Sekali Pancasila, Tetap Pancasila

Oleh Guruh Sukarno Putra
Ketua Umum Gerakan Spirit Pancasila
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0606/01/opini/2690119.htm
————————————————

Tanggal 1 Juni ini Pancasila genap berusia 61 tahun. Tahun 1945 Bung
Karno mengusulkan dasar negara itu di depan sidang Badan Penyelidik
Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI.

Pancasila disahkan masuk Pembukaan (Preambule) UUD 1945 pada sidang
PPKI, 18 Agustus 1945. Tetapi, “perlakuan” terhadap Pancasila sebagai
falsafah negara melalui proses panjang. Pada awal revolusi Bung Karno
harus menyosialisasikan Pancasila ke seluruh pelosok, memakai salam
lima jari tangan, simbol kelima sila Pancasila. Pancasila akhirnya
diterima rakyat.

Di era Orde Baru (Orba) Pancasila sempat menjadi polemik, terkait
klaim, yang pertama kali mengusulkan adalah Muhammad Yamin, bukan
Bung Karno. Dengan ditemukannya naskah otentik Notulen Sidang BPUPKI
di Arsip Nasional dan Surat Wasiat Bung Hatta kepada Guntur Sukarno,
masalah itu tak lagi mengemuka. Pancasila juga mendapat citra negatif
melalui program penataran Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan
Pancasila (P4). Masyarakat tidak diberi ruang untuk mengemukakan
pendapat. Pancasila menjadi alat politik untuk mempertahankan
kekuasaan.

Dalam peringatan HUT Ke-61 Pancasila, kita diliputi keprihatinan
karena hampir seluruh sila Pancasila belum terwujud. Lihat saja,
banyak warga mengalami kesulitan menjalankan ibadah menurut
keyakinannya. Sila Kerakyatan atau demokrasi belum dihayati, terbukti
banyak kekerasan dan kerusuhan.

Dampak belum dihayatinya Pancasila, yaitu kebobrokan moral, berdampak
pada manusia, alam, dan lingkungan. Alam murka akibat perilaku
manusia tak ramah lingkungan. Bencana alam kecil sampai besar terus
terjadi, dari Aceh hingga Yogyakarta. Sebagian orang religius
menganggap ini adalah pertanda azab. Orang spiritual menyebut ini
karma karena ada sebab-akibat.

Bagaimana menghadapinya? Cerahkan kesadaran spiritual (spiritual
awareness). Menurut Kamus Filsafat, spiritual mengacu ke nilai-nilai
manusiawi nonmaterial, seperti keindahan, kebaikan, kebenaran,
kejujuran, kesucian, dan cinta.

Selama manusia belum mau mengembara di alam spiritual, selama itu
pula segala yang diimpikan tidak akan terwujud. Kalaupun terwujud,
sifatnya sementara, semu, tanpa makna. Konflik senantiasa subur.

Kejayaan spiritual

Dalam sejarahnya, bangsa Indonesia pernah mengalami masa kejayaan
spiritual, Contohnya pada masa Sriwijaya dan Mataram purba, dengan
lahirnya mahakarya Borobudur. Juga dengan peradaban India, Tiongkok
kuno, dan Islam di Timur Tengah. Ini bukti, spiritual mempunyai daya
mahadahsyat untuk mencapai kemajuan.

Sepanjang sejarah manusia, pencarian spiritual terus berkembang. Di
sana-sini pengetahuan mengenai spiritual makin maju dan luas. Sayang,
mereka yang tertarik hal spiritual hingga kini masih minoritas,
bahkan dalam perkembangannya spiritual mengalami pembelokan,
mengakibatkan banyak orang merasa risi pada hal-hal spiritual.
Spiritual dihubungkan dengan hal yang tidak realistis, paranormal,
mistik, klenik, atau perdukunan dengan persepsi keliru.

Pada usia ke-61 Pancasila yang harus dipertanyakan adalah masihkah
kita berpegang pada Pancasila sebagaimana disepakati founding
fathers? Apakah kita perlu mencari dasar negara lain, dengan alasan
Pancasila tidak memberi perubahan hakiki terhadap kehidupan dan
kesejahteraan bangsa Indonesia? Rasanya tidak pantas negara
menyandang nama Pancasila, sementara warganya saling membunuh.

Sebagai paham universal, Pancasila sarat dengan perspektif spiritual
dan mengacu pada pluralisme, kemajemukan, atau heterogenitas. NKRI
merupakan wadah rakyat yang plural. Maka, mewacanakan spiritual
(Ketuhanan Yang Maha Esa) yang paling tepat hanya Pancasila.

Ibarat masih didominasi “kuasa gelap”, tidak ada jalan lain kita
harus menuju “kuasa terang”. Jalan ke situ adalah jalan Pancasila
dengan cara spiritual (The Pancasila way by a spiritual way).
Spiritualisasi Pancasila bertujuan melakukan pembentukan jiwa. Dengan
cara itu, kita dapat mencapai cita-cita Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia, yaitu Indonesia yang jaya sentosa, dunia damai penuh
kasih, gotong royong, dan persaudaraan.

5 Comments

  1. Priyono said,

    July 21, 2007 at 2:59 pm

    Merupakan tantangan terbesar dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila adalah sampai saat ini masyarakat kita belum terkondisikan memiliki karakter dan martabat yang cukup. Prakondisi untuk spirit Pancasila diperlukan adanya hubungan sosial kemasyarakatan pada tingkat yang lebih matang. Untuk itu perlu didahulukan upaya pembelajaran kemasyarakatan yang bersifat meluas, universal, dan memperkaya pandangan dan visi. Upaya yang dilakukan dimulai dengan identifikasi dan penggalian kembali nilai-nilai luhur yang pernah hadir dalam masyarakat terdahulu di luar wilayahnya masing-masing, dan diperbandingkan dengan nilai-nilai lokal, mengingat pembentukan nilai budaya selalu melalui proses transformasi budaya antar daerah.. Hal ini akan menimbulkan kesadaran kuat diiringi kejujuran untuk saling menghargai terhadap nilai-nilai luhur yang tumbuh di berbagai daerah yang bersifat universal. Dari sini akan terjadi proses pematangan melalui bangkitnya rasa saling hormat dan penghargaan kepada indahnya keberagaman, yang pada gilirannya akan menyuburkan proses tumbuh kembangnya anak bangsa menjadi insan berkarakter, sehat, mulia, dan bersatu. Segala upaya ini akan menjadi lebih sederhana dan mudah bila dimulai dari bidang yang paling disenangi dan berisiko rendah yakni seni dan budaya, serta kegiatan-kegiatan yang penuh kegembiraan
    Semoga saran dan pandangan kami ini dapat memberikan sedikit tambahan kekuatan moral bagi yang masih bercita-cita…
    (21 Juli 2007…Yayasan Peduli Pendidikan Anak/YPPA).
    H.A.Pratopo & Priyono–PraPri

  2. nindi said,

    October 21, 2007 at 6:04 am

    apaaaaaaaaaaaaaaaaaaa yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

  3. dani. f said,

    November 13, 2007 at 7:01 am

    what aink teu ngarti

  4. February 11, 2010 at 8:52 am

    indonesiaaaaaa😦
    kapan majunyaaaaaa?

  5. Si Carbrebes said,

    October 28, 2010 at 1:26 pm

    sekali merdeka tetap merana……primen..kiye..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: