Mencari Tradisi Dalam Diri

Oleh Radhar Panca Dahana
Sastrawan, Tinggal di Tangerang
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/16/humaniora/2732802.htm
====================================

Jika sebagian pihak menyatakan Bali menemukan diri pada Trunyan,
sebuah kata yang teriwayat ketika seorang pangeran Solo berkelana
dituntun oleh bau harum pohon teru menyan.

Jika Mangkunegara IV mengidentifikasi diri dan ontologi Jawa dari
penanggalan dan kedatangan seorang pangeran India, Ajisaka, pada 76
Masehi; bila orang-orang Minang memandang nenek moyangnya pada Bundo
Kanduang yang dibangun dan didirikan oleh Adityawarman keturunan
Majapahit; jika masyarakat Betawi ternyata ada karena percampuran
puluhan etnis lokal dan asing serta mendapat sebutan dari sebuah
daerah kecil di Netherland, Batavia; jika manusia Bugis….; bila
orang Batak…..et cetera…

Maka sesungguhnya tak ada satu pun pihak, tak satu pun bangsa, satu
pun etnik, bahkan subetnik apa pun di negeri ini yang dapat mengklaim
dirinya sebagai satu entitas yang unik, genuine atau asli. Tak satu
pun. Yang ternyata bisa kita sadari dan akui: aku atau kita adalah
sesutau yang tersusun dari pecahan-pecahan identitas orang lain;
sebuah mosaik yang kemudian kita sebut sebagai tradisi, sebagai
kebudayaan, sebuah peradaban. Kita ternyata adalah bagian dari orang
lain; ada sebagian dari orang lain dalam diri kita. Kamu adalah aku,
aku pun kamu.

Sikap dan penerimaan kultural seperti ini tidak akan memberi izin
atau permisi kepada siapa pun untuk arogan, menganggap
dirinya “lebih” (murni, misalnya) dari orang lain, lebih kuat, lebih
berhak mendapatkan sesuatu, dan seterusnya. Dengan sikap seperti itu,
kita pun dapat terhindar dari pelbagai cedera sosial yang belakangan
ini menimpa bangsa kita melalui konflik-konflik horizontal maupun
vertikal, intelektual maupun fisikal.

Pada dimensi lain yang lebih lapang, penerimaan dan sikap tersebut
juga akan menggiring kita pada satu cara kita melihat diri secara
keseluruhan. Semacam cara pandang yang mencoba melintasi batas etnik,
geografis, tradisi, dan kesejarahan: melihat kita sebagai sebuah
bangsa. Indonesia sebagai satu nama, sebagai satu entitas,
sesungguhnya adalah sebuah abstrak(si) yang (dalam tahap ini)
sesungguhnya masih berupa harapan. Ia belum mendapat wujud konkretnya
jika hal itu harus dielaborasi sebagai sikap hidup, cara berpikir,
berperilaku, nilai, adat baru, dan sebagainya.

Indonesia sebagai sebuah pencapaian hingga hari ini, ternyata, baru
sekadar sebuah pencapaian politik yang bersifat simbolis. Tidak atau
belum realistis. Tentu saja, sekian dari Anda dapat menolaknya.
Penolakan itu dapat disanggah dengan pertanyaan-pertanyan sederhana:
apakah sistem, institusi, atau apa pun simbol-simbol perikehidupan
modern kita, dengan serta-merta bisa mengubah manusianya? Benarkah
kemerdekaan politik kita secara langsung juga berarti kemerdekaan
kita pada masa lalu, pada adat dan tradisi yang beku membelenggu,
pada karakter dan sifat kita yang membatu?

Jawaban pasti dari pertanyaan—yang masih dapat dideretkan panjang itu—
sesungguhnya hanya akan mengafirmasi kenyataan bangsa ini ternyata
belum beranjak banyak dari sebelum dan sesudah adanya nama yang
bernama: Indonesia.

Mosaik Indonesia

Kenyataan di atas akan bermakna, atau setidaknya tidak akan menjadi
keluhan, ketika kita mampu menerima (atau menempatkan) Indonesia
sebagai satu realitas yang belum tercapai atau—jika kita ingin—sedang
berproses mencari bentuknya. Lalu melihat diri sendiri sebagai
kecambah “Indonesia” itu dalam bentuknya yang karut-marut, mungkin
tak berbentuk sama sekali. Karena ia semata hanyalah mosaik yang
disusun dari kepingan-kepingan masa lalu, masa depan, harapan, jati
diri-jati diri, pengaruh-pengaruh, kelebihan, kekurangan, dan
berbagai hal, yang semestinya dapat segera kita identifikasi (apa
semua itu).

Melalui prosedur akseptasi seperti ini, kita akan mulai segalanya
dengan rendah hati, dengan daya terima yang lapang dan terbuka,
dengan kemauan kerja yang lebih kuat. Tak ada satu hal atau satu
kekuatan apa pun yang harus diposisikan lebih (kuat) dari yang
lainnya. Situasi egaliter akan menjelma dan mengajak kita untuk
menciptakan kerja sama (gotong royong) membangun apa yang kita
harapkan bersama: “Indonesia”.

Setidaknya kita bisa mulai dengan satu usaha sederhana (yang betapa
payah sebenarnya) untuk menyusun ulang (merekonstruksi) puing-puing
atau kepingan itu ke dalam satu mosaik baru yang lebih memiliki
bentuk, lebih dapat kita kenali sebagai diri kita: lebih
teridentifikasi (dengan standar dan simbol-simbol kekinian kita).
Untuk itu, sebuah kerja kebudayaan yang besar mesti siap kita lakukan
dengan keterlibatan langsung dan aktif dari semua unsur (tanpa
kecuali) yang menyusun mosaik baru itu.

Pada tahap awal inilah ekspresi dan produk budaya dari mana pun
asalnya mesti mendapatkan ruang dan keleluasaan yang sebesarnya.
Karena secara sinergis dan akumulatif semua kerja itu akan melakukan
semacam rafinisasi atau penghalusan dari kerja pembentukan mosaik
awal kita di atas sehingga bentuk itu pun semakin integral, kuat,
komprehensif, dan tegas sebagai sebuah identitas.

Dalam proses tersebut, tak ada kemungkinan yang tidak mungkin.
Termasuk perhitungan ulang dari apa pun yang pernah kita lakukan
dalam sejarah kita. Termasuk pilihan-pilihan sistem, cara kerja, tata
kelola, atau prinsip-prinsip yang melandasi hidup kita sebagai sebuah
bangsa. Jadi tak ada lagi fanatisme, keyakinan berlebih, atau
pembelaan mati-matian terhadap satu cara atau satu pola tertentu:
ideologi, kapitalisme, demokrasi, tradisionalisme, paternalisme,
negara agama, dan sebagainya.

Demi kemaslahatan sebuah negeri yang mampu melintasi dan meng-“atas”-
i semua bentuk perbedaan itu, kita mau tak mau mesti menghadapkan
semua kemungkinan cara di atas dalam posisi yang egaliter, setara.
Dan tiada sepihak atau seorang pun yang dapat menduga: bentuk atau
mosaik baru apa yang akan terupa setelahnya. Yang kita bisa lakukan
hanya menerima: itulah Indonesia kita. Indonesia yang berbeda.
Mungkin baru.

Tradisi dalam diri

Sebenarnya dalam menjalani proses di atas, kita tidak akan lagi
memperhitungkan sebuah tradisi sebagai sebuah tradisi, golongan
sebagai golongan, dan seterusnya. Semua hanyalah anasir pembentuk
yang bisa saja kehilangan identitas asli atau “orisinal”-nya di
hadapan kerja kolektif (mungkin tidak bagi dirinya sendiri). Karena
apa pun yang bersifat terpisah, sektarian, dan sebagainya, tidak lagi
eksis, akibat satu proses pelarutan dan kristalisasi dalam
pembentukan jati diri baru.

Kenyataan ini mungkin tidak mudah diterima. Sementara kemampuan
menerima inilah yang akan menentukan seberapa jauh kedewasaan kita
sebagai sebuah bangsa tercapai; seberapa cepat proses kemajuan dan
perkembangan itu kita hasilkan; seberapa utuh dan integralnya hasil
akhir yang akan kita produksi. Semua melebur untuk mendapatkan
kristal yang baru.

Jadi, biarlah slogan ini berbunyi tanpa harus mendapat resistansi
atau salah arti: “Lupakan tradisi!” Karena bukan tradisi yang harus
lebih dulu didepankan, tetapi “diri”. Tak ada tradisi tanpa diri.
Maka, jika proses itu berlangsung baik, entah berapa lama entah
dengan korban apa, harapan awal yang dapat kita identifikasi (sekali
lagi) adalah: diri.

Saya kira, dalam tahap inilah kemudian sebuah tradisi (baru) mulai
kita susun dan jelmakan. Tradisi yang dibangun dari identitas diri
yang baru yang sudah disesuaikan atau melakukan adjustment dengan
situasi mutakhir kita. Dan pada masa itu, kita boleh jadi menyadari
kalau “Indonesia” sebenarnya (mulai) ada. Sementah apa pun.
Setidaknya ia tidak lagi sekadar abstraksi atau simbolisme.

Persoalannya: siapkah kita? Bisakah kita kerja sama?

Kertas lain yang harus menjawabnya.

1 Comment

  1. December 3, 2012 at 9:01 am

    […] Mencari Tradisi Dalam Diri […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: