Pendidikan Antikorupsi

Oleh Mochtar Buchori
Pendidik
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/21/opini/3316225.htm
=====================

Tanggal 8 Februari 2007 lalu saya seharusnya ikut diskusi tentang
pendidikan untuk membasmi korupsi. Diskusi ini diselenggarakan oleh
Indonesian Corruption Watch. Namun karena hujan dan saya berada
dalam “pengungsian”, keinginan itu terpaksa dibatalkan.

Ada tiga gagasan yang ingin saya sampaikan. Pertama, korupsi hanya
dapat dihapuskan dari kehidupan kita secara berangsur-angsur. Kedua,
pendidikan untuk membasmi korupsi sebaiknya berupa persilangan
(intersection) antara pendidikan watak dan pendidikan
kewarganegaraan. Ketiga, pendidikan untuk mengurangi korupsi harus
berupa pendidikan nilai, yaitu pendidikan untuk mendorong setiap
generasi menyusun kembali sistem nilai yang diwarisi.

Kemajuan bangsa

Banyak di antara kita yang habis kesabaran saat menyaksikan berbagai
usaha menghapus korupsi tidak menunjukkan kemajuan berarti. Kita
seperti lari di tempat; secepat apa pun larinya, kita selalu
menemukan diri di tempat yang sama.

Perlu disadari, di mana pun di dunia ini korupsi tidak pernah bisa
dihapus secara mendadak. Penyusutan, pemudaran, dan pelumpuhan
korupsi dari suatu bangsa selalu berangsur-angsur. Dalam kasus
Indonesia, mungkin diperlukan 15-20 tahun sebelum kita bisa
merasakan, korupsi benar-benar terkendalikan dalam kehidupan kita.

Mengapa? Karena korupsi bukan suatu bahaya di luar diri kita. Benih-
benih korupsi ada dalam tubuh kita sebagai bangsa. Bangsa adalah
keseluruhan, dari lapisan-lapisan generasi yang ada pada suatu waktu.
Generasi tua menurun ke generasi dewasa, generasi hampir dewasa,
generasi remaja, sampai ke generasi muda. Dengan demikian,
mengendalikan atau mengurangi korupsi bagi suatu bangsa adalah
keseluruhan upaya untuk melahirkan generasi baru yang mampu
mengembangkan sistem nilai yang menolak korupsi secara lebih tegas,
lebih definitif daripada yang kita lakukan kini.

Apa yang dilakukan generasi sekarang terhadap korupsi? Secara
lahiriah, mencela dan mengutuk, tetapi dalam hati membiarkan dan
memaafkan korupsi. Dengan sikap batin seperti ini, kita tidak akan
pernah tegas mampu menolak godaan-godaan untuk berkorupsi.

Dilihat dalam konteks pendidikan, tindakan untuk mengendalikan atau
mengurangi korupsi adalah keseluruhan upaya untuk mendorong generasi-
generasi mendatang mengembangkan sikap menolak secara tegas setiap
bentuk tindak korupsi. Perubahan dari sikap membiarkan dan menerima
ke sikap tegas menolak korupsi, tidak pernah terjadi jika kita tidak
secara sadar membina kemampuan generasi mendatang untuk memperbarui
sistem nilai yang dirwarisi, sesuai dengan tuntutan yang muncul dalam
setiap tahap perjalanan bangsa.

Sistem nilai adalah keseluruhan norma-norma etika yang dijadikan
pedoman oleh bangsa untuk mengatur perilakunya. Perubahan dari sikap
membiarkan, memahami, dan memaafkan korupsi ke sikap menolak korupsi
secara tegas hanya akan terjadi setelah lahir generasi yang mampu
mengidentifikasi berbagai kelemahan dalam sistem nilai yang mereka
warisi dan mampu memperbarui sistem nilai warisan itu berdasar
situasi-situasi baru.

Pada gilirannya, hal ini baru akan terjadi jika di masyarakat telah
lahir generasi-generasi yang benar-benar memahami berbagai hubungan
sebab-akibat antara perjalanan nasib bangsa selama kurun waktu
tertentu dengan aneka tindakan yang secara sadar dilakukannya
sebelumnya atau selama kurun waktu yang hampir bersamaan.

Pada dasarnya sistem nilai yang lebih baik, yang lebih dewasa, datang
dari berbagai pengalaman nyata yang bersifat dramatis atau dari
tilikan-tilikan yang lahir dari kontemplasi mendalam mengenai makna
aneka peristiwa kehidupan yang dijumpainya selama suatu kurun waktu.
Keduanya merupakan hal langka. Berbagai peristiwa dramatis merupakan
hal langka, dan pengungkapan makna baru dari aneka peristiwa dalam
kehidupan bangsa juga merupakan suatu hal yang jarang terjadi. Dengan
demikian, yang akhirnya terjadi ialah perubahan sistem nilai bangsa
berlangsung lambat, lebih lambat dari berbagai perubahan nyata dalam
kehidupan.

Sikap ragu-ragu yang kini kita perlihatkan merupakan gejala yang
mengkhawatirkan! Korupsi yang dibiarkan terus berlangsung menjadi
penghambat kemampuan bangsa membangun diri. Korupsi merupakan suatu
kekuatan destruktif, sedangkan kemajuan bangsa memerlukan kekuatan
konstruktif. Jadi, jika kita sebagai bangsa ingin maju, yang harus
dilakukan ialah menjaga agar kekuatan konstruktif bangsa selalu lebih
besar daripada kekuatan destruktif.

Dalam konteks pendidikan, “mencabut korupsi sampai ke akar-akarnya”
berarti melakukan rangkaian usaha untuk melahirkan generasi yang
tidak bersedia menerima dan memaafkan suatu perbuatan korupsi yang
telah terjadi. Harus dilakukan usaha-usaha untuk melahirkan perubahan
radikal dalam sikap bangsa terhadap korupsi. Dapatkah dilakukan?
Pendidikan seperti apa yang dapat menimbulkan sikap seperti ini pada
generasi mendatang?

Pendidikan watak

Korupsi dapat dipandang sebagai hasil persilangan antara keserakahan
dan ketidakpedulian sosial. Yang tega melakukan korupsi adalah mereka
yang tidak dapat mengendalikan keserakahan dan tidak peduli atas
dampak dari perbuatannya terhadap bangsa dan negara.

Dengan demikian, pendidikan yang akan melahirkan sikap tegas menolak
korupsi mau-tidak-mau harus berupa program yang mengandung unsur-
unsur pendidikan watak dan pendidikan kewarganegaraan. Ini kedengaran
sepele, tetapi jika diletakkan dalam bingkai tradisi pendidikan yang
ada selama ini, akan segera terlihat, masalah ini merupakan suatu
persoalan cukup berat.

Selama ini tradisi pendidikan kita memandang pendidikan watak sebagai
suatu program indoktrinasi, dan pendidikan kewarganegaraan sebagai
program untuk “menjinakkan dan menyeragamkan” masyarakat. Masyarakat
dengan jiwa pembaruan, masyarakat yang berani dan mampu memperbarui
sistem nilai yang ada tidak pernah “jinak” dan “seragam”. Dan juga
tidak berpikir secara doktriner.

Jadi, pelaksanaan program pendidikan yang bermaksud mendorong
lahirnya generasi yang mampu memperbarui sistem nilai harus berjalan
melawan beberapa arus yang kini ada dalam sistem pendidikan kita.

Pendidikan antikorupsi segera saja menjadi pendidikan nilai.
Pendidikan antikorupsi dan pendidikan watak jelas-jelas merupakan
pendidikan nilai. Sedangkan pendidikan kewarganegaraan mengandung
segmen pendidikan nilai yang cukup besar.

Dalam konteks pendidikan antikorupsi ini yang penting untuk
ditekankan ialah tujuan pendidikan nilai bukan memupuk kemaniran
beretorika tentang nilai-nilai atau tentang suatu ideologi. Yang jauh
lebih penting ialah menggunakan pengetahuan tentang dan ketaatan
terhadap nilai-nilai untuk memupuk kemampuan membimbing bangsa ke
pembaruan cara hidup (way of life), sesuai realitas yang ada serta
aspirasi tentang masa depan yang masih hidup dalam diri bangsa.

Pendidikan nilai tidak berhenti pada pengenalan nilai-nilai. Ia masih
harus berlanjut ke pemahaman nilai-nilai, ke penghayatan nilai-nilai,
dan ke pengamalan nilai-nilai. Hanya dengan siklus yang bulat seperti
ini dapat diharapkan, pendidikan nilai akan dapat membawa bangsa ke
kemampuan memperbarui diri.

Untuk ini, dibutuhkan suatu transforming leadership, suatu jenis
kepemimpinan yang dapat mengajak seluruh bangsa memperbarui dirinya.

1 Comment

  1. July 22, 2008 at 6:05 am

    Segala upaya melawan korupsi, terlebih-lebih melalui proses pendidikan, patut didukung dan harus menjadi “mainstream”. Sebagai pendidikan nilai, Pendidikan Antikorupsi, musti mengacu pada konsep pembelajaran nilai. Hermann (1972) secara teoritik mengemukakan bahwa “…value is neither taught nor cought, it is learned”, yang artinya bahwa substansi nilai tidaklah semata-mata ditangkap dan diajarkan tetapi lebih jauh, nilai dicerna dalam arti ditangkap, diinternalisasi, dan dibakukan sebagai bagian yang melekat dalam kualitas pribadi seseorang melalui proses belajar. Yang perlu diingat adalah bahwa kenyataan menunjukkan bahwa proses belajar tidaklah terjadi dalam ruang bebas-budaya tetapi dalam masyarakat yang syarat-budaya karena kita hidup dalam kehidupan masyarakat yang berkebudayaan. Oleh karena itu memang betul bahwa proses pendidikan pada dasarnya merupakan proses pembudayaan atau enkulturasi untuk menghasilkan manusia yang berkeadaban, termasuk di dalamnya yang antikorupsi. DB.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: