Seusai Dekonstruksi Keindonesiaan

Oleh Chris Panggabean
Aktivis Lingkar Muda Indonesia
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0610/11/opini/3020061.htm
===========================

Sekali-kali cobalah melihat “Indonesia” dalam kesehariannya. Sepeda
motor, misalnya. Fenomena itu berbicara banyak bagi seorang ilmuwan
sosial. Di situ tergurat jelas karakter manusia Indonesia: tidak
sabar, senang jalan pintas, enggan meminta maaf, tidak mau mengalah,
dan mendahulukan kepentingan sendiri. Para pengendara sepeda motor
ini tidak segan melaju di atas trotoar menyingkirkan pejalan kaki,
masuk ke jalur cepat atau jalur bagi Busway.

Sementara itu, kesemrawutan dan tidak terintegrasinya sistem moda
transportasi mencerminkan pejabat pemerintah yang tidak menjalankan
tanggung jawabnya menyelenggarakan pelayanan publik, menyediakan
fasilitas publik, dan ketiadaan visi pembangunan.

Niat awal reformasi adalah membawa bangsa ini menuju wajah baru
keindonesiaan. Namun, wajah baru keindonesiaan itu tidak pernah
terumuskan dengan baik menjadi sebuah visi kebangsaan. Pengertian
tentang Indonesia pascareformasi adalah “asal bukan” Orde Baru.
Ibarat melepaskan satu burung di tangan demi dua ekor burung yang
masih di pohon. Akibatnya, hal-hal baik yang sudah dicapai dan
ditanamkan pada masa Orde Baru tidak diteruskan, entah karena alergi
takut disebut penerus rezim atau supaya sekadar tampak reformis.
Salah satu adalah GBHN sebagai tolok ukur pencapaian sebuah
pemerintahan. Tanpa cetak biru, pembangunan atau kebijakan publik
jadinya bersifat reaksioner terhadap masalah dengan pola tambal
sulam.

Masa-masa ini adalah masa turbulensi ketika berbagai nilai, norma,
dan ideologi berseliweran tanpa ada payung nilai yang lebih tinggi
untuk menjadi pegangan hidup bersama. Tiada visi yang menyerempakkan
semua komponen bangsa untuk bergerak ke arah masa depan yang sama.
Yang menonjol adalah cita-cita kelompok, seperti terbentuknya
provinsi baru demi motif ekonomi kelompok, atau motif transendental
yang hendak menggantikan sistem nilai bersama yang sudah disepakati.

Identitas yang getas

Usia negara Indonesia masih terlalu muda dan karenanya rentan akan
fragmentasi dan segregasi. Sebab, pada mulanya hanya ada kelompok-
kelompok masyarakat yang terikat hidup bersama berdasarkan prinsip-
prinsip alamiah, suku, adat, agama, dan bahasa. Kelompok-kelompok
tersebut hidup dengan ikatan primordialnya, berdasarkan nilai dan
norma masing-masing. Perasaan senasib dan keinginan untuk masa depan
yang lebih baik menghasilkan kehendak untuk hidup sebagai satu bangsa
dalam satu negara. Hidup bernegara berarti menanggalkan bentuk-bentuk
relasi sosial yang lama dan mulai hidup dengan bentuk relasi sosial
yang baru, setara sebagai warga negara di hadapan hukum dan mengakui
adanya falsafah hidup bersama.

Harus diakui bahwa Pancasila dan cita-cita bangsa dalam Pembukaan UUD
1945 merupakan landmark sebuah masya- rakat politik yang beradab.
Indonesia haruslah didefinisikan sebagai sebuah kehidupan bersama.
Sementara rasa sebagai satu bangsa dengan satu cita-cita bersama
adalah sebuah proses menjadi, ikatan-ikatan primordial yang sektarian
masih dominan berdiam dalam kesadaran kolektif masyarakat kita.

Kala persoalan identitas bersama belum matang, revitalisasi ala
dekonstruksi keindonesiaan haruslah dilakukan secara hati-hati dengan
memerhatikan karakteristik primordialisme ini. Sifat dasar ini masih
tumbuh subur dalam masyarakat kita. Tidak heran jika partai yang
seharusnya merupakan institusi politik modern dikelola berdasarkan
primordialisme kelompok. Alhasil, ia menjadi rentan perpecahan dan
tak punya tanggung jawab akan etika politik.

Globalisasi juga memicu munculnya fundamentalisme berdasarkan nilai-
nilai sektarian. Gelombang globalisasi umumnya diikuti oleh derasnya
arus nilai-nilai dari luar. Akibatnya, nilai-nilai yang lebih dulu
ada mengalami pergesekan. Sebagian kelompok masyarakat menerjemahkan
ancaman pada nilai yang dianutnya sebagai ancaman terhadap identitas
kelompok. Wajar saja karena nilai atau norma bersama memang merupakan
tempat mereka mengidentifikasi diri sebagai satu kelompok. Alih-alih
mengevolusi cara hidup bersama, yang muncul adalah perilaku
instingtif bertahan hidup yang bersifat agresif.

Nilai lain yang dikhawatirkan dari globalisasi adalah kompetisi.
Sayangnya, kompetisi ini sering lebih menguntungkan pemodal besar.
Namun, apakah benar bahwa kita tidak ikut andil dalam keserakahan
perusahaan multinasional yang mengeruk isi perut Tanah Air ini?
Bukankah kita sebenarnya otonom menentukan model kontrak kerja dan
bagaimana bentuk bagi keuntungannya? Sebagian dari kita ternyata
inferior, dapat dibeli, tidak memiliki integritas, tidak memiliki
nasionalisme.

Membangunkan raksasa tidur

Kita harus terus memupuk optimisme, mengubah lokus pengendalian
eksternal menjadi internal, bahwa kita berkuasa untuk mengubah dan
menentukan nasib. Untuk itu, diperlukan cara melihat Indonesia dengan
perspektif yang lain, perspektif yang terfokus kepada hal-hal positif
yang ada. Potensi-potensi positif yang dimiliki oleh bangsa ini
meliputi potensi sumber daya alam dan keutamaan yang membuat kenapa
negara Indonesia tetap ada sampai sekarang.

Potensi sumber daya alam kita masih banyak yang belum dimaksimalkan
pengelolaannya dengan baik demi kesejahteraan, sumber kelautan
misalnya. Menyadari akan hebatnya potensi sumber daya alam
mengarahkan diri kita untuk tetap optimistis dan sadar dalam
memandang masa depan. Kesadaran bahwa ada raksasa yang masih tidur
dalam diri kita.

Kita juga harus terus menemukan apa yang tetap membuat bangsa ini
berdiri sampai sekarang. Kita menyadari masalah akan selalu ada,
krisis akan muncul silih berganti. Untuk itu, kita membutuhkan
karakter-karakter dari dalam diri yang dapat membuat kita tetap tegak
berdiri setiap kali keluar dari masalah. Sifat gotong royong,
tenggang rasa, kesetiakawanan/kepedulian sosial, dan voluntarisme
ternyata dimiliki bangsa ini. Peristiwa gempa bumi di Aceh dan
Yogyakarta menunjukkan bahwa rasa senasib sebagai bangsa masih
tertanam kuat dalam diri kita.

Apa yang bisa digali dari para TKI/TKW, buruh tani, kaum transmigran,
pedagang kaki lima atau aktivitas sektor informal? Bahwasanya rakyat
negeri adalah orang- orang yang ulet dan mau mandiri. Masyarakat
bawah ini terus-menerus mencari peluang. Sekalipun terus digusur
berkali-kali, mereka tetap bertahan. Jika sifat ini dikelola dan
didampingi dengan tepat, budaya unggul bukan sekadar retorika. Proses
revitalisasi adalah sebuah proses mengubah potensi menjadi
aktualisasi, dari patos menjadi etos. Dengan etos yang ulet, mandiri,
bekerja keras, dan berintegritas, globalisasi sesungguhnya adalah
peluang, bukan ancaman.

Narasi baru

Proses revitalisasi ini membutuhkan narasi baru. Narasi merupakan
instrumen rekayasa sosial yang sifatnya lebih persuasif, tetapi mampu
menggugah afeksi dan mengubah skema kognisi. Narasi yang di dalamnya
terselip nilai-nilai kepahlawanan, kesetiakawanan, solidaritas,
kemandirian, kemajuan, dan rasa percaya diri. Narasi yang memuat
mimpi tentang masa depan Indonesia yang lebih baik.

Yang hendaknya diperhatikan hanyalah cara bernarasi. Penceritaan dan
perluasan narasi tidak bisa lagi dengan cara-cara indoktrinasi. Tidak
pula membuat keutamaan-keutamaan itu menjadi klise karena inflasi
makna. Harus dipikirkan metode baru yang lebih persuasif, seperti
lewat opini publik, ruang diskusi, ceramah, dan institusi pendidikan.

Kembali ke ilustrasi pertama soal sepeda motor. Kita bisa
membincangkannya dari sudut lain. Dewasa ini bermunculan komunitas-
komunitas sepeda motor yang mengajak anggotanya untuk tertib berlalu
lintas, punya kesetiakawanan, solidaritas sosial, dan punya sikap
relawan. Apa yang tengah terjadi? Kita yakin di antara mereka
terselip beberapa narator yang terus- menerus mendengungkan keutamaan
atau kebajikan tadi sebagai nilai bersama. Komunitas kecil sepeda
motor adalah potret kecil republik ini.

Kita sedang merajut narasi baru keindonesiaan berdasarkan nilai-nilai
bersama. Gugus nilai itu tidak datang dari luar, melainkan melainkan
hidup dan dihidupi dalam keseharian kita. Selesai tidaknya narasi
baru itu terpulang pada adanya kehendak bersama warga republik untuk
hidup lebih beradab dan berkeadilan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: