Orientasi Baru Kepahlawanan

Oleh Yonky Karman
Pengajar Sekolah Tinggi Teologi, Cipanas
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0611/10/opini/3080883.htm
=======================

“There’s a hero, if you look inside your heart.” (Mariah Carey)

Indonesia adalah negeri pahlawan, sosok yang dikagumi karena
keberaniannya berkorban bagi bangsa.

Di banyak kota besar dan kecil dijumpai taman makam pahlawan. Sebuah
hari khusus untuk mengenang pengorbanan pahlawan, sosok gagah berani
melawan penguasa kolonial dan mempertahankan negeri dari
rekolonisasi.

Pahlawan datang dan pergi. Tiap era membutuhkan pahlawan-pahlawan
baru. Mestinya negeri ini tidak kekurangan pahlawan. Asal, bangsa ini
tak terpenjara dalam memori retrospektif yang mengagungkan heroisme
militeristis. Asal, jiwa patriot dikaitkan tantangan dan masalah
bangsa.

Secara semantik, arti lain pahlawan adalah pelopor, lebih dari
sekadar produk zaman. Pahlawan adalah inspirator zaman karena inovasi
gagasan atau tindakannya. Pahlawan adalah orang yang berjuang agar
masyarakat menjadi lebih cerdas, sejahtera, dan beradab.

Heroisme dulu

Pendudukan Jepang di Indonesia sebenarnya berakhir tanpa kekerasan.
Namun, pemuda revolusioner tidak mau kemerdekaan itu sebagai hadiah
Jepang. Mereka menyerang garnisun Jepang dengan politik bumi hangus.
Serangan umumnya berhasil sebab Jepang tak bersemangat perang lagi
akibat kekalahan mereka dalam Perang Dunia II. Namun, korban tewas di
pihak Indonesia lebih banyak.

Pertempuran di Semarang menewaskan 300 orang Jepang, sedangkan korban
di pihak Indonesia 2.000 jiwa. Lebih mengerikan lagi saat Bandung
menjadi “lautan api”. Ketegangan di antara kaum nasionalis meningkat
saat Belanda masuk kembali ke Indonesia, membonceng Sekutu.

Puncak perlawanan rakyat adalah tanggal 10 November 1945. Surabaya
diserang pasukan Inggris pemenang Perang Dunia II. Hanya beberapa
pemuda di Surabaya yang berpengalaman dalam Perang Pasifik sebagai
Heiho angkatan perang Jepang. Kebanyakan mereka tak berpengalaman
perang. Namun, selama tiga minggu rakyat melawan dengan senjata
seadanya.

Saat itu, belum ada tentara nasional profesional. Pemuda revolusioner
kebanyakan orang miskin dari kampung atau desa, tidak elitis dan
antikolonial, semboyannya “Merdeka atau Mati!” Mereka membenci
pangreh praja yang dipandang kaki tangan kolonial.

Namun, Sjahrir mengkritik heroisme dan antifeodalisme pemuda sebagai
benih fasisme yang bisa membunuh semangat kerakyatan republik yang
baru lahir (Perjuangan Kita, 23-25). Pemuda revolusioner meniru sikap
militeristis Jepang. Dengan mental serdadu yang siap menerima
perintah serbu dan tunduk kepada pemimpin, mereka tidak belajar
memimpin.

Selain itu, dalam perjuangan kebangsaan selalu tersembunyi
nasionalisme sempit yang merugikan tujuan revolusi nasional untuk
membangun masyarakat adil sejahtera. Semangat kebangsaan harus
diperoleh dari mengobarkan rasa keadilan dan kemanusiaan, bukan
xenophobia.

Sjahrir benar. Pascakemerdekaan, banyak organisasi kepemudaan lebih
bangga dengan atribut militeristis daripada berprestasi melahirkan
kader pemimpin bangsa. Masyarakat sipil pun memanfaatkan beking yang
melibatkan oknum berseragam.

Nilai kepahlawanan merupakan salah satu faktor pembentuk karakter dan
jati diri bangsa. Heroisme fisik membuat negeri ini sarat tindakan
main hakim sendiri. Problem, perbedaan keyakinan, dan konflik
diselesaikan dengan menghalalkan kekerasan. Kekerasan melekat dalam
kultur politik kita. Daripada mengedepankan hukum yang melindungi
harkat manusia, kita merusaknya. Pemerintah tidak bersikap amanah
dalam penegakan hukum. Pembentukan masyarakat sipil mendapat hambatan
serius dari realitas heroisme fisik.

Heroisme kini

Harus ada orientasi baru kepahlawanan. Urgensi reorientasi terkait
kompetisi global yang ketat di antara negeri berkembang yang sebagian
meninggalkan Indonesia. Sejak krisis hingga kini, kita belum bangkit.
Jumlah orang miskin meningkat. Mencari kerja kian sulit. Angka
pengangguran di sektor formal meningkat.

Inti kolonialisme adalah kelemahan suatu bangsa yang dieksploitasi
bangsa lain sehingga tercipta ketergantungan sepihak. Kini dominasi
asing dalam bentuk subtil adalah serbuan produk impor yang menguasai
pasar domestik. Dominasi produk impor memerosotkan produktivitas
bangsa. Indonesia menjadi bangsa konsumtif.

Pemerintah tak mampu menjadikan Indonesia sebuah negara kuat karena
reformasi birokrasi terlalu lambat. Mudah dijumpai perilaku pejabat
yang gemar mengutip daripada melayani. Data ekspor dan impor
semrawut, rawan penyelundupan. Regulasi dan koordinasi
antardepartemen lemah. Pola tarif kacau. Standar nasional tidak
efektif.

Dibutuhkan heroisme pemimpin negeri untuk mewujudkan janji politiknya
saat kampanye calon presiden. Evo Morales berhasil menekan berbagai
perusahaan minyak dan gas asing di Bolivia untuk menandatangani
program nasionalisasi hanya kurang dari satu tahun masa
pemerintahannya sebagai presiden. Namun, pemimpin Indonesia tak cukup
percaya diri untuk mengkaji ulang kontrak karya yang ada agar
kekayaan alam bisa dinikmati rakyat Indonesia.

Sudah dua tahun administrasi SBY berkuasa, ternyata perubahan yang
dijanjikan semasa kampanye calon presiden miskin heroisme. Gagasan
revitalisasi pertanian yang dilontarkan Presiden hanya sebatas
wacana, tak mampu meningkatkan kesejahteraan petani yang mayoritas
miskin. Heroisme politik untuk memberantas korupsi tidak seperti di
China.

Untuk kebangkitan bangsa, dibutuhkan heroisme pro kehidupan. Dengan
dua gelar kesarjanaan yang dimiliki, Butet Manurung mengajarkan baca-
tulis dan berhitung kepada anak-anak rimba di pedalaman rimba Taman
Nasional Bukit Tiga Puluh, Jambi. Alumnus ITB Andrias Wiji Setio
Pamuji memelopori reaktor biogas berbahan inti kotoran sapi. Gas itu
bisa dialirkan dan berfungsi seperti gas biasa untuk memasak.

Haji Agus Salim dikenal sebagai diplomat ulung di dalam dan luar
negeri. Kerinduannya, bangsa Indonesia menjadi tuan di Tanah Air
sendiri. Ia membangun ekonomi umat dan mencerahkan kesadaran
nasionalisme lewat pendidikan. Dengan menguasai sedikitnya sembilan
bahasa, filosofi kepemimpinannya adalah bekerja keras dan hidup
sederhana.

Patriotisme seperti itu langka di kalangan pejabat dan petinggi
negeri merdeka. Pahlawan dikenang bukan hanya karena berani mati,
tetapi juga karena berani mengabdikan hidup demi kesejahteraan
bangsa. Indonesia unggul di abad ke-21 membutuhkan banyak pahlawan
kebajikan. Pahlawan-pahlawan kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: