Memperingati 80 Tahun Karya Bung Karno

Sekali lagi Pikir itu Pelita Hati: Memperingati 80 Tahun Karya Bung Karno

(Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme)

Oleh Suar Suroso

80 tahun yang lalu, tahun 1926. Bagai petir mengguntur di siang hari, Bung Karno mengumunkan tulisannya yang historis: NASIONALISME, ISLAMISME DAN MARXISME. Tulisan ini sangat menggemparkan, karena ia menampilkan gagasan raksasa yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah Indonesia. Gagasan ini mempunyai jangkauan jauh ke depan, sampai pada saat sekarang!

Kini, sesudah hampir sepertiga abad dihitamkan oleh rezim militer fasis Orba, nama Bung Karno mencuat kembali sebagai Bapak Bangsa. Bangsa kita memuja Bung Karno bukan karena jasmaninya yang tampan, bukan karena suaranya yang menggelegar membangkitkan semangat perjuangan. Tapi karena kepemimpinannya. Kepemimpinannya berarti pikirannya, gagasan-gagasannya. Salah satu gagasan Bung Karno yang brilyan dan historis adalah yang dipaparkan dalam tulisan NASIONALISME, ISLAMISME DAN MARXISME.

Kita peringati 80 tahun karya ini, karena isinya adalah sangat relevan dengan situasi bangsa kita dewasa ini. Nasionalisme sedang jadi bahan perbincangan. Ada yang mempersoalkan: adakah nasionalisme Indonesia dewasa ini? Apa itu nasionalisme Indonesia kini? Masih perlukah nasionalisme itu dikala jagat dilanda globalisasi? Islamisme kini sedang berkiprah di semua benua. Setiap saat dikumandangkan orang bahwa Indonesia adalah negara dengan penganut Islam terbesar di dunia. Apa dan sampai di mana Islam bermanfaat dalam membangun Indonesia, menghadapi ancaman neo-liberalisme, membela dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengatasi krisis multi-dimensi yang melanda bangsa saat ini? Marxisme ternyata tidaklah punah. Para penganut dan penentang Marxisme kian lantang menyuarakan pandangan masing-masing yang dianut.

Namu demikian, yang jelas dan tak bisa dibantah adalah: selagi ada nasion, tetap ada nasionalisme. Bangsa yang tak punya nasionalisme, berarti bangsa yang tidak berjiwa, tidak punya gagasan ke arah mana bangsa itu akan menuju. Berarti bangsa itu tidak bermasa-depan. Bagi Indonesia, Bung Karno adalah bapak nasionalisme Indonesia. Mengakui Bung Karno sebagai Bapak Bangsa, tak bisa lain haruslah mengakui nasionalisme yang diajarkan Bung Karno. Juga tak bisa dibantah, Islam adalah salah satu agama terbesar di dunia. Selalu dikumandangkan bahwa Indonesia adalah negara berpenduduk penganut Islam terbesar di dunia. Islam yang demikian besar pengaruhnya, mestinya bisa memainkan peranan penting bagi membawa maju penganutnya ke arah mewujudkan cita-cita nasion Indonesia. Marxisme yang kontroversial kini juga mencuat. Walaupun ratusan ribu bahkan sejuta lebih penganut dan simpatisan Marxisme sudah dibantai, Marxisme sudah dilarang selama sepertiga abad oleh rezim militer fasis Orba, kini Marxisme sudah jadi buah mulut lagi. Bahkan ada yang sudah ketakutan, karena tanpa alasan yang masuk akal merasa terancam oleh kebangkitan lagi penganut Marxisme. Di samping itu, bermunculan pula para pembela Marxisme sejati. Mata dan pikiran mereka sangat jeli, hingga dengan gampang menemukan dan menuding adanya pengkhianat Marxisme. Ada pengkhianat Marxisme, berarti ada pendukung Marxisme sejati. Betapa pun jua, hiruk-pikuk antara pembela dan penentang Marxisme ini adalah baik. Kenyataan ini menunjukkan, bahwa bangsa kita sedang maju selangkah, keluar dari kurungan kekuasaan fasis yang memasung kebebasan orang punya pendapat, memasung orang punya keyakinan politik, punya ideologi. Perlulah dipelihara kebebasan bersuara yang sudah dimenangkan oleh gerakan reformasi ini. Biarlah diperdepatkan secara bebas pemahaman tentang Marxisme itu. Benar atau salahnya Marxisme akan diadili oleh sejarah.

Sejarah pergerakan nasional Indonesia menunjukkan, bahwa penganut nasionalisme Indonesia, penganut Islam dan penganut Marxisme adalah kenyataan objektif dalam masyarakat Indonesia. Kekuatan apapun tak mungkin bisa melenyapkan salah satu dari penganut aliran ini. Dan penganut ketiga aliran ini sudah terbukti berjasa dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda, melawan fasisme Jepang, membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini sesuai dengan gagasan Bung Karno yang dipaparkan dalam tulisan NASIONALISME, ISLAMISME DAN MARXISME.

Dua dasawarsa sesudah diumumkannya tulisan NASIONALISME, ISLAMISME DAN MARXISME, Bung Karno tampil mencetuskan Pancasila sebagai dasar negara. Dalam kedua karya inilah terpaku nasionalisme Indonesia. Keduanya mengisi jiwa nasionalisme Indonesia. Keduanya menjadi senjata bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan nasionalisme Indonesia.

Kini, sangat mencuat suara pengakuan akan Bung Karno sebagai Bapak Bangsa. Apa artinya pengakuan atas Bung Karno sebagai Bapak Bangsa? Perlu berpikir baik-baik dalam mengakui Bung Karno sebagai Bapak Bangsa. PIKIR ITU PELITA HATI. Akan banyak tersingkap, jika kita pikirkan arti pengakuan atas Bung Karno sebagai Bapak Bangsa.

Bapak Bangsa Indonesia berarti Bapak nasionalisme Indonesia. Nasionalisme Indonesia dipaparkan dalam karya-karya Bung Karno. Maka dikala menjelang peringatan Hari SUMPAH PEMUDA, adalah seyogyanya digerakkan kegiatan mempelajari karya-karya Bung Karno, terutama NASIONALISME, ISLAMISME DAN MARXISME.

1 Comment

  1. will said,

    August 13, 2007 at 3:42 am

    bung karno memang “se ngada lawang” sosok ini begitu mengispirasi siapa saja yang memiliki semangant cinta tanah air termasuk saya,seorang idealis sekaligus nasionals sejati satu kombinasi sempurna sebagai seorang negarawan uncomparable, sekarang masih adakah generasi-generasi muda yang mau mengikuti jejak beliau?????????PR buat kita semua


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: