Nasionalisme Ditinjau dari Akarnya

Oleh Achmad Fedyani Saifuddin
Pengajar Departemen Antropologi UI
Anggota Forum Kajian Antropologi Indonesia
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0608/12/Fokus/2874786.htm
============================
Indonesia adalah Negeri Majemuk Terbesar di Dunia

Kekhawatiran akan merosotnya nasionalisme dan terjadinya
disintegrasi nasional merebak di mana-mana akhir-akhir ini. Hal ini,
antara lain, juga tercermin dalam simposium berjudul “Membangun
Negara dan Mengembangkan Demokrasi dan Masyarakat Madani” yang
diselenggarakan oleh Komisi Ilmu-ilmu Sosial Akademi Ilmu
Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Jakarta, Selasa, 8 Agustus 2006, di
mana penulis juga menyajikan makalah.

Di tengah wacana mengenai nasionalisme yang pada umumnya dimulai
dari tengah—yakni langsung membicarakannya sebagai fenomena
masyarakat modern yang dikaitkan dengan fenomena negara—penulis coba
mengangkat isu yang masih kurang dibicarakan orang, yakni
membicarakannya dalam konteks kondisi-kondisi dasar yang di dalamnya
dibangun bangsa (nation), kebangsaan (nasionalitas), dan rasa
kebangsaan (nasionalisme) Indonesia. Kondisi dasar yang dimaksud
dalam tulisan ini adalah suku bangsa.

Membicarakan suku bangsa sebagai kondisi dasar berarti menempatkan
konsep-konsep bangsa, negara, dan nasionalisme secara posteriori.
Dengan memahami suku bangsa sebagai kondisi dasar, diharapkan
pemahaman kita tentang bangsa, kebangsaan, dan nasionalisme akan
menjadi lebih sistematik dan jernih.

Corak kebangsaan dan nasionalisme sedikit banyak ditentukan oleh
kondisi dasar tersebut, meskipun dalam perjalanan zaman niscaya ada
distorsi-distorsi yang dapat mengubah sosok maupun muatan
nasionalisme itu. Selanjutnya, dengan menempatkan negara dalam
konteks ini, maka negara dipandang sebagai bagian dari wilayah
analisis yang lebih luas, yakni sebagai external agent yang saling
memengaruhi dengan kondisi-kondisi lokal.

Karena titik tolak pembicaraan ini adalah dari perspektif
tradisional suku bangsa—suatu kesatuan sosial yang hidup di suatu
teritorial tertentu, dan yang memiliki suatu kebudayaan—maka
pergeseran konsep ini menjadi konsep kelompok etnik, sebagai
konsekuensi dari proses menjadi kompleks masyarakat, menjadi penting
dibicarakan.

Para ahli antropologi sependapat bahwa suku bangsa adalah landasan
bagi terbentuknya bangsa. IM Lewis (1985: 358), misalnya, mengatakan
bahwa “istilah bangsa (nation) adalah satuan kebudayaan… tidak perlu
membedakan antara suku bangsa dan bangsa karena perbedaannya hanya
dalam ukuran, bukan komposisi struktural atau fungsinya… segmen suku
bangsa adalah bagian dari segmen bangsa yang lebih besar, meski
berbeda ukuran namun ciri-cirinya sama”.

Meski pernyataan ini menuai banyak kritik, khususnya terkait dengan
isu “homogenitas” ini, jelas bahwa para antropolog sangat peduli
bahwa suatu konsep sosial budaya harus memiliki dasar empirik dalam
kenyataan, bukan konsep yang dibangun di awang- awang. Konsep bangsa
tentulah memiliki akar empirik, yakni dari suku bangsa.

Rasa kebangsaan

Kebangsaan (nationality) dan rasa kebangsaan (nationalism) saling
berkaitan satu sama lain. Rasa kebangsaan, biasanya juga disebut
nasionalisme, adalah dimensi sensoris—meminjam istilah Benedict
Anderson (1991[1983]) Imagined Communities—merupakan konsep
antropologi yang tidak semata-mata memandang nasionalisme sebagai
prinsip politik.

Dimensi sensoris yang tak lain adalah kebudayaan ini memperjelas
posisi antropologi yang berangkat dari konsep suku bangsa,
kesukubangsaan, bangsa, dan kebangsaan, sebagaimana dibicarakan di
atas. Inilah akar-akar bagi membicarakan rasa kebangsaan
(nasionalisme) itu.

Rasa kebangsaan atau yang kerap kali juga disebut nasionalisme
adalah topik baru dalam kajian antropologi. Nasionalisme sebagai
ideologi negara-bangsa modern sejak lama adalah rubrik ilmu politik,
sosiologi makro, dan sejarah.

Perhatian antropologi terhadap nasionalisme menempuh jalur yang
berbeda dari disiplin-disiplin tersebut yang menempatkan negara
sebagai titik awal pembahasan. Sejalan dengan tradisinya,
antropologi menempatkan nasionalisme bersamaan dengan negara karena
kesetiaan, komitmen, dan rasa memiliki negara tidak hanya bersifat
instrumental—yakni keterikatan oleh prinsip politik—melainkan juga
bersifat sensorik yang berisikan sentimen-sentimen, emosi-emosi, dan
perasaan-perasaan.

Dalam dimensi ini, bangsa, kebangsaan, dan rasa kebangsaan menjadi
suatu yang “imagined” (meminjam istilah Benedict Anderson), yang
berarti “orang- orang yang mendefinisikan diri mereka sebagai warga
suatu bangsa, meski tidak pernah saling mengenal, bertemu, atau
bahkan mendengar. Namun, dalam pikiran mereka hidup suatu image
mengenai kesatuan bersama. Itulah sebabnya ada warga negara yang mau
mengorbankan raga serta jiwanya demi membela bangsa dan negara.

Nasionalisme baru

Tak seorang pun menyangkal bahwa bangsa Indonesia tersusun dari
aneka ragam suku bangsa. Jelas bahwa tidak hanya suku bangsa yang
beraneka ragam, melainkan juga ras, agama, dan golongan sosial-
ekonomi.

Belum lagi fakta bahwa penduduk Indonesia yang jumlahnya kira-kira
250 juta itu hidup tersebar di kepulauan yang paling luas di dunia.
Maka, keanekaragaman adalah kondisi dasar bangsa dan negara kita.
Bilamana kita hendak membicarakan nasionalisme Indonesia, maka isu
keanekaragaman itu patut menjadi landasan pertama pemahaman kita.

Nasionalisme kita adalah suatu konstruksi yang dibangun dan
dipelihara posteriori. Sejarah perjuangan bangsa penuh heroik dalam
mencapai kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah salah satu bagian
konstruksi terpenting sehingga selama 60 tahun bagian ini menjadi
perekat integrasi bangsa.

Sebagai suatu konstruksi posteriori, maka nasionalisme harus dijaga,
dipelihara, dan dijamin mampu menghadapi perubahan zaman. Selain
itu, nasion sebagai suatu yang “imagined” adalah entitas abstrak
yang berisikan bayangan-bayangan, cita-cita, dan harapan-harapan
bahwa nasion akan tumbuh makin kuat dan mampu memberikan
perlindungan, kenyamanan, dan kesejahteraan hidup. Selama 60 tahun
imajinasi itu hidup dan terpelihara, rakyat terus menggantungkan
harapan bahwa suatu waktu kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan
itu akan terwujud.

Namun, pertanyaan besar adalah seberapa lama dan kuat harapan-
harapan itu bertahan? Bagaimanapun, harapan-harapan itu ingin
disaksikan dalam wujudnya yang nyata oleh warga bangsa kita.

Apabila nasion adalah suatu yang “imagined”, maka nasionalisme
adalah suatu ideologi yang menyelimuti imajinasi itu. Sebagaimana
halnya imajinasi itu sendiri, maka nasionalisme pun akan mengalami
kemerosotan apabila distorsi yang disebabkan oleh faktor-faktor lain
dalam negara-bangsa ini semakin meningkat.

Secara internal kita berhadapan dengan fenomena meningkatnya
kemiskinan, korupsi, konflik-konflik kepentingan partai dan
golongan, kesenjangan sosial-ekonomi, ketidakpastian pelaksanaan
hukum, jurang generasi, dan banyak lagi; secara eksternal kita
menghadapi fenomena global, seperti liberalisasi ekonomi, memudarnya
ideologi, dan meningkatnya komunikasi lintas batas negara dan
kebudayaan.

Tantangan internal dan eksternal tersebut niscaya memengaruhi kadar
dan muatan nasionalisme kita. Nasionalisme kita hanya akan dapat
dijaga dan dipelihara apabila kita secara mantap dan konsisten
berupaya keras untuk meminimalisasi—kalau tak mungkin menghilangkan—
fenomena internal di atas sehingga cukup kuat berkontestasi dengan
bangsa-bangsa lain.

Barangkali ini adalah upaya yang jauh lebih keras dan berat
dibandingkan bangsa-bangsa lain karena Indonesia adalah negeri
majemuk terbesar di dunia. Sebagai bangsa majemuk terbesar, kita
juga paling rentan perpecahan dan disintegrasi. Itulah sebabnya kita
perlu memahami dan menyadari kondisi-kondisi dasar bangsa kita,
antara lain, suku bangsa dan kesukubangsaan, sebelum kita berbicara
tentang isu-isu lain, seperti nasionalisme sebagai prinsip politik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: