Orang Italia Melancong ke Nusantara

Oleh ANDREAS MARYOTO
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0602/01/teropong/2400712.htm
———————————————————–

Catatan kisah perjalanan orang Eropa ke Nusantara banyak didominasi
oleh pengelana dan peneliti dari Belanda, Inggris, dan Portugis.
Kisah-kisah mereka telah banyak menjadi bagian dari historiografi
Indonesia.

Padahal sebenarnya tidak sedikit catatan kisah perjalanan orang-orang
dari bangsa lain yang bercerita tentang perjalanan mereka. Salah
satunya adalah catatan pengelana asal Italia, yang sebenarnya datang
lebih awal jika dibandingkan dengan bangsa Eropa lainnya.

Orang Italia yang datang pertama kali ke negeri ini memang sulit
diketahui. Namun, menurut buku Nusa Jawa: Silang Budaya karya Dennys
Lombard, dengan sumber yang terbatas mulai ada “komunikasi” antara
Nusantara dan Kerajaan Romawi pada awal abad Masehi. Informasi
mengenai Nusantara, terutama melalui Sri Lanka, yang sejak zaman
Kaisar Claudius telah mengirim utusan ke Roma atau barangkali,
bahkan, sejak zaman Kaisar Augustus.

Sumber lainya—seperti dikutip dalam buku itu—pada abad pertama,
misalnya. Plinius yang Tua dalam karyanya Ilmu Alam membicarakan Mons
Maleus. Buku itu mengisahkan, “di sana bayang-bayang menjulur ke
utara pada musim dingin dan ke selatan pada musim panas selama enam
bulan.”

Nama Maleus berasal dari bahas Tamil, yaitu “malai” yang
berarti ‘gunung’. Situs ini terletak di Gunung Indrapura, pantai
barat Sumatera, satu-satunya tempat di bumi ini yang oleh orang India
diketahui terletak di dekat khatulistiwa.

Pada abad berikutnya Ilmu Bumi karya Ptolomeus mencantumkan peta
Nusantara dan menentukan tempat “Kersonesis emas” yang hampir pasti
sama dengan Semenanjung Melayu dan mencatat nama Iabadiou, yaitu
transkripsi Yunani untuk Jawadwipa alias nama Pulau Jawa yang
disansekertakan.

Catatan pertama yang bisa ditemukan antara lain dari perjalanan
pengelana besar Marco Polo (1254-1324), orang Venesia, Italia,
mengunjungi Asia. Biografinya pertama kali ditulis oleh kolektor
benda-benda yang terkait dengan geografi, yaitu Jhon Baptis Ramusio,
yang menulis dua abad setelah kematian Marco Polo. Meski beberapa
fakta kontradiktif, ia menulis dengan detail dan beberapa fakta
memang sesuai.

Marco Polo adalah pengelana pertama yang melacak sebuah rute
perjalanan ke Asia. Ia mencatat sejumlah raja di berbagai wilayah
yang dilalui maupun tempat yang dilewati. Ia melewati Sumatera dan
berlabuh di Samudra Pasai ketika kembali ke Eropa setelah sekian lama
di China. Meski tidak ke Jawa, dia menyebut sebuah tempat bernama
Jawa.

Biarawan

Catatan perjalanan orang Italia ke Jawa baru didapat dari kisah
biarawan Fransiskan bernama Mattiussi dalam buku Travels of Friar
Odoric of Pordenone yang datang ke sejumlah tempat di Nusantara,
seperti Jawa, Sumatera, dan Banjarmasin antara tahun 1318 hingga
1330. Ia yang lahir tahun 1286 kemudian masuk menjadi biarawan dan
bernama Odoric dari Pordenone. Ia diperintahkan Paus (pemimpin Gereja
Katolik) untuk menjalankan misi di pedalaman Asia.

Pada tahun 1318 ia berangkat dari Kota Padua, kemudian menyeberangi
Laut Hitam menuju Persia, Kalkuta, Madras, dan Sri Lanka. Setelah itu
ia menuju Kepulauan Nikobar hingga menuju Sumatera. Kemudian Odoric
mengunjungi Jawa dan Banjarmasin. Ia kembali ke Italia melalui jalur
darat melewati Vietnam dan China dan sampai kembali pada tahun 1330.

Sekembalinya dari Italia, Odoric—sesuai dengan permintaan atasannya
di biara. yaitu Guidotto—menceritakan perjalanannya itu kepada
rekannya sesama biarawan Wiliam Solagna. Namun, berdasarkan sumber
lain, kisah Odoric tersebut ditulis oleh salah seorang pengikut Conti
di Praha, Ceko, pada 1340. Kisah perjalanan ini menjadi buku
perjalanan yang sangat terkenal pada masa tersebut.

Di dalam buku itu disebutkan kalau ia mengunjungi Pulau Jawa, tanpa
menyebut tempat secara pasti. Raja yang memerintah wilayah itu
membawahi tujuh raja lainnya dalam wilayah kekuasaannya. Odoric
menyebutkan, pulau itu banyak cengkeh, pala, kemukus, dan banyak
rempah lainnya.

Raja di Jawa disebutkan memiliki istana yang luas dan mewah. Tangga-
tangga istana dan juga interiornya berlapis emas dan perak. Atap
istana berlapis emas. Odoric juga mencatat kalau raja-raja dari
Mongol berkali-kali menyerang kerajaan itu, tetapi selalu bisa
dipatahkan dan dipukul balik. Apabila meneliti secara terperinci
kisah Odoric ini, kerajaan yang dimaksud adalah Majapahit.

Beberapa orang yang mengkritisi kisah Odoric itu menyebutkan, di
dalam kisah itu terdapat penyebutan banyak tempat. Namun, hal itu
diragukan, apakah Odoric benar-benar melihat sendiri. Meski demikian,
kisah itu kemudian tersebar ke berbagai tempat melalui pencontekan
hingga buku mengenai perjalanan itu digunakan sebagai panduan para
ahli geografi pada masa itu.

Manuskrip

Sejumlah manuskrip perjalanan Odoric bisa ditemukan di dalam bahasa
Italia, Perancis, Jerman, dan Inggris. Buku ini pertama kali dicetak
di Pesaro. Versi bahasa Inggris kisah ini dibuat oleh Yule dalam buku
berjudul Cathay and The Way Thither tahun 1866. Awal Januari 2006 ini
sempat ditemukan buku mengenai Odoric di sebuah toko buku di
Singapura dengan judul Travels of Friar Odoric.

Kisah perjalanan lainnya dibuat oleh Nicolo Conti (1395-1469). Conti
adalah pedagang Venesia dan seorang pengelana. Ia mengunjungi India
dan sejumlah tempat di Asia Tenggara. Ia meninggalkan Venesia sekitar
tahun 1419 menuju Damaskus (Suriah) untuk belajar bahasa Arab.

Setelah itu ia mengelana selama beberapa tahun. Ia paham dengan
wilayah itu karena sudah memiliki bekal, yaitu kemampuan bahasa dan
pengetahuan mengenai budaya Arab. Saat itu wilayah Asia banyak
dikuasai oleh pedagang-pedagang dari Arab.

Perjalanan ini sangat menarik karena memiliki waktu yang hampir
bersamaan dengan perjalanan Laksamana Cheng Ho, pengelana China yang
masyhur itu. Dari penelitian beberapa orang ada konsistensi mengenai
nama-nama tempat di wilayah tersebut sesuai dengan kisah Cheng Ho
yang ditulis oleh Ma Huan (1433) dan Fei Xin (1436).

Setelah dari Damaskus, Conti menyeberangi gurun dan sampai di
Baghdad, Irak, terus menuju Iran dan India. Dari India dia menuju
wilayah bernama “Pedir” di Sumatera bagian utara. Di tempat ini ia
dilaporkan bermukim selama satu tahun dan mempelajari ilmu
pengetahuan lokal, terutama tentang produksi emas dan perdagangan
rempah- rempah.

Ia melanjutkan perjalanan ke Semenanjung Melayu dan mengunjungi
sejumlah tempat, antara lain, di Myanmar. Setelah dari Myanmar ia
mengunjungi Jawa. Di tempat ini ia tinggal selama sembilan bulan,
sebelum akhirnya kembali ke Italia dengan berlayar menuju Vietnam dan
dilanjutkan dengan perjalanan darat.

Kisah perjalanannya ini tidak ditulis oleh Conti sendiri. Kisah Conti
ditulis oleh dua orang. Mereka menulis setelah mendapat cerita dari
Conti. Salah satu dari mereka yang mendapat cerita itu adalah Pero
Tafur. Tafur adalah bangsawan Spanyol yang bertemu dengan Conti
ketika hendak kembali ke Eropa dari Asia. Ia bertemu dengan Conti di
Gunung Sinai tahun 1437.

Cerita lainnya berasal dari penuturan Conti kepada Sekretaris Paus
Giovanni Francesco Poggio Bracciolini setelah ia kembali ke Italia
pada 1439. Ia menceritakan kisahnya di Florence.

Penuturan Conti ke Tafur kemungkinan lebih komplet daripada
penuturannya kepada Poggio. Namun, dengan kemampuan analisisnya dan
minat khususnya mengenai negeri-negeri di Timur, Poggio melihat kisah
Conti ini bukan sekadar cerita kronologis belaka, tetapi juga memberi
informasi yang bersifat geografis. Poggio kemudian membuat kisah itu
dengan judul De Varietate Fortunae.

Karya Poggio dipublikasikan pada tahun 1492 oleh Cristoforo da
Bollate. Di dalam karyanya Poggio menonjolkan pengenalan negara-
negara di Asia bagian selatan yang saat itu sangat sedikit diketahui
orang-orang Eropa.

Mengenai Jawa, Conti menceritakan ada dua buah Pulau Jawa (sampai
abad 16 di dalam peta masih disebut Jawa Mayor dan Jawa Minor).
Penduduk pulau-pulau itu disebutkan sangat kejam dibandingkan dengan
bangsa-bangsa lainnya. Mereka makan tikus, kucing, dan hewan-hewan
yang tergolong disebut “tidak bersih”.

Conti juga berkisah, penduduk di Jawa yang berutang tetapi tidak bisa
mengembalikan utang menjadi budak dari si pemberi utang. Hiburan yang
ada antara lain adu ayam. Beberapa orang diceritakan sebagai produsen
ayam untuk aduan.

Minim pengetahuan

Minimnya pengetahuan orang Eropa tentang wilayah-wilayah di Asia
bagian selatan menjadikan buku Poggio ini diminati oleh banyak orang
pada saat itu. Buku itu kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai
bahasa, seperti Inggris, Portugis, dan Spanyol.

Sejumlah kisah perjalanan orang Italia lainnya mungkin masih banyak
tersimpan di perpustakaan-perpustakaan tua di negara tersebut. Kisah
perjalanan atau pandangan mereka mengenai Nusantara, jika bisa
ditemukan, akan memperkaya historiografi Indonesia.

Sudah pasti kita juga harus mengkritisi fakta-fakta yang ditampilkan
karena penceritaan mereka bisa memunculkan bias. Dengan membandingkan
kisah- kisah mereka dengan pengelana lainnya, kita akan makin kaya
informasi mengenai masa lalu negeri ini.

1 Comment

  1. October 25, 2011 at 3:54 am

    […] ORANG ITALIA MELANCONG KE NUSANTARA […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: