Pram, Nobel, dan Lemahnya “PR” Kita

Oleh Nina Mussolini-Hansson
Ibu Rumah Tangga dan Mantan Wartawan, Tinggal di Swedia
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0605/03/opini/2626944.htm
—————————————–

Kepergian sastrawan Pramoedya Ananta Toer jelas sebuah kehilangan
besar bagi bangsa Indonesia. Sebagai WNI yang menetap di Swedia, hati
saya berbuih, terguncang bangga dan berharap setiap kali nama
Pramoedya disebut-sebut sebagai calon penerima Nobel Sastra.

Siapa yang tak bangga bila Indonesia, yang oleh sebagian besar warga
Swedia dan dunia masih dianggap sebagai negara antah berantah, negara
terbelakang dan miskin, sarang teroris, dan sarang korupsi, ternyata
mampu menghasilkan seorang sastrawan kelas dunia calon penerima Nobel
Sastra. Sayang, sampai sastrawan besar itu meninggal dunia, ia tetap
dalam posisi calon penerima Nobel.

Bukan hanya Pram, bahkan seorang penulis Swedia terkenal, Astrid
Lindgren, juga tak pernah menerima hadiah Nobel di tanah airnya
sendiri. Padahal, sudah banyak buku dan film anak-anak karya Astrid
yang diterjemahkan ke berbagai bahasa, di antaranya Pippi si Kaus
Kaki Panjang yang diterbikan oleh PT Gramedia.

Lemahnya penghargaan kita

Lain Pramoedya, lain Astrid. Membandingkan karya keduanya juga tak
pas karena Pram menghasilkan karya sastra berlatar belakang politik,
sedangkan Astrid menghasilkan buku anak-anak. Hanya dalam hal
penghargaan, jelas rakyat dan Pemerintah Swedia sangat bangga dengan
karya- karya Astrid yang mendunia. Sejak ia masih hidup, rakyat
Swedia berpendapat bahwa Astrid layak menerima hadiah Nobel karena
karyanya berhasil membius, menghibur, dan mendidik anak- anak di
dunia. Tapi, rupanya dewan juri hadiah Nobel punya kriteria lain dan
rakyat Swedia pun kecewa.

Bagaimana dengan Pram? Dukungan rakyat dan Pemerintah Indonesia
terhadapnya amat minim. Kenangan tentang Pram bagi sebagian besar
generasi muda bisa jadi hanya sebatas identitasnya sebagai bekas
anggota sebuah organisasi seniman yang berafiliasi ke partai komunis
(Lekra). Ini juga menandakan kegagalan pelajaran sastra dan sejarah
di sekolah-sekolah yang telah terkooptasi oleh fantasi dan ketakutan-
ketakutan akan bangkitnya komunisme sejak zaman Orba.

Rezim boleh berganti, tapi tidak berarti pemerintah yang baru
langsung mendukung Pram. Sebagai generasi muda yang mendambakan
perubahan dalam bernegara, jelas saya amat kecewa dengan hal ini.
Betul, kini karya- karya Pram bisa dinikmati dengan bebas di
Indonesia, tapi apa artinya kalau tak ada sikap dan dukungan resmi
dari pemerintah terhadap karya-karyanya.

Kadang saya melihat adanya ambivalensi pemimpin-pemimpin kita. Ketika
meresmikan pameran hasil kerajinan rakyat, misalnya, sering kali
mereka dengan fasih berpidato bahwa bangsa yang besar adalah bangsa
yang mampu menghargai karya bangsanya. Sayang, hal itu hanya retorika
politik dan terbatas pada kegiatan ekonomi yang mendukung pemasukan
negara.

Sebuah negara dan rakyatnya tak cuma butuh kehidupan ekonomi, tapi
juga kehidupan bersastra, karena sastra mampu menghaluskan perasaan
dari kecenderungan menjadi buas yang ada dalam diri manusia (homo
homini lupus). Sastra mampu menghidupkan empati karena dengan karya
sastra kita bisa berefleksi. Untuk itulah kita perlu sastrawan-
sastrawan yang mampu memberi oase dan nasionalisme kepada rakyat, di
tengah gelombang materialisme dan globalisasi.

Tahun 2003, nama Pram sebagai calon penerima Nobel sangat kencang
berembus di Swedia. Pada tahun itu, Pram mengunjungi pameran buku di
kota Gotenburg atas undangan pihak Swedia. Sebagai mantan wartawan,
saya menyayangkan dan hanya dapat berandai-andai. Seharusnya
Pemerintah Indonesia via KBRI di Swedia mampu menggunakan kesempatan
itu untuk mengorbitkan nama Pram lebih tinggi lagi. Itu kalau Pram
dianggap sebagai aset bangsa. Misalnya, dengan mengundang beliau ke
KBRI, membuat jumpa pers tentang kedatangannya, atau menjadi tuan
rumah yang menjembatani pertemuan Pram dengan kalangan pers Swedia.
Pers bagaimanapun punya kekuatan sebagai alat promosi dan mudah-
mudahan bisa memengaruhi dewan juri hadiah Nobel.

Sebuah ironi jika tamu-tamu dari DPR, misalnya, dilayani bak raja
hanya dengan menggunakan kedok studi banding. Di sisi lain, seorang
sastrawan besar macam Pram diacuhkan begitu saja. Rekonsiliasi bangsa
tidak akan berjalan jika barrier dan keterikatan dengan masa lalu itu
tak juga dibenahi.

Diplomasi buku

Bukan rahasia bahwa kelemahan bangsa Indonesia ada di bidang
pemasaran (marketing) dan PR (public relation). Padahal, apa sih,
yang tidak kita punya?

Bagi saya, tidak ada yang tidak mungkin, semua terletak pada niat
baik dan kekompakan kita sebagai bangsa. Sebagai bangsa kita memang
kurang kreatif menggunakan sumber-sumber potensial yang ada. Salah
satu sumber itu adalah Pramoedya Ananta Toer.

Bayangkanlah, kalau saja Pram mendapat hadiah Nobel sastra, berapa
besar liputan dan efek PR yang dihasilkan untuk Indonesia? Nama Pram
dan Indonesia bukan saja diulas dalam media internasional, tapi juga
akan selalu disebut di sekolah-sekolah di seluruh dunia, terutama
dalam pelajaran sastra dan bahasa. Efeknya pasti dahsyat dan abadi.

Efek inilah yang menurut pengamatan saya sama sekali tidak disadari
oleh kita, bangsa Indonesia. Kita terlalu asyik bertengkar satu sama
lain untuk memperebutkan kursi dan rezeki sehingga lupa menggali
potensi diri. Andai saja kita pintar, sesungguhnya buku dan karya
sastra bisa dijadikan alat PR dan diplomasi.

Sayang sekali, seorang Pram lebih dihargai di negara lain daripada di
Tanah Airnya sendiri. Tetangga terdekat kita saja, Filipina, sudah
lebih dulu menghargainya dengan penghargaan Magsaysay (2003).
Seharusnya kita malu. Mari bertanya, ada apa dengan kita? Apa yang
sakit dari bangsa ini? Kalau kita bisa berekonsiliasi dengan koruptor
dan mengundangnya ke istana, kenapa seorang Pram tidak pernah
diberikan kesempatan untuk itu sekalipun?

Padahal jelas, Pram tidak pernah “menjual” bangsa dan sumber alam
Indonesia untuk kantong pribadi dan kroninya serta menenggelamkan
Indonesia ke dalam utang luar negeri yang harus dibayar oleh anak
cucu kita kelak. Siapa yang lebih jahat sesungguhnya?

Selamat jalan Pram, semoga kau temukan keadilan lain di sana.

2 Comments

  1. Nina Hansson said,

    November 10, 2007 at 9:25 am

    Terima kasih banyak atas kesediaan Paramadina untuk meneruskan artikel saya di blog ini. Semoga Indonesia bisa segera berubah & bangkit dari keterpurukannya. Salam prihatin dari Swedia.

  2. Shangkala said,

    August 21, 2009 at 4:36 pm

    Banyak manusia2 negeri ini yang patut disebut pahlawan dalam bidang masing-masing tapi tak memperoleh penghargaan dan penghormatan yang layak bahkan di negerinya sendiri. Sepertinya kita harus belajar lagi warisan leluhur kita tentang ‘menghormati dan menghargai’.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: