Nasionalisme Indonesia Setelah 61 Tahun Merdeka

Oleh BAWONO KUMORO
Peneliti dan Analis pada Laboratorium Politik Islam Universitas Islam
Negeri Jakarta
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0608/16/opini/2886194.htm
===========================

Besok, tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia akan merayakan hari
kemerdekaan ke-61. Setiap kali merayakan hari kemerdekaan, setiap itu
pula muncul berbagai pertanyaan dalam diri kita. Salah satunya
perihal nasionalisme. Bagaimanakah nasionalisme kita dewasa ini?

Banyak kalangan menilai, nasionalisme kita sebagai sebuah bangsa
telah lusuh dan usang. Hemat penulis, nasionalisme menjadi lusuh dan
usang karena ia telah teramat sering dibajak oleh rezim-rezim yang
berkuasa hanya untuk kepentingan kekuasaan belaka.

Dalam studi ilmu politik, pembahasan mengenai nasionalisme tak bisa
lepas dari nation itu sendiri. Ernest Renan melalui tulisannya yang
terkenal, What is a Nation?, mengatakan, nation adalah jiwa dan
prinsip spiritual yang menjadi sebuah ikatan bersama, baik dalam hal
kebersamaan maupun dalam hal pengorbanan.

Pemikiran Ernest Renan ini amat memengaruhi alur berpikir dari
pemikir-pemikir sesudahnya, salah satunya Benedict Anderson. Benedict
Anderson memaknai imagined community sebagai cikal bakal munculnya
konsep nasionalisme.

Suatu bangsa pada dasarnya ialah suatu komunitas sosial politik dan
dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas, sekaligus
berkedaulatan. Pada komunitas itu masing-masing anggotanya belum
tentu saling mengenal satu sama lain, tetapi di benak setiap
anggotanya hidup bayangan tentang kebersamaan dan persaudaraan.

Melalui konsep imagined community dapat kita identifikasi beberapa
unsur terbentuknya nasionalisme, yaitu adanya kesamaan perasaan
senasib, kedekatan fisik/nonfisik, terancam dari musuh yang sama, dan
tujuan bersama. Berbekal semangat itulah, nasionalisme Indonesia
lahir sebagai sebuah ikatan bersama. Dalam konteks ini, nasionalisme
digunakan sebagai amunisi bersama dalam menentang hegemoni
kolonialisme.

Namun, kini nasionalisme bangsa terasa kian meredup sinarnya. Sebab
utamanya adalah kian maraknya praktik negatif kekuasaan. Mulai dari
buruknya kinerja serta rusaknya etika birokrat, elite politik, para
penegak hukum, tindakan-tindakan represif negara, sampai pada
ketidakadilan pembagian “kue pembangunan” telah mengakibatkan makin
menguatnya gejala ketidakpatuhan sosial di dalam masyarakat.

Hal itu kemudian mengakibatkan hilangnya kepercayaan (distrust)
masyarakat terhadap negara. Masyarakat tidak memiliki panutan dalam
bertindak. Akibat lebih lanjut dari hal ini adalah makin memudarnya
kohesi sosial bangsa Indonesia. Padahal—sebagaimana Francis Fukuyama
katakan—kepercayaan merupakan social capital terpenting dalam
masyarakat. Masyarakat yang distrust amat kontraproduktif dengan
bangunan masyarakat sipil yang kuat, yang notabene merupakan conditio
sine qua non bagi terciptanya negara demokrasi modern.

Realitas itu diperparah dengan lemahnya civic nationalism bangsa
sehingga mengakibatkan suburnya semangat ethno-nationalism di
masyarakat. Ethno-nationalism ialah bentuk nasionalisme yang berbasis
identitas-identitas primordial, seperti etnis, suku, dan ras. Tetapi
dalam pengertian lebih luas, ethno-nationalism didefinisikan sebagai
doktrin yang melekat pada suatu kelompok masyarakat yang merasa
memiliki perbedaan budaya, sejarah, maupun prinsip-prinsip hidup
tersendiri sehingga mereka merasa perlu memiliki sebuah pemerintahan
sendiri.

Ethno-nationalism dapat pula dibaca sebagai bentuk hilangnya
loyalitas dari suatu kelompok masyarakat tertentu terhadap sebuah
ikatan yang lebih besar, yakni bangsa dan negara Indonesia. Jika
fenomena ethno-nationalism berlangsung dalam jangka waktu lama, bukan
mustahil bila riwayat NKRI akan berujung pada disintegrasi bangsa
sebagaimana yang pernah dialami Uni Soviet dulu.

Dalam menyikapi fenomena itu, pemerintah sedapat mungkin harus
menghindari cara-cara represif. Cara-cara persuasiflah yang
seharusnya dikedepankan, misalnya dalam menghadapi gerakan ethno-
nationalism yang bertujuan untuk memisahkan diri, maka yang harus
dilakukan adalah negosiasi ulang pembagian sumber daya ekonomi
daerah.

Pendekatan dialogis senantiasa harus selalu diutamakan dan diusahakan
semaksimal mungkin. Selain itu, penting pula adanya sebuah pengakuan
resmi secara konstitusional terhadap berbagai bentuk identitas
primordial yang ada bahwa keberadaannya akan memperkaya khazanah
identitas nasional bangsa keseluruhan.

Pengakuan itu diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dalam diri
masing-masing kelompok masyarakat—terlebih yang memiliki potensi
ethno-nationalism dan separatisme—bahwa tindakan untuk memisahkan
diri dari NKRI guna menjadi negara tersendiri merupakan hal yang
tidak menguntungkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: