Spirit Bahari yang Telah Pergi

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0605/12/daerah/2553823.htm
—————————–

Ketika sejumlah pulau di perbatasan “dikuasai” orang asing, kita
dengan tiba-tiba saja kebakaran jenggot. Padahal, sebagai bangsa
bahari, sudah terlalu lama sektor kelautan kita lupakan, bahkan kita
tinggalkan di belakang, entah di mana.

Pulau Sipadan-Ligitan, dan kemudian Ambalat, dipersengketakan dengan
Malaysia. Kasus itu adalah ironi bagi bangsa bahari terbesar seperti
Indonesia. Padahal, Indonesia selalu kita ibaratkan sebagai zamrud
khatulistiwa dengan untaian pulau- pulau yang menawan.

Kita telah melupakan semua itu. Bahkan etnik yang di masa lampau
terkenal sebagai penjelajah samudra, kini tak mudah ditemui. Semangat
bahari ulung yang menjadi identitas suku-suku itu, kini boleh dikata
telah luntur. Orang- orang Sulawesi Selatan (Sulsel), khususnya Bugis-
Makassar, kini telah kehilangan spirit kebahariannya.

Abdul Rahman, seorang nelayan di Pelabuhan Paotere, Makassar,
mengakui, masa kejayaan orang Bugis-Makassar sebagai pelaut andal,
kini telah terkikis. Sudah tidak banyak lagi orang Bugis-Makassar
yang melaut hingga jauh ke negeri seberang untuk berdagang.
Dibandingkan dengan jumlah penduduk pria yang hampir empat juta jiwa,
yang menjadi nelayan hanya sekitar 340.000 orang (8,5 persen).

“Dulu, orang Bugis-Makassar sangat terkenal di lautan. Mereka
menguasai aktivitas perdagangan laut dan dikenal sangat pemberani
menjelajah lautan hingga ribuan mil,” kata Rahman, Ketua Koperasi
Insan Perikanan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Paotere, Makassar.
Keberanian orang Bugis-Makassar mengarungi lautan sudah terbukti,
meskipun dengan perahu kecil jolloro yang hanya bisa memuat tiga
orang. Dengan jolloro, etnis ini berani berlayar sampai ke perairan
Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Menapaki jejak sejarah, Phinisi Nusantara mampu berlayar menembus
gelombang besar di Pasifik hingga tiba di Vancouver, Kanada, 1986. Di
Sulsel, memang rutin berlangsung sandeq race (perahu asli orang
Mandar —yang juga pelaut ulung dan kini masuk Sulawesi Barat) dari
Polewali hingga Makassar. Tetapi, ekspedisi keliling dunia sandeq—
yang didukung beberapa negara—tahun 2005 lalu gagal setelah tak mampu
menembus perairan Kepulauan Solomon.

Kegiatan seperti itu hanya sekadar pemanis kisah. yang sejatinya,
kini kehidupan orang Bugis-Makassar tidak lagi mengandalkan laut
sebagai ladang penghidupan. Kini, aktivitas di daratan lebih
menjanjikan dan membawa harapan.

Terjun ke laut

Berkurangnya minat generasi sekarang untuk terjun ke laut diakui H
Muslim Baso, pengusaha pembuatan kapal kayu tradisional di Tanah
Beru, Bulukumba. Menurut dia, anak-anak muda kini kian enggan
berkarya di laut. “Anak saya tak ada yang mau mengikuti jejak saya di
sektor kelautan. Mereka lebih senang bekerja di darat sebagai pegawai
kantoran,” katanya.

Muslim Baso pun mulai mengkhawatirkan usaha pembuatan kapal rakyat di
Tanah Beru, termasuk usaha yang dirintis orangtuanya berpuluh tahun
silam. Dia tak tahu berapa lama lagi usaha turun-temurun itu bisa
hidup. “Masa kejayaan orang Bugis-Makassar di lautan kini tinggal
kenangan,” kata sejarawan Universitas Hasanuddin, Edward
Poelinggomang, yang juga pakar sejarah maritim Makassar.

Sungguh tragis. Apalagi mengenang kisah-kisah petualangan bahari
orang-orang Bugis- Makassar berabad-abad silam yang mewarnai sejarah
negeri ini. Kedatuan Luwu (abad VIII- XX) boleh jadi imperium kuat
sezaman dengan Sriwijaya (VII- XII), Majapahit (XII-XVI). Sejak abad-
abad silam, orang-orang dari Luwu telah berperahu mengarungi lautan
hingga ke Malaya. Ekspedisi Sawerigading yang bahkan sampai ke China
dan India, jadi legenda hidup.

Penjelajahan orang Bugis-Makassar bukan saja menguasai Sulawesi
(Celebes), Kalimantan (Borneo), Sumatera (Andalas), Timor, Maluku,
Ternate, bahkan menancapkan pengaruh di sejumlah kawasan seperti
China, Malaysia, Filipina, Kamboja, Afrika, Pasifik, dan Australia.

Di masa Kerajaan Gowa (sejak abad XIII), terutama di masa antara
Sultan Alauddin hingga cucunya, Sultan Hasanuddin, laut kawasan timur
Nusantara selalu diramaikan orang-orang Bugis-Makassar. Di abad XVII,
Makassar menjadi bandar yang amat ramai. Makassar menjadi titik
tengah persilangan jalur perdagangan laut antara Malaka dan Maluku.

Armada (dagang) laut Gowa tak mampu diimbangi VOC Belanda. Ketika VOC
mencoba menerapkan politik hegemoni atas wilayah laut dengan meminta
Gowa membantu menyerang lawan-lawan VOC dalam jalur perdagangan
rempah-rempah, Sultan Alauddin dengan tegas mengatakan, “Tuhan
menciptakan tanah dan laut. Tanah dibagikan-Nya untuk manusia, dan
laut adalah milik bersama.”

Di zaman Kolonial Belanda, kata Edward Poelinggomang, campur tangan
pihak kolonial sejak tahun 1906 menghambat sepak terjang saudagar
Bugis-Makassar dalam melakukan aktivitas perdagangan laut sekaligus
memberlakukan pelabuhan yang tidak lagi bebas bea. Itulah, tandasnya,
yang menjadi pintu gerbang bagi keruntuhan kejayaan orang Bugis-
Makassar dalam perdagangan laut.

“Karakter orang Sulsel tidak mau banyak aturan. Ditambah semakin
banyaknya kapal api yang beroperasi dengan kapasitas muatan yang
besar, perlahan namun pasti meminggirkan orang Bugis-Makassar dari
arena perdagangan laut,” paparnya.

Bertambah runyam, karena konsentrasi aktivitas pelabuhan kemudian
dipindahkan ke Jakarta, Semarang, dan Surabaya yang terus berlanjut
hingga kini.

Tradisi mengarungi lautan itu tak lepas dari kultur yang subur di
lingkungan masyarakat Sulsel yang dikenal sebagai pasompe. Secara
harfiah bermakna merantau, biasanya kategori pelaut-pedagang.

Berdagang antarpulau

Menurut Prof Abu Hamid, antropolog Universitas Hasanuddin, pasompe
umumnya saudagar yang berdagang antarpulau. Biasanya pada musim
kemarau (timo), mereka berlayar ke barat. Sedangkan pada musim angin
dan hujan (bare) mereka kembali ke kampungnya (ke arah timur).

Menurut Abu Hamid, dalam Pasompe, Pengembaraan Orang Bugis, sejak
kejatuhan Gowa di abad XVII itu, kerajaan itu didesak untuk mengubah
kegiatannya di daratan, berpaling dari aktivitas utamanya selama ini
di laut. Gowa dipaksa menjadi kerajaan agraris, melepaskan kejayaan
maritimnya. Sejak itulah, pasompe yang dilakukan penduduk mulai
dilakukan karena terdesak di kampungnya.

Bukan hanya penduduk, para tokoh juga hijrah dari kampung mereka
karena ancaman VOC. Karaeng Galesong, salah satu Panglima Gowa,
misalnya, pergi ke Jawa. Dia malah menjadi “penguasa” Laut Jawa dan
Selat Makassar, dan bahkan berkoalisi dengan Trunojoyo melakukan
perlawanan terhadap Belanda.

Tak ubahnya di daratan, pasompe menjadi komunitas tersendiri. Perahu
menjadi sebuah desa, yang memiliki aturan dan tata tradisi. Nakhoda
adalah kepala desa. Setiap pasompe harus menghormati aturan-aturan
yang diberlakukan. Mereka harus bekerja sama. Mereka pantang untuk
bertengkar di lautan.

Oleh karena itulah, peran seorang nakhoda (juragan) amat penting. Dia
harus menjadi pemimpin yang berwibawa dan bisa menaungi semua sawi-
nya (anak buah atau penumpang). Larangan berselisih ini juga berlaku
untuk istri-istri pasompe yang ditinggal di kampung.

Pasompe tak hanya punya keberanian menghadang badai di tengah lautan,
tetapi juga harus dibekali ilmu pengetahuan menyangkut astronomi,
sistem navigasi, dan ilmu kelautan. Ilmu astronomi mutlak dikuasai.
Misalnya memahami posisi bintang-bintang di langit yang bisa
memengaruhi perubahan alam, seperti angin badai, hujan, petir, dan
sebagainya.

Para pasompe juga harus menguasai pengetahuan kelautan. Tanpa alat-
alat modern, mereka hanya mengandalkan pengetahuan tradisional,
seperti penglihatan (pakkita), penciuman (paremmau), pendengaran
(parengkalinga), firasat (penedding), dan keyakinan (tentuang).
Dengan mengandalkan indera itu, pasompe bisa mengendus bahwa angin
hitam di sebelah barat yang tiba-tiba menghilang dan cerah, itu
pertanda datangnya angin kencang dan amat membahayakan.

“Orang Bugis-Makassar zaman dulu sepertinya tidak pernah takut dengan
apa pun yang terjadi di laut. Mungkin karena mereka dibekali dengan
ilmu-ilmu alam untuk mengatasi bahaya di laut,” kata Rahman.

Sekarang ini persoalannya apakah spirit dan kultur pasompe itu masih
tersisa? Semangat melaut orang Bugis-Makassar, ujar Rahman, kini
lebih banyak diterjemahkan dengan bahasa menjadi nelayan.

“Semangat orang Bugis-Makassar untuk menaklukkan laut ada di tangan
generasi muda yang kini memilih menjadi nelayan. Sebagian yang mampu
menguasai rantai perdagangan ikan berhasil menjadi nelayan sukses,”
tambah Edward Poelinggomang.

(Dwi As Setianingsih/ Subhan SD)

4 Comments

  1. December 28, 2007 at 1:58 am

    […] Anak-anak mudanya mulai tidak tertarik pada dunia laut ataupun menjadi nelayan (baca di sini atau di sini). Padahal kalau kita mau menengok jejak-jejak sejarah bangsa kita, semua kerajaan […]

  2. dul abdul rahman said,

    October 17, 2008 at 11:26 am

    Orang Bugis Makassar sekarang belajar “berenang” di darat.
    Ya mana bisa maju…

  3. pipit said,

    March 18, 2009 at 4:55 pm

    ya sebenarnya kita2 kurang menghargai hasik kerja keras dari para nelayan.. bener g sich

  4. October 25, 2011 at 3:54 am

    […] SPIRIT BAHARI YANG TELAH PERGI […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: