasio-dominan atau
etnik-dominan yaitu satu unsur kebudayaan atau etnik yang dominan. Dia yang
mendominasi sehingga yang lainnya menjadi marginal.
Justru ada negara buatan yang punya seperti itu. Misalnya, Israel dengan
sengaja mengumpulkan orang Yahudi sedangkan orang lainnya adalah orang yang
kebetulan ada di situ. Menurut Anda apakah sejak ada pertikaian terorisme
internasional, apakah pandangan negara barat mengenai multikulturalisme ke
tahap politik ini mengalami perubahan atau tidak, seperti toleransi budayanya
menjadi lebih kurang?
Iya, itu yang terjadi dimana-mana. Di Amerika sendiri saya melihat juga itu
terjadi, khususnya pandangan terhadap Muslim menjadi berubah sehingga dimana
mana ada semacam gerakan-gerakan anti terhadap yang namanya penganut Islam.
Politik internasional, misalnya, sangat mempengaruhi juga bagaimana
multikulturalisme bekerja. Khusus di Indonesia, saya melihat ada beberapa
faktor yang harus kita perhatikan. Misalnya, di sini kita melihat kemiskinan
dan gap sosial ekonomi yang semakin melebar juga tidak begitu menguntungkan
terhadap pengembangan multikulturalisme di Indonesia. Belum lagi kita melihat
justru yang terjadi adalah stereotip-stereotip antar etnik, antar agama
menguat. Itu juga antara karena politik internasional terjadi terorisme
dimana-mana.
Sekarang sepertinya banyak kelompok kecil yang ekstrim yang melaksanakan
hukum sendiri, melakukan sweeping, dan mempunyai keyakinan berlebih. Apa
penyebab itu karena dulu itu rasanya tidak ada, dan mengapa sekarang menjadi
ada?
Sebetulnya contoh tentang kelompok-kelompok kecil yang ekstrim ini bukan
contoh kerja multikulturalisme karena multikuturalisme justru sangat menentang
kekerasan semacam ini. Justru yang ingin dibangun itu adalah toleransi,
kerukunan, dan lain-lain. Anti-thesis sebetulnya muncul justru karena di masa
lampau itu kita sangat pluralisme. Pemikiran pluralisme yang justru kuat di
masa lampau karena keanekaragaman etnik, golongan, pengaruh agama, dan
lain-lain itu tidak diberikan peluang untuk berinteraksi sebagaimana halnya
yang diharapkan di dalam multikulturalisme. Waktu itu yang kuat adalah negara,
jadi politik keseragaman itu yang justru ditanamkan selama beribu-ribu tahun.
Ketika itu hilang diganti oleh demokratisasi yang kita kenal sekarang maka
terbuka peluang untuk menyatakan diri mereka masing-masing. Nah,
konflik-konflik terjadi di berbagai tempat, seperti kelompok ekstrim yang Pak
Wimar katakan tadi. Saya melihat indikasi-indikasi yang menunjukan
bagaimana pluralisme di masa lampau itu bekerja.
Seperti ikatan bunga yang talinya terlepas dan tidak ada gantinya. Jadi
negara sekarang ini, menurut Anda, belum exist untuk menggantikan negara model
Orde Baru. Apakah betul begitu?
Itulah yang terjadi. Jadi tampaknya kita juga belum siap meghadapi itu.
Di dalam model demokratisasi, darimana itu harus dimulai? Apakah ada
yang bisa diharapkan dari pemerintah?
Saya kira bukan hanya dari pemerintah atas kesadarannya tapi juga dari
masyarakat seluruhnya. Kita juga berharap dari lembaga-lembaga pendidikan.
Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2004 pernah mengadakan multicultural
education workshop untuk Asia Tenggara dan Indonesia. Ada satu buku terbitan
yang waktu itu kita buat untuk mengimbau pemerintah agar memperhatikan
multikulturalisme dari saluran pendidikan.
Apakah Anda melihat multikulturalisme kita sebagai kecelakaan sejarah
karena kebetulan Belanda menjajah kita semua kemudian pergi sehingga kita
dibungkus menjadi satu, padahal sebetulnya tidak ada alasan untuk bersatu?
Ya, bisa jadi begitu.
Kalau memang begitu berati perlu ada koreksisejarah yang besar dong.
Apakah itu harus secara ilmiah atau secara social engineering?
Saya rasa tidak. Jadi yang justru hendak dicapai adalah satu cara pandang
ke depan. Kalau memang sudah terjadi berbagai persoalan sosial maka sekarang
ini bisa atau tidak kita ke depan untuk berangsur-angsur menghilangkan ini.
Jadi kita masih berharap banyak dan harapan itu harus tetap ada ke depan kalau
memang kita commit pada Negara Kesatuan Republik Indonesia, integrasi bangsa,
dan lain-lain.
Kembali pada soal agama dan etnis. Itu memang tidak bisa dipisahkan tapi
dari segi rekayasa politik bisa karena ada organisasi agama yang besar,
legitimate, dan moderat. Kalau organisasi etnis tidak ada yang tidak
dibenarkan. Dulu sewaktu saya mahasiswa tidak ada yang mahasiswa Sunda berantem
sama Batak. Tapi kalau agama ada dan mereka bisa melakukan dialog antar agama.
Jadi untuk Indonesia, menurut Anda, apakah memang agama yang diharapkan atau
agama yang akan menimbulkan benturan hebat?
Saya kira salah satu saluran yang sangat penting melalui agama dan itu juga
sudah dilakukan secara tersebar dimana-mana. Saya melihat memang ada
gerakan-gerakan masyarakat sendiri untuk membangun toleransi antar umat
beragama dengan cara melakukan dialog dan lain-lain. Saya kira itu sudah
terjadi. Ada satu hal lagi yang saya kira menarik sebagai salah satu contoh
kebudayaan di Indonesia yang multikulturalisme sudah berjalan. Kita bisa
melihat dalam kehidupan sehari-hari orang Jawa, misalnya, ayahnya Katolik,
ibunya Islam, anaknya Islam.
Nah, itu tidak menjadi persoalan. Ini bentuk multikulturalisme yang lain
dalam konteks agama. Jadi saya kira potensi-potensi semacam ini juga bisa.
Menurut Anda, apakah itu sesuatu yang khas Indonesia dibandingkan dengan
negara lain? Apakah hubungan pribadi antar agama itu juga bagus?
Saya kira ini bukan khas Indonesia, dimana-mana juga dan di berbagai negara
itu ada. Di Amerika, agama lebih menjadi urusan individu pribadi ketimbang
kolektif. Jadi di sana orang tidak terlalu memperhatikan agama dan suku bangsa
orang lain. Itu tidak terlalu menjadi concern.
Di sini diperhatikan. Apakah itu sesuatu kekurangan yang harus
ditinggalkan?
Mungkin tidak juga. Yang kita harapkan adalah meskipun identitas kita
berbeda-beda dari segi agama, etnis, dan lainnya, tapi nilai-nilai penghargaan
itu yang ingin dikembangkan. Misalnya, melalui pendidikan di sekolah-sekolah.
Saya kira itu sudah harus mulai dikembangkan. Hanya saja usaha-usaha untuk
menuju ke sana belum merupakan suatu kesatuan yang saya sebut sebagai grand
strategy nasional.
Apakah ada langkah-langkah awal?
Langkah-langkah awal ada, misalnya, saya diminta untuk bicara di beberapa
tempat. Saya pernah berbicara di Departemen Agama, seminar, Diknas, pusat
perbukuan. Saya juga diminta untuk mendiskusikan multikulturalisme yang harus
diterjemahkan ke dalam teks-teks sekolah dasar dan menengah. Tapi kelihatannya
itu masih seperti jalan sendiri-sendiri.

(diambil dari http://www.perspektifbaru.com)

3 Comments

  1. vita_blanco@yahoo.co.id said,

    June 21, 2007 at 3:14 am

    a

  2. Bait Wright said,

    September 20, 2007 at 1:43 pm

    Sir you are hand in hand to create sin and fatalism… just follow this link http://www.goldengrab.com for netralize your mind

  3. mutiarazuhud said,

    January 18, 2010 at 10:00 am

    Tanpa kita sadari Sekularisme, Pluralisme maupun Liberalisme adalah paham yang diserbarluaskan oleh kaum Illuminati.

    Bagi illuminati,
    Liberalisme, paham yang “membebaskan” manusia terhadap aturan Allah / Agama
    Pluralisme, paham yang membuat manusia “floating” / “ragu” akan agama.
    sedangkan sekularisme, paham yang menghindarkan manusia dalam kehidupannya me”referensi” kepada Allah / Agama

    selengkapnya baca di blog saya, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/sekularisme-pluralisme-dan-liberalisme/

    Toleransi ?

    Umat muslim di Malaysia, “marah” terhadap penggunaan kata Allah bagi Katolik.

    Umat muslim di Malaysia tampaknya belum setoleransi umat muslim di Indonesia. Semoga tidak berkembang menjadi konflik lebih jauh.

    Di Indonesia walaupun ditulis sama Allah antara umat Islam maupun umat Katolik, namun tetap saja ada “perbedaan”.

    Karena “perbedaan” mengenal Allah pada ahli kitab sebelumnya maka Nabi Muhammad di beri wahyu Allah untuk memperbaikinya.

    Salah satu firman Allah , dalam surat Al-Ikhlas sebagai “pengobat” kekeliruan yang telah terjadi.

    Namun tidak ada paksaan bagi mereka akan tetapi firman Allah mengatakan,
    “Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka..” (QS.Ali Imran : 110)

    Jadi, konsep pluralisme adalah keliru ! baik dengan arti semua agama benar atau semua agama sama atau ada berbagai macam agama di dunia, karena Allah “memberitahukan” kepada manusia melalui nabi dan rasul secara bergantian tidak pernah bersamaan !

    Nabi yang kemudian “memperbaiki” ajaran nabi sebelumnya yang “dirusak”, “diubah”,”dilempar” oleh manusia.

    Sampai Allah telah menetapkan untuk yang “terakhir” akan menjaganya sampai akhir zaman.

    Wallahu a’lam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: