Nasionalisme Sedang Meranggas

Oleh Emmanuel Subangun
Pengamat Sosial Kemasyarakatan, Pernah Studi di Perancis
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0608/16/opini/2886161.htm
==========================

Sejak masyarakat kita mendengar kata “global”, saat itu pula semakin
banyak orang yang yakin bahwa nasionalisme sudah usang. Nasionalisme
hanya untuk mereka yang ketinggalan zaman, tinggal di udik, dan
globalisasi adalah untuk mereka yang modern, kaum kosmopolit.

Dikatakan, sebagai akibat dunia yang semakin mengglobal, maka dengan
sendirinya nation state kian kehilangan gigi. Lalu, jika kita hendak
menjadi modern, pilihan tunggal untuk semua orang hanya satu: semua
orang harus mampu bersaing di pasar global!

Semboyan zaman sekarang bukan lagi seperti semboyan zaman tujuh-belas-
agustusan “merdeka atau mati” (nasionalisme), tetapi “global atau
ketinggalan zaman”.

Pasang surut

Seperti dicatat sejarah, nasionalisme bukan barang yang jatuh dari
langit. Nasionalisme adalah proses sejarah. Sehingga kita dapat
mengatakan, nasionalisme berawal saat pemerintah kolonial menjalankan
politik etik, di awal abad XX, yang salah satu kebijakannya adalah
menyediakan pendidikan untuk kaum bumiputra.

Segera saja kebijakan itu membuahkan hasil. Di satu sisi dikarenakan
oleh semakin banyaknya anak negeri yang bersekolah, khususnya mereka
yang sekolah tinggi. Maka sejak tahun 1924, sejumlah mahasiswa
bumiputra di Belanda memaklumkan perhimpunan mereka di Belanda
sebagai “Perhimpunan Indonesia” dan bukan lagi Indische Vereniging
(Perhimpunan Hindia-Belanda). Sebagai akibat riak politik, sayap kiri
gerakan bumiputra pada tahun 1924 sudah membangun sebuah partai
politik (yang dilarang masuk Indonesia), di Bangkok, Thailand. Partai
politik itu diberi nama Partai Republik Indonesia (PARI), dan Tan
Malaka adalah pencetusnya.

Tahun 1930, Soekarno diadili lalu masuk bui, dan terkenal dengan
pleidoinya “Indonesia Menggugat”. Tak lama setelah itu, gelora
nasionalisme segera padam karena tindakan pemerintah kolonial yang
keras untuk menumpasnya. Para tokoh nasionalis seperti Hatta dan
Sjahrir dibuang ke pengasingan.

Karena itu pula, ketika pemerintah kolonial membuat analisis gerakan
politik bumiputra tahun 1940—di bawah sebuah komisi yang disebut
commisie tot bestudiering van staatrechteleijke hervorming atau
komisi untuk mempelajari reformasi hukum ketatanegaraan—dalam laporan
akhirnya Anda tidak akan lagi menemukan gelora dan api nasionalisme
itu yang ciri khasnya adalah gerakan nonkooperasi alias Indonesia
Merdeka.

Komisi yang terkenal sebagai “komisi Visman” itu hanya melaporkan
tokoh-tokoh Indonesia kooperatif dengan Belanda. Artinya, babak
pertama nasionalisme yang bermula tahun 1924 sudah surut dan
meranggas di tahun-tahun menjelang kedatangan Jepang.

Kini bisa dilihat, komisi Visman, 66 tahun silam, mempunyai peran
yang sama dengan aneka macam pidato globalisasi sekarang. Hanya saja
komisi Visman dilakukan penjajah, sedangkan pidato globalisasi
dilakukan awak negeri sendiri.

Nasionalisme baru

Di zaman Orde Baru, sesaat menjelang keruntuhannya tahun 1998, kita
masih menemukan catatan mengenai sedang lahirnya apa yang waktu itu
disebut sebagai nasionalisme baru. Tahun 1997 semua fundamental
ekonomi—laju pertumbuhan, cadangan devisa, neraca perdagangan,
inflasi, dan anggaran Negara—semua dalam keadaan menggembirakan.
Disangka kebijakan konglomerasi sedang akan menuju babak akhir dari
tinggal landasnya, maka kelompok perusahaan yang dimiliki pengusaha
terbesar Liem Swie Liong segera mulai ekspansi bisnis ke pasar
internasional.

Terhadap kenyataan tersebut sebagian orang mengatakan, sebuah
pelarian modal (capital flight) sedang terjadi, tetapi para menteri
ekonomi dan sekretaris negara melukiskan tindakan pengusaha itu
sebagai nasionalisme “baru”. Modal Indonesia harus go global, karena
nasionalisme tidak boleh hanya jago kandang.

Tidak selang lama nasionalisme baru ini berkumandang di udara, tiba-
tiba baht Thailand dilanda krisis nilai tukar. Krisis pasar uang
menjalar ke seluruh sudut dunia, termasuk Indonesia. Rupiah bukan
hanya didevaluasi, tetapi hancur berkeping. Bersamaan dengan
hancurnya rupiah oleh pasar uang global, pembawa obor nasionalisme
baru itu mendapatkan BLBI tak kurang dari Rp 50 triliun! Ini adalah
ironi nasional, hingga hari ini. Katanya globalisasi adalah soal
peluang usaha dan bukan sumber malapetaka.

Dengan kejatuhan Orde Baru, bukannya pemerintah reformasi menjadi
lebih waspada pada dahsyatnya pukulan globalisasi, justru sebaliknya.
Pemerintah reformasi semakin kecanduan globalisasi itu. Dan di
Indonesia bentuk kebijakannya tak lain ada dua jurus. Pertama, cabut
subsidi untuk kebutuhan pokok rakyat dan agar pasar semakin terbebas
dari campur tangan negara. Kedua, privatisasi perusahaan negara agar
bisnis dapat semakin efisien dan mendatangkan untung.

Di tengah keadaan seperti inilah, seperti Perhimpunan Indonesia di
Amsterdam tahun 1924, 80 tahun kemudian (tahun 2004), warga
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mengeluarkan seruan yang disebut
Deklarasi Bulak Sumur.

Ada dua pasal yang dapat dicamkan dari deklarasi universitas
kampoeng, yang dibangun Bung Karno tahun 1948 ini. Begini bunyinya,
pertama, reformasi tetap berpijak pada semangat percaya diri dan
semangat kebangsaan Indonesia berdasar Pancasila. Marak dan
berkembangnya neoliberalisme, neokapitalisme, dan neoimperialisme
adalah tantangan terhadap semangat kebangsaan.

Kedua, reformasi menuntut penguatan jati diri dan moral bangsa dengan
penataan ulang kelembagaan dan hukum berkeadilan.

Bahwa deklarasi semacam itu lahir dari Yogyakarta dapatlah dimengerti
karena tak kurang dari separuh penduduk daerah ini, yang sekitar 3,7
juta itu, tetap berada di bawah garis kemiskinan.

Sedang meranggas

Ironi bangsa Indonesia yang mencapai usia 61 tahun ini adalah justru
karena pemerintah dan struktur politik secara formal prosedural sudah
100 persen demokratis, tetapi secara nyata dalam praktik kian jauh
mereka terbang dari aspirasi dan kebutuhan nyata orang banyak.

Tragedi nasionalisme Indonesia adalah bahwa dalam kurun waktu lebih
dari 70 tahun—jika dihitung dari pasang naik nasionalisme tahun 30-an—
nasib rakyat tetap bergeming dari kemiskinan ke kemelaratan. Lalu,
bagaimana pedoman masa depan yang benar?

Ada baiknya dikutip pidato seorang pemuda dari tanah Pasundan, tahun
1924, atau 82 tahun silam. Dia adalah ketua IV Perhimpunan Indonesia
di negeri Belanda, yakni Raden Iwa Kusumasumantri. Beliau berucap
dalam pidatonya.

“Masa depan bangsa Indonesia semata-mata dan hanya terletak dalam
kelembagaan dari bentuk pemerintahan yang bertanggung jawab kepada
rakyat dalam arti sebenarnya. Untuk tujuan tersebut setiap orang
Indonesia harus berjuang sekuat tenaga dengan kemampuan dan
kekuatannya sendiri dan bebas dari bantuan asing. Setiap
penyelewengan dari kekuatan Indonesia, dalam bentuk apa pun, amat
dicela, karena hanya kerja paling kuat dari putra-putra Indonesia-lah
yang dapat membawa pencapaian tujuan bersama itu.”

Sungguh di luar dugaan, sejarah politik kenegaraan kita di awal abad
XXI ini berulang kembali. Nasionalisme terus meranggas sampai hari
ini, dan belum ada petunjuk tumbuhnya tunas baru. Padahal,
nasionalisme hanya boleh surut jika kutukan kolonial yang mengatakan,
Indonesia adalah sebuah negeri di mana nie- mand nagenoeg iets bezit
(negeri di mana tak seorang pun berkecukupan) sudah silam. Artinya,
selama mayoritas rakyat masih minimumlijdster (sekadar bertahan
hidup), selama itu juga nasionalisme harus dijaga dan dijalankan
kembali dalam gerakan politik.

Nasionalisme memang bisa meranggas, tetapi selama kemiskinan
dirasakan sebagai kesewenang-wenangan masih amat meluas, dengan
sendirinya perasaan nasib bersama akan bangkit lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: