Republik Pecah Belah

Oleh Sunaryono Basuki Ks
Sastrawan; Warga Teater Kampus Seribu Jendela, Singaraja
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/10/opini/2715096.htm
————————————————–

Tidak dibantah, sejumlah pihak ingin menyeret NKRI menjadi Republik
Pecah Belah. Apa “pihak-pihak” itu adalah negara asing atau warga
pribumi, kenyataannya NKRI cenderung akan pecah.

Kaum tua yang ikut memperjuangkan tegaknya NKRI dengan darah dan air
mata pasti menentang keinginan ini. Namun, mereka yang tak pernah
merasakan sulitnya masa penjajahan maupun pendudukan asing sepertinya
acuh tak acuh dengan perlu tegaknya NKRI atau pecahnya republik ini
berkeping-keping.

Dimulai dengan Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada yang ingin
menyatukan seluruh nusantara di bawah kekuasaan seorang raja, satu-
satunya bentuk kekuasaan yang dikenal saat itu.

Tentu saja Sumpah Palapa dicermati dengan semangat berbeda. Jika
Gajah Mada oleh sejumlah kerajaan yang ditaklukkan dianggap sebagai
biang penjajah, NKRI yang dikepalai Soekarno-Hatta dihormati sebagai
kepala sebuah negara yang berbentuk republik yang merdeka. Meski ada
sejumlah penentang, toh NKRI berhasil berdiri tegak dan hingga kini
tetap diupayakan agar tetap tegak berdiri.

Saat ini, gejolak sosial dan politik di banyak daerah Indonesia amat
mengkhawatirkan. Sejak diberlakukannya otonomi daerah, semua daerah
merasa berhak mengurus daerah masing-masing dan cenderung melupakan
bahwa satu daerah punya rangkaian dengan daerah lain yang telah
membentuk NKRI. Hanya kerekatan daerah-daerah yang kuat diharapkan
dapat memperkuat posisi NKRI. Namun, terjadi arah yang kurang benar
dalam mengendalikan daerah sehingga banyak daerah merasa bahwa daerah
adalah milik warga asli daerah tertentu.

Asli dan pendatang

Soal siapa yang asli dan siapa pendatang, bukanlah masalah sederhana.
Siapakah penduduk asli Indonesia? Kajian linguistik, antropologi
budaya, dan arkeologi menunjukkan arah, penduduk yang sekarang
berdiam di Indonesia tidak sepenuhnya berasal dari Indonesia, dengan
baca sim salabim langsung muncul dari permukaan tanah dan menjadi
penduduk asli. Migrasi besar-besaran dari China Selatan, juga dari
Taiwan, kini ke arah selatan menghasilkan Austronesia yang kemudian
tersebar di wilayah Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Karena itu,
para ahli sepakat untuk merekonstruksi bahasa proto Austronesia
dengan menggunakan data dari bahasa Tagalog, bahasa Batak, dan bahasa
Jawa. Mengingat migrasi juga berjalan ke arah barat, maka ada
kemiripan dengan bahasa yang ada di Madagaskar.

Etnis Dayak di Kalimantan punya kemiripan fisik dan budaya dengan
penduduk Taiwan, sebagaimana sering dilaporkan di majalah-majalah
lengkap dengan foto-foto penduduk serta keseniannya. Tahun 1985 saya
mengantar mahasiswa saya, Made Sutama, untuk menghadiri pertemuan
ilmiah mahasiswa di Banjarmasin. Seorang teman yang menjadi peneliti
bahasa-bahasa Austronesia berkata, “Lihat mahasiswamu, dan bandingkan
dengan mahasiswa dari suku Dayak itu, mereka sangat mirip postur
tubuh dan wajahnya.” Dia melihat relasi fisik antara etnis Dayak dan
Bali, yang bukan mustahil memang berasal dari leluhur yang sama. Made
Sutama sekarang sudah bergelar doktor dan menjadi Dekan Fakultas
Bahasa dan Seni di Universitas Pendidikan Ganesha (eks IKIP Negeri
Singaraja).

Ada kecenderungan kurang sehat di daerah-daerah. Kasus terbaru,
adanya niat untuk mengusir Inul Daratista dari Jakarta. Sejak
meletusnya bom Bali, muncul gerakan Ajeg Bali yang dirasakan sebagai
gerakan antipendatang karena sejumlah pelaku bom Bali yang terungkap
adalah orang Indonesia dari luar Bali sehingga mengesampingkan pelaku-
pelaku lain yang masih tersembunyi di balik layar.

Batam juga sudah tertular gerakan anti- pendatang, sementara wilayah
penuh gula itu sudah telanjur diserbu semut dari wilayah lain. Belum
lagi daerah-daerah lain yang merasa punya sumber daya alam yang
besar, yang selama ini dianggap telah disedot pemerintah pusat.

Republik pecah belah?

Andai kata daerah-daerah benar-benar mau membentuk republik sendiri,
atau kesultanan, atau kerajaan sendiri, soalnya juga tak sederhana.
Ambil misal Banten mau membuat Republik Banten atau Kesultanan Banten
karena beberapa abad lalu kesultanan ini pernah bermuhibah ke London
dan disambut dengan upacara kerajaan. (Laporan Indonesia Circle,
jurnal terbitan School of Oriental and African Studies, University of
London). Apakah wilayah ini bisa mandiri, atau harus impor banyak hal
dari daerah lain? Republik Jawa Timur? Wilayah ini pun bukan terdiri
dari daerah yang homogen. Dendam sejarah orang Blambangan terhadap
Majapahit tentu masih ada, sebagaimana Pajajaran yang pernah merasa
ditipu Mahapatih Gajah Mada, demikian pula Bali yang pernah
ditaklukkan. Apa wilayah-wilayah lain akan jadi republik sesuai
dengan batas pulau? Bagaimana mengatur mobilitas tinggi rakyat yang
kini bernama penduduk Indonesia dari pulau ke pulau?

Kenyataan ini perlu dipikirkan bersama. Kesatuan dan persatuan yang
sudah dicapai jangan dengan mudah tercabik-cabik karena ambisi
sejumlah orang tak punya visi ke depan. Tetapi, semuanya terserah
kita. Jangan sampai kita terseret untuk “mati muda” sebagai bangsa
dan negara.

Kata orang, di masa depan, dulu ada negeri bernama Indonesia. Berumur
pendek dan kalah dengan Majapahit yang bisa bertahan hingga hampir
300 tahun. Atau dengan Sriwijaya yang menjadi pusat studi agama di
Asia Tenggara?

2 Comments

  1. October 25, 2011 at 3:54 am

    […] REPUBLIK PECAH BELAH […]

  2. October 31, 2011 at 2:15 am

    […] dari pelaku orang2 Indonesia sendiri. Penulisnja, Sunaryo Basuki Ks, dalam kolom berdjudul “Republik Pecah Belah,” mentjemaskan Indonesia tidak akan berusia lama. Bahkan katanja Indonesia akan kalah dengan […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: