Sumpah Pemuda dan Kemandirian Bangsa

Oleh: Siswono Yudo Husodo
Ketua Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Universitas Pancasila
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0510/27/opini/2146346.htm
———————————————————
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dikenang sebagai lahirnya kesepakatan
unsur-unsur bangsa yang sangat heterogen untuk menjadi bangsa yang
satu.

Itulah saat resmi lahirnya bangsa Indonesia, yang sebelumnya
nomenklatur Indonesia belum digunakan untuk menamai suatu bangsa,
suatu bahasa, dan suatu tanah air.

Meskipun serupa dalam semangatnya untuk menyatukan Nusantara, Sumpah
Pemuda berbeda dengan Sumpah Palapa yang diucapkan Mahapatih Gajah
Mada. Sumpah Palapa menempatkan Kerajaan Majapahit sebagai pusat;
Sumpah Pemuda ingin menyatu, membangun persatuan dalam napas
kebebasan, persaudaraan dan kesetaraan; bertanah air satu, berbangsa
satu, dan berbahasa satu, Indonesia. Negara kebangsaan Indonesia yang
menaungi bangsa baru itu lahir 17 tahun kemudian, melalui Proklamasi
Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Selayaknyalah peristiwa bersejarah yang demikian penting itu
diperingati dengan mendalami semangat yang terkandung dalam peristiwa
itu.

Secara umum, perjuangan bangsa kita untuk mencapai kemerdekaan
bercorak amat lengkap. Ada upaya politik, sosial, dan budaya di mana
Sumpah Pemuda adalah salah satu tonggak pentingnya. Ada upaya dalam
dimensi intelektual dengan banyak buah pikir ideologis yang amat
bermutu karya para pendiri Republik yang sangat intelektual dan
banyak membaca buku-buku bermutu. Juga ada perjuangan bersenjata.

Tak banyak bangsa terjajah yang memiliki kemampuan untuk
mengorganisir perjuangan kemerdekaannya dalam arena politik, sosial,
budaya, intelektual ideologis, dan perjuangan bersenjata secara
simultan seperti bangsa kita. Untuk mencapai kemerdekaan itu juga ada
pilihan jalan yang lebih tenang dan perlahan, dengan patuh pada
skenario masa depan bangsa yang dirancang penjajah, yang juga
ditempuh oleh beberapa negara jajahan.

Pendiri bangsa

Generasi pendiri bangsa dan negara ini memperlihatkan karakter bangsa
pejuang yang ulet dan hebat, yang menolak didikte dan merancang
sendiri skenario masa depan bangsanya.

Banyak yang menyatakan bahwa generasi pendiri bangsa kita adalah “the
golden generation”, karena mereka bukan saja terdidik tetapi juga
tercerahkan dan memiliki semangat perjuangan yang amat besar, dengan
percaya diri merebut kemerdekaan dan membangun kemandirian bangsanya.

Melihat Indonesia hari ini, sepatutnya kita malu kepada generasi
terdahulu tersebut.

Esensi penting Sumpah Pemuda yang berupa semangat persatuan di antara
unsur-unsur bangsa yang bhinneka dan tekad untuk membangun bangsa
yang mandiri telah dirusak oleh berbagai peristiwa belakangan ini.

Sekelompok kecil fundamentalis “membajak” agama Islam, melakukan
tindakan anarkis seperti penutupan dan perusakan sarana ibadah agama
lain di berbagai tempat, perusakan toko yang menjual minuman
beralkohol untuk warga non-Muslim atau orang-orang asing di Kemang,
hingga aksi bom bunuh diri dan lain-lain tindakan radikalisme yang
memusuhi kemanusiaan dan merusak upaya membangun persaudaraan
kebangsaan.

Di sisi lain, kita juga patut prihatin bahwa sebagai suatu bangsa,
tekad kita untuk menjadi bangsa yang mandiri kian merosot dan
ketergantungan kita semakin meningkat. Manifestasinya terlihat dari
orientasi solusi yang diambil setiap kita menghadapi peningkatan
kebutuhan yang bisa kita produksi sendiri.

Kekurangan beras, solusinya impor beras, hingga kita pernah menjadi
negara importir beras terbesar di dunia. Kekurangan gula solusinya
juga impor, hingga sekarang kita mengimpor gula 40 persen dari
kebutuhan nasional. Pada waktu kekurangan daging sapi, solusinya
impor dan sekarang setiap tahun kita mengimpor sekitar 550.000 ekor
sapi.

Padahal untuk semua itu, dengan biaya yang lebih rendah, serta
menghemat devisa, kita bisa membuat solusi dengan meningkatkan
produksi. Sewaktu ditemukan deposit tembaga dan emas yang amat besar
di Papua, kita menyerahkannya kepada Freeport.

Sewaktu ditemukan cadangan minyak yang besar di Cepu, kita
menyerahkannya kepada Exxon. Padahal, dengan dukungan tenaga-tenaga
ahli dan permodalan yang tersedia di dunia ini, kita juga mampu
mengerjakannya sendiri, seperti yang dilakukan oleh Arifin Panigoro
dengan Medco-nya.

Indonesia perlu melahirkan puluhan Arifin Panigoro, juga puluhan
Rusdi Kirana yang mampu mengembangkan Lion Air yang berdaya saing
tinggi dan puluhan Ir SL Tobing yang membangun air minum kota Batam
yang efisien. Itu semua hanya bisa berlangsung manakala mereka
memperoleh kesempatan dari negara. Kita akan bisa kalau kita yakin
kita bisa.

Bukti-bukti empirik semua negara bangsa di bumi ini meyakinkan saya
bahwa kemandirian adalah kebutuhan yang esensial bagi suatu bangsa
yang ingin tetap merdeka.

Utang luar negeri negara kita setiap tahun juga terus meningkat. Di
akhir 21 tahun pemerintahan Bung Karno pada tahun 1966, utang LN
negara kita hanya 2,5 miliar dollar AS; 53 tahun setelah merdeka, di
akhir pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun 1998 utang LN kita
menjadi 54 miliar dollar AS.

Hanya dalam waktu empat tahun, antara tahun 1998-2002, utang LN kita
bertambah 23 miliar dollar AS menjadi 77 miliar dollar AS.

Berdirinya negara

Sejak awal berdirinya negara kita sampai dengan tahun 2002, cicilan
pokok dan bunga utang LN Pemerintah RI yang telah kita bayar
berjumlah 127 miliar dollar AS, dan kita masih mempunyai utang ke
luar negeri 77 miliar dollar AS.

Banyaknya devisa yang kita gunakan untuk membayar bunga dan cicilan
pokok utang luar negeri telah mengurangi kemampuan negara untuk
melakukan pembangunan bagi kesejahteraan rakyat dan menekan nilai
rupiah.

Utang LN Indonesia, yang terlalu banyak, telah menjadi beban bagi
negara.

Sebagai suatu entitas ekonomi, negara memang wajar berutang ke luar
negeri. Berbagai pembangunan yang telah kita lakukan, antara lain
bandara dan pelabuhan; irigasi dan PLTA seperti Jatiluhur, Asahan;
persenjataan perang untuk membebaskan Irian Barat; fasilitas
telekomunikasi Satelit Palapa dan lain-lain sebagian juga dibiayai
dari utang luar negeri. Jepang yang sekarang sangat sejahtera dan
modern juga pernah berutang keluar negeri pasca-Perang Dunia II untuk
rekonstruksi dan membayar pampasan perang.

Tentu harus ada batas, kapan kita mulai mengurangi utang dan
melunasinya. Jepang berhenti berutang tahun 1960, mulai mengangsur
tahun 1961 dan melunasi seluruh utang luar negerinya tahun 1975.
Tahun 1977 Jepang mulai menjadi negara donor, dan sekarang telah
menjadi negara donor terbesar untuk banyak negara, termasuk Indonesia.

Semangat Sumpah Pemuda dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
adalah pernyataan politik untuk menjadi bangsa yang merdeka dan
mandiri.

Bung Karno menegaskannya dalam Pidato Trisakti tahun 1963; Berdaulat
secara politik, Berdikari secara ekonomi, dan Berkepribadian secara
sosial budaya.

Negara yang berhasil membangun kemandiriannya akan menumbuhkan
kebanggaan pada warganya dan mendorong mereka berprestasi maksimal
bagi kemajuan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negaranya.

Dengan kemandirian itulah eksistensi suatu bangsa dan standar
kesejahteraan yang tinggi bagi setiap warganya akan terjamin.
Membangun kemandirian bangsa di era sekarang juga berarti
meningkatkan integritas dan kapabilitas bangsa untuk dapat secara
cerdas menentukan pilihan dan mewujudkan cita-cita membangun negara
modern yang bertumpu pada kemampuannya sendiri, dengan memanfaatkan
dinamika dunia yang semakin didorong maju oleh proses globalisasi.

Dengan utang negara yang terlalu besar dibandingkan dengan PDB, di
dunia yang semakin menempatkan ekonomi sebagai faktor penting, telah
membuat kedaulatan negara menjadi rapuh.

Sekali berkembang budaya berutang, berapa pun tidak akan pernah cukup
karena peningkatan kemampuan ekonomi bangsa selalu kurang dari
peningkatan harapan dan keinginan warganya.

Peningkatan harapan dan keinginan adalah hal yang positif yang akan
mendorong kemajuan. Meningkatnya harapan dan keinginan itu janganlah
dipenuhi dengan berutang, tetapi dipenuhi dengan meningkatkan
kemandirian dan kemampuan bangsa yang akan semakin memperbesar
kekuatan bangsa dan kedaulatan negara.

Pilihan ke arah berutang semakin mendorong ketergantungan bangsa.
Diperlukan keputusan politik untuk mulai mengurangi utang ke luar
negeri sesegera mungkin, dan akhirnya melunasi seluruh utang LN kita,
paling tidak dalam waktu 30 tahun; sebagai wujud tekad kemandirian
ekonomi bangsa.

Tekad berhenti berutang dan melunasi seluruh utang LN itu bukanlah
masalah bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak mau, berani atau
tidak berani. Upaya memperbesar PDB untuk membuat utang LN relatif
mengecil harus semakin ditumpukan pada kegiatan ekonomi masyarakat
dan porsi APBN dengan utang LN di dalamnya harus semakin berkurang.
NPV (Nett Present Value) utang LN juga bisa diturunkan dengan meminta
diskon bunga dan perpanjangan jangka waktu pelunasan. Indonesia juga
berpeluang meningkatkan program debt-swap (konversi utang) yang telah
kita lakukan, di antaranya untuk memajukan kualitas pendidikan dan
kesehatan masyarakat, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan
infrastruktur pedesaan.

Kegiatan lobi internasional perlu ditekankan pada isu beban utang
yang terlalu berat dan keberlanjutan utang Indonesia (Indonesia’s
debt sustainability), dikaitkan dengan Millenium Development Goal’s
(MDG), dan mengupayakan tambahan fasilitas perdagangan internasional,
guna memupuk devisa, yang amat positif bagi kemajuan ekonomi kita di
tengah semakin ketatnya persaingan dipasar global saat ini. Setiap
tahun perlu diupayakan agar utang baru selalu lebih kecil daripada
angsuran utang lama.

Kita perlu kerja keras yang cerdas dan kembali pada karakter bangsa
pejuang yang ulet dan intelektual, yang akan mengantarkan kita pada
kemandirian bangsa dan kemerdekaan yang sejati.

2 Comments

  1. September 2, 2008 at 9:24 am

    Kita perlu kerja keras yang cerdas dan kembali pada karakter bangsa
    pejuang yang ulet dan intelektual, yang akan mengantarkan kita pada
    kemandirian bangsa dan kemerdekaan yang sejati.

  2. haerul said,

    November 24, 2008 at 8:47 am

    Pemuda memiliki energi yang luar biasa, jadi selayaknya energinya diarahkan ke hal yang sangat positif, demi memajukan negara ini yang sudah “compang camping”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: