Rindu pada Ide Ki Hajar

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0608/25/utama/2903765.htm
=============================

Jakarta, Kompas – Kerinduan untuk membicarakan ide-ide pendidikan Ki
Hajar Dewantara dari Tamansiswa dan Muhammad Sjafei dari INS
Kayutanam muncul kembali setelah sekian lama ditinggalkan.

Seminar tentang gagasan pendidikan Tamansiswa dan INS Kayutanam yang
diselengggarakan Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta, Kamis
(24/8), mendapat sambutan antusias dari berbagai kalangan.

Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Fasli Djalal
mengemukakan, selama ini banyak pihak sibuk mencari perbandingan ke
negara-negara lain untuk mencari ide-ide pendidikan. Padahal ada
berbagai ide pendidikan monumental yang lahir dalam sejarah
pendidikan nasional. Bahkan ide-ide pendidikan yang disampaikan oleh
UNESCO sekalipun, ada yang merujuk pada gagasan pendidikan yang
dikembangkan di Indonesia sejak 85 tahun silam.

Menurut Fasli, Tamansiswa dan INS Kayutanam merupakan dua pilar
pemikiran pendidikan di Indonesia yang bisa dikembangkan untuk
menciptakan pendidikan yang bermutu dan kompetitif sekaligus berbasis
pada kultur Indonesia.

Ketua III Majelis Luhur Perguruan Tamansiswa Ki Supriyoko
mengemukakan, pendidikan Tamansiswa tidak hanya mengagung-agungkan
kecerdasan. Tamansiswa mengajarkan keseimbangan antara pengembangan
pribadi dan kecerdasan. Pendidikan Tamansiswa tidak hanya bertujuan
mengembangkan kecerdasan dan keterampilan, tetapi juga bertujuan
membangun anak didik menjadi manusia yang beriman, berakal budi
luhur, dan bertanggug jawab atas bangsa, tanah air, dan manusia pada
umumnya.

Gagasan pendidikan Tamansiswa saling mengisi dengan pemikiran
pendidikan Muhammad Syafei yang mendirikan INS Kayutanam. Mantan
Menteri Kesehatan Farid Anfasa Moeloek mengatakan, Muhammad Sjafei
mengajarkan pendidikan merupakan alat untuk menjadi diri sendiri.
Salah satu pepatah-petitih yang disampaikan Sjafei adalah jangan
minta buah mangga kepada pohon rambutan, tetapi jadikanlah tiap pohon
menghasilkan buah yang manis.

“Kalau jadi dokter jadilah dokter yang baik. Kalau jadi pedagang
jadilah pedagang yang baik. Akan tetapi jangan dokter jadi pedagang,”
kata Moeloek.

Pengamat pendidikan HAR Tilaar menambahkan, gagasan pendidikan
Tamansiswa maupun INS Kayutanam memiliki unsur- unsur penting yang
dikenal dalam ilmu pendidikan modern. INS Kayutanam tumbuh dalam
konteks kebudayaan Indonesia-Minang. Ini sesuai pemikiran pendidikan
modern yang selalu melihat pendidikan dalam konteks pendidikan.
Pendidikan INS Kayutanam juga sangat kental dengan nasionalisme. Roh
semacam ini, kata Tilaar, hilang dalam pendidikan Indonesia saat ini.

Mantan Rektor IKIP Jakarta Winarno Surakhmad mengatakan, bila gagasan
pendidikan Tamansiswa dan Kayutanam hidup pada zaman Belanda, gagasan
mereka justru mati dalam zaman republik.(wis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: