Pemimpin Bangsa Diharapkan Serius Merespons Perkembangan

Pemimpin Bangsa Diharapkan Serius Merespons Perkembangan
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0611/15/humaniora/3097969.htm
=========================

Jakarta, Kompas – Sejarah dapat jadi arahan, sekaligus bahan
pelajaran untuk menyikapi masa depan. Namun, menghadapi tantangan
baru yang tanpa preseden seperti dampak globalisasi, perlu ada
refleksi, pemahaman, interpretasi, dan imajinasi baru terhadap
sejarah.

Azyumardi Azra, guru besar sejarah sekaligus Rektor Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, mengingatkan hal ini dalam pidato
kunci pada pembukaan Kongres Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) dan
Konferensi Nasional Sejarah VIII di Jakarta, Selasa (14/11). Di
tempat terpisah, sekelompok sejarawan juga menggelar apa yang mereka
sebut Pekan Sejarah FIB-UI di Kampus UI Depok.

“Jika tidak, maka yang muncul bukanlah respons yang tepat melainkan
tak lebih dari romantisme historis belaka. Responsnya akan sulit
dijabarkan dan diterapkan untuk menjawab tantangan sekarang dan
selanjutnya,” ujar Azyumardi Azra.

Sebagai sebuah peristiwa yang sedang dihadapi, globalisasi yang
kontradiktif—di antaranya menghilangkan batas-batas negara— ditandai
bangkitnya sentimen kedaerahan dan kesukuan. Kondisi tersebut
mengancam nasionalisme sebuah negara-bangsa seperti Indonesia.

Di Indonesia, sentimen-sentimen kedaerahan tersebut muncul dan
menemukan momentumnya pada pemilihan kepala daerah (pilkada).
Kekerasan berdasarkan kesukuan pun muncul di pelosok Tanah Air.

Kekerasan dan konflik mengatasnamakan agama juga muncul beriringan,
seperti kasus di Poso.

Faktor integratif

Di tengah meningkatnya sentimen kedaerahan dan kesukuan, faktor
pemersatu atau integratif menjadi penting perannya. Sayangnya, lanjut
Azyumardi, faktor-faktor itu tidak mengalami penguatan atau
revitalisasi.

Ditambahkan, kasus pembunuhan tokoh agama di Poso misalnya,
menunjukkan ketidakberdayaan aparat yang telah menyatakan pelakunya
pemain lama. Namun, aparat belum juga menangkap dan membawanya ke
pengadilan.

Yang justru terjadi, semua peristiwa memilukan akibat kekerasan terus
terjadi seakan-akan tanpa kendali. Seolah tanpa kemampuan negara
mengatasinya.

“Sudah waktunya pemimpin bangsa yang peduli lebih serius merespons
berbagai perkembangan yang mencemaskan. Perlu ada upaya-upaya
sistematis merevitalisasi faktor-faktor integratif yang membuat
negara bangsa Indonesia tercipta dan bertahan di tengah berbagai
perkembangan yang tidak selalu kondusif, baik di dalam maupun di luar
negeri,” kata Azyumardi.

Sentimen kedaerahan saat ini berbanding terbalik dengan masa awal
sebelum kemerdekaan. Saat itu, perbedaan suku dengan tegas disatukan
melalui Sumpah Pemuda yang kini tinggal sebagai “ingatan bersama”.

“Peluncuran buku”

Konferensi Nasional Sejarah VIII yang berlangsung hingga Kamis
(16/11) tersebut ditandai peluncuran buku Indonesia dalam Arus
Sejarah jilid I-IX. Hanya saja, buku itu baru dapat dibeli tahun
2007.

Taufik Abdullah selaku editor umum penulisan buku mengakui, masih ada
beberapa materi yang belum selesai dalam beberapa jilidnya. Salah
satunya, peristiwa Perang Puputan di Bali.

“Sejarah adalah sebuah diskusi yang kadang penuh perdebatan. Sejauh
ini, isi buku tersebut kami anggap yang paling mendekati kejadian
sebenarnya. Kalau ada bukti yang lebih tepat, tentu terbuka untuk
diperbaiki,” katanya.

Ditegaskan bahwa buku yang disponsori Departemen Kebudayaan dan
Pariwisata itu bukan dimaksudkan mengganti atau merevisi enam jilid
buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI).

Pembukaan konferensi yang dihadiri sekitar 250 peserta itu juga
ditandai penganugerahan gelar guru utama kepada Prof Dr Sartono
Kartodirdjo yang kini terbaring di Rumah Sakit Panti Rapih,
Yogyakarta. (GSA/har)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: