Megatruh Rendra: “Memutus Ruh”

Megatruh Rendra: “Memutus Ruh”

PENGANTAR
Ya. Inilah judul pidato kebudayaan saya malam ini. Megatruh.
Megat-ruh. Megat artinya memutus. Jadi: megatruh adalah memutus
ruh. Suasana dukacita yang mendalam. Bukan suasana perasaan
semata, tetapi suasana ruh yang putus dan berada dalam alam kelam.

****

Para hadirin yang terhormat, …
Perkenankanlah saya mengulang apa yang sudah saya ucapkan dalam
beberapa wawancara dengan pers. Adalah kodrat manusia bahwa ia
mengandung Daulat Alam dan Daulat Manusia di dalam dirinya.
Kebudayaan yang kita warisi dari leluhur banyak merenungkan dan
menghayati Daulat Alam di dalam kehidupan: kelahiran, kematian,
perjodohan, nasib rezeki, penghayatan pancaindra, penghayatan
badan dan penghayatan alam semesta.

Tetapi merenungkan Daulat Manusia tidak pernah tuntas. Daulat
manusia terbatas sekali oleh sifat alam dalam dirinya. Terutama
sekali terbatas oleh kelahirannya. Kalau lahir sebagai orang
bawah, sebagai orang miskin, sebagai orang tanpa pendidikan, atau
sebagai orang perempuan, sukar untuk meningkat keatas, karena
tatanan masyarakat diatur seperti tatanan didalam alam: yang
tikus tetap tikus, yang kucing tetap kucing, yang kambing tetap
kambing, yang macan tetap macan. Hanya para jagoan saja yang bisa
menerobos tatanan masyarakat yang seperti itu. Misalnya Ken Arok,
si anak jadah dan kriminal jalanan yang akhirnya bisa menjadi
raja itu; atau Gajah Mada, tukang pukul yang akhirnya bisa
menjadi mahapatih; atau Untung Surapati, seorang hamba sahaya
yang bisa meningkat menjadi pahlawan atau jagoan; atau Ir.
Soekarno, seorang anak guru yang bisa menjadi Presiden Indonesia
yang pertama; atau orang-orang melarat yang bisa menjadi
konglomerat. Oh ya, akhirnya banyak juga jagoan-jagoan dalam
berbagai bidang bisa muncul. Tetapi kejagoannyalah yang membuat
ia mampu mendobrak tatanan hidup yang resmi, yang sebenarnya
tidak banyak memberi hak kepada khalayak banyak untuk
memperkembangkan Daulat Manusia mereka.

Para pemimpin bangsa kita, dari sejak zaman raja-raja dahulu
kala, memang tidak pernah menaruh perhatian kepada pengembangan
Daulat Manusia pada umumnya. Saat Aristoteles, filsuf Yunani
(384-322 SM) menulis buku “Politica”, menerangkan hak rakyat untuk
memilih pemimpin bangsanya, dan tidak membenarkan adanya tirani
kekuasaan, para pemimpin bangsa kita masih hidup dalam kegelapan
sejarah dan jelas tidak berminat pada filsafat. Dan pada waktu
Raja John dari Inggris mengesahkan Undang-Undang yang disebut
orang sebagai Magna Carta, yaitu tahun 1215, raja mengakui
kejelasan hak-hak bangsawan bawahannya dan juga hak-hak rakyat
yang harus ia hormati dan tak mungkin ia langgar.

Jawa pada saat itu berada dalam pemerintahan Tunggul Ametung yang
sebentar lagi akan digantikan oleh Ken Arok. Kedua penguasa dari
Jawa itu tak pernah memikirkan atau mengakui UU apapun. Sabda
raja itulah UU bagi rakyat. Sebagaimana dalam alam bahwa yang
kuat itu yang menang. Maka tatanan masyarakat leluhur kita itupun
berlandaskan kenyataan bahwa yang kuat itu yang benar (might is
right). Dan yang terkuat dalam di dalam masyarakat tentunya raja.
Jadi sabda raja (dekrit raja atau Kepraj, yaitu keputusan raja)
yang menjadi sumber kebenaran.

Tentu saja seorang raja Jawa tidak diperkenankan untuk sewenang-wenang.
Ia diharapkan untuk Ambeg Paramarta serta menghayati Hasta Brata.
Tetapi bila ternyata raja tidak memenuhi harapan itu, dan kejam
seperti Amangkurat Tegalarum atau menjijikkan seperti Amangkurat II,
ya tidak ada sanksi apa-apa sebab ia kuat, ia raja.

****

Selanjutnya pada 1295 Raja Edward dari Inggris memperbaiki
hak-hak parlemen. Dia mengatakan bahwa hanya parlemen yang bisa
mengubah hukum. Hal ini bersamaan dengan saat akhir pemerintahan
Kertanegara dari Singasari dan munculnya Majapahit dibawah
pimpinan Raden Wijaya. Kedua penguasa itu, boro-boro punya
parlemen, punya kitab UU sebagai landasan pemerintahannya pun
tidak. Sabda raja tetap unggul di atas segala-galanya. Hal itu
bukan pertanda kebudayaan bangsa kita rendah. Lihatlah candi-
candi yang indah, seni membuat keris, syair-syair dari Empu
Kanwa, Empu Sedah, Empu Panuluh. Raffles mengagumi karya sastra
leluhur kita. Waktu pulang ke Inggris, setelah selesai tugasnya
di Jawa, ia membawa 30 ton benda sastra dan seni dari Jawa.
Kemudian dengan rasa kagum ia laporkan dan dikupas dalam bukunya
“The History of Java”. Tetapi didalam kebudayaan Jawa yang tinggi
itu, para pujangga dan para rajanya ternyata tak pernah sadar
akan perlunya hak-hak konstitusional bagi rakyatnya, yang
dilindungi oleh pelaksanaan UU yang berlaku.

Di zaman pemerintahan Hayam Wuruk, menurut buku Negarakertagama
yang ditulis oleh Empu Prapanca, pada pupuh 73 digambarkan bahwa
Hayam Wuruk bersifat adil dalam melaksanakan UU Agama, yang
sebenarnya dituliskan dalam kitab yang berjudul Kutara
Manawadharmasastra. Bahkan Demung Sora, seorang menterinya
dihukum mati karena telah membunuh Mahisa Anabrang yang tak
berdosa. Dengan begitu Demung Sora telah melanggar pasal
Astadusta dari Kitab UU Kutara Manawadharmasastra itu. Namun
begitu, tidak tercantum di dalam Kitab UU itu hak rakyat untuk
punya perwakilan dan ikut menentukan jalannya pemerintahan.
Sementara itu di Inggris pada 1649 Raja Charles I dihukum
pancung karena dianggap melecehkan parlemen, dan untuk sementara
Lord Cromwell diangkat menjadi pelindung parlemen dengan gelar
Lord Protector pada 1653.

Itulah tahun-tahun berkuasanya Amangkurat I yang kejam, yang
sibuk membina kekuasaan yang absolut dan pemerintahan yang ketat
dan memusat, yang membuat kehidupan masyarakat menjadi sumpek dan
akhirnya dibenci oleh rakyat. Dan waktu John Locke, filsuf dan
sastrawan Inggris menulis dua esai tentang pemerintahan yang
ideal, yang menghormati hak milik warganegara dan berkewajiban
melindungi segala milik warganegara itu, di Mataram berkuasa
Amangkurat II yang memerintah di Karta Sura dengan sewenang-wenang,
sombong, kekanak-kanakan, pengecut dan keras kepala.

Ia telah membunuh bapaknya Amangkurat I yang tengah sekarat di
Tegalarum. Lalu mengkhianati sahabatnya Trunojoyo. Menggadaikan
Semarang kepada VOC. Dan menyewakan tebang hutan dari beberapa
wilayah kepada para cukong. Lalu para cukong menjual kayunya atau
hak tebang hutannya pada VOC. (Saya teringat pada sistem HPH
dewasa ini.

Ternyata pelopornya adalah Amangkurat II dengan asprinya yang bernama
Adipati Suranata).

Ya, Amangkurat II inilah pelopor kebangkrutan Mataram, yang sebenarnya
memang sudah salah membangun sejak rajanya yang pertama yaitu Panembahan
Senopati. Sebab raja-raja pendahulu Dinasti Mataram ini salah mengira bahwa
stabilitas negara itu adalah pemusatan kekuasaan.

Tetapi di Inggris, sejak zaman Ken Arok, Kertanegara atau Raden
Wijaya, para penguasanya atau raja-rajanya mau mengakui daulat
hukum disamping daulat raja, bahkan pada akhirnya, sejajar dengan
zaman Majapahit, raja Inggris mau mengakui adanya daulat rakyat,
ternyata negaranya terus stabil. Bukan berarti tanpa pergolakan.

Wah, justru banyak pergolakan politik di sana. Tetapi kepastian
hidup rakyat makin lama makin stabil. Dan ternyata dinasti raja-
raja mereka tetap lestari bergengsi sampai zaman ini, sehingga
negaranya bisa maju. Sebab kemajuan negara itu tidak mungkin
diciptakan penguasa. Paling jauh penguasa itu hanya bisa menyeret
bangsanya maju setahap saja, tetapi perkembangan bertahap-tahap
seperti di Inggris (dari tahap pertanian ke tahap filsafat,
perdagangan, ilmu pengetahuan, teknologi modern, industri dan
kebudayaan cybernetic) hanyalah bisa dicapai dengan kemampuan
rakyat yang selalu maju berkat dukungan daulat rakyat, yang
dilindungi oleh daulat hukum. Tidak ada contohnya dalam sejarah
dunia bahwa pemerintahan yang totaliter bisa memajukan bangsa
dalam tahap-tahap perkembangan budaya. Di kala dipimpin oleh
pemerintah yang totaliter, meskipun sudah mencapai teknologi
tinggi, seperti Jepang, Korea dan Jerman, rupanya budaya
filsafat, sosial dan ekonomi macet. Baru setelah daulat hukum
dan daulat rakyat berlaku, maka ketiga negara itu bisa melewati
berbagai tahap budaya dengan pesat, hingga kini harus
diperhitungkan sebagai kekuatan yang ikut menentukan perkembangan
budaya dunia.

Sebaliknya para raja Mataram yang maniak akan sentralisasi
kekuasaan itu, tidak pernah bisa membawa kemajuan kepada rakyat
Jawa. Dipandang dari segi kepentingan rakyat, raja-raja Mataram
adalah raja-raja yang gagal. Tidak ada kharisma mereka, sehingga
gagal menyatukan Jawa.

****

Sebelum ada Mataram, menurut laporan orang Portugis Jono de
Barros, orang Jawa itu angkuh, berani, berbahaya dan pendendam.
Kalau tersinggung perasaannya sedikit saja, terutama kalau
disentuh kepala atau dahinya, terus mengamuk membalas dendam.
Seorang Portugis yang lain, Diego de Couto melaporkan bahwa ia
mengagumi kecakapan berlayar orang-orang Jawa, bahasa Jawa yang
selalu berkembang dan punya aksara sendiri, namun mereka begitu
angkuh sehingga menganggap bangsa lain lebih rendah. Maka kalau
orang Jawa lewat di jalan, dan melihat ada orang bangsa lain yang
berdiri di onggokan tanah atau suatu tempat lain yang tinggi dari
tanah tempat ia berjalan, apabila orang itu tidak segera turun
dari tempat semacam itu, maka ia akan dibunuh oleh orang Jawa
itu. Sebab ia tidak akan memperkenankan orang lain berdiri
ditempat yang lebih tinggi. Juga orang Jawa tak akan mau
menyunggi beban di atas kepalanya, biarpun ia diancam dengan
ancaman maut.

Mereka adalah pemberani dan penuh keyakinan diri dan hanya karena
penghinaan kecil saja bisa melakukan amuk untuk balas dendam. Dan
meskipun ia telah ditusuk-tusuk dengan tombak sampai tembus,
mereka akan terus merangsek maju sehingga dekat kepada lawannya.
Bagaimanapun ekstremnya gambaran itu, pada intinya orang-orang
Jawa itu terlihat tangkas, berani, berstamina, dan percaya pada
diri secara luar biasa. Dan nyatanya di zaman kerajaan Demak dan
Banten, saat kedua laporan itu ditulis, orang-orang Jawa
menguasai setiap jengkal dari tanahnya. Tak ada kekuatan asing
yang bisa melecehkan kedaulatan tanah air mereka. Banten dan
Demak bebas dari kekuasaan asing. Semarang dan Jepara menjadi
tempat galangan kapal yang memprodusir kapal-kapal besar dan
kecil dalam produktivitas yang tinggi. Arsitektur mengalami
perkembangan yang besar. Atap Limasan, gandok, pringgitan dan
pendopo joglo yang lebih besar diciptakan (sebelumnya pendopo itu
kecil seperti gazebo). Orkestrasi gamelan berkembang karena
diciptakannya gambang penerus, bonang penerus dsb. Variasi
kendang-kendangpun bertambah. Lalu tembang-tembang Mocopat muncul
sebagai eksperimen baru. Pertunjukan wayang kulit ditambah dengan
kelir dan blencong.

Santan dan minyak goreng ditemukan. Begitu pula krupuk, trasi dan
penganan-penganan dari ketan bertambah variasinya. Masakan pepes
dan kukus juga diketemukan. Lalu soga untuk pewarna kain batik,
genting dari tanah liat, dan baju yang berlengan dan berkancing.
Semua itu tentu saja merupakan pengaruh asing. Barangkali
pengaruh dari Cina dan Campa. Tetapi daya adaptasi dan mencerna
rakyat terhadap unsur-unsur baru sangat kreatif. Keunikan sastra
suluk di zaman itu lebih lagi membuktikan kemampuan orang-orang
Jawa untuk beradaptasi tanpa kehilangan diri, bahkan bisa unik.

Mereka penuh harga diri dan pasti diri. Ini semua karena mereka
merasa punya jaminan kepastian hidup. Dan kepastian hidup ada
arena adanya daulat hukum yang tertera dalam kitab “Salokantara”
dan “Jugul Muda” ialah kitab UU Demak yang punya landasan
syari’ah agama islam, yang mengakui bahwa semua manusia itu
sama derajatnya, sama-sama khalifah Allah di dunia. Raja-raja
Demak sadar dan ikhlas dikontrol oleh kekuasaan para wali. Raja-
raja Demak berkuasa hanya selama 65 tahun. Tetapi mereka adalah
pahlawan bangsa yang telah memperkenalkan daulat hukum kepada
bangsanya, yang akan terus membekas sampai kepada Mohammad
Syafei, HOS Cokroaminoto dan tokoh-tokoh pembela hak azazi
manusia (HAM) dewasa ini.

****

Sayang, begitu muncul Panembahan Senopati, rasa hormat pada
daulat hukum itu dilecehkan. Sultan bergelar Sayidin Panatagama,
dan terus sampai kepada seluruh keturunannya, kefanatikan
terhadap kekuasaan raja yang mutlak dan sentralisasi kekuasaan
itu dipertahankan. Rakyat disebut kawula (abdi) dan bukan
warganegara. Hidup rakyat tidak pasti. Inisiatif mereka mulai
terbatas. Banyak larangan untuk ini dan itu. Rakyat tak bisa
mengontrol atau memberi tanggapan kepada kekuasaan. Maka daya
hidup rakyat merosot. Yacob Couper, panglima tentara Belanda,
menganggap daya tempur tentara Mataram sangat rendah. Sangat jauh
dari deskripsi yang dilukiskan oleh Jono de Borros ataupun Diego
de Couto. Sebenarnya saya sudah sering melukiskan perbedaan
antara Mataram dan Demak ini berulang kali dalam wawancara-
wawancara dengan pers. Tetapi sekarang, maafkanlah, perlu saya
ulang lagi demi kejelasan argumentasi pembicaraan saya malam ini.
Raja yang melecehkan daulat rakyat, akhirnya juga melecehkan
daulatnya sendiri. Sebab daulat rakyatlah yang mendukung daulat
raja. Sebagaimana daulat rakyat Inggris yang memungkinkan daulat
raja Inggris bergema di seluruh dunia.

Dan menurunnya wibawa daulat rakyat Mataram juga menyebabkan
daulat raja mereka semakin merosot. Sultan Agung tidak pernah
bisa menjamah Batavia. Anaknya Amangkurat I lari terbirit-birit
oleh pemberontakan Trunojoyo. Lalu pergi ke Tegal untuk mengemis
perlindungan kepada VOC. Raja yang tidak mau berbagi kekuasaan
dengan rakyat itu, malah mau berlindung dibawah ketiak orang
asing yang bernama VOC. Belum sampai ke Tegal ia sudah sekarat.
Dalam keadaan sekarat, ia diracun oleh anaknya yang punya sifat
menjijikkan dipandang dari segi kemanusiaan yang beradab, yang
kemudian menggantikannya dan bergelar Amangkurat II. Dan raja
yang congkak, yang gila kekuasaan, si Amangkurat II ini suka
berdandan seperti Belanda, secara diam-diam dileceh oleh Gubernur
Cornelius Speelman sebagai “anak emas kompeni”. Raja yang tambun
ini menyebut Gubernur “Eyang” dan menyebut komandan militer lokal
Belanda dengan sebutan “Romo”. Lebih jauh lagi, nanti salah satu
keturunannya yang bernama Paku Buwono II, ternyata telah
melecehkan harga dirinya sendiri. Meskipun ia melecehkan daulat
rakyat, ternyata ia tidak segan menulis perjanjian dengan Kompeni
Belanda pada tahun 1749 yang bunyinya sebagai berikut: “Inilah
surat perkara melepaskan serta menyerahkan terhadap keraton
Mataram, dari kanjeng Susuhunan Paku Buwana Senapati Panatagama,
ialah dikarenakan oleh perintah Kanjeng Kumpeni yang agung itu,
keratuan ini diserahkan kepada Kanjeng Tuwan Gupernur serta
direktur di tanah Jawa Djohan Andrijas Baron Van Hogendorf.
Hamba, Kanjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati Hing Ngalaga
Ngabdulrahman Sayidin Panatagama …………..” Begitu dan
seterusnya ia tanpa malu-malu merendahkan dirinya dan
mengangkat-angkat penguasa asing dengan cara yang berlebihan.
Sungguh karikatural. Masa pemerintahan Kartasura dan Surakarta
adalah masa yang sangat memalukan bagi sejarah Mataram dan
sejarah orang Jawa.

Kesenian yang dilahirkan adalah kesenian manis seperti permen.
Penuh rasa haru tetapi tidak punya ketajaman olah pikiran. Ada
seorang pujangga yang istimewa: ialah Raden Ronggowarsito yang
muncul jauh setelah Mataram sirna. Tetapi ia tidak dihargai oleh
para penguasa saat itu, meski sangat dicintai oleh rakyat
kebanyakan. Ekonomi kacau. Utang kepada Kompeni menumpuk.
Amangkurat II menggadaikan Semarang dan hutan-hutan. Pakubuwana
II menggadaikan kerajaan. Sedangkan di Inggris, di masa yang
sezaman dengan Amangkurat II, karena rakyat Inggris punya
kedaulatan yang jelas, yang dilindungi UU, maka karena informasi
mengenai jalannya ekonomi kerajaan Inggris bersifat transparan,
dan kepastian hukum bisa bersifat vertikal, tidak horisontal,
sehingga perencanaan dagang dan ekonomi bisa lebih aman diatur,
maka pada tahun 1694 Bank of England sudah mulai didirikan.

Kekuatan dan bonafiditas perbankan suatu bangsa adalah
bonafiditas kemampuannya membangun dan berencana. Kekuatan dan
bonafiditas semacam itu hanyalah mampu dihasilkan oleh daulat
rakyat yang kuat dan terus dibina. Tujuan dari pidato saya ini
adalah untuk secara jujur melakukan instropeksi budaya. Negara
kita akhirnya sudah merdeka, tetapi kenapa bangsa Indonesia masih
belum juga sepenuhnya bisa merdeka? Bukankah tanpa hak hukum yang
bisa berfungsi vertikal suatu bangsa tidak bisa benar-benar
merdeka?

Sejarah menunjukkan lubang-lubang dari daya pertahanan kita
sebagai suatu bangsa sebagaimana nampak dalam sejarah Mataram.
Namun ada juga kenyataan bisa punya harapan apabila menilik
kepada sejarah Demak.

Hadirin sekalian.

KESADARAN ADALAH MATAHARI
KESABARAN ADALAH BUMI
KEBERANIAN MENJADI CAKRAWALA
DAN
PERJUANGAN
ADALAH PELAKSANAAN KATA-KATA

Ungkapkan opini Anda di:

http://mediacare.blogspot.com

http://indonesiana.multiply.com

5 Comments

  1. panggiring said,

    February 18, 2008 at 3:08 pm

    tulisanya cukup menginspirasi,
    matur thank Q

  2. Al Matarami said,

    July 12, 2009 at 6:09 pm

    woii!!! yg bener aja lo nulisnya!! yg bener tuh bahwa Sultan Agung lah yg menjadikan kesultanan Mataram Islam menjadi harum namanya! beliau menerapkan Islam dgn benar, tetapi setelah wafatnya, maka kesultanan Mataram Islam menjadi mundur. Dapat disimpulkan bahwa anda pemilik blog ini ngiri dan tdk menyukai Mataram Islam! telah tercatat secara Valid dan sah dalam sejarah bahwa Sultan Agung adalah Pahlawan Nasional RI. Semua orang RI menghormati Kesultanan Mataram Islam, khususnya Sultan Abdullah maulana Matarami (Mas Rangsang alias sultan agung hanyokro kusumo) Hidup Kesultanan Mataram Islam! hidup sultan agung matarami! Jadi jgn pernah lagi anda memfitnah Sultan Agung. so.. mampus aja lo paramadina “JIL”!!! Nurcholish Madjid bangsat!! anjing!! antek2! paramadina adalah Kafirun!

  3. Al Matarami said,

    July 12, 2009 at 6:17 pm

    Nurcolish beserta keluarga dan murid2nya telah menyeleweng dari Islam!!!! matinya di azab Allah!! mampus lo nurcolish!! banyak para Ulama Ahlussunnah di Indonesia yg membela Islam dari serangan musuh2 Islam seperti cak Nurcolis madjid gendeng sinting!! sekarang para mahasiswa Islam telah mengetahui kebusukan nurcolish!! ueeekkk..!!!

  4. Kakha said,

    November 10, 2009 at 11:36 am

    @ Al Matarami

    tulisan diatas adalah pidato kebudayaan dari W.S Rendra jadi bukan tulisan dari pemilik blog ini

    jika merasa keberatan buatlah tulisan utk menyanggahnya, bukan malah jadi menghina Cak Nur.

    menawi panjenengan estu ngaku dados kawulo mataram, monggo dipun jadi pangandikan panjenengan….. Rahayu….

  5. February 23, 2012 at 2:25 pm

    hapus aja gan,,,,,,,,,,,, MESESATKAN…!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: