Negara Lautan, Visinya Daratan

Fokus KOMPAS Sabtu, 28 Mei 2005
============================================
SETIAP kali masalah yang berkaitan dengan kelautan mengemuka,
sepertinya sudah biasa ditanggapi dengan sikap yang reaktif dan
defensif, tanpa penanganan sistematis. Kelautan juga acap kali baru
menarik perhatian jika berkaitan dengan isu kewilayahan.

Sikap seperti ini, menurut pakar hukum laut internasional Prof Dr
Dimyati Hartono SH, mencerminkan penentu kebijakan maupun masyarakat
belum bervisi Indonesia sebagai negara kepulauan. “Kita membangun
berdasar land base oriented, padahal negara kita bukan daratan luas
atau benua, tetapi secara obyektif justru salah satu kepulauan
terluas di dunia,” kata Dimyati menjelaskan.

Pada masa awal Orde Baru pemenuhan pangan, sandang, dan papan
digenjot dengan mendirikan pabrik-pabrik. Pulau Jawa dipandang
sebagai kawasan yang paling siap untuk pengembangan manufaktur
tersebut. Pada akhirnya, pembangunan berbasis daratan itu menimbulkan
kesenjangan antara kawasan barat dan kawasan timur Indonesia yang
terdiri atas banyak kepulauan dikelilingi laut.

Ketika orientasi daratan digunakan, negara ini juga kebingungan mau
mengarah menjadi negara agraris atau negara industri. Sebaliknya,
jika orientasi kepulauan diterapkan, jelas Indonesia berpotensi
menjadi negara maritim yang besar dan kuat di dunia.

Jauh sebelum Orde Baru, pandangan pembangunan berorientasi ke darat
bisa dikatakan sebagai warisan pemerintah kolonial Belanda. Orientasi
kelautan memacu terbentuknya karakter yang berpandangan luas,
terbuka, kosmopolit, banyak berinteraksi dengan dunia luar. Pandangan
seperti ini sangat tidak menguntungkan keberlanjutan penjajahan.

Maka, pelan-pelan bangsa ini dibuat melupakan kegagahan pahlawan-
pahlawan Majapahit dan Sriwijaya pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan
Nusantara serta kegigihan pejuang bahari melawan penjajahan. “Nenek
moyangku orang pelaut…,” sekadar lirik lagu yang tidak mencerminkan
visi anak bangsa ini.

POTENSI kelautan negeri ini diakui dunia. Namun, kemaslahatan
masyarakat tidak berusaha dicapai dengan memanfaatkan potensi itu.
Sebaliknya, potensi kelautan negeri ini menjadi incaran yang kerap
kali menimbulkan konflik muncul dengan negara-negara lain. Kerusakan
lingkungan juga menjadi dampak dari kebijakan yang tidak bervisi
kelautan.

Betapa pun masalah bermunculan, tanpa perubahan orientasi pembangunan
mendasar, kelautan hanya akan menjadi urusan sektoral yang tidak
membawa kesejahteraan bangsa. Padahal, lautan negara kepulauan
Indonesia adalah faktor eksistensial adanya Nusantara. Fungsi laut
yang vital bagi keutuhan wilayah nasional, fungsi vital sebagai
sumber daya alam, komponen penting pertahanan dan keamanan, serta
nilai vital lautan negeri ini dalam transportasi nasional dan
internasional, akan selalu terabaikan.

Mengawali reorientasi pembangunan yang sebelumnya berbasis daratan
menjadi basis kepulauan, Dimyati bersama Lembaga Kajian Strategis
Maritim Indonesia (Laksmi) mengusulkan pemerintah mengembangkan
konsep pita pengaman nasional.

Melalui konsep ini, seluruh pulau lingkar luar wilayah Indonesia
dihubungkan oleh titik pengaman. Dalam usulan rancangan pita pengaman
nasional yang digagas Laksmi, setidaknya terdapat 45 kawasan
kepulauan terluar yang berpotensi untuk dikembangkan dan difungsikan
menjadi titik pengaman.

Setiap titik itu dikembangkan sebagai pusat penyelenggaraan
pemerintahan lokal sekaligus pusat kegiatan ekonomi dan sosial
budaya, sesuai dengan kondisi dan potensi setempat. Pengembangan
ekonomi yang terutama berbasis maritim antara lain dapat dilakukan
dengan membina nelayan, hortikultura, dan aqua culture. Sementara
pengembangan kebudayaan juga menjadi bukti kehadiran Indonesia di
kawasan itu.

Bukan perlu tentara saja untuk mempertahankan wilayah, tetapi rakyat
memegang peran penting. Masyarakat setempatlah yang juga akan
berperan sebagai sistem peringatan dini terhadap ancaman atau
gangguan dari luar. (DAY)
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/28/Fokus/1776955.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: